Dokter menahan tangan Dina tanpa menarik lapisan hitam dari sarafnya. Detak jantung kecil di dalam peti mengikuti denyut perempuan itu. Setiap kali Dina mencoba menyebutnya sebagai anak, cairan di belakang telinganya bergerak lebih dalam.
'Jangan paksa saya diam,' katanya dengan suara sendiri. 'Saya sudah tiga puluh tahun menunggu.'
'Ibu boleh bicara,' jawab pendamping. 'Tapi kita belum tahu jaringan itu milik siapa. Ibu berhak meminta pemeriksaan sebelum memberi hubungan.'
Dina menangis. Ki telah memakai kerinduannya sebagai tali selama bertahun-tahun. Melarangnya merasakan kehilangan hanya akan menjadi bentuk kendali lain.
Sampel jantung diambil tanpa memindahkan peti. Hasil awal cocok dengan garis ibu Dina. Catatan Rumah Pulih Ananta menunjukkan ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang dinyatakan meninggal enam jam kemudian. Dina tidak pernah melihat jenazah. Petugas memberinya kotak abu tanpa hasil pemeriksaan.
Kotak abu itu masih disimpan Dina di rumah lama. Polisi mengambilnya setelah mendapat izin tertulis. Laboratorium menemukan abu kayu, kain rumah sakit, dan pasir, tanpa tulang manusia. Penipuan tersebut membuktikan pihak klinik sengaja menutup jejak pengambilan organ, bukan sekadar membuat kesalahan pencatatan.
Dina juga menyerahkan kuitansi yang dibayar setiap tahun untuk menjaga jantung tetap hidup. Nominalnya kecil pada awalnya, lalu berubah menjadi tugas: mengarsipkan transaksi, mencari keluarga, dan mengirim undangan. Setiap kali hendak berhenti, Ki memutar detak melalui telepon agar ia percaya anaknya masih menunggu.
'Saya menamainya Dimas,' katanya. 'Ki bilang jantungnya tetap hidup dan suatu hari bisa diberi tubuh.'
Nama itu membuat jantung berdetak dua kali. Pemukul lonceng ketujuh bergerak setipis rambut.
Dina menutup mulut sendiri. Ia tidak menarik nama tersebut, tetapi menambahkan keputusan sekarang. 'Kalau itu bagian Dimas, saya ingin dia diperlakukan sebagai anak yang meninggal, bukan dipaksa hidup untuk membayar kesalahan saya.'
Jantung kecil berhenti meniru detaknya. Telunjuk kanan Dina tetap melengkung, tetapi suara Ki tidak keluar.
Dokter menemukan kabel sangat halus di bawah jaringan jantung. Kabel menuju dasar peti, lalu tersambung pada kolom benda saksi dalam buku transaksi. Selama jantung dianggap menunggu tubuh baru, peti dapat menjadi saksi bagi setiap perpindahan identitas.
'Pipa saksi nggak hanya menuju jasad Owen,' kata Reksa. 'Semua benda pembayaran di rak ini dipaksa menyaksikan transaksi berikutnya.'
Polisi mencatat benda satu per satu. Keluarga pemilik tidak langsung dipanggil untuk mengakuinya. Foto dan nomor bukti dikirim kepada pendamping, agar proses pengembalian tidak berubah menjadi kumpulan restu baru di hotel.
Dina bersedia menjelaskan cara kerja ruang ketujuh. Setiap pembeli meninggalkan benda dari korban dan benda dari dirinya sendiri. Ki menyatukan keduanya melalui satu jaringan bayi yang belum memiliki catatan hidup lengkap. Identitas kosong bayi menjadi jalan bagi tubuh, nama, dan kepemilikan untuk ditukar.
Ia menggambar letak tujuh rongga di bawah rak. Polisi menemukan kabel menuju pemandian, morgue, kantor pertanahan, dan tiga lokasi yang sudah disita. Rongga terakhir mengarah pada cermin tua, tetapi berakhir di dinding hotel. Jalur fisiknya sudah putus dalam kebakaran; hanya lapisan ritual yang mungkin tersisa.
'Kenapa memakai nama Sumarni?' tanya penyidik.
'Itu nama palsu pada akta saya sebagai ibu,' jawab Dina. 'Nama saya diganti selama satu hari, lalu dikembalikan. Ki mempertahankan Sumarni sebagai ibu hukum dari bayi tanpa nama. Bertahun-tahun kemudian, dia memakai identitas itu untuk perusahaan cuci.'
Arsip kependudukan membenarkan adanya perubahan satu hari yang tidak memiliki dasar. Bayi Dina tidak pernah dicatat sebagai Dimas. Ia hanya memiliki nomor kelahiran di bawah nama Sumarni, lalu dinyatakan mati tanpa penerbitan nama.
Meisin meminta petugas tidak buru-buru menambahkan nama Dimas ke akta. Itu hak Dina sebagai ibu, tetapi harus dilakukan setelah pengaruh Ki terpisah agar keputusan tidak dipakai menghidupkan peti.
Pengacara menjelaskan pengakuan kelahiran dan pencatatan kematian dapat dilakukan sebagai dua tindakan terpisah. Dina tidak perlu memilih antara menganggap anaknya tidak pernah ada atau memaksanya hidup. Ia dapat mengakui enam jam kehidupannya sekaligus menerima kematiannya.
Dina setuju menunggu. 'Saya ingin namanya diakui pernah ada. Bukan dijadikan tubuh baru.'
Pilihan itu melemahkan kabel. Jantung tetap diawetkan oleh mesin, tetapi tidak lagi menggerakkan benda-benda di rak. Pipa saksi di pemandian turun separuh.
Lima lapisan kini terpisah atau melemah. Hanya tanah yang masih terkunci dan saksi yang belum sepenuhnya lepas. Pipa ketujuh menuju jasad Owen bernapas pendek seperti tenggorokan tersumbat.
Jasad itu tidak lagi mengucapkan kata pernikahan. Ki hanya tertawa melalui bibirnya.
'Kalian kira mengakui kematian akan membebaskan anak itu?' katanya. 'Aku sudah memberinya tiga puluh tahun kehidupan.'
Polisi memeriksa semua identitas yang memakai nomor kelahiran bayi Dina. Ada tujuh kartu yang diterbitkan pada tahun berbeda. Enam sudah dinyatakan mati. Identitas ketujuh masih aktif atas nama Dion Mahesa, pria tiga puluh tahun yang bekerja sebagai petugas mediasi pertanahan.
Dion menangani sengketa Kampung Dukun, Gudang Kaca, hotel, dan pemandian.
Foto identitasnya menunjukkan wajah berbeda dari tubuh-tubuh Ki sebelumnya. Namun telunjuk kanan melengkung ke dalam. Alamatnya tidak ada, dan riwayat sekolahnya dibuat dari lembaga yang sudah tutup.
'Tubuh penerima aktifnya punya umur yang sama dengan Dimas seharusnya,' kata Erly.
'Ki membuat kehidupan palsu di atas kematian anak Dina,' jawab Meisin.
Dina mendengar melalui pendamping. Ia tidak menyebut Dion sebagai putranya. Ia memberikan izin agar nomor akta bayi diperiksa dan dipisahkan dari identitas pria tersebut.
Polisi mencari Dion di kantor pertanahan. Ia baru saja masuk ruang mediasi dengan membawa sertifikat tua serta perintah pengadilan palsu. Tujuannya mengesahkan tubuh Owen sebagai pemilik tanah pemandian sebelum lapisan pipa tanah dilepas.
Petugas mengepung ruangan tanpa meneriakkan nama. Di dalam, kamera menunjukkan Dion duduk sendirian di depan tujuh kursi kosong. Ia menandatangani keputusan sebagai mediator, pemohon, dan saksi bergantian.
Setiap tanda tangan memakai nama orang yang sudah mati.
Penyidik memutus akses pencetak dan meminta Dion keluar. Lelaki itu berdiri. Telunjuknya melengkung, tetapi tidak ada luka di belakang telinga. Tubuh tersebut telah dibentuk untuk Ki sejak kelahiran, bukan dipinjam sementara.
'Dina ingin menguburkan anaknya,' kata Meisin melalui pengeras suara.
Dion tersenyum dengan wajah yang tidak dikenal sang ibu. 'Kalau dia mengubur Dimas, aku tetap punya tiga puluh tahun hidup yang dunia berikan kepadaku.'
Ia merobek sertifikat palsu. Tinta dari tujuh tanda tangan mengalir ke lantai dan masuk ke celah ubin.
Di pemandian, tuas tanah bergerak tegak.
Pipa ketujuh menghantam sisi peti jangkar. Jasad Owen bangkit sampai rantainya menegang.
Dion menempelkan telapak pada dinding ruang mediasi.
'Tanah tidak memerlukan pemilik hidup,' katanya. 'Tanah hanya memerlukan seseorang untuk dikubur.'
Lantai di bawahnya runtuh, membuka sumur kedua yang terhubung langsung ke kamar jenazah Owen. (*)