Ancaman Ki tidak menghentikan pemeriksaan jantung. Dokter memindahkan peti kecil ke ruang steril hotel tanpa melepas kabelnya. Dina didampingi pengacara, tenaga medis, dan pendamping kehilangan. Ia tidak diminta membuat keputusan saat Ki masih berbicara melalui tubuh Ardi.
Polisi memeriksa pengakuan nama Ardi. Sidik tubuhnya cocok dengan laporan anak hilang bernama Ardi Pranata, tujuh belas tahun, yang lenyap tiga puluh tahun lalu di sekitar Rumah Pulih Ananta. Usia tulangnya kini empat puluh tujuh. Identitas Dion ditempelkan setelah Ki mengambil tubuhnya.
Ibu Ardi masih hidup, tetapi polisi tidak langsung mempertemukan mereka. Foto dan hasil awal dikirim melalui pendamping. Perempuan itu memilih menjalani pemeriksaan DNA sebelum melihat wajah yang mungkin telah diubah puluhan tahun.
'Bagus,' bisik Ardi ketika diberi tahu. 'Jangan biarkan dia memanggil saya anak sebelum tahu siapa yang menjawab.'
Ki mencoba menutup mulutnya dari dalam. Jari kanan melengkung, sedangkan jari kiri Ardi menulis namanya pada kain ranjang. Setiap huruf membutuhkan waktu, tetapi menjadi keputusan baru yang tidak berasal dari identitas Dion.
Dokter menjaga cairan hitam tetap lembap agar saraf Ardi tidak robek. Mereka tidak mengusir Ki secara paksa. Tujuan pertama memisahkan saksi benda, sehingga jalur kendali kehilangan tenaga.
Hasil DNA jantung selesai. Jaringan itu memang berasal dari bayi laki-laki yang dilahirkan Dina. Penyebab kematiannya tidak dapat ditentukan hanya dari organ, tetapi selnya tidak menunjukkan kehidupan mandiri. Detak yang terdengar selama ini berasal dari rangsangan kabel.
Dina membaca hasil itu beberapa kali. 'Jadi dia nggak menunggu tubuh?'
'Jantungnya dipertahankan secara buatan,' jawab dokter. 'Kami tidak bisa mengatakan apa yang tersisa secara spiritual. Secara medis, bayi Ibu meninggal tiga puluh tahun lalu.'
Dina menunduk lama. Ketika bicara, ia tidak meminta anaknya dihidupkan.
'Saya memberi nama Dimas saat dia lahir. Saya ingin nama itu dicatat sebagai anak yang pernah hidup enam jam, kalau hukum memungkinkan. Setelah pemeriksaan perkara selesai, saya ingin bagiannya dimakamkan di tempat yang tidak terhubung tanah Ki.'
Pengacara menjelaskan bukti mungkin harus disimpan sampai persidangan. Dina menerima. Hak untuk dikuburkan tidak berarti bukti harus dihancurkan malam itu.
'Saya menunggu prosedurnya,' katanya. 'Tapi saya mencabut semua izin yang pernah saya berikan agar jantungnya menjadi saksi transaksi atau tubuh baru.'
Kabel di bawah jantung mengendur.
Buku transaksi menutup sendiri. Benda-benda pada rak berhenti bergetar. Di pemandian, tuas saksi turun hingga sejajar lantai.
Dokter memasukkan alat tiruan ke katup keenam. Lapisan tembaga terlepas dari selang medis tanpa menghentikan mesin pemelihara. Enam pengakuan—pasien, utang, pekerja, keluarga, tanah, dan saksi—kini terpisah dari fungsi biologis.
Pipa ketujuh menuju jasad Owen mengempis.
Mayat itu masih duduk selama beberapa detik. Suara Ki keluar seperti udara dari paru-paru bocor. 'Owen memberikan tubuh ini kepadaku.'
Arwah Owen menjawab dari pemandian. 'Aku memang pernah memberikannya untuk merampas Meisin. Keputusan itu bukti kesalahanku. Aku tidak memberimu hak mengubah korban menjadi pembayaran berikutnya.'
Tiga saksi hidup mencatat pernyataannya. Dokter menutup aliran pipa ketujuh sedikit demi sedikit. Tidak ada monitor korban yang berubah. Wadah X tetap bernapas melalui mesin mandiri. Jantung jangkar melambat, tetapi tidak berhenti.
Jasad Owen jatuh kembali ke meja. Tulisan MATI di dadanya berubah menjadi bekas kelabu, lalu hilang. Pemeriksaan menunjukkan tidak ada detak, napas, atau gerakan baru. Rantai tetap dipasang sampai jalur bawah lantai ditutup permanen.
Owen memejamkan mata. 'Tubuhku kembali kosong.'
'Dan tetap barang bukti,' kata Meisin. 'Kamu belum bebas dari apa yang kamu lakukan saat hidup.'
'Aku tahu.'
Pipa ketujuh tidak dipotong. Selangnya dilepas dari katup kamar jenazah, disumbat, dan disimpan sebagai bukti. Ujung dari peti jangkar tetap bergerak lemah, mencari penerima lain.
Di hotel, telunjuk Ardi perlahan lurus. Cairan hitam keluar dari luka belakang telinga dan mengalir ke lantai. Tim menyerapnya sebelum mencapai pipa. Suara Ki menghilang dari mulutnya.
Ardi masih tidak dapat menggerakkan kaki, tetapi ia menyebut tiga nama teman sekolah yang kemudian cocok dengan arsip lama. Ibu Ardi memberikan sampel DNA dan memilih menunggu hasil lengkap sebelum pertemuan. Hak keduanya dipertahankan.
Dokter juga menemukan bekas operasi lama pada dada Ardi. Sebagian jaringan parunya telah diambil dan diganti bahan cangkok yang sama dengan lapisan Wadah X. Tubuhnya bukan hanya kendaraan; selama puluhan tahun Ki mengubahnya sedikit demi sedikit agar cocok dengan identitas berbeda. Pemulihan tidak akan selesai hanya karena suara Ki menghilang.
Dina tidak dibebaskan. Ia tetap tersangka karena membantu mendekati keluarga dan menyembunyikan transaksi. Namun perawatannya dipisahkan dari pemeriksaan pidana agar pengakuan tidak dipaksa oleh rasa sakit.
Enam keluarga menerima penjelasan bahwa jaringan kerabat mereka masih berada dalam Wadah X dan belum dapat dikembalikan. Mereka membentuk kelompok pendamping sendiri tanpa perusahaan Owen. Bu Rena bergabung sebagai keluarga salah satu sumber, bukan pemimpin otomatis.
Mesin mandiri untuk enam pipa tetap menyala. Setelah semua lapisan tembaga lepas, dokter memeriksa ulang jaringan satu per satu. Tidak ada kerusakan baru, tetapi beberapa sampel mulai menunjukkan aktivitas sel normal tanpa perintah dari jangkar. Ini memberi harapan pemisahan Wadah X mungkin dilakukan secara medis, meski belum ada cara aman malam itu.
Pemukul lonceng ketujuh bergerak menjauh dari jarak setebal benang menjadi setebal satu jari.
Kelegaan hanya bertahan satu menit.
Alarm analog di ruang cermin tua berbunyi. Enam noda wajah meninggalkan ukiran dan berkumpul pada bagian tengah yang gelap. Penjaga tidak membuka kain. Sensor menggambar dua sosok saling bertumpuk di dalam kaca.
Mbah Raras muncul pada radio dengan napas terputus. 'Kalian memutus enam jalan luar. Ki menarik semuanya ke dalam cermin.'
'Mbah aman?' tanya Meisin.
'Belum. Jangan bawa cermin ke pemandian.'
Suara kedua tertawa di belakangnya. Ki Bagong tidak lagi berbicara melalui jasad, Dina, atau Ardi. Pantulannya yang sejak dulu terjebak bersama Mbah Raras akhirnya bergerak dari lapisan terdalam.
Di peti jangkar, tubuh tua membuka mata. Pipa ketujuh yang kosong berbalik arah dan mulai mengisap, bukan mengirim.
Wadah X melengkung di ruang barang bukti. Tulang Mbah Raras di dalamnya tertarik menuju kulit, sementara enam jaringan ibu membentuk enam wajah di sekeliling kepala yang rata.
'Dia mau memindahkan pantulannya ke wadah,' kata Mbah Raras. 'Kalau berhasil, dia tidak membutuhkan restu keluarga lagi. Dia akan memakai enam wajah sebagai saksi dan tulangku sebagai wajah ketujuh.'
Meisin memeriksa pemukul lonceng melalui laporan sensor. Benda itu belum menyentuh badan lonceng, tetapi sekarang bergerak dari sisi sebaliknya.
Ki tidak lagi mencoba membunyikannya dari dunia manusia.
Ia akan memukul lonceng ketujuh dari dalam cermin. (*)