Retakan pada cermin tidak menembus kain penutup, tetapi suhu ruangan turun enam derajat. Penjaga mundur sesuai garis aman. Mereka tidak mengintip untuk memastikan keadaan Mbah Raras karena satu tatapan dapat menjadi jalan bagi Ki.
Nama setiap penjaga diperiksa melalui kartu kertas dan pertanyaan keputusan terbaru. Seorang petugas diganti setelah tidak ingat siapa yang memintanya mundur. Pemeriksaan medis tidak menemukan luka atau lapisan kulit, tetapi ia tetap diistirahatkan agar kelelahan tidak disalahartikan sebagai kendali gaib.
Pintu ruang cermin dikunci dari luar dan dalam oleh dua regu berbeda. Tidak ada regu yang memegang kedua kunci. Bahkan bila suara Mbah meminta dibukakan, mereka harus menguji sandi sebelum menganggapnya asli.
Meisin meminta sensor bunyi diubah menjadi ketukan analog. Mbah Raras pernah memakai sandi ketukan saat mengajari Bu Rena bersembunyi dari pantulan. Satu ketukan berarti tidak, dua berarti ya, tiga berarti tunggu, dan empat berarti bahaya berada di belakang.
Bu Rena menuliskan kembali sandi dari ingatannya sendiri. Ia sengaja memasukkan satu pola palsu yang hanya diketahui Meisin dan penyidik. Jika suara di cermin memakai arti palsu tersebut, berarti Ki membaca catatan luar, bukan ingatan asli Mbah.
Dari lantai ruang cermin terdengar tiga ketukan.
Mereka menunggu.
Ki memukul kepala Mbah Raras lagi. Enam rekaman keputusan bergetar pada waktu berbeda dan menyerap bunyi sebelum menjadi dentang. Retakan bertambah satu garis, tetapi pemukul lonceng tidak bergerak.
Bu Rena ingin berbicara langsung kepada ibunya. Meisin mengingatkan bahwa suara hubungan keluarga dapat menarik tulang dalam Wadah X. Mereka menyusun pertanyaan tanpa panggilan.
'Apakah orang di dalam cermin memilih tetap di sana untuk menahan Ki?'
Dua ketukan.
'Apakah kami harus membawa wadah mendekat?'
Satu ketukan keras.
'Apakah retakan harus ditutup dari luar?'
Tiga ketukan, lalu dua.
Mbah meminta mereka menunggu sebelum menutupnya. Dokter bahan memeriksa bingkai dari balik kain menggunakan sensor tekanan. Retakan membawa udara dari sisi dalam, bukan pecahan kaca yang terbuka ke luar. Menutup permukaan dengan perekat dapat memerangkap tekanan dan justru memecahkan cermin.
Mereka membangun penyangga kayu di sekeliling bingkai tanpa menyentuh kaca. Kain kedua digantung pada kerangka terpisah. Bila pecahan keluar, tidak ada orang yang langsung terkena pantulan.
Di ruang Ardi, Meisin melanjutkan pemeriksaan nama. Lelaki itu tidak diminta memaksa ingatan sampai sakit. Ia menggambar bunyi yang pernah didengar: awalnya seperti Wi, lalu dua suku kata yang selalu ditutup Ki dengan suara lonceng.
'Mungkin Wira, Wiryo, atau nama lain,' kata penyidik. 'Belum cukup untuk menyimpulkan.'
Ardi mengingat nama itu terdengar ketika Ki tidur di dalam tubuhnya. Suara Mbah Raras memanggil dari cermin, dan Ki langsung memindahkan kesadaran ke jaringan lain agar tidak mendengar sampai selesai.
Ia juga mengingat Ki selalu menutup telinga kiri tubuhnya saat bunyi awal itu muncul. Pemindaian menemukan bekas cangkok di belakang telinga kiri, berbentuk huruf yang sengaja dikerok. Foto medis diambil tanpa memaksa Ardi melihatnya. Bekas tersebut menjadi bukti tambahan bahwa nama lama pernah ditanam pada tubuh penerima.
Bu Rena memeriksa surat lama Mbah tanpa membawa dokumen ke cermin. Dalam satu daftar murid terdapat tiga nama berawalan Wi. Tidak satu pun memakai nama Bagong. Arsip kebakaran mungkin menyimpan kelanjutannya, tetapi banyak halaman hilang.
Meisin menolak menggunakan vision untuk melihat tulisan yang terbakar. Mereka mencari salinan melalui sekolah desa, catatan tanah, dan keluarga murid.
Sementara itu, Wadah X kembali bergerak. Enam wajah pada kepalanya membuka mulut bersamaan, tetapi tidak mengeluarkan suara. Dokter melihat masing-masing terhubung ke satu jaringan ibu. Mereka memasang enam sensor terpisah agar perubahan satu jaringan tidak dianggap kehendak seluruh tubuh.
Pada wajah pertama, bibir membentuk kata pulang. Wajah kedua membentuk sakit. Wajah ketiga meminta nama. Tiga lainnya hanya menangis tanpa air mata.
'Itu ingatan sel atau kesadaran?' tanya Bu Rena.
'Belum tahu,' jawab dokter. 'Karena itu kita nggak boleh menjawab seolah pasti.'
Enam keluarga diberi laporan tertulis, bukan siaran wajah. Masing-masing boleh memilih apakah ingin menerima informasi sekarang. Dua meminta menunggu. Empat meminta pemeriksaan lanjutan. Tidak ada yang dipanggil ke ruang barang bukti.
Yuni meminta dokter menjelaskan apakah wajah pertama berasal dari jaringan ibunya. Dokter menjawab belum dapat dipastikan karena posisi jaringan bergeser. Siska menolak menerima foto sebelum didampingi psikolog. Dua keluarga lain mengizinkan pencocokan ciri luka, tetapi tidak mengakui wajah sebagai kerabat sampai hasil biologis selesai.
Perbedaan respons itu penting. Ki membutuhkan enam suara yang seragam. Hak setiap keluarga untuk memilih waktu dan cara mengetahui justru membuat wajah-wajah pada Wadah tidak dapat menyatu menjadi satu kesaksian.
Tulang Mbah Raras tetap tertahan di dalam dada. Namun setiap kali Ki memukul dari cermin, tulang itu bergetar. Penyangga kain tidak akan cukup bila retakan terus bertambah.
Reksa memperhatikan pola pukulan. Ki tidak menyerang acak. Ia memukul setelah salah satu enam rekaman keputusan berhenti untuk diulang. Ada jeda kurang dari satu detik ketika lingkaran pengunci kosong.
'Kita buat rekamannya tumpang tindih,' katanya.
'Kalau semuanya berbunyi bersamaan, Ki bisa menganggapnya satu restu kolektif,' ujar Erly.
Mereka memilih pola rantai. Ujung keputusan Reksa bertemu awal Erly, lalu Darto, Owen, Bu Rena, dan Meisin. Tidak ada keheningan, tetapi setiap suara tetap terpisah.
Ki mencoba memukul lagi.
Kepala Mbah berhenti sebelum menyentuh lonceng. Enam noda pada ukiran menariknya menjauh dari pusat. Untuk pertama kalinya, perempuan tua itu mendapat ruang mengangkat tangan.
Empat ketukan terdengar.
Bahaya berada di belakang.
Sensor menangkap sesuatu bukan di dalam cermin, melainkan di belakang kain penutup luar. Sebuah bayangan manusia berdiri di ruang penjaga meski semua petugas sudah mundur.
Kamera tanpa layar mencetak gambar termal. Bayangan itu tidak memiliki panas dan tidak terhubung pada tubuh siapa pun. Ia keluar melalui retakan tanpa memecahkan permukaan.
Salah satu penjaga memeriksa telapak tangannya. Bayangannya di lantai telah hilang.
'Jangan bergerak menuju cahaya,' perintah Meisin. 'Tubuhmu masih milikmu. Sebut pilihan terakhir yang kamu buat.'
Penjaga itu mengingat memilih mundur dari garis. Bayangan tanpa panas meniru suaranya, tetapi mengatakan ia memilih membuka kain.
Petugas membandingkan jawaban dengan catatan tulisan tangan yang dibuat sebelum giliran jaga. Penjaga asli memilih mundur bila suhu turun lebih dari tiga derajat. Bayangan tidak mengetahui batas angka tersebut. Identitas tubuhnya tetap diakui, sedangkan bentuk hitam diperlakukan sebagai penyusup terpisah.
Perbedaan itu membuat bentuk hitam goyah. Petugas lain menutup lampu satu per satu sampai ruangan gelap total. Tanpa cahaya, bayangan tidak dapat mencari tubuh baru.
Namun ia tidak kembali ke cermin.
Pada cetakan sensor terakhir, bentuk itu merayap keluar melalui celah bawah pintu menuju lorong penyimpanan.
Lorong tersebut berakhir pada terminal pneumatik lama yang sudah diputus dari jaringan. Meski tidak ada sambungan fisik, alarm di lokasi ketiga berbunyi pada saat yang sama.
Bayangan hitam muncul di lantai ruang tempat jarum tulang disimpan. (*)