Perawat tidak mengikat Sari. Mereka menjauhkan benda tajam, menutup pantulan, dan meminta orang lain keluar. Suara Ki Bagong keluar dari mulutnya, tetapi tangan kiri perempuan itu terus mengetuk sisi ranjang dengan pola tiga pendek, satu panjang.
Meisin mengenali pola yang dipakai korban ruang nama untuk meminta berhenti saat pemeriksaan.
'Sari masih memilih,' katanya melalui sambungan suara. 'Jangan bicara kepada Ki seolah tubuh itu miliknya.'
Dokter memutus kabel data mesin mandiri, bukan selang nutrisi. Label MEISIN WILSON hilang dari layar, tetapi Sari masih berbicara dengan suara lelaki tua. Jalur digital telah mengarahkan pipa; setelah terbuka, lapisan darah mempertahankan hubungan sendiri.
Sari mengetuk lebih cepat.
Pendampingnya bertanya satu hal yang baru dipilih Sari pagi itu. 'Kamu mau dipanggil apa kalau hujan berhenti?'
Pertanyaan itu sengaja tidak berkaitan dengan masa lalu, alamat, atau keluarga. Hanya Sari dan pendampingnya yang mendengar percakapan pagi tersebut.
Mulut Sari menjawab Meisin.
Tangannya mengetuk pola berhenti.
'Jawaban tubuh dan kehendaknya berbeda,' kata Meisin. 'Ikuti tangannya.'
Perawat meletakkan dua kartu polos di dekat jari Sari. Kartu kiri berarti mempertahankan panggilan Sari, kartu kanan berarti menggantinya. Jari perempuan itu bergerak ke kiri. Begitu pilihannya dicatat dua saksi, suara Ki tersendat.
'Nama itu hanya baju!' bentaknya.
Sari memaksa satu kata keluar dengan suaranya sendiri. 'Pilihanku.'
Lapisan kulit tipis muncul dari belakang telinganya. Dokter tidak menariknya. Mereka mengoleskan larutan dari sampel benang Rahmat agar jaringan asing kehilangan kelembapan. Kulit itu mengering dan lepas sendiri, tetap disimpan sebagai bukti.
Sari pingsan, tetapi detak serta napasnya stabil. Saat sadar beberapa menit kemudian, dia masih mengingat nama jalan dan pilihannya. Ki tidak berhasil menghapusnya kembali.
Mesin mandiri diperiksa. Seseorang telah memasukkan perintah melalui akun teknisi pemandian. Teknisi yang tercatat sedang berdiri di samping penyidik dan tidak memegang perangkat. Kartu aksesnya disalin saat tubuhnya dipakai Ki di gedung arsip.
Semua mesin dipindahkan ke kendali manual. Label pasien ditulis pada papan kertas menggunakan nomor bukti, sedangkan pilihan panggilan disimpan terpisah. Fungsi medis tetap berjalan tanpa terhubung pada basis data yang dapat dipalsukan.
'Ki akan mencari tangan baru untuk mengubah alat langsung,' kata Reksa.
Mereka memeriksa semua orang di pemandian bukan berdasarkan telunjuk, melainkan kehilangan keputusan. Seorang dokter lupa memilih minuman yang baru saja dipesannya. Petugas lain mendapati dirinya berdiri di tangga tanpa ingat meninggalkan pos. Keduanya diperiksa dan memiliki luka kecil di belakang telinga.
Ki melompat cepat tanpa menetap. Setiap tubuh hanya dipakai untuk satu gerakan: membuka pintu, mematikan kamera, menyalin kartu.
Jejak keputusan mengarah ke ruang ganti. Sebuah seragam petugas jenazah hilang. Ukurannya sama dengan orang yang memasang katup kedua di bawah jasad Owen.
Erly memeriksa daftar pekerja morgue. Satu nama tidak memiliki alamat yang dapat diverifikasi: Bram Santosa, petugas pengawetan kontrak yang mulai bekerja dua minggu sebelum kecelakaan Owen. Gajinya dibayar melalui yayasan yang sama dengan Rumah Pulih Ananta.
Foto Bram menunjukkan lelaki kurus berusia empat puluh tahun. Telunjuk kanannya lurus pada foto penerimaan kerja. Pada kamera malam ini, jarinya sudah melengkung.
'Dia bukan tangan sementara,' kata Meisin. 'Mungkin itu tubuh penerima bergerak yang sedang kita cari.'
Polisi melacak kendaraan Bram. Mobilnya ditemukan di terowongan servis antara pemandian dan kamar jenazah. Bagasi berisi alat pengawet, kulit tiruan, dan daftar waktu pergantian jaga. Di kursi depan ada ponsel yang masih tersambung ke mikrofon dekat jasad Owen.
Bram mendengar semua percakapan mereka.
Pada dasbor terdapat foto petugas yang pernah bekerja di tiga lokasi perkara. Beberapa wajah dicoret setelah orangnya kehilangan ingatan. Wajah yang belum dicoret diberi jam serta keterangan luka terbuka. Ki memilih tubuh bukan hanya berdasarkan akses, tetapi juga saat seseorang sedang sakit, lelah, atau sendirian sehingga kehilangan beberapa menit tampak wajar.
Meisin meminta rumah sakit mengubah pemeriksaan. Petugas tidak lagi hanya mencari jari melengkung. Mereka memasangkan pekerja dalam kelompok dua orang dan mencatat keputusan kecil sebelum pergantian tugas. Cara itu tidak sempurna, tetapi membuat perubahan perilaku lebih cepat terlihat tanpa menuduh semua orang sebagai wadah.
Sinyal ponsel kedua bergerak menuju rumah sakit korban. Tim menutup akses tanpa membuat pasien panik. Reksa pergi bersama penyidik, sementara Meisin tetap di pemandian agar Ki tidak dapat mengumpulkan dirinya, jangkar, dan jasad Owen dalam satu tempat.
Owen bertanya apakah dia boleh mengikuti Reksa sebagai arwah. Meisin menggeleng. 'Ki sudah memakai tubuhmu. Kalau dia juga menarik arwahmu ke sana, kita nggak tahu apa yang terjadi.'
'Aku benci hanya menunggu.'
'Menahan diri juga keputusan.'
Owen tetap tinggal.
Di rumah sakit, kamera menangkap Bram masuk melalui ruang laundry. Polisi menemukan seragamnya di lantai, tetapi tubuhnya sudah berganti pakaian menjadi perawat. Wajah pada kamera tidak cocok dengan daftar pegawai karena lapisan kulit menutup sebagian ciri.
Pendamping korban melakukan pemeriksaan pilihan singkat. Semua orang diminta menyebut tugas yang mereka pilih lima menit terakhir. Seorang perawat lelaki menjawab terlalu cepat bahwa ia hendak mengganti infus Lilis, padahal Lilis tidak membutuhkan infus.
Petugas menghentikannya tanpa memanggil nama. Telunjuk kanannya melengkung. Saat sarung tangannya dibuka, sidik jari cocok dengan Bram.
Bram tidak melawan. Dia tersenyum menggunakan suara Ki Bagong, lalu menggigit sesuatu di bawah lidah. Polisi menahan rahangnya sebelum kulit itu tertelan, tetapi cairan hitam sudah masuk ke tenggorokan.
Tubuhnya kejang. Jari telunjuk perlahan lurus.
'Ki pergi,' kata Reksa.
Bram membuka mata dengan suaranya sendiri. Ia mengaku sadar selama bertahun-tahun, tidak seperti Rahmat atau Ningsih. Ia membantu mengawetkan jasad, memasang pipa, dan memalsukan rekam medis karena dijanjikan tubuh baru setelah sakitnya sembuh.
'Saya tahu ada korban,' katanya. 'Saya tetap melakukannya.'
Polisi menangkapnya sebagai tersangka sekaligus membawanya mendapat perawatan. Kehilangan kendali pada sebagian waktu tidak menghapus keputusan sadar yang dibuatnya bertahun-tahun.
Bram memberi tahu bahwa Ki selalu meninggalkan tubuh penerima melalui cairan menuju orang yang memiliki luka terbuka. Di rumah sakit ada satu orang yang baru menjalani operasi dan tidak tercatat sebagai korban.
Ia juga mengakui katup di bawah jasad Owen dipasang atas perintah langsung Ki. Bayarannya bukan uang, melainkan janji memindahkan penyakit paru-parunya ke donor tanpa nama. Bram mengetahui donor itu manusia hidup. Pengakuan tersebut direkam sebagai kejahatan terpisah; kerja samanya sekarang tidak menghapus korban yang telah ia bantu cederai.
Petugas memeriksa kamar itu.
Ranjangnya kosong. Darah menetes menuju lift pelayanan.
Pasiennya adalah salah satu saksi bayaran pernikahan arwah Owen, orang yang baru mencabut kesaksiannya pada malam sebelumnya.
Di rekaman lift, telunjuk kanan lelaki itu melengkung saat ia menekan tombol menuju kamar bayi. (*)