Rumah sakit memisahkan data semua perempuan yang pernah melahirkan di Rumah Pulih Ananta dari jaringan umum. Catatannya tidak dihapus. Akses hanya dibatasi agar Ki tidak dapat mengirim undangan, mengubah status kematian, atau memakai nama mereka sebagai hubungan pengganti.
Enam keluarga jaringan Wadah X diberi tahu mengenai ancaman baru. Tidak ada yang diminta menyebut kerabatnya sebagai ibu Ki. Bu Rena juga tidak dijadikan wakil semua garis perempuan hanya karena ia keturunan Mbah Raras.
Dokter memeriksa Wadah tanpa menyalakan pengeras suara. Enam mulut terus membentuk kata ibu, sementara mulut ketujuh belum selesai tumbuh. Penyangga menahan tulang Mbah tetap di bawah kulit. Jaringan lain stabil pada mesin mandiri.
Meisin menolak masuk ke ruang itu. Ia mengirim keputusan tertulis bahwa panggilan berulang tidak menciptakan hubungan keluarga. Keenam keluarga membuat pernyataan berbeda sesuai kehendak masing-masing. Tidak satu pun menerima Wadah sebagai anak atau ibu mereka.
Pipa ketujuh berhenti mengisap selama beberapa menit.
Penyelidikan nama ibu Wira Gantana dilakukan jauh dari cermin, pemandian, dan Wadah. Catatan sekolah hanya menyebut perempuan tanpa nama. Buku kelahiran desa terbakar pada tahun yang sama saat Wira menjadi murid Mbah Raras. Namun arsip pajak menyimpan daftar penolong persalinan yang menerima beras sebagai upah.
Seorang perempuan tercatat dengan sebutan Gantari, tanpa nama keluarga. Ia tinggal di tepi hutan dan memiliki satu anak laki-laki bernama Wira. Catatan berikutnya menyatakan rumahnya diambil Karsa karena utang anaknya.
Nama itu belum cukup. Polisi mencari bukti kedua pada arsip pemakaman. Tidak ada makam Gantari, tetapi satu batu tanpa nama mencantumkan lambang bunga kantil dan tahun kematian yang sesuai.
Bukti ketiga datang dari keluarga Wicaksana, murid lain Mbah Raras. Cucunya menyimpan surat yang ditulis kakeknya. Dalam surat itu, Wicaksana menyesali gagal melindungi Bu Gantari ketika Wira menyerahkan nama ibunya kepada Karsa untuk memperoleh ilmu mengganti tubuh.
Surat tidak dibawa ke pemandian atau cermin. Ahli dokumen membandingkan tulisan dengan catatan sekolah dan menemukan kecocokan. Cucunya memberi izin untuk memakai salinan sebagai bukti, tetapi meminta surat asli tetap dijaga keluarga sampai ada perintah resmi.
Catatan beras juga menunjukkan Gantari menolong dua belas persalinan tanpa meminta tanah. Setelah namanya dihapus, pembayaran tersebut dialihkan kepada Karsa dan rumahnya disita. Pemulihan nama berarti membuka kembali sejarah perampasan, bukan sekadar menemukan kata untuk melawan Ki.
Tiga sumber mengarah pada nama yang sama.
Mereka tidak mengucapkannya di radio. Nama diberi kode AKAR dan ditulis pada kertas tanpa salinan digital. Meisin membaca di ruang Ardi, jauh dari jaringan ritual.
Kertas kode disimpan bersama tiga sumber verifikasi, masing-masing di lokasi berbeda. Tidak ada satu orang membawa nama lengkap sekaligus petunjuk cara memakainya. Bila salah satu penjaga kehilangan keputusan, dua sumber lain dapat membatalkan perintah.
Ardi menangis ketika melihatnya. 'Dia benci nama itu. Setiap tubuh yang dipakai mendengar perempuan menangis kalau dia tertidur.'
'Apakah kamu pernah melihat perempuan itu?' tanya pendamping.
'Tidak. Hanya mendengar dia berkata, kamu boleh membuang namaku, tapi kamu tetap lahir dari tubuhku.'
Kesaksian Ardi menjadi penguat, bukan satu-satunya bukti. Dokter menghentikan percakapan ketika tangannya gemetar.
Bu Rena mengirim pola nama AKAR ke Mbah Raras menggunakan jumlah ketukan, tanpa menyebut huruf. Dua ketukan menjawab benar. Lalu satu ketukan saat ditanya apakah nama itu boleh dipanggil sekarang.
Tidak.
Mbah mengirim pola panjang yang diterjemahkan perlahan: nama ibu Ki bukan mantra untuk menyerangnya. Nama itu adalah bukti kelahiran yang harus dikembalikan pada catatan, makam, dan kesaksian yang pernah dihapus. Bila dipakai hanya sebagai senjata, mereka akan mengulang cara Ki menggunakan nama orang lain.
Meisin meminta pemulihan arsip Gantari dimulai sebagai perkara sejarah dan perampasan tanah. Batu tanpa nama diamankan, surat Wicaksana disalin, dan keturunan saksi dimintai persetujuan. Tidak ada ritual dilakukan.
Di ruang cermin, Ki berhenti memukulkan Mbah. Sensor menunjukkan ia mundur ke balik lonceng. Retakan tetap terbuka, tetapi tidak bertambah.
Pemukul lonceng ketujuh mundur sedikit lagi.
Karsa mendengar perubahan melalui ikatan lamanya. Dari dalam kotak, ia mengaku memiliki catatan keempat tentang pergantian nama. Polisi menjawab bahwa tulisan pada tutup sudah dipindai dan tawarannya tidak memberi alasan membuka segel.
'Kalian punya nama ibu, tapi tidak punya nama yang dibakar Raras,' ejeknya. 'Wira Gantana hanya nama kelahiran. Raras membakar nama keduanya saat menutup cermin.'
Meisin menanyakan hal itu melalui ketukan. Mbah menjawab dua kali: benar. Ada nama kedua yang mengikat kedudukan Ki sebagai murid, dan nama itulah yang dibakar agar pantulannya tidak dapat pulang ke tubuh jangkar.
'Di mana catatannya?' tanya Bu Rena melalui pola.
Mbah mengetuk tiga kali, lalu membentuk urutan benda: kertas, kunci, jarum.
Tiga benda yang pernah Meisin tarik dari masa lalu.
Kertas hitam disimpan terpisah sejak keluar dari Gudang Kaca. Meisin tidak mengingat tulisan di atasnya karena kenangan itu menjadi harga penglihatannya. Polisi membawa foto biasa kertas tersebut, bukan bendanya, ke laboratorium.
Rantai bukti menunjukkan kertas belum pernah dibuka setelah disegel, tetapi foto lama dibuat sebelum pengamanan lengkap. Laboratorium bekerja dari salinan tersebut agar benda asli tidak didekatkan pada nama, cermin, atau tubuh jangkar. Kekurangan kualitas gambar dicatat, tidak ditutupi.
Di bawah cahaya inframerah, bekas goresan muncul. Bukan mantra, melainkan daftar murid dengan satu baris terbakar. Huruf awalnya sama dengan Wira Gantana, lalu diikuti nama yang tidak ada pada arsip mana pun.
WIRAGANA TANPA BAYANGAN.
Itu nama kedua yang diberikan Mbah Raras sebelum Ki mengkhianatinya.
Meisin tidak mengucapkannya. Ia mencatat bukti dalam kode dan meminta verifikasi dari tulisan Mbah yang lain.
Pada saat yang sama, noda hitam di bahunya terasa dingin. Sebuah ingatan tidak kembali, tetapi tubuhnya mengenali kertas tersebut.
Ia teringat bukan kejadian, melainkan tempat kosong: ada sesuatu yang pernah ia keluarkan bersama kertas, lalu disimpan oleh orang lain sebelum ia lupa.
Reksa memeriksa daftar barang bukti penemuan malam itu. Kertas hitam tercatat, tetapi lampirannya hilang. Petugas penerima adalah Jatmiko saat tubuhnya masih dipakai Ki.
Rekaman menunjukkan Jatmiko mengambil satu potongan halaman dan memasukkannya ke amplop perusahaan Owen.
Erly menemukan nomor amplop dalam arsip lama. Benda itu dikirim ke brankas pribadi Owen sebelum kecelakaan dan belum pernah ditemukan.
Owen memucat. 'Aku punya brankas kedua yang nggak tercatat di kantor.'
'Di mana?' tanya Meisin.
'Di rumah yang kusiapkan untuk mengurungmu setelah pernikahan.'
Rumah itu tidak pernah disebut dalam penyelidikan. Menurut Owen, hanya dirinya dan Ki yang mengetahui alamatnya.
Ponsel penyidik berbunyi. Sistem listrik rumah kosong tersebut baru saja aktif.
Kamera jalan memperlihatkan seseorang masuk membawa amplop hitam dan keranda kecil.
Ki Bagong telah menemukan catatan nama keduanya lebih dulu. (*)