Petugas di lokasi jarum mematikan lampu utama. Mereka tidak membuka kotak penyimpanan atau memindahkan isinya. Cahaya darurat masih menciptakan bayangan tipis di bawah rak, dan bentuk hitam bergerak menuju kotak bersegel.
Jarum tulang berada di dalam wadah kayu, dibungkus kain dan pasir kering. Ki tidak dapat menyentuhnya tanpa bayangan manusia sebagai tangan. Ia mulai memanjangkan bentuk menuju kaki penjaga terdekat.
'Jangan lari,' pesan Meisin melalui radio. 'Sebut keputusan kalian, lalu mundur bergantian.'
Penjaga pertama menyatakan memilih menjaga pintu, bukan jarum. Penjaga kedua memilih mematikan cahaya darurat setelah jalur evakuasi dipasang tali. Keputusan itu dibuat sekarang dan tidak diketahui bentuk hitam.
Ketika lampu terakhir padam, bayangan penjaga menghilang. Bentuk Ki kehilangan kaki yang hendak dipinjam. Semua orang mengikuti tali keluar tanpa membawa kotak.
Ruangan menjadi gelap total. Sensor tekanan menunjukkan bayangan tetap bergerak meski tidak ada cahaya, tetapi ia berputar mengelilingi kotak dan tidak mampu membuka segel.
Petugas memasang tirai hitam pada ventilasi dari sisi luar agar cahaya kendaraan tidak masuk. Mereka menandai posisi bayangan melalui perubahan suhu lantai setiap tiga puluh detik. Bentuk itu tidak dapat melewati garis garam bukti yang kebetulan tumpah, tetapi penyidik tidak menganggap garam sebagai solusi sebelum diuji.
Sampel garam diperiksa. Butirnya bercampur serbuk dari kain pembungkus jarum, sehingga batas tersebut bekerja karena membawa sisa biologis yang sama, bukan karena garam biasa. Mereka tidak menaburkan lebih banyak agar bukti dan jaringan manusia tidak tersebar.
'Kita nggak bisa membiarkannya di sana selamanya,' kata Reksa.
'Kita juga nggak memindahkan jarum ke cermin atau jangkar,' jawab Meisin.
Mereka memasukkan kamera panas dari ventilasi. Bayangan tidak terlihat sebagai suhu, tetapi jejak dinginnya dapat dipetakan. Bentuk itu menempel pada enam sisi kotak, mencari celah nama. Label barang bukti masih memakai sebutan jarum Raras dari catatan awal.
Bu Rena meminta label diperbaiki. 'Itu bukan milik Ibu hanya karena dibuat dari tulang yang pernah dia pakai.'
Penyidik mengganti catatan administratif dari luar sistem: benda tajam biologis, asal belum dipastikan. Label lama tidak dibakar atau disobek. Ia dimasukkan amplop bukti sebagai bagian dari kesalahan pencatatan.
Bayangan melemah pada satu sisi.
Dokter membandingkan DNA jarum dengan tulang Mbah di Wadah X. Hasilnya tidak cocok. Jarum berasal dari laki-laki yang memiliki hubungan jauh dengan salah satu jaringan korban, bukan Mbah Raras.
Keluarga pemilik jaringan diberi tahu tentang kemungkinan hubungan tanpa diperlihatkan benda. Salah satu keluarga memiliki catatan tentang paman yang hilang setelah mengantar kerabatnya melahirkan di klinik. Sampel keluarga dapat dipakai setelah persetujuan, tetapi hasilnya tidak akan mengubah jarum menjadi milik mereka secara otomatis.
Penyidik menambahkan dugaan pencurian jasad baru. Benda yang selama ini disebut alat ritual kini juga diperlakukan sebagai bagian manusia yang memiliki asal, keluarga, dan hak penanganan layak.
'Ki menamai benda ini sebagai milik Mbah supaya kita menganggapnya kunci keluarga,' kata Meisin.
'Tapi benda itu memang membuka katup,' ujar Erly.
'Bentuknya yang membuka. Alat tiruan sudah membuktikan itu.'
Mereka tidak lagi membutuhkan jarum asli untuk memisahkan pipa. Benda tersebut tetap bukti pencurian tubuh, tetapi kehilangan kedudukan sebagai satu-satunya kunci. Bayangan Ki menyusut sampai sebesar telapak.
Untuk mengeluarkan bayangan tanpa membuka kotak, teknisi menyalakan satu lampu kecil di balik wadah kosong pada sisi berlawanan. Bentuk hitam bergerak menuju bayangan baru, lalu terperangkap di antara dua papan tanpa pantulan. Papan ditutup kain dan disimpan terpisah dari jarum. Ki kehilangan akses, tetapi serpihan bayangannya belum dihancurkan.
Di ruang cermin, enam keputusan terus diputar sebagai rantai getaran. Mbah Raras berhasil menjauh dari lonceng, tetapi retak di wajahnya belum tertutup. Ki tidak tampak pada sensor. Sebagian pantulannya berada di bayangan jarum, sebagian masih bersembunyi di dalam.
Meisin bertanya melalui ketukan apakah penutupan retak sekarang aman.
Dua ketukan, lalu empat.
Ya, tetapi bahaya di belakang.
Dokter bahan mengalirkan resin kusam ke bingkai kayu, bukan permukaan kaca. Tekanan dari retak disalurkan ke enam penyangga. Garis retak berhenti memanjang, tetapi tidak ditutup seluruhnya agar Mbah tetap dapat mengirim ketukan.
Pada Wadah X, tulang Mbah bergerak lagi saat resin mengeras. Dokter memasang bantalan tambahan dan memetakan setiap fragmen. Sebagian tulang bercampur dengan jaringan ibu lain sehingga operasi pemisahan tidak mungkin dilakukan tanpa persiapan.
Bu Rena diminta menentukan apakah ia mengizinkan tindakan darurat bila tulang mencapai kulit. Ia menjawab bahwa persetujuannya hanya mewakili kepentingan keluarga, bukan kehendak Mbah Raras yang masih sadar di cermin.
Pertanyaan dikirim melalui ketukan: apakah Mbah mengizinkan dokter menahan dan, bila perlu, memisahkan tulangnya dari Wadah X tanpa memindahkannya ke cermin?
Dua ketukan terdengar.
Persetujuan dicatat terpisah dari Bu Rena. Dokter menyiapkan operasi, tetapi belum membedah sebelum pipa isap dapat dikendalikan.
Enam keluarga jaringan lain juga dimintai batas tindakan. Ada yang mengizinkan operasi darurat, ada yang hanya mengizinkan penyangga, dan ada yang meminta pendapat dokter kedua. Wadah X tidak diperlakukan sebagai milik satu keluarga. Rencana operasi dibagi menurut jaringan, walaupun secara teknis berada dalam tubuh yang sama.
Dokter menjelaskan bahwa operasi dapat menyelamatkan satu fragmen tetapi merusak yang lain. Karena belum ada kondisi yang langsung mematikan, mereka memilih menunggu. Keputusan tidak bertindak dicatat sama jelasnya dengan izin tindakan.
Di ruang Ardi, ingatan nama Ki muncul sedikit demi sedikit. Ia menggambar huruf pada papan: W, I, R, lalu berhenti karena dadanya sakit. Dokter menghentikan wawancara. Tidak ada nama yang layak dipaksakan dengan risiko nyawa.
Penyidik menemukan daftar murid Mbah Raras di arsip desa. Tiga nama berawalan Wi adalah Wiranta, Wicaksana, dan Wiraguna. Wiranta meninggal sebagai anak kecil sebelum tahun pelatihan. Wicaksana pindah dan memiliki keturunan yang dapat dilacak. Wiraguna tidak memiliki catatan kelahiran atau kematian.
'Bagong mungkin Wiraguna,' kata Reksa.
'Mungkin,' jawab Meisin. 'Kita belum menyebutnya sebagai fakta atau memanggil nama itu dekat cermin.'
Mereka mengirim petugas mencari arsip Wicaksana dan Wiraguna tanpa membawa foto ritual. Bukti harus menentukan mana orang nyata dan mana identitas curian.
Bayangan di ruang jarum tiba-tiba berhenti mengepung kotak. Dalam gelap, sensor tekanan mencatat bentuknya memanjang ke dinding. Ia menggores plester tanpa memiliki tangan.
Petugas baru masuk setelah bentuk itu menghilang. Tulisan di dinding diperiksa dari balik kain.
KARSA MENGETAHUI NAMA YANG DIBAKAR RARAS.
Pada waktu yang sama, kotak panjang tempat Karsa disegel mengeluarkan tiga ketukan.
Tidak ada penjaga yang membukanya.
Suara Karsa merembes melalui tutup kayu.
'Aku tahu nama pertama gurumu,' katanya. 'Bebaskan satu jariku, dan aku akan menyebutkannya.' (*)