Penjaga ruang cermin tidak membuka kain. Sensor getaran ditempelkan pada lantai, bukan pada bingkai, lalu mengirim pola gerak sebagai angka. Pemukul lonceng bergerak dari sisi dalam setiap tiga belas detik.
Jaraknya tinggal setebal kuku.
'Jangan menahan pemukul dengan tangan,' pesan Meisin melalui radio. 'Jangan masukkan benda apa pun ke bawah kain.'
Cermin tetap berada di gedung terpisah. Wadah X dijaga di ruang barang bukti, jangkar tua tetap di pemandian, jarum tulang di lokasi ketiga, dan kotak Karsa di lokasi keempat. Tidak satu pun dipindahkan meski keadaan mendesak.
Setiap lokasi hanya mengetahui kode lokasi lain, bukan alamat lengkap. Pesan melewati penyidik pusat dan harus dikonfirmasi dua orang. Aturan tersebut memperlambat respons beberapa detik, tetapi mencegah satu petugas yang kehilangan kendali membawa seluruh benda ke tempat sama.
Pusat komando membuat papan kertas berisi lima kolom: cermin, wadah, jangkar, jarum, dan Karsa. Bila satu benda bergerak, semua lokasi lain mengunci pintu dan memeriksa pilihan penjaganya. Tidak ada perintah pemindahan yang sah hanya melalui telepon.
Dokter memeriksa Wadah X. Enam wajah tumbuh mengelilingi kepala seperti topeng yang berebut tempat. Tidak ada yang menyerupai keluarga yang datang ke hotel. Wajah-wajah itu berasal dari jaringan ibu di dalam tubuh, dibentuk oleh ingatan sel yang dicuri.
Tulang Mbah Raras bergerak menuju sisi kiri dada. Bila mencapai kulit, garis keturunan perempuan tua itu dapat menjadi wajah ketujuh.
'Bisakah tulangnya ditahan secara medis?' tanya Meisin.
'Bisa dipasang penyangga dari luar,' jawab dokter. 'Tapi operasi membuka tubuh berisiko memberi pantulan jalan melalui alat mengilap.'
Mereka memakai penyangga kain berisi pasir steril dan papan radiolusen. Tidak ada logam atau permukaan licin. Tubuh diletakkan miring agar gerak tulang melawan gravitasi. Tarikan melambat, tetapi tidak berhenti.
Di pemandian, pipa ketujuh terus mengisap. Enam selang medis mandiri tidak ikut bergerak. Sumber tarikan berasal dari lapisan ritual yang masih menempel di bagian dalam peti jangkar, bukan pipa-pipa korban yang sudah dipisahkan.
Reksa memeriksa gambar sensor cermin. Enam noda wajah tidak bergerak bersama Ki. Masing-masing tersentak pada waktu berbeda, seolah berusaha menjauh.
'Mereka bukan enam kehendak utuh,' katanya. 'Tapi setiap noda terbentuk dari pilihan palsu yang pernah dikalahkan oleh keputusan asli.'
Meisin membuka catatan peristiwa penangkapan enam peniru. Tiruan Reksa gagal karena tidak mengenali pilihan untuk menghormati batas. Tiruan Owen gagal karena menganggap penolakan Meisin dapat dibeli. Tiruan Erly gagal karena memilih menutup arsip korban. Tiruan Darto gagal karena memakai keluarga sebagai alasan. Dua tiruan Meisin gagal karena mengejar kuasa dan nama dengan mengorbankan korban.
'Kita jangan memberi noda itu nama atau menganggap mereka manusia,' kata Meisin. 'Kita gunakan keputusan hidup yang membongkar mereka.'
Enam orang tidak dikumpulkan. Reksa berada di pusat analisis. Erly di hotel. Darto di tahanan. Owen sebagai arwah di pemandian. Bu Rena di rumah sakit. Meisin tetap jauh dari cermin. Setiap pihak merekam satu keputusan baru melalui alat terpisah tanpa layar.
Reksa menyatakan ia membantu tanpa menuntut Meisin memilihnya sebagai pasangan atau pelindung.
Erly menyatakan arsip korban tetap terbuka meski perusahaan runtuh dan dirinya dituntut.
Darto menyatakan Lilis serta Bayu tidak berutang pertemuan, maaf, atau status keluarga kepadanya.
Owen menyatakan jasad, harta, dan bantuan yang pernah diberikannya tidak membeli hak atas Meisin.
Bu Rena menyatakan tulang ibunya tidak membuat seluruh Wadah X menjadi keluarga.
Meisin menjadi suara keenam. 'Namaku tidak ditentukan oleh kekayaan, pernikahan, ketakutan orang lain, atau tubuh yang meniruku. Pilihanku hari ini bukan milik bayanganku kemarin.'
Sebelum digunakan, keenam pernyataan diperiksa pemiliknya sekali lagi. Darto tidak boleh menjadikan keterangannya jalan meminta Lilis atau Bayu mendengar suaranya. Erly tidak boleh memakai pembukaan arsip sebagai tawar-menawar hukuman. Owen tidak boleh mengarahkan penolakannya kepada Meisin sebagai permintaan maaf yang harus diterima.
Bu Rena mengubah satu kalimat setelah menyadari kata keluarga dapat dibaca Ki sebagai pengakuan. Ia menyatakan tulang hanya bukti asal biologis, bukan izin menyatukan tubuh. Koreksi tersebut direkam sebagai pilihan baru, bukan kesalahan yang disembunyikan.
Rekaman tidak diputar menuju cermin. Suara dikirim sebagai getaran melalui lantai gedung agar tidak membuka jalur radio langsung. Setiap keputusan diberi jeda dan dicatat dua saksi.
Teknisi memakai enam pengeras getar murah tanpa jaringan. Kabelnya berakhir di luar garis kain dan tidak menyentuh bingkai. Jika satu alat rusak, lima lainnya tetap membawa keputusan berbeda sehingga Ki tidak memperoleh satu suara gabungan.
Noda pertama berhenti mendekati pusat.
Lalu noda kedua, ketiga, dan keempat kembali ke ukirannya. Dua noda Meisin tetap tertahan di tengah karena Ki sudah memiliki salinan keputusan dari buku.
'Dia mengenali kata-kataku,' kata Meisin. 'Kita perlu pilihan yang belum bisa dia tebak.'
Penyidik menutup semua catatan. Meisin diminta memilih sesuatu yang sederhana tanpa menjelaskan alasan. Di hadapannya ada dua jalur: tetap di pusat komando atau pindah ke rumah sakit bersama Bu Rena.
Ki kemungkinan mengira ia akan memilih ibunya. Reksa pun mengira Meisin akan tinggal untuk mengawasi cermin.
Meisin memilih pergi ke ruang perawatan Ardi.
'Kenapa?' tanya Owen.
'Alasannya bagian dari pilihan. Aku nggak wajib menjelaskannya sekarang.'
Keputusan itu disampaikan hanya sebagai fakta. Dua noda terakhir tersentak, kehilangan bentuk wajah Meisin, lalu kembali ke ukiran.
Pemukul lonceng berhenti bergerak maju.
Ki menggeram dari dalam cermin. Ia menarik Mbah Raras ke depan sebagai perisai. Sensor menunjukkan tubuh perempuan tua itu berada di antara pemukul dan enam noda. Jika mereka mendorong Ki, Mbah dapat terkena lonceng lebih dulu.
'Jangan serang,' suara Mbah muncul sangat lemah melalui radio. 'Kunci enam sisi saja.'
Enam keputusan dipertahankan sebagai getaran berulang dengan jarak tidak sama. Noda-noda membentuk lingkaran, membatasi Ki di bagian tengah tanpa menyentuh Mbah Raras.
Di Wadah X, enam wajah berhenti tumbuh. Tulang Mbah tidak lagi bergerak menuju kulit. Pipa ketujuh tetap mengisap, tetapi hanya menarik udara dingin.
Pemukul mundur setengah jari.
Meisin tiba di ruang Ardi. Lelaki itu sadar dan memilih berbicara tanpa kehadiran ibunya sampai hasil DNA lengkap. Alasan Meisin datang bukan karena menganggapnya kunci ritual. Dia ingin memastikan orang yang tubuhnya dipakai tiga puluh tahun tidak hilang dari cerita setelah Ki keluar.
'Saya ingat sesuatu,' kata Ardi. 'Selama dia ada di dalam tubuh saya, saya mendengar nama yang membuatnya takut.'
'Nama siapa?'
'Bukan Bagong. Dia melarang Dina menulisnya di buku.'
Sebelum Ardi dapat melanjutkan, monitor analog di ruang cermin mencatat pukulan baru.
Bukan pemukul yang mengenai lonceng.
Ki Bagong memukulkan kepala Mbah Raras pada badan lonceng dari dalam.
Tidak terdengar dentang, karena enam keputusan menahan bunyinya. Namun retakan muncul pada pusat cermin, tepat di wajah perempuan tua itu. (*)