Lift pelayanan berhenti di lantai kamar bayi. Petugas memutus akses pengeras suara sebelum pintunya terbuka. Keluarga dan bayi dipindahkan melalui tangga lain tanpa meneriakkan nama. Perawat membawa gelang identitas secara tertutup agar tidak tertukar dalam kepanikan.
Lelaki saksi keluar dari lift dengan baju operasi. Namanya Harun. Dialah orang yang dulu dibayar untuk menyatakan Meisin menyetujui pernikahan arwah. Luka operasinya masih terbuka, tetapi ia berjalan tegak dengan telunjuk kanan melengkung.
'Aku datang mencabut kesaksian palsuku,' katanya kepada petugas.
'Kamu sudah mencabutnya tadi malam,' jawab penyidik.
Harun tersenyum. Suara Ki Bagong muncul. 'Kalau begitu aku akan memberikan kesaksian baru.'
Ia membawa jarum suntik berisi cairan hitam. Bukan untuk membunuh bayi. Cairan itu akan diteteskan pada gelang mereka, lalu nama pertama yang diucapkan keluarga menjadi saksi kelahiran bagi wajah ketujuh.
Polisi memerintahkannya meletakkan jarum. Tangan kiri Harun gemetar, berlawanan dengan tangan kanan yang menggenggam. Seperti Sari, sebagian kehendaknya masih bertahan.
Pendamping medis menunjukkan dua kartu dari jarak aman: berhenti atau maju. Mata Harun bergerak ke kartu berhenti. Tubuhnya mengambil satu langkah maju.
'Catat matanya sebagai pilihan,' kata Meisin melalui radio.
Petugas tidak menembak. Mereka menggunakan perisai untuk memisahkan Harun dari pintu bayi. Reksa menjatuhkan jarum dengan tongkat penjepit. Cairan tumpah ke kain penyerap dan langsung disegel.
Ki memaksa Harun menggigit lidah. Polisi memasang penahan rahang tanpa mencekiknya. Dokter mengoleskan larutan pengering pada luka belakang telinga serta tepi operasi. Lapisan kulit asing keluar dari luka seperti cacing tipis.
Harun menjerit dengan dua suara. 'Aku saksi! Aku melihat pengantin perempuan setuju!'
Meisin membuka tiga bagian kertas yang dibagi pada bab sebelumnya. Reksa membaca bagiannya di rumah sakit. Erly membacakan bagian kedua di depan penyidik. Meisin menyelesaikan kalimat dari pemandian.
'Tidak seorang pun boleh menjawab persetujuan orang lain, bahkan untuk menyelamatkannya.'
Kalimat itu belum pernah berada di buku, server, atau rekaman yang dicuri. Harun asli memilih berhenti melalui matanya. Tidak ada saksi yang dapat mengganti keputusan tersebut.
Lapisan kulit lepas seluruhnya. Telunjuknya kembali lurus. Harun roboh dan segera ditangani sebagai pasien sekaligus tersangka atas kesaksian palsu lamanya.
Di kamar jenazah, jasad Owen berhenti menarik rantai. Tulisan MEMPELAI pada bahu menghilang lagi. Namun cairan hitam di dadanya belum surut karena satu kesaksian lain masih tersimpan.
'Ada saksi ketujuh yang bukan Harun,' kata Reksa.
Erly menghitung dokumen lama. Tiga saksi bayaran sudah mencabut pernyataan. Pejabat, pengurus rumah duka, dan dua pegawai perusahaan terbukti tanda tangannya dipalsukan. Jumlahnya enam jalur kesaksian.
Saksi ketujuh tidak tercantum sebagai manusia.
Pada lampiran pernikahan terdapat kolom benda saksi. Isinya: tubuh mempelai laki-laki.
Owen sendiri pernah menyetujui bahwa jasadnya akan menjadi saksi bila ia meninggal sebelum Meisin menerima pernikahan. Tanda tangannya bukan hasil pemalsuan digital. Pemeriksaan tinta menunjukkan dokumen dibuat sebelum kecelakaan.
'Aku nggak ingat menandatangani itu,' kata Owen.
'Tidak ingat bukan bukti kamu tidak melakukannya,' jawab Meisin.
Erly mencari rekaman brankas. Ia menemukan berkas suara yang sengaja diberi nama biaya pemakaman agar tidak mencolok. Suara Owen terdengar jelas, masih hidup dan penuh kemarahan.
'Kalau aku mati sebelum dia menerimaku, pakai tubuhku sebagai saksi. Aku nggak peduli caranya. Pastikan Meisin tetap menjadi istriku.'
Ruangan menjadi sunyi.
Owen tidak menuduh Ki memanipulasi rekaman. 'Itu suaraku.'
'Kamu ingat sekarang?' tanya Reksa.
'Aku ingat marah setelah Meisin lolos dari pengawasanku. Bagong menyuruhku menyiapkan jalan kalau kecelakaan atau musuh membunuhku. Aku menandatangani tanpa membaca semua lampiran.'
'Tapi kalimat dalam rekaman pilihanmu sendiri,' kata Meisin.
'Ya.'
Pengakuan itu tidak menghancurkan kemajuan Owen, tetapi menunjukkan betapa jauh akibat keputusan lamanya. Ia tidak boleh membatalkannya hanya dengan berkata sudah berubah.
Penyidik menambahkan rekaman sebagai bukti pemaksaan terhadap Meisin dan penyalahgunaan jasad. Pengacara menjelaskan bahwa izin semasa hidup mengenai jenazah dapat dicabut oleh ketentuan hukum tertentu, tetapi Owen tidak memiliki keluarga hidup yang bersedia datang. Wasiatnya memberi Erly kuasa administratif terbatas, bukan hak atas tubuh.
'Aku nggak membutuhkan orang hidup mewakiliku,' kata Owen. 'Gunakan keputusan setelah kematianku seperti tadi.'
'Ki akan menolak karena tubuhmu ditulis sebagai saksi, bukan arwahmu,' ujar Meisin.
Owen menatap peti jangkar. 'Kalau tubuhku menjadi saksi kebohongan, biarkan bukti kematianku sendiri melawannya.'
Dokter forensik membawa catatan otopsi, waktu kematian, dan bukti bahwa jasad tidak memiliki kesadaran biologis. Tiga saksi hidup menyatakan tubuh yang bergerak sekarang digerakkan pipa Ki, bukan kehendak Owen. Arwah Owen mengulangi penolakannya dari pemandian.
Lapisan hitam pada dada mayat pecah, tetapi tidak hilang. Pipa ketujuh kehilangan sebutan saksi, sementara izin lama tetap menempel sebagai utang yang harus dibongkar dari sumbernya.
Enam noda di cermin tua bergerak serempak. Pusat kaca yang gelap menyala sesaat. Wajah Mbah Raras muncul hanya separuh, seperti sedang berbicara dari tempat sangat jauh.
'Jangan bakar dokumen Owen,' katanya. 'Pengakuan salah harus dikembalikan kepada orang yang membuatnya, bukan dihilangkan.'
'Bagaimana caranya?' tanya Meisin.
'Bawa salinannya ke tempat keputusan itu dibeli. Bukan tubuh, bukan cermin, bukan Karsa.'
Sebelum menghilang lagi, Mbah Raras menunjuk satu kata pada rekaman transaksi: biaya konsultasi pertama. Pembayaran itu dilakukan di sebuah hotel yang sudah ditutup setelah kebakaran kecil tiga tahun lalu.
Erly mengenali tempatnya. Di hotel itulah Owen pertama kali bertemu Ki Bagong secara langsung dan meminta cara agar Meisin tidak dapat menolaknya.
Polisi mencari arsip bangunan. Ruang pertemuan bawah tanah hotel masih terdaftar sebagai milik perusahaan cangkang. Listriknya aktif meski gedung kosong.
Pada rekaman meteran malam ini, penggunaan daya meningkat tepat setelah Harun dibebaskan dari kendali Ki.
Tubuh penerima bergerak telah sampai ke sana lebih dulu.
Kamera luar menangkap seseorang memasuki hotel dengan membawa gaun pengantin dan peti kecil. Wajahnya tertutup, tetapi telunjuk kanannya melengkung.
Ia diikuti tujuh perempuan dari keluarga pemilik jaringan Wadah X. Mereka berjalan tanpa paksaan yang terlihat, masing-masing membawa undangan atas nama kerabatnya yang telah meninggal.
Penyidik menghubungi nomor keluarga yang tercatat pada berkas resmi. Tidak satu pun menjawab. Lokasi telepon mereka bergerak bersama menuju hotel, sementara pesan terakhir kepada tetangga mengatakan mereka akan menerima kembali jenazah orang yang dicintai. Ki memikat mereka dengan harapan pemulangan, sama seperti ia menggoda Bu Rena melalui tulang Mbah Raras.
Di kamar jenazah, jasad Owen berkata dengan suara Ki Bagong, 'Kalian sudah memberiku pengantin, tubuh, dan saksi. Sekarang keluarga para ibu akan memberiku restu.'
Pemukul lonceng ketujuh bergerak hingga hanya tersisa jarak setebal benang.
Namun belum terdengar dentang. (*)