Tulisan pada dada jasad Owen tidak selesai menjadi luka. Huruf-huruf hitam bergerak di bawah kulit, menunggu sesuatu dari pipa ketujuh. Ki Bagong membuka mulut mayat itu sekali lagi.
'Bawa perempuan itu ke sini sebelum matahari naik,' katanya. 'Atau tubuh ini akan berjalan mencarinya.'
Meisin tetap di pemandian. 'Tubuh Owen bukan Owen. Aku nggak akan menjawab perintah dari jasad yang dipakai orang lain.'
Arwah Owen berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya menegang saat melihat gambaran tubuhnya melalui cetakan kamera termal. Dia tidak meminta pergi ke kamar jenazah.
'Apa yang harus aku nyatakan?' tanyanya.
'Bukan apa yang harus kamu katakan untuk menyelamatkanku,' jawab Meisin. 'Apa keputusanmu tentang tubuh dan pernikahan itu sekarang?'
Owen memandang peti berisi jangkar Ki. Dulu ia bersedia memakai kematian, arwah, dan ritual asalkan Meisin menjadi miliknya. Sekarang keputusan yang diminta tidak memberinya peluang hidup kembali atau memperoleh perempuan itu.
'Aku menolak tubuhku dipakai untuk menikahi siapa pun,' katanya. 'Aku mengakui pernikahan dengan Meisin terjadi dari kehendak yang kurusak. Aku tidak mengesahkan upacara kedua setelah mati. Kalau jasadku harus tetap kosong agar dia bebas, biarkan kosong.'
Pipa ketujuh tersentak.
Pernyataan arwah tidak dapat ditandatangani secara hukum, tetapi tiga orang hidup mendengarnya di tempat berbeda. Meisin, Reksa, dan penyidik mengulangi kalimat inti dengan susunan mereka sendiri. Erly membuka rekaman rapat lama yang membuktikan Owen pernah memerintahkan akses ritual, lalu menyandingkannya dengan keputusan baru tanpa menghapus kesalahan sebelumnya.
Penyidik memisahkan dua berkas. Berkas pertama memuat tanggung jawab Owen semasa hidup: pembayaran, perintah pengawasan, dan persetujuan ritual. Berkas kedua memuat kehendaknya setelah mati. Keduanya tidak boleh saling menggantikan. Keputusan baru dapat menghentikan penggunaan jasad, tetapi tidak menjadikan kejahatan lama seolah tidak pernah terjadi.
Meisin meminta kalimat Owen tidak disebut sebagai pengorbanan cinta dalam laporan. 'Dia sedang mencabut izin atas tubuhnya sendiri. Itu hak dan tanggung jawabnya, bukan hadiah untukku.'
Owen mendengar semuanya dan mengangguk perlahan. 'Tulis seperti itu.'
Salinan pernyataan disimpan di tiga tempat dan tidak dikirim melalui jaringan perusahaan. Radio yang membawa suara Owen diperiksa untuk memastikan tidak ada rekaman Ki yang disisipkan. Bentuk gelombangnya berbeda dari suara yang keluar melalui jasad: suara Owen menimbulkan gangguan dingin, sedangkan suara Ki mengikuti denyut mekanis pipa.
'Ki akan bilang orang mati nggak bisa mengubah izin,' kata Erly.
'Dia sendiri memakai kematian sebagai dasar pernikahan,' jawab Meisin. 'Kalau orang mati cukup sah untuk menjadi mempelai, kehendaknya juga harus dihitung.'
Pengacara mencatat argumen itu untuk menolak surat pemindahan jasad. Sementara itu, dokter memasang penjepit nonlogam pada pipa ketujuh. Mereka tidak memotongnya. Penjepit hanya membatasi aliran sedikit demi sedikit sambil memantau jantung tujuh korban, Wadah X, dan jangkar tua.
Saat aliran turun sepuluh persen, tubuh Owen kejang. Ki Bagong memaksanya menarik rantai sampai kulit pergelangan robek. Jantung asli di dalam mayat tidak berdetak, tetapi dada naik turun mengikuti pompa dari pemandian.
'Owen!' suara Ki keluar dari tubuh. 'Ambil kembali dagingmu. Kamu bisa hidup dan memilikinya.'
Arwah Owen menoleh ke Meisin. Untuk sesaat, keinginan lama tampak jelas. Ia merindukan berat tubuh, napas, dan kemungkinan menyentuh. Meisin tidak menghibur atau menjanjikan hadiah bila dia bertahan.
'Pilih karena itu tubuhmu,' katanya. 'Bukan karena aku akan menjadi milikmu kalau kamu menolak.'
Owen menutup mata. 'Aku memilih tetap mati. Dan kamu tetap bukan milikku.'
Aliran pipa turun menjadi dua puluh persen.
Tulisan MEMPELAI LAKI-LAKI pada dada jasad retak di bagian kata MEMPELAI. Ki menjerit memakai tenggorokan yang bukan miliknya. Seluruh peti jangkar berembun dari dalam.
Dokter tidak menambah tekanan. Salah satu monitor korban menunjukkan irama tidak teratur. Lilis mengalami sesak di rumah sakit, sedangkan kulit Wadah X menghitam pada bagian yang berasal dari seorang korban belum dikenal.
'Berhenti di dua puluh,' perintah Meisin.
Penjepit ditahan. Kondisi Lilis stabil setelah beberapa menit. Mereka membuktikan pipa dapat dilemahkan, tetapi jalurnya bercabang ke jaringan korban. Memutusnya langsung dapat membunuh orang yang hendak diselamatkan.
Reksa memeriksa tujuh tuas pada dasar peti. Lambang Wilson terukir di tuas terakhir, tetapi di bawah lapisan karat terdapat kata lain: SAKSI. Pipa itu tidak mengalirkan darah. Ia mengalirkan pengakuan dari orang-orang yang menganggap jasad Owen sebagai mempelai.
'Berarti kita nggak perlu memotong pipa dulu,' katanya. 'Kita harus menghapus saksi palsunya.'
Erly menelusuri daftar orang yang pernah menandatangani pernikahan arwah. Nama pejabat, pengurus rumah duka, pegawai perusahaan, dan dua saksi bayaran muncul pada dokumen lama. Sebagian tanda tangan palsu, tetapi tiga orang masih hidup dan pernah menerima uang.
Polisi menjemput mereka sebagai saksi perkara, bukan peserta ritual. Seorang mengaku tidak pernah melihat Meisin. Ia hanya menandatangani kertas kosong. Seorang lagi mengira sedang mengesahkan pemindahan makam. Orang ketiga tahu ada upacara arwah, tetapi dibayar untuk menyatakan kedua mempelai setuju.
'Saya nggak mendengar perempuan itu bilang setuju,' akunya.
Pernyataan tersebut direkam. Setiap saksi mencabut klaim bahwa mereka melihat persetujuan Meisin. Tidak ada yang dibebaskan dari tanggung jawab hanya karena sekarang berkata jujur.
Saat saksi terakhir menarik keterangannya, tulisan MEMPELAI LAKI-LAKI lenyap dari dada jasad. Tubuh itu tetap bernapas karena pipa, tetapi tidak lagi dapat disebut pengantin melalui dokumen lama.
Pemukul lonceng ketujuh bergerak menjauh setebal kuku.
Ki Bagong tidak berhenti. Ia mengubah suara jasad menjadi suara Owen yang lembut.
'Meisin, datanglah. Aku sudah memilih kamu.'
Owen asli berdiri di sampingnya dan tidak mencoba menjawab atas nama Meisin.
'Dia akan meniru keputusanmu setelah mendengarnya,' kata Meisin.
'Kalau begitu buat keputusan baru yang dia belum tahu,' ujar Reksa.
Meisin menulis bukan di buku yang pernah disalin, melainkan pada kertas yang dilipat dan disegel. Dia memberikan satu bagian kepada Reksa, satu kepada Erly melalui penyidik, dan menyimpan bagian terakhir. Ketiganya hanya bermakna bila disatukan.
Mereka tidak membacanya keras-keras.
Pipa ketujuh kehilangan denyut selama sebelas detik. Pada detik kedua belas, jasad Owen tersenyum.
'Aku tidak perlu menjadi mempelai laki-laki,' ujar Ki. 'Aku hanya perlu tubuh mati yang dapat menandatangani kematian berikutnya.'
Tangan jasad Owen bergerak meski dirantai. Jarinya menggores lantai dengan darah dan membentuk tanda tangan digital yang sama seperti sertifikat perusahaan.
Di kantor kependudukan, status hidup Meisin tidak berubah. Kali ini sasaran Ki bukan dirinya.
Sistem rumah sakit mengirim kabar bahwa Bu Rena baru saja dinyatakan meninggal dan Wadah X didaftarkan sebagai tubuhnya.
Di ruang barang bukti, wajah Meisin yang luruh mulai membentuk wajah Bu Rena. (*)