Meisin tidak menjawab suara Pak Leo. Dia menghubungi tempat aman melalui jalur terpisah dan meminta ayahnya mengatakan keputusan terakhir yang mereka buat bersama. Pak Leo menjawab bahwa dia tidak akan menerima telepon sendirian dan semua pernyataannya harus disaksikan.
Suara dari ruang bawah terus menangis.
'Ayahmu yang asli aman,' kata Reksa.
'Tapi mungkin ada korban yang dipaksa memakai suaranya,' jawab Meisin. 'Kita tetap periksa tanpa menganggap panggilan itu hubungan keluarga.'
Polisi menuruni tangga dengan alat pernapasan. Tidak ada cermin pada dinding, hanya rak arsip yang membusuk karena lembap. Suara Pak Leo keluar dari tabung kuningan di langit-langit. Ketika tabung dilepas, di dalamnya ditemukan potongan pita suara manusia yang masih bergetar meski tidak terhubung ke tubuh.
Dokter menyimpannya dalam larutan steril. Nomor kecil pada logam cocok dengan daftar donor di klinik tua. Pemilik jaringan belum diketahui dan tidak boleh sekadar disebut sebagai bagian dari Pak Leo.
Di belakang rak terakhir terdapat lorong menuju saluran air. Jejak cairan hitam dari rumah bersalin berakhir di sana. Dindingnya dipenuhi cap telapak, masing-masing diberi nomor yang sama dengan arsip orang hilang.
Tujuh kasur tipis tersusun di ruang berikutnya. Enam ditempati manusia hidup tanpa gelang identitas. Orang ketujuh sudah pergi, meninggalkan cekungan hangat dan sehelai rambut hitam.
Para korban tidak dapat menyebut nama sendiri. Mereka hanya mengingat sebutan yang diberikan Ki Bagong: Satu sampai Enam. Sidik jari mereka tidak ditemukan dalam sistem karena berkas kependudukannya sudah dinyatakan meninggal bertahun-tahun lalu.
'Mereka saksi yang dihapus sebelum tubuhnya diambil,' kata penyidik.
Seorang perempuan yang dipanggil Dua memegang lengan petugas. 'Tujuh bilang dia akan kembali setelah mendapatkan keluarga baru.'
'Siapa Tujuh?'
'Kadang kakek. Kadang ibu hamil. Tadi pagi dia menjadi petugas kebersihan, lalu masuk ke orang lain.'
Perempuan itu tidak mengenali foto Rahmat, Ningsih, atau Jatmiko. Yang ia kenali hanya telunjuk melengkung. Setiap kali Ki berpindah, jari itu berubah lebih dulu sebelum suara lelaki tua keluar.
Keenam korban dievakuasi dan diberi nomor medis sementara, bukan sebagai identitas permanen. Polisi mengambil sidik, foto, serta sampel dengan izin. Organisasi pendamping mencari keluarga tanpa mengumumkan wajah mereka.
Meisin berbicara kepada mereka satu per satu dari balik pintu terbuka. Ia tidak menjanjikan semua nama akan pulih. Dia hanya menjelaskan bahwa mereka boleh memilih panggilan sementara sendiri.
Perempuan Dua memilih nama Sari karena menyukai bunyi air hujan. Lelaki Empat memilih tetap memakai nomor sampai ingatannya kembali. Pilihan berbeda itu dihormati. Tidak ada yang diwajibkan menerima nama pemberian orang lain.
Dokter menempelkan pilihan itu pada papan terpisah dari gelang medis. Panggilan sementara tidak dimasukkan sebagai identitas hukum, supaya tidak berubah menjadi perangkap administratif baru. Setiap perubahan hanya boleh dilakukan oleh korban sendiri ketika sadar penuh.
'Ki selalu bilang nama cuma baju,' ujar Sari. 'Kalau kami patuh, dia akan memberikan baju yang lebih bagus.'
'Nama bisa diubah,' kata Meisin. 'Tapi bukan berarti orang lain boleh mengambil keputusan itu.'
Sari mengingat orang ketujuh membawa tas berisi akta lama dan mengenakan seragam petugas pencatatan. Sebelum pergi, ia memasukkan sepotong kulit ke bawah lidah. Wajahnya lalu berubah menjadi seorang lelaki muda.
Reksa memeriksa kamera di sekitar gedung arsip. Seorang petugas laki-laki memang keluar dua puluh menit sebelum polisi tiba. Wajahnya tidak dikenal, tetapi kartu yang dipakai tercatat atas nama Kepala Dinas Kependudukan.
Kepala dinas asli sedang memberi keterangan di kantor pusat. Kartu fisiknya masih berada di dompet.
'Kulit itu bisa menyalin akses, bukan cuma sidik,' kata Erly melalui radio.
Jejak petugas palsu menuju terminal bus, lalu hilang di kerumunan. Polisi tidak menutup terminal secara brutal karena ratusan orang tidak boleh diperlakukan sebagai wadah. Mereka menyaring kamera berdasarkan satu ciri: telunjuk kanan yang melengkung.
Tiga orang terlihat memilikinya.
Seorang pedagang tua memang mengalami radang sendi sejak lama. Seorang anak lahir dengan jari bengkok. Orang ketiga adalah lelaki muda berseragam dinas yang masuk ke bus menuju Kampung Dukun.
Petugas menghentikan bus di pos berikutnya. Lelaki muda itu sudah tidak ada. Sopir mengatakan seorang penumpang turun di lampu merah setelah muntah. Di kursinya ditemukan lapisan kulit berbentuk lidah dan satu tiket kedua menuju rumah sakit korban.
Ki Bagong kembali bergerak ke tempat Lilis, Bayu, dan lima korban dirawat.
Bu Rena sudah berada di sana. Pak Leo dipindahkan menjauh, tetapi Ki mungkin tidak membutuhkan ayah. Ia dapat memakai tujuh korban untuk mengesahkan cerita bahwa Wadah X adalah saudara mereka.
Polisi mengunci akses medis tanpa menutup hak keluarga. Setiap pengunjung diperiksa kartu, wajah, sidik, dan gerak telunjuk. Namun Meisin mengingat Ki dapat meninggalkan tubuh sebelum pemeriksaan.
'Jangan cari siapa yang tampak salah,' katanya. 'Cari siapa yang baru kehilangan waktu atau bertindak di luar pilihannya.'
Perawat bertanya langsung kepada setiap orang tentang keputusan lima menit sebelumnya. Seorang petugas keamanan tidak ingat mengizinkan mobil katering masuk. Telunjuknya lurus, tetapi ada luka kecil di belakang telinga.
Mobil katering ditemukan di pintu servis. Pengemudinya pingsan. Di dalam kotak makanan terdapat mikrofon, tujuh formulir pengakuan keluarga, dan bubur yang sudah dicampur serbuk tulang.
Bu Rena pernah memesan bubur merek yang sama untuk para korban. Jika mereka memakannya sambil mendengar suara Bu Rena dari mikrofon, sistem ritual dapat merekam tindakan itu sebagai pemberian makan seorang ibu kepada anak-anaknya.
Semua makanan dimusnahkan sebagai bahan biologis setelah sampel diambil. Korban menerima makanan pengganti dari dapur rumah sakit dengan pemeriksaan dua pihak.
Owen mengamati Meisin mengatur keselamatan orang lain saat identitasnya sendiri masih dibekukan. 'Dulu aku akan menyuruh semua orang dikunci supaya kamu aman.'
'Dan korban kehilangan hak keluar hanya karena kamu takut.'
'Sekarang aku tahu keamanan tanpa pilihan juga bisa menjadi kurungan.'
Reksa menatap Owen, lalu berkata kepada Meisin, 'Kalau kamu mau istirahat, aku bisa lanjut memeriksa rekaman. Kalau mau tetap bekerja, aku juga nggak akan memaksamu pergi.'
Meisin memilih tidur satu jam di ruang yang pintunya tidak dikunci. Pilihan kecil itu menjadi bukti hidup berikutnya yang tidak diketahui Wadah X.
Saat ia bangun, keenam korban ruang bawah mulai mengingat potongan alamat. Semua menunjuk satu tempat: pemandian umum tua di dekat Kampung Dukun. Di sanalah Ki menyuruh mereka mencuci nama lama sebelum dibawa ke fasilitas.
Penyidik membuka peta. Saluran air pemandian terhubung langsung ke klinik, rumah bersalin, gedung arsip, dan tanah pemakaman.
Di tengah jaringan itu terdapat sumur yang tidak tercatat pada denah kota.
Dari sensor bawah tanah, terdengar satu detak jantung asli tanpa jeda pemancar.
Detaknya berhenti setiap kali jantung Meisin berdetak, lalu hidup saat jantungnya berhenti di antara dua denyut. (*)