Dina dirawat di lantai atas hotel dengan pengawasan dokter. Cairan hitam tetap menempel pada saraf di belakang telinganya. Ia sadar, dapat menjawab pertanyaan sederhana, dan mengakui pernah menghubungi keluarga korban memakai nama yayasan pemulangan jenazah.
'Ki bilang bagian tubuh mereka akan menyatukan ibu-ibu itu kembali,' katanya. 'Saya percaya pada awalnya.'
'Kapan kamu tahu Wadah X dipakai untuk ritual?' tanya penyidik.
Dina menunduk. 'Dua tahun lalu. Saya tetap mengirim undangan karena dia berjanji menghidupkan anak saya.'
Keinginan memulangkan orang mati tidak menghapus keterlibatannya. Pengakuan dicatat, dan aksesnya terhadap keluarga dihentikan. Dokter juga tidak menarik lapisan Ki sebelum mengetahui cara memisahkannya dari jantung Dina.
Di ruang bawah, buku transaksi difoto halaman demi halaman. Selain Owen, terdapat dua puluh tujuh pembeli lain yang meminta cinta, warisan, tubuh muda, atau penghapusan saksi. Nama korbannya ditulis sebagai barang. Sebagian perkara sudah puluhan tahun, tetapi bukti tetap diamankan untuk mencari keluarga serta korban yang mungkin masih hidup.
Penyidik membagi perkara berdasarkan tindakan yang dapat dibuktikan: pembayaran, penculikan, pemalsuan identitas, pencurian jaringan, dan ancaman. Unsur gaib tidak dijadikan alasan mengabaikan bukti biasa. Nomor rekening, stempel klinik, serta tanda tangan memberi jalur yang dapat diuji di pengadilan.
Pada lima transaksi, pembeli masih hidup dan memiliki jabatan. Polisi tidak memberi tahu mereka sebelum salinan server diamankan, agar bukti tidak dihapus. Erly mengenali dua perusahaan pemasok milik rekan bisnis Owen. Ia menyerahkan korespondensi lama meski hal itu memperluas perkara terhadap perusahaan.
Meisin meminta namanya pada buku tidak ditutup atau dihapus. 'Tulisan itu bukti cara mereka memperlakukanku. Jangan biarkan Ki mengubah penghilangan bukti menjadi pembebasan.'
Salinan pengakuan Owen diletakkan di atas meja memakai penjepit kayu. Tidak ada orang menyentuh permukaan dengan kulit. Reksa, penyidik, dan pengacara menjadi saksi hidup. Suara Owen disambungkan melalui radio tanpa layar.
'Ceritakan keputusanmu saat pertama datang,' kata penyidik.
Owen tidak memulai dari alasan cinta. 'Aku marah karena Meisin menolakku. Aku menganggap penolakannya sebagai penghinaan. Aku membayar Ki agar dia tidak bisa menolak lagi.'
Tulisan pada buku bergerak. Kata barang di samping nama Meisin menghitam.
'Apa yang kamu pahami tentang ritual waktu itu?'
'Aku tahu kehendaknya akan dipengaruhi. Aku memilih tidak bertanya seberapa jauh karena hasilnya menguntungkanku.'
Meja bergetar. Dari retakan kayu keluar suara Owen semasa hidup yang menyebut Meisin miliknya. Arwah Owen mendengarnya tanpa menyalahkan Ki atau ruangan.
'Itu aku,' katanya. 'Aku yang mengucapkannya.'
'Apa keputusanmu sekarang?' tanya Meisin dari pemandian. Ia tidak berada di ruangan dan tidak dijadikan pihak yang harus menerima penyesalan.
'Aku mengembalikan pengakuan bahwa aku membeli keputusanmu kepada tempat ini sebagai bukti kejahatanku. Aku tidak meminta transaksi dibatalkan seolah tak pernah ada. Aku mencabut semua tuntutan atas tubuh, nama, cinta, pernikahan, dan masa depanmu.'
'Dan kalau ritual berhenti, apa yang kamu minta dariku?' tanya Meisin.
Owen terdiam cukup lama hingga radio hanya memancarkan desis. 'Tidak ada. Kalau suatu hari kamu memilih berbicara denganku, itu keputusan baru. Kalau tidak, pencabutan ini tetap berlaku.'
Reksa mendengar tanpa menyela. Ia tidak menyebut jawaban Owen sebagai bukti perubahan yang harus dibalas Meisin. Penyidik mencatatnya hanya sebagai batas persetujuan, bukan janji hubungan.
Salinan pengakuan terbuka sendiri. Tanda tangan lama Owen terangkat dari kertas seperti jelaga dan kembali ke kolom pembeli. Nama Meisin tetap tercatat, tetapi kata barang pecah menjadi huruf-huruf tanpa makna.
Di kamar jenazah, jasad Owen berhenti bernapas selama tujuh detik. Tulisan pada dadanya surut sampai hanya tersisa kata MATI. Pipa ketujuh melemah, tetapi belum lepas dari tubuh.
Tuas keluarga di pemandian juga bergerak turun. Enam keluarga kemudian diberi kesempatan membaca hasil awal DNA dan penjelasan tentang Wadah X. Mereka tidak ditempatkan dalam satu ruangan agar keputusan seorang tidak menekan yang lain.
Setiap keluarga didampingi petugas berbeda dan menerima salinan yang sama. Mereka diberi tahu bahwa hasil awal dapat berubah setelah pemeriksaan lengkap. Tidak seorang pun diminta menandatangani pelepasan jaringan malam itu. Prosedur lambat tersebut mencegah Ki memakai satu formulir umum sebagai restu kolektif.
Yuni menarik semua izin yang diperoleh melalui undangan palsu. Siska memilih belum memberikan keputusan sampai identifikasi selesai. Keluarga lain meminta bagian kerabatnya dijaga sebagai barang bukti dan kelak dikembalikan sesuai prosedur kemanusiaan.
Tidak semua memakai kalimat sama. Yang penting, tak satu pun merestui penyatuan jaringan menjadi satu tubuh.
Bu Rena memberi pernyataan terpisah mengenai tulang Mbah Raras. Ia tidak mengklaim seluruh Wadah X, tetapi meminta bagian ibunya tidak digunakan tanpa persetujuan keluarga dan kehendak pantulan Mbah sendiri.
Tuas keluarga turun sepenuhnya.
Dokter memakai alat tiruan untuk membuka katup. Lapisan tembaga pipa keluarga terpisah dari selang medis. Wajah Bu Rena yang tersisa pada Wadah X luruh. Permukaan kepala tubuh itu kembali rata.
Empat lapisan dari enam kini sudah dialihkan: pasien, utang, pekerja, dan keluarga. Tanah serta saksi masih terhubung. Pipa ketujuh menuju jasad Owen tetap berdenyut lemah.
Reksa memeriksa kolom harga pada buku. Setelah kata barang pecah, tulisan baru muncul di bawah transaksi Owen: pembayaran belum lunas karena pembeli meninggal sebelum menerima hasil.
'Ki menganggap jasad Owen sebagai sisa pembayaran,' katanya.
'Aku memberikannya melalui rekaman,' jawab Owen. 'Dia memang punya bukti keputusan lamaku.'
'Bukti bahwa kamu pernah mengizinkan bukan berarti dia boleh terus memakai tubuh setelah tujuan kejahatannya gagal,' kata pengacara. 'Tapi secara ritual, kita perlu menemukan pihak yang menerima pembayaran.'
Nama penerima pada buku bukan Ki Bagong. Hanya ada cap berbentuk mata tertutup dan huruf D.
Dina mengaku rekening hotel memakai namanya, tetapi uang selalu dipindahkan ke orang lain. Ia tidak mengetahui nama asli penerima. Setiap transaksi diserahkan lewat peti kecil di ruang ketujuh.
Polisi membuka pintu ruang itu. Di dalamnya terdapat rak berisi benda pembayaran: rambut, cincin, surat tanah, gigi, dan potongan foto. Peti kecil dari lantai atas sudah berada di tengah ruangan meski tidak ada petugas memindahkannya.
Tutupnya terbuka.
Gaun pengantin di lantai tersedot masuk seperti kain ditarik tangan tak terlihat. Di dasar peti ditemukan jantung kecil yang belum berdetak dan satu kartu identitas kosong.
Sidik pada kartu bukan milik Dina. Arsip lama mencocokkannya dengan seorang bayi yang dinyatakan meninggal di Rumah Pulih Ananta tiga puluh tahun lalu.
Nama bayi itu dikosongkan dari akta, tetapi kolom ibunya masih terbaca.
Sumarni Wibowo, pemilik perusahaan cuci yang identitasnya pernah dipakai Ki.
Dina mendengar nama itu dan menjerit. 'Itu anak saya! Sumarni adalah nama yang dipakai Ki untuk mencuri akta kelahirannya!'
Jantung kecil di dalam peti berdetak sekali.
Telunjuk kanan Dina kembali melengkung. (*)