Dion tidak jatuh ke sumur. Ia berpegangan pada tepi lantai dengan satu tangan, sedangkan tangan lain terus menekan sertifikat yang basah oleh tinta. Petugas melempar tali, tetapi lelaki itu menolak meraihnya.
'Kalau kalian menarikku, tanah mengakui tubuh ini hidup,' katanya. 'Kalau kalian membiarkanku jatuh, tanah menerima kematian sebagai pembayaran.'
Polisi tidak menerima dua pilihan yang dibuat Ki. Mereka memasang penahan pada lantai, menutup lubang dengan jaring, lalu mengangkat Dion bersama bagian ubin yang masih ditumpunya. Tidak ada seorang pun menyatakan dia hidup atau mati sebagai syarat tanah. Dokter memeriksa tubuhnya setelah berada di permukaan.
Dion bernapas dan memiliki denyut sendiri. DNA-nya tidak sama dengan jantung Dimas, tetapi nomor identitasnya dibangun dari akta bayi itu. Tubuhnya berasal dari lelaki lain yang belum dikenal.
Dokter menemukan tujuh bekas sayatan melingkar pada punggungnya. Usianya berbeda-beda, dari luka tiga puluh tahun sampai jahitan yang baru dibuat pekan ini. Setiap sayatan mengandung jaringan orang lain dalam jumlah kecil. Ki mempertahankan tubuh tersebut melalui cangkok seperti ia menyusun Wadah X, tetapi masih ada sistem saraf asli yang menolak perintahnya.
Penyidik melarang petugas memanggil lelaki itu Dion sebagai kepastian. Sebutan tersebut hanya identitas dokumen yang sedang diperiksa. Mereka memakai nomor pasien sampai pemilik tubuh dapat menyatakan namanya sendiri atau bukti keluarga ditemukan.
'Saya masih di sini,' suara asing keluar sesaat dari mulutnya.
'Siapa yang masih di sana?' tanya pendamping.
Mata kiri Dion berkedip dua kali, mata kanan tetap menatap dingin. Ada kehendak pemilik tubuh di bawah Ki, tetapi ia tidak dapat menyebut nama.
Petugas membawanya ke ruang medis tanpa kaca. Mereka tidak menarik lapisan apa pun karena tubuh itu mungkin terikat sejak tiga puluh tahun lalu. Dina juga tidak dipertemukan dengannya. Hubungan ibu dan anak tidak boleh disimpulkan dari nomor akta palsu.
Sumur kedua diperiksa dengan robot. Jalurnya tidak menuju kamar jenazah secara lurus, melainkan bertemu pipa ketujuh pada ruang katup di bawah jalan. Tinta dari sertifikat mengalir sebagai pemicu, bukan bukti kepemilikan yang sah.
Pengadilan membekukan seluruh keputusan yang ditandatangani Dion. Arsip fisik menunjukkan sertifikat pemandian berasal dari tanah warga yang disita Karsa melalui utang palsu. Dua keluarga pemilik awal masih hidup dan memiliki surat pembayaran yang tidak pernah dicatat.
Surat itu ditemukan bukan melalui vision, melainkan dalam kotak besi milik koperasi desa. Tanggal, cap, dan nomor saksi cocok dengan buku pajak lama. Karsa telah menyobek halaman pelunasan dari arsip resmi, tetapi salinan karbon tetap berada pada keluarga.
Salah satu pemilik awal ingin langsung mengambil kembali tanah. Pendamping menjelaskan lokasi masih berisi peti biologis dan barang bukti berbahaya. Ia setuju menunda penguasaan fisik tanpa melepaskan tuntutan hukum. Penundaan tersebut bukan restu kepada polisi atau keluarga Wilson.
Meisin meminta mereka tidak dipanggil untuk langsung mengklaim tanah. 'Mereka harus mendapat pendamping dan waktu. Ki sedang menunggu satu nama pemilik baru.'
Pengadilan menetapkan tanah sebagai objek perkara, bukan milik Owen, perusahaan, Ki, atau keluarga korban sampai pemeriksaan selesai. Pengelolaan sementara diberikan kepada lembaga publik yang tidak dapat menjual, mewariskan, atau memakai lahan untuk pemakaman.
Keputusan sementara dibacakan tanpa menyebut satu orang sebagai pemilik mutlak. Tiga lembaga memegang kunci berbeda untuk ruang bawah pemandian. Setiap pemeriksaan harus dihadiri wakil forensik, pengadilan, dan pendamping korban agar tanah tidak kembali dikuasai melalui satu tanda tangan.
Keputusan itu tidak mengembalikan tanah kepada pemilik lama secara instan, tetapi menghilangkan klaim jasad Owen sebagai tuan rumah.
Di pemandian, tuas tanah turun perlahan. Dokter memasukkan alat tiruan ke katup kelima. Lapisan tembaga terbuka dan selang medis tetap stabil. Pipa tanah berhasil dipisahkan.
Kini hanya lapisan saksi yang tersisa dari enam pengakuan. Pipa ketujuh kehilangan sebagian besar denyut, tetapi jasad Owen masih bangkit karena izin tubuh lama belum selesai dikembalikan.
Petugas kamar jenazah menambah penahan kain dan kayu, bukan logam mengilap. Jasad itu merangkak beberapa sentimeter menuju lubang jarum sebelum kembali diam. Tulisan MATI pada dadanya tetap ada.
Owen melihat laporan dan berkata, 'Kalau tubuhku harus dikremasi supaya dia nggak bisa memakainya—'
'Kamu berhak menyatakan keinginan tentang tubuhmu,' potong Meisin. 'Tapi jangan menawarkan tindakan yang bisa menyebarkan Ki melalui abu sebelum dokter memeriksanya.'
'Aku masih mencoba menyelesaikan semuanya dengan keputusan besar.'
'Karena keputusan besar terasa seperti penebusan cepat.'
Owen menerima teguran itu. Ia menulis keinginannya melalui tiga saksi: jasadnya tidak boleh dipakai untuk ritual, pemakaman palsu, atau alat menekan Meisin. Cara penanganan akhir diserahkan pada pemeriksaan aman, bukan rasa bersalah sesaat.
Reksa kembali dari hotel membawa salinan forensik buku transaksi. 'Ada sesuatu yang aneh. Semua pembeli membayar dengan benda korban, tapi transaksi Owen punya tiga kolom tambahan.'
Kolom pertama adalah jasad. Kolom kedua perempuan penjaga. Kolom ketiga kosong, hanya diberi tanggal tujuh hari setelah kematian Owen.
Tanggal itu sudah lewat, tetapi di bawah cahaya berbeda, angka terus berubah mengikuti hari berjalan. Ki tidak menunjuk satu tanggal. Ia menghitung hari ketujuh setelah setiap kali identitas Meisin dinyatakan mati.
'Status kematianku sempat aktif kurang dari sehari,' kata Meisin.
'Hitungannya sudah dimulai,' jawab Erly. 'Pemulihan status tidak otomatis membatalkan ritual.'
Mereka menghitung waktu sejak akta palsu pertama terbit. Tersisa lima hari.
Dina meminta bicara dari ruang perawatan. Cairan hitam pada sarafnya melemah setelah tuas tanah turun. Ia mengingat bahwa kolom ketiga disebut tempat pengganti. Jika pernikahan tidak selesai dalam tujuh hari, Ki harus memberikan tubuhnya sendiri kepada tanah atau menemukan orang mati lain untuk menggantikannya.
'Itu sebabnya dia memakai jasad Owen,' kata Dina. 'Dia nggak cuma mau menyelesaikan ritual. Dia ingin memindahkan utangnya kepada tubuh yang sudah diberikan Owen.'
Penyidik bertanya siapa yang menjadi saksi benda untuk perjanjian tersebut.
Dina menunjuk peti kecil. 'Jantung anak saya.'
Jantung Dimas masih terhubung ke buku transaksi. Untuk memutus lapisan saksi, mereka harus mengeluarkannya dari peran benda tanpa memusnahkan bukti atau memaksa Dina mengakui hubungan di bawah pengaruh Ki.
Dina meminta waktu, didampingi pengacara dan dokter. Ia memilih membuat permohonan resmi agar jaringan itu diperiksa, dinamai hanya setelah terbukti, lalu dimakamkan bila memang anaknya.
Pipa saksi bergetar keras, seolah Ki mendengar keputusan tersebut.
Di ruang medis, Dion membuka mata. Telunjuknya tetap melengkung, tetapi suara yang keluar bukan suara Ki.
'Nama saya Ardi,' bisiknya. 'Dia mengambil tubuh saya ketika saya berumur tujuh belas.'
Sebelum petugas sempat bertanya, jantung Dimas berdetak melalui pengeras alat.
Dion menjerit. Kulit wajahnya terbelah, memperlihatkan wajah lelaki tua di bawahnya.
'Kalau anak itu dikubur,' kata Ki melalui dua lapis mulut, 'aku akan mengubur semua nama bersamanya.' (*)