Kotak Karsa tetap tertutup. Jarum tulang berada di lokasi lain, cermin tidak dipindahkan, dan tak seorang pun menjawab tawaran dengan janji.
'Kami tidak membebaskan bagian apa pun darimu,' kata penyidik melalui saluran suara satu arah. 'Kalau kamu memberi keterangan, itu dicatat. Kalau tidak, pencarian tetap berjalan.'
Karsa tertawa dari dalam kayu. 'Kalian punya lima hari. Nama yang salah akan memberi Bagong tubuh baru.'
Kotak ditempatkan di atas timbangan mekanis untuk mengetahui apakah sesuatu bergerak keluar. Beratnya tidak berubah. Tiga segel difoto dari sudut tetap setiap lima menit, dan penjaga berganti berpasangan. Karsa boleh berbicara, tetapi tidak diberi benda, darah, cahaya pantul, atau pertanyaan tentang keluarga penjaga.
Penyidik menjelaskan bahwa keterangannya tidak membeli keringanan otomatis. Karsa sudah memakai tubuh Jaka dan Owen serta terlibat dalam penculikan. Jika kelak ada proses hukum yang dapat menjangkaunya, kerja sama dinilai bersama semua bukti, bukan melalui perjanjian rahasia malam itu.
Penyidik tidak menyebut tiga nama calon. Informasi dibiarkan datang dari Karsa lebih dulu agar dapat diuji. Ia hanya berkata nama pertama Ki terdiri dari empat suku kata dan berakhir dengan bunyi na.
Keterangan itu tidak cocok dengan Wiraguna, kecuali Karsa sengaja menghitung atau mengucapkan berbeda. Semua kemungkinan dicatat sebagai belum terverifikasi.
Karsa mengubah sasaran. Ia memanggil Owen dengan suara ayahnya dan menawarkan tubuh kembali bila kotak dibuka selebar satu jari. Owen tetap di pemandian.
'Tubuhku sudah dipakai olehmu dan Ki,' jawabnya. 'Aku tidak akan memberimu jalan lain.'
'Kamu pikir perempuan itu akan mencintaimu karena satu penolakan?'
'Tidak. Penolakanku tetap berlaku meski Meisin nggak pernah memilihku.'
Kotak menghantam lantai dari dalam, tetapi tiga segel tidak lepas. Saksi penjaga menyebut nama serta keputusan mereka sendiri, lalu menutup saluran suara.
Meisin tidak ikut berbicara kepada Karsa. Ia memeriksa bukti biasa bersama Reksa. Arsip penangkapan 1972 mencatat Bagong memakai nama samaran Wiraguna, tetapi kolom tempat lahir kosong. Sidik pada berkas cocok dengan tubuh jangkar. Di belakang formulir terdapat cap sekolah pengobatan desa tempat Mbah Raras pernah mengajar.
Sekolah itu sudah menjadi rumah warga. Pemilik menemukan peti dokumen di loteng, berisi daftar murid yang tidak terbakar. Nama Wiraguna tidak ada. Ada nama Wira Gantana, murid laki-laki tanpa nama ayah yang dikeluarkan karena mengambil tulang dari makam.
Kertas daftar diperiksa usia serat dan tintanya. Tulisan Wira Gantana dibuat pada masa yang sama dengan nama murid lain, bukan tambahan baru. Di sisi halaman terdapat sidik jari berminyak yang sebagian cocok dengan tubuh jangkar. Bukti tersebut membuat nama lebih kuat daripada ingatan Karsa seorang.
Empat suku kata bila diucapkan lengkap: Wi-ra-Gan-ta-na.
'Karsa memberi petunjuk benar, tapi tidak lengkap,' kata Reksa.
Catatan di samping nama menyebut murid itu kemudian dipanggil Bagong oleh warga karena sering bekerja di belakang panggung pertunjukan. Tanggal lahirnya sama dengan identitas penangkapan, dan tanda ibu jarinya menyerupai sidik tubuh jangkar.
Mereka belum menganggap nama selesai. Polisi mencari dokumen pembanding dari kantor agama, pajak, serta pemakaman. Satu surat tanah tua mencatat Wira Gantana sebagai saksi pembelian Karsa. Tanda tangannya memiliki lengkungan sama dengan surat ritual Owen.
Keluarga Wicaksana ditemukan di kota lain. Mereka tidak dipanggil ke lokasi perkara. Melalui petugas setempat, cucunya membuka kotak surat peninggalan kakek dan menemukan satu foto kelas. Di belakang foto tertulis nama Wira Gantana serta peringatan agar tidak memanggilnya setelah matahari tenggelam.
Wajah pada foto berbeda usia, tetapi bentuk telinga dan jarak mata cocok dengan tubuh jangkar. Pemeriksa forensik menyebutnya kecocokan pendukung, bukan identifikasi mutlak karena kualitas gambar buruk.
Ardi diperlihatkan tiga nama dalam urutan acak tanpa diberi tahu temuan. Matanya bereaksi pada Wira Gantana, tetapi dokter menghentikan pemeriksaan saat denyutnya naik. Ia hanya berbisik, 'Itu bunyinya.'
Mbah Raras perlu mengonfirmasi, namun nama tidak boleh diucapkan dekat cermin. Bu Rena mengubahnya menjadi ketukan angka berdasarkan jumlah huruf. Dua belas ketukan untuk nama lengkap calon, lalu pertanyaan apakah itu murid yang terjebak bersamanya.
Pola dikirim bersama dua pilihan palsu dengan jumlah huruf berbeda. Mbah menolak keduanya memakai satu ketukan. Saat pola dua belas diberikan, ia menjawab dua. Cara itu mengurangi kemungkinan Ki hanya meniru jawaban yang diharapkan Bu Rena.
Dari cermin terdengar dua ketukan.
Ya.
Empat ketukan menyusul. Bahaya berada di belakang.
Sensor menunjukkan pantulan Ki berhenti memukul Mbah. Ia mendengar pola angka dan menyadari mereka menemukan nama lamanya. Pipa ketujuh di pemandian menarik udara semakin kuat.
'Jangan ucapkan nama itu keras-keras,' pesan Mbah melalui ketukan yang diterjemahkan Bu Rena. 'Nama pertama bisa mengikat dia, tapi juga memanggil bagian tubuh yang tercerai.'
Tubuh jangkar membuka mulut tanpa suara. Dari luka di dadanya muncul huruf W, lalu terbakar sebelum membentuk kata berikutnya.
Karsa kembali mengetuk kotak. Kali ini ia tidak meminta jarinya dibebaskan. Ia menawarkan cara memakai nama tersebut.
'Bagong membakar namanya dari tujuh catatan,' katanya. 'Kalian baru menemukan tiga. Nama setengah akan membelahnya menjadi dua, bukan mengurungnya.'
Penyidik membuka saluran hanya untuk satu pertanyaan. 'Di mana empat catatan lain?'
'Satu di cermin. Satu di tulang Raras. Satu di jantung jangkar. Satu padaku.'
'Bukti apa bahwa kamu membawanya?'
'Bayangan pertamaku dibuat saat aku menyaksikan dia mengganti nama. Ingatan itu ada di dalam kotak bersama diriku.'
Membuka kotak untuk mengambil ingatan berarti memberi Karsa jalan keluar. Mereka tidak melakukannya. Meisin meminta penyidik memeriksa semua barang yang disegel bersama Karsa dari luar.
Karsa mencoba menawarkan pilihan lain: keluarkan bayangan pertamanya saja dan biarkan tubuhnya tetap terkurung. Penyidik menolak karena bayangan itulah yang pernah berpindah ke jasad. Memisahkan bentuk dari kotak bukan tindakan kecil, dan tidak diperlukan selama pemindaian masih mungkin dilakukan.
Pemindai menemukan tulisan sangat tipis pada sisi dalam tutup. Tulisan dapat dibaca melalui gelombang tanpa membuka kotak. Hanya satu baris:
WIRA GANTANA MENJADI BAGONG DENGAN MENYERAHKAN NAMA IBUNYA.
Nama ibu tidak tercantum.
Arsip sekolah menyebut ibu murid itu sebagai perempuan tanpa nama yang membantu persalinan warga. Ki bukan hanya menghapus dirinya. Ia membayar nama baru dengan menghapus perempuan yang melahirkannya.
Meisin teringat tujuh garis ibu di Wadah X. 'Dia mencoba mengganti ibu yang dihapus dengan tubuh para ibu lain.'
Di ruang barang bukti, enam wajah pada Wadah membuka mata. Mulut ketujuh mulai terbentuk di atas tulang Mbah Raras.
Mulut itu tidak menyebut nama Mbah.
Ia memanggil satu kata yang sama enam kali.
'Ibu.'
Pada panggilan ketujuh, suara tertahan di tenggorokan karena enam keputusan masih mengunci cermin.
Ki Bagong belum memperoleh nama ibunya, tetapi ia mulai mencarinya melalui semua perempuan yang pernah melahirkan di Rumah Pulih Ananta. (*)