Bu Rena masih duduk di samping ranjang Lilis ketika gelang pasien pengunjung di pergelangannya berubah merah. Layar perawat menampilkan namanya sebagai orang meninggal. Petugas yang belum mengetahui sengketa langsung mendekat dengan wajah bingung.
'Jangan sebut saya mayat atau keluarga dari tubuh mana pun,' kata Bu Rena. 'Panggil penyidik dan buat pemeriksaan hidup sekarang.'
Ia belajar dari apa yang terjadi pada Meisin. Dokter memeriksa napas, kesadaran, dan pilihan baru tanpa memakai data biometrik sebagai satu-satunya ukuran. Bu Rena diminta menentukan siapa yang boleh berada di kamar. Ia memilih Meisin melalui sambungan suara, pendamping Lilis, dan satu dokter yang belum pernah bertemu keluarganya.
Wadah X tidak mengetahui pilihan itu. Ketika mesin bertanya siapa yang boleh mendampingi, makhluk tersebut menjawab Pak Leo, Meisin, dan Mbah Raras. Ia menyusun keluarga dari hubungan lama, bukan kehendak Bu Rena saat ini.
'Saya masih hidup,' kata Bu Rena kepada berita acara. 'Tapi jangan jadikan hidup saya alasan untuk menghapus bagian ibu saya atau korban lain dari wadah itu.'
Status kematiannya diberi sengketa dalam dua puluh menit. Ki tidak sempat menggunakannya untuk memindahkan Wadah X, tetapi wajah Bu Rena sudah tumbuh sampai leher. Ia memiliki kerutan, bekas luka, dan suara yang sama.
Dokter memotret perubahan sebagai bukti medis tanpa memasukkan foto ke jaringan umum. Berkas disimpan lokal dan hanya dapat dibuka bersama dua kunci, satu milik penyidik dan satu milik pendamping korban. Cara itu mencegah salinan wajah menjadi bahan baru bagi Ki.
Meisin menolak melihat rekaman langsung. Dia hanya membaca laporan tertulis. Jika menyaksikan wajah ibunya pada tubuh tersebut, reaksi spontan dapat dipakai sebagai pengakuan hubungan.
'Kenapa dia pindah dari aku ke Ibu?' tanyanya.
Erly menemukan jawabannya pada perubahan sertifikat. Jasad Owen tidak menandatangani kematian sebagai suami. Ki mengubah tanda tangan perusahaan menjadi tanda tangan penyandang biaya rumah sakit. Karena perusahaan membayar perawatan korban dan pernah membayar pemeriksaan Bu Rena, sistem menerima hubungan administratif sebagai hak menyatakan kematian.
'Dia terus mengubah pembayaran menjadi kepemilikan,' kata Owen.
'Cara yang kamu ajarkan melalui perusahaanmu,' jawab Erly.
Owen tidak membela diri. 'Cabut semua kuasa medis yang memakai tanda tanganku. Biarkan pengadilan menunjuk pengawas independen untuk dana korban.'
Pengacara menjelaskan pencabutan menyeluruh dapat menghentikan pembayaran obat hari itu. Meisin meminta pemisahan tanggung jawab: perusahaan tetap menaruh dana dalam rekening pengawasan, tetapi tidak menentukan pasien, dokter, atau keputusan perawatan.
Para korban diminta persetujuan melalui pendamping masing-masing. Tidak semua langsung setuju. Lilis meminta waktu membaca. Bayu ingin tahu apakah uang itu akan membuat Darto memiliki hak menemuinya. Pengacara menjamin tidak ada hubungan semacam itu.
Keputusan mereka memperlambat proses, tetapi tidak dilewati demi mengalahkan Ki.
Lilis akhirnya menyetujui rekening pengawasan dengan syarat setiap biaya dapat diperiksa korban. Bayu memilih belum menandatangani sampai pendamping menjelaskan ulang tanpa kehadiran orang dewasa yang pernah mengenal Darto. Lima korban lain memberi jawaban berbeda. Dana darurat tetap tersedia melalui keputusan dokter, tetapi tidak ada persetujuan kolektif yang dipaksakan.
Di pemandian, peti jangkar bergetar setiap kali satu kuasa lama dicabut. Dokter menemukan bahwa enam pipa pertama tidak sekadar memberi nutrisi. Masing-masing membawa satu bentuk pengakuan: pasien, keluarga, utang, pekerja, pemilik tanah, dan saksi. Pipa ketujuh menggabungkan semuanya menjadi hubungan mempelai.
'Kalau kita putus enam pengakuan, pipa ketujuh kehilangan bahan,' kata Reksa.
'Tapi jaringan korban masih ada di dalam jalur yang sama,' ujar dokter. 'Kita harus memisahkan fungsi biologis dari tulisan ritual terlebih dahulu.'
Mereka mengambil sampel kerak pipa. Lapisan luar tembaga membawa darah dan serbuk tulang. Bagian dalam hanyalah selang medis modern. Ki menutupi sistem perawatan biasa dengan tafsir ritual. Secara teori, selang dapat dialihkan ke mesin mandiri sebelum lapisan tembaga dilepas.
Setiap korban harus diperiksa untuk menentukan pipa yang berkaitan dengannya. Nomor pada tuas tidak sama dengan nomor medis karena Ki sengaja menukar urutan. Darto membantu mengenali simpul, tetapi keterangannya tidak diterima tanpa bukti tambahan.
Sari mengingat simbol pada pipa pertama pernah dicap pada makanan. Lelaki yang memilih tetap dipanggil Empat mengenali simbol pipa pekerja di seragamnya. Sedikit demi sedikit, korban menjadi sumber informasi atas pilihannya sendiri, bukan benda yang diselamatkan tanpa suara.
Bu Rena memilih ikut memeriksa daftar keluarga setelah statusnya dipulihkan. Ia menemukan nama Mbah Raras tercatat sebagai pasien meninggal pada tiga klinik berbeda. Setiap catatan memakai bagian tulang yang berbeda sebagai bukti.
'Kalau kita membatalkan semuanya, apakah Ibu kehilangan jalan pulang?' tanyanya.
Meisin tidak menjawab dengan janji. 'Kita belum tahu. Kita pisahkan pemalsuan dari tulangnya dulu.'
Di cermin tua, pusat permukaan tetap gelap. Namun enam noda wajah bergerak membentuk lingkaran kecil. Salah satu noda menunjuk ukiran seperti jarum, lalu ke arah bawah.
Penjaga tidak membuka kain. Mereka menggambar gerak itu berdasarkan sensor di balik penutup dan mengirimkannya kepada Meisin. Mbah Raras mungkin mencoba memberi petunjuk melalui enam wajah tanpa kembali ke permukaan.
Gambar tersebut cocok dengan katup tersembunyi di bagian bawah peti jangkar. Dokter menemukan lubang untuk memasukkan jarum tulang yang dulu dipakai Meisin menyelamatkan korban.
Jarum itu disimpan di luar kotak Karsa, pada lokasi ketiga yang terpisah. Mengambilnya tidak memerlukan vision, tetapi membawanya mendekati jangkar dapat membuka hubungan dengan cermin induk.
'Ki ingin kita mengumpulkan semuanya lagi,' kata Reksa. 'Cermin di satu tempat, jarum di tempat lain, Karsa di tempat ketiga. Kalau kita panik, kita sendiri yang menyatukannya.'
Meisin memutuskan tidak membawa jarum. Dokter diminta membuat alat dengan ukuran sama dari bahan medis biasa. Mereka akan menguji apakah katup merespons bentuk dan tekanan, bukan benda ritualnya.
Alat tiruan dimasukkan. Katup terbuka seperempat putaran. Cairan hitam keluar, tetapi selang medis tetap bekerja. Mereka kini mempunyai cara memisahkan lapisan ritual tanpa mencabut hidup korban.
Wajah Bu Rena pada Wadah X mulai retak ketika kuasa perusahaan dialihkan. Makhluk itu menjerit menggunakan suara seorang anak.
'Rere, jangan hapus Ibu lagi!'
Bu Rena mendengar melalui laporan suara, bukan pantulan. Ia menangis, tetapi tidak mengubah keputusan.
'Kalau bagian Ibu ada di sana, aku akan memperlakukannya dengan hormat. Tapi aku nggak akan memanggil seluruh wadah sebagai Ibu.'
Wajah itu luruh sampai tinggal satu mata.
Lalu sistem forensik menemukan nama baru pada enam jaringan lain. Semuanya berasal dari perempuan yang pernah melahirkan di rumah bersalin tersebut dalam tiga puluh tahun terakhir.
Wadah X bukan hanya calon tubuh Mbah Raras atau Meisin.
Ki Bagong menyusunnya dari tujuh garis ibu agar siapa pun dapat dipaksa mengenalinya sebagai keluarga. (*)