Polisi tidak menyerbu hotel dengan sirene. Enam perempuan di dalamnya mungkin korban penipuan, sedangkan orang ketujuh belum diketahui. Tim memutus listrik dari luar, tetapi generator bawah tanah langsung menyala. Tujuh jendela lantai dua memancarkan cahaya merah.
Meisin tetap di pemandian bersama arwah Owen dan peti jangkar. Bu Rena berada di rumah sakit. Tidak ada anggota keluarga Mbah Raras yang mendekati hotel, sehingga Ki tidak dapat memperoleh restu dari garis darah penjaga.
Reksa ikut sampai pos luar bersama penyidik. Melalui pengeras suara tanpa menyebut nama jenazah, polisi menjelaskan bahwa undangan pemulangan diduga bagian penipuan. Tidak ada jawaban.
Kamera termal memperlihatkan tujuh orang berdiri mengelilingi peti kecil. Tangan mereka diletakkan di atas gaun pengantin yang dibentangkan di lantai.
'Kalau kami masuk, mereka bisa menganggap kita hendak merampas jenazah keluarganya,' kata pendamping korban.
'Hubungi orang yang mereka pilih sendiri sebagai saksi,' jawab Meisin melalui radio.
Tetangga dan keluarga yang sebelumnya menerima laporan dipanggil satu per satu. Mereka tidak disuruh membujuk. Mereka hanya diminta menyampaikan fakta yang dapat diperiksa: tidak ada jenazah yang sudah diidentifikasi, undangan berasal dari nomor palsu, dan keluarga berhak melihat hasil DNA sebelum mengambil keputusan.
Seorang perempuan di hotel akhirnya menjawab telepon adiknya. Namanya Yuni. Ia datang karena undangan mengatakan tulang ibunya akan dimusnahkan bila keluarga tidak memberi restu malam itu.
'Mereka menunjukkan foto tangannya,' katanya terisak. 'Ada cincin Ibu.'
Penyidik memeriksa foto. Cincin itu memang tercatat pada barang bukti klinik, tetapi tidak berada di hotel. Ki hanya membawa gambarnya untuk menciptakan tekanan.
'Kami tidak meminta Ibu Yuni percaya kepada polisi sekarang,' kata pendamping. 'Ibu boleh keluar, memeriksa bukti, lalu memutuskan setelah didampingi orang pilihan Ibu.'
Yuni melepaskan tangan dari gaun. Satu jendela merah padam.
Lima perempuan lain mulai menerima panggilan. Ada yang langsung keluar, ada yang marah dan menuduh polisi menghalangi pemulangan. Mereka tidak dipaksa mengatakan restu batal. Masing-masing diberi jalan keluar serta waktu melihat dokumen.
Perempuan kelima bernama Siska menolak bergerak sebelum mendengar suara mendiang kakaknya. Dari peti kecil, suara seorang perempuan memanggil namanya dan mengingatkan janji masa kecil.
'Kenangan bisa menempel pada jaringan,' kata Meisin. 'Suara benar belum tentu kehendak orangnya sekarang.'
Siska mendengar penjelasan itu melalui pendamping. Ia bertanya apakah bagian kakaknya akan dikembalikan jika keluar.
'Belum bisa dijanjikan malam ini,' jawab pendamping jujur. 'Tubuh campuran harus dipisahkan tanpa merusak bagian siapa pun.'
Kejujuran membuat Siska menangis lebih keras, tetapi ia menarik tangan dari gaun. 'Saya keluar untuk memeriksa. Saya belum merestui atau menolak apa pun.'
Jendela keenam padam setelah perempuan terakhir memilih keluar.
Keenamnya dibawa ke ruangan berbeda di gedung seberang. Dokter memeriksa apakah mereka terkena obat atau serpihan kulit. Dua orang memiliki serbuk hitam pada undangan, tetapi tidak ada luka belakang telinga. Serbuk itu membuat mereka mendengar suara kerabat melalui peti tanpa mengambil kendali tubuh.
Pendamping meminta setiap perempuan menulis alasan kedatangannya sebelum saling bertemu. Jawabannya berbeda: menginginkan makam, mencari kepastian, takut bagian tubuh dimusnahkan, dan berharap kesalahan rumah sakit diakui. Perbedaan itu membuktikan mereka bukan kelompok yang memberikan satu restu bersama.
Yuni meminta undangannya tetap dijadikan bukti. Siska memilih tidak mendengar rekaman suara kakaknya lagi sebelum dokter menjelaskan sumbernya. Pilihan tersebut dicatat tanpa dianggap penolakan terhadap kerabat mereka.
Masih ada satu cahaya.
Polisi menghitung ulang. Enam perempuan yang keluar cocok dengan enam keluarga jaringan selain Mbah Raras. Orang ketujuh tidak memiliki hubungan dengan korban. Ia mengenakan kerudung hitam dan mengaku sebagai cucu Mbah Raras.
Bu Rena mendengar pengakuan itu dari rumah sakit. 'Ibu cuma punya aku. Nggak ada cucu lain selain Meisin.'
Perempuan palsu membuka wajahnya. Ia adalah petugas arsip hotel bernama Dina yang dinyatakan meninggal dalam kebakaran tiga tahun lalu. Bekas lukanya tampak segar, sedangkan telunjuk kanan melengkung ke dalam.
'Kalau garis Raras tidak datang, aku akan membuatnya,' katanya dengan suara Ki Bagong.
Dina menempelkan telapak pada gaun dan mengucapkan restu atas nama keluarga. Cahaya jendela terakhir membesar, tetapi pemukul lonceng tidak bergerak. Pengakuan seorang penyamar tidak dapat mengganti hubungan darah hidup.
Ki memaksa enam suara keluarga keluar dari mulut Dina sekaligus. Ia mengulang potongan telepon dan tangisan mereka seolah semuanya telah setuju.
Penyidik memutar rekaman lengkap, bukan potongan. Satu per satu terdengar bahwa enam perempuan hanya memilih keluar dan memeriksa bukti. Tidak ada yang memberi restu.
Gaun di lantai terbakar dari ujungnya. Peti kecil bergetar.
Polisi masuk setelah enam keluarga berada di tempat aman. Dina berdiri di tengah ruangan sambil memegang pisau. Tangan kirinya menggores telapak kanan, hendak membuat hubungan darah palsu.
'Dina masih ada di dalam?' tanya Reksa.
Mata perempuan itu bergerak ke arah pintu dua kali. Itu bukan pola yang telah disepakati, tetapi cukup untuk meminta pemeriksaan kehendak.
Pendamping menunjukkan dua kartu dari balik perisai: letakkan pisau atau lanjutkan. Tatapan Dina memilih letakkan. Tubuhnya mengangkat pisau ke leher.
Petugas menembakkan jaring dan menjepit tangannya tanpa melukai lebih jauh. Dokter mengoleskan larutan pengering pada luka lama di belakang telinga. Cairan hitam keluar, tetapi tidak seluruhnya. Ki telah tinggal di tubuh itu selama tiga tahun; lapisan penerimanya lebih tebal daripada Rahmat atau Ningsih.
Dina berteriak menggunakan suaranya sendiri. 'Jangan cabut paksa! Jantung saya terikat ke hotel!'
Dokter berhenti. Mereka menahan tubuhnya sebagai pasien berbahaya, bukan menarik Ki dengan cara yang dapat membunuhnya.
Di pemandian, detak jangkar turun. Tuas keluarga miring untuk pertama kali. Enam keluarga belum menarik pengakuan secara resmi, tetapi mereka sudah menolak membuat keputusan di bawah ancaman.
Jasad Owen berhenti berbicara. Tulisan MEMPELAI PEREMPUAN pada dadanya memudar sebagian.
Polisi mengamankan salinan pengakuan lama Owen dalam wadah kertas tanpa kaca. Tidak ada jasad, cermin, jarum, atau kotak Karsa yang dibawa. Owen sendiri tetap di pemandian dan hanya mengikuti melalui radio.
Reksa turun bersama penyidik menuju ruang pertemuan bawah tanah. Dindingnya hangus, tetapi meja tempat Owen membayar Ki masih utuh. Di atas meja ada tujuh kursi dan satu buku transaksi terbuka.
Nama Owen tercatat sebagai pembeli.
Nama Meisin tercatat sebagai barang yang diminta.
Pada kolom harga, Ki Bagong tidak menulis uang.
Ia menulis: satu tubuh kaya setelah mati, satu perempuan penjaga sebelum mati, dan tujuh keluarga yang akan menganggap pencurian sebagai pemulangan.
Di baris paling bawah terdapat cap jempol Dina.
Tubuh perempuan itu bukan sekadar penerima Ki. Dialah penjaga hotel yang menjual akses kepada enam keluarga selama tiga tahun. (*)