Pemandian tua ditutup sebagai tempat kejadian perkara sebelum fajar. Kolamnya kering, tetapi dinding tetap berkeringat. Tujuh pancuran menghadap satu sumur batu di tengah ruangan. Tidak ada permukaan air yang dapat memantulkan wajah.
Meisin datang setelah dokter memastikan detak aneh itu tidak mengganggu jantungnya secara fisik. Ia memakai pemantau yang tidak terhubung jaringan. Bu Rena tetap bersama korban, sedangkan Reksa mendampingi penyidik. Owen mengikuti setelah berjanji tidak menyentuh jasad atau benda ritual tanpa diminta.
'Kalau detakmu berubah, kita keluar,' kata Reksa.
'Kalau aku bilang berhenti, semua berhenti,' tambah Meisin.
Penyidik menyetujui. Perintah itu dicatat sebelum siapa pun mendekati sumur.
Sensor menunjukkan sumber detak berada sembilan meter di bawah lantai. Polisi tidak menurunkan orang melalui lubang utama. Mereka membuka dinding servis berdasarkan denah saluran dan menemukan tangga besi yang terkubur bata baru.
Di bawahnya ada ruangan bundar. Tujuh pipa tembaga masuk ke sebuah peti kaca kusam. Enam pipa bercabang menuju klinik tua serta ruang nama kosong. Pipa ketujuh mengarah ke kota tanpa label.
Di dalam peti terbaring lelaki sangat tua.
Kulitnya mengering di atas tulang, rambutnya tinggal sedikit, dan telunjuk kanan melengkung ke dalam. Dadanya terbuka oleh sambungan logam. Jantung yang masih berdetak terlihat di balik selaput bening, bergerak berlawanan dengan jantung Meisin.
Darto melihat foto melalui lembar cetak yang dibawa ke tahanan. Dia mengenali tato terbakar di pergelangan dan cincin besi pada ibu jari.
'Itu Ki Bagong,' katanya. 'Tubuh yang dia pakai waktu pertama kali datang ke rumah saya. Dia bilang tubuh itu nggak boleh menyentuh matahari.'
Sidik jari yang tersisa dicocokkan dengan arsip penangkapan tahun 1972. Seorang lelaki memakai nama Bagong pernah ditahan karena pencurian jenazah, lalu dibebaskan setelah saksi mencabut keterangan. Foto buramnya menunjukkan telunjuk sama. Untuk pertama kalinya, polisi memiliki bukti fisik tubuh lama Ki yang tidak bergantung pada vision.
'Kita menemukan tubuh asalnya,' kata Reksa.
'Belum tentu asal,' jawab Meisin. 'Tapi setidaknya ini jangkar yang dia sembunyikan.'
Dokter forensik memeriksa dari luar peti. Lelaki itu masih hidup secara biologis, tetapi tidak bernapas sendiri. Enam pipa memasukkan sinyal, nutrisi, dan denyut jaringan curian. Pipa ketujuh kosong, seolah menunggu sambungan tubuh baru.
Mereka tidak membuka peti. Memutus pipa dapat membahayakan korban yang bagian tubuhnya terhubung. Polisi menyegel seluruh ruang dan memasang pengawasan analog. Tidak ada satu pun petugas berjaga sendirian agar Ki tidak dapat mengambil tubuh tanpa saksi.
Sementara itu, sidang administrasi darurat memeriksa status Meisin. Tiga saksi pilihan baru memberi keterangan. Dua laboratorium memastikan sampel tubuh hidup di pusat komando diambil setelah Wadah X disita. Dokter menjelaskan bahwa kulit wadah merupakan jaringan tumbuh paksa, bukan bukti riwayat hidup.
Pejabat akhirnya membatalkan akta kematian Meisin. Sistem mencatat bahwa ia hidup, hadir, dan mampu memberi persetujuan. Wadah X tetap menjadi manusia biologis tak teridentifikasi dengan jaringan tujuh sumber, bukan jenazah Meisin.
Meisin tidak merayakannya. 'Nama saya kembali karena bukti dan saksi. Pastikan keputusan ini nggak menghapus penyelidikan terhadap tujuh orang dalam wadah.'
Catatan perlindungan korban ditambahkan. Rekam medis Lilis, Bayu, serta lima korban dipulihkan tanpa memublikasikan identitas. Enam orang dari ruang nama kosong juga menerima nomor perlindungan baru sambil pencarian keluarga berjalan.
Saat status Meisin berubah menjadi hidup, Wadah X kehilangan wajahnya. Kulit yang meniru Meisin mengendur seperti topeng basah. Mata ketujuh pada serpihan kulit di kantong bukti menutup.
Pemukul lonceng ketujuh tidak menyentuh badan lonceng.
Namun jantung dalam peti bawah pemandian berdetak sangat keras.
Duk.
Pipa ketujuh bergetar. Tulisan yang semula tidak terlihat muncul pada permukaan tembaga: PENERIMA SAH YANG TELAH MATI.
'Dia kehilangan jalur Meisin,' ujar Erly melalui radio. 'Sekarang dia mencari identitas mati yang masih punya tubuh.'
Semua orang memikirkan nama yang sama.
Owen berbalik menuju pintu. Wajah arwahnya mengeras. 'Jasadku.'
Polisi menghubungi kamar jenazah. Jasad Owen masih dirantai dan berada di ruang kusam. Tidak ada petugas asing masuk. Kotak Karsa tetap tersegel di lokasi lain. Akan tetapi, kabel alat pendingin kamar ternyata terhubung pada saluran pneumatik lama perusahaan yang belum ditemukan di denah.
Pipa ketujuh dari pemandian menuju tepat ke bawah kamar itu.
Erly membuka arsip pembangunan gedung. Sambungan tersebut dibuat sebagai jalur pengiriman sampel rahasia bagi pemeriksaan kesehatan keluarga Wilson. Owen pernah menyetujuinya dengan satu tanda tangan umum. Tidak ada pemeriksaan tujuan setiap kiriman, sehingga Ki Bagong dapat mempertahankannya bertahun-tahun tanpa muncul dalam laporan biasa.
'Putus listrik pendingin dan gunakan cadangan mandiri,' perintah penyidik.
Petugas melakukannya. Sambungan elektronik mati, tetapi pipa tembaga tetap berdenyut seperti pembuluh darah. Membongkarnya tanpa tahu ikatan korban dapat membuka jalan lain.
Meisin meminta Owen tetap di pemandian. 'Kalau kamu mendekati tubuhmu karena panik, Ki bisa memakai keinginanmu untuk hidup lagi.'
'Aku sudah menerima kematianku.'
'Kalau begitu buktikan dengan tetap di sini.'
Owen berhenti. Ia menatap Meisin, lalu memilih mundur dari pintu. 'Aku tetap.'
Keputusan itu dibuat setelah data terakhir dicuri. Pipa ketujuh melemah sesaat, seolah gagal membaca kehendaknya.
Reksa dan polisi mencari katup pengalih. Mereka menemukan tujuh tuas pada dasar peti. Enam diberi nomor korban. Tuas terakhir membawa lambang keluarga Wilson. Owen mengakui pernah memberikan lambang tersebut kepada Ki sebagai izin memakai fasilitas perusahaan, bukan tubuhnya.
'Tapi dia mengubah izin tempat menjadi izin jasad,' kata Meisin.
'Seperti aku dulu mengubah pernikahan menjadi izin memiliki kamu,' jawab Owen. 'Aku mengenali caranya karena aku pernah berpikir seperti itu.'
Dia tidak meminta penghargaan atas pengakuan tersebut. Meisin mencatatnya sebagai informasi, bukan penebusan.
Dokter menyuntikkan pewarna aman pada pipa ketujuh. Warna bergerak ke arah kamar jenazah, lalu berhenti sebelum mencapai tubuh. Seseorang telah memasang katup kedua dari sisi morgue.
Petugas memeriksa lantai. Di bawah rantai jasad Owen terdapat lubang baru sebesar jarum. Cairan hitam merembes dari sana dan membentuk garis menuju dadanya.
Jasad itu menarik napas.
Arwah Owen masih berdiri di samping Meisin, jauh dari tubuhnya.
Kelopak mayat terbuka. Matanya tidak hitam seperti saat Karsa menguasainya. Mata itu jernih, tenang, dan menatap kamera tertutup seolah dapat melihat semua orang.
'Kalian menemukan jantungku,' suara Ki Bagong keluar dari tenggorokan Owen. 'Sekarang aku akan memakai kematian lelaki ini untuk menikahi wajah ketujuh.'
Di cermin tua, enam noda menjerit dari balik kain. Mbah Raras belum kembali ke permukaan.
Pemukul lonceng ketujuh bergerak mendekat, tetapi berhenti sebelum dentang.
Pada dada jasad Owen, tulisan baru muncul di atas bekas izin yang telah hilang:
MEMPELAI LAKI-LAKI SUDAH MATI. MEMPELAI PEREMPUAN TINGGAL DIBUAT MATI. (*)