Bu Rena tidak datang ke tanah kosong. Meisin pun tidak memenuhi ancaman itu. Polisi menganggap undangan sebagai bukti pemerasan dan menutup jalan menuju lokasi, sementara petugas medis memastikan tujuh korban tetap tercatat hidup melalui pemeriksaan langsung.
Ancaman Ki Bagong tetap bergerak.
Nama Lilis, Bayu, dan lima korban lain menghilang dari daftar pasien. Sistem menampilkan mereka sebagai donor meninggal yang bagian tubuhnya dipakai untuk mempertahankan Meisin. Jika data itu menyebar, keluarga dapat kehilangan akses perawatan dan Wadah X memperoleh cerita medis yang tampak masuk akal.
'Kita jangan cuma memperbaiki layar,' kata Meisin. 'Setiap korban harus memilih siapa yang boleh menjadi saksi hidup mereka.'
Lilis memilih adiknya, bukan Darto. Bayu memilih perawat yang menemaninya bangun. Lima korban lain memilih keluarga, pengacara, atau pendamping independen. Pemeriksaan mereka direkam terpisah dengan cap waktu dan disimpan di dua lembaga yang tidak memakai server sama.
Tak seorang pun dipaksa memperlihatkan wajah ke publik.
Darto meminta menjadi saksi untuk Lilis serta Bayu. Permintaannya ditolak karena keduanya tidak memberi izin. Dia menerima keputusan itu dan tetap menyerahkan informasi tentang tanah pemakaman. Dulu tempat tersebut adalah lahan pertama yang dipakai Ki Bagong untuk menguji cara mengikat nama orang hidup pada batu nisan.
'Pakainya orang yang masih bernapas,' kata Darto dari ruang tahanan. 'Kalau nama mereka dibaca keluarga di depan batu, Ki bilang sebagian hidupnya pindah ke tanah.'
Owen mengenali lokasi itu sebagai tempat pertama kali melihat Meisin dalam sebuah pemotretan. Saat itu manajer mengubah lokasi mendadak setelah menerima bayaran perusahaan. Owen mengira pertemuan mereka kebetulan yang menguntungkannya.
'Bukan kebetulan,' katanya. 'Bagong menempatkan dia di tanah yang sudah mengenal namanya sebelum aku datang.'
'Dan kamu memilih mengejarnya setelah itu,' jawab Reksa. 'Jangan menyebut ritual seolah kamu nggak punya keputusan sendiri.'
Owen menatapnya, marah sesaat. Meisin melihat kebiasaan lama lelaki itu hendak bangkit. Namun Owen tidak maju atau mengancam.
'Benar,' katanya akhirnya. 'Dia membuat pertemuan. Aku yang mengubahnya menjadi perburuan.'
Meisin mencatat pengakuan itu. Reksa juga mundur setapak, memberi ruang agar konflik mereka tidak menjadi perebutan atas dirinya.
Menjelang matahari terbenam, siaran langsung muncul dari tanah kosong. Sebuah peti tertutup dikelilingi tujuh batu nisan. Foto Meisin dipasang di atasnya. Seorang petugas pemakaman membacakan bahwa keluarga berhalangan hadir, tetapi sudah memberi sidik jari sebagai pengesahan.
Ribuan penonton mulai mengirim ucapan duka. Setiap kalimat yang mengakui Meisin mati menambah noda hitam pada peti.
'Itu wajah ketujuh melalui kepercayaan orang banyak,' kata Erly.
Meisin tidak membalas dengan siaran wajah. Video dapat dipotong, ditiru, dan dipakai untuk folder ketujuh. Dia meminta pengacara menayangkan dokumen sengketa dari sumber resmi, sementara polisi mengumumkan lokasi sebagai tempat kejadian perkara pemalsuan kematian.
Tujuh korban tidak dijadikan alat bantahan. Dengan persetujuan masing-masing, rumah sakit hanya mengumumkan bahwa tujuh nomor pasien masih hidup dan data donor telah dipalsukan. Nama serta wajah mereka tetap dirahasiakan.
Petugas pemakaman ditangkap. Ia mengaku menerima naskah melalui telepon dan percaya sedang menjalankan upacara keluarga. Jari telunjuknya lurus. Ki Bagong tidak memakai tubuhnya, hanya ketakutan serta upahnya.
Ketika polisi membuka peti, tidak ada jenazah. Di dalamnya tersusun pakaian Meisin, tanah dari Kampung Dukun, dan tujuh tabung berisi napas yang dicuri dari rumah bersalin. Setiap tabung memiliki katup yang akan pecah bila Bu Rena menyebut putrinya telah meninggal.
Tim penjinak mengamankan tabung tanpa memecahkannya. Noda pada peti berhenti bertambah setelah siaran diputus.
Namun jutaan salinan video telanjur tersebar. Beberapa portal berita memuat kematian Meisin sebagai fakta. Rekening gosip menyebut perempuan di pusat komando sebagai peniru yang mengincar warisan Owen.
Meisin membaca tiga judul, lalu meletakkan telepon. 'Kalau aku mencoba meyakinkan semua orang malam ini, aku akan hidup mengikuti tuntutan orang asing.'
'Tapi diam juga berbahaya,' kata Erly.
'Aku nggak diam. Aku memilih bukti yang bisa diuji.'
Tim komunikasi polisi menyusun klarifikasi tanpa menampilkan Wadah X atau menjadikan kisah korban sebagai tontonan. Mereka menjelaskan bahwa upacara itu palsu, lokasi sedang diselidiki, dan tidak ada keluarga yang mengesahkan pemakaman. Pengumuman tersebut tidak langsung menghapus kabar bohong, tetapi memberi rumah sakit, bank, serta kantor pemerintah dasar resmi untuk menahan tindakan yang memakai akta kematian.
Bu Rena menerima puluhan telepon belasungkawa. Dia tidak menjawab satu per satu. Melalui pengacara, ia menyatakan tidak pernah menyelenggarakan pemakaman dan tidak mengizinkan penggunaan sidiknya. Pilihan untuk tidak menyebut nama putrinya dalam bantahan terasa kejam, tetapi mencegah suaranya dipotong menjadi pengakuan terhadap jenazah palsu.
Dia menjalani pemeriksaan dokter independen, memberikan sampel baru dengan rantai penyimpanan terbuka bagi dua laboratorium, dan membuat tanda tangan baru di depan pejabat. Bukan untuk membuktikan tubuhnya lebih asli berdasarkan DNA, melainkan membuktikan seorang manusia hidup hadir, memahami pertanyaan, serta membuat pilihan saat ini.
Pejabat menerbitkan surat keberadaan sementara. Status kematian belum terhapus, tetapi Meisin tidak lagi dapat ditahan sebagai penyamar hanya karena sistem menolak identitasnya.
Wadah X diminta menjalani pemeriksaan serupa tanpa diberi nama. Ia mampu meniru tanda tangan dan menjawab riwayat hidup. Ketika ditanya siapa yang boleh melihat rekam medis tujuh korban, ia menjawab semua data menjadi hak keluarga Wilson karena biaya perawatan dibayar perusahaan.
Meisin menjawab bahwa setiap korban menentukan sendiri.
Perbedaan kehendak dimasukkan dalam sengketa hukum. Untuk pertama kali, petugas kependudukan mengakui biometrik sama tidak berarti dua pihak memiliki identitas yang sama.
Di tanah pemakaman, penyidik menemukan kabel di bawah batu nisan Meisin. Kabel itu menyambung ke saluran pneumatik perusahaan Owen, lalu bercabang menuju pipa air tua. Aliran udara membawa setiap ucapan duka ke fasilitas bawah kota.
Reksa mengikuti peta utilitas. Cabangnya berhenti di bawah gedung arsip lama yang akan dibongkar. Gedung itu menyimpan akta kelahiran serta kematian sebelum semuanya dipindahkan ke sistem digital.
'Ki nggak hanya meretas data baru,' katanya. 'Dia punya dokumen kertas untuk membangun sejarah palsu.'
Polisi menggeledah gedung. Rak-raknya kosong, tetapi lantai penuh potongan nama dari akta asli. Nama Meisin tidak ditemukan. Di meja tengah terdapat buku kelahiran baru yang tampak puluhan tahun tua.
Catatan di dalamnya menyatakan Meisin lahir dari perempuan tanpa nama di Rumah Pulih Ananta. Bu Rena hanya tercatat sebagai pengasuh.
Di halaman berikutnya, tujuh korban didaftarkan sebagai saudara kandung Meisin yang meninggal saat lahir.
Pada halaman terakhir ada ruang kosong untuk tanda tangan ayah.
Tinta basah membentuk nama Pak Leo sedikit demi sedikit, meski lelaki itu berada di tempat aman dan belum menyentuh pena.
Petugas menutup buku dengan kain. Tulisan berhenti sebelum huruf terakhir selesai.
Namun dari ruang bawah arsip terdengar seorang lelaki menangis memakai suara Pak Leo.
'Meisin,' panggilnya. 'Kalau kamu masih anakku, turun dan selamatkan Ayah.' (*)