Bu Rena tidak dibawa ke ruang barang bukti. Polisi memindahkannya ke rumah sakit korban dengan pengawalan dan mengganti semua benda yang mungkin menyimpan sidik jarinya. Cap pada peti dicatat sebagai hasil pencurian, bukan persetujuan.
Meisin merekam pernyataan baru tanpa menyebut Wadah X sebagai dirinya.
'Aku masih hidup dan berdiri di sini atas kehendakku. Tidak ada orang yang berhak mengesahkan kematianku melalui tubuh lain.'
Pernyataan itu disimpan sebagai bukti sengketa, tidak disiarkan. Jika diumumkan terlalu cepat, Ki Bagong dapat meniru susunan kata dan menambahkannya ke wajah palsu.
Reksa menelusuri petugas kebersihan dari seragamnya. Warna abu-abu dan lambang di dada mirip seragam kontraktor pusat komando, tetapi benang tepinya berbeda. Pada rekaman beresolusi tinggi, ia melihat label pencucian kecil di balik kerah.
Setiap seragam rumah sakit serta kantor polisi dicuci oleh tiga perusahaan. Hanya satu yang memakai label hijau berbentuk segitiga. Perusahaan itu berhenti beroperasi enam bulan lalu setelah pemiliknya dilaporkan meninggal.
Nama pemilik: Sumarni Wibowo.
Foto kematiannya menunjukkan perempuan berusia enam puluh tahun dengan jari telunjuk kanan menekuk ke dalam.
'Identitas Ki yang lain,' kata Erly.
Gudang perusahaan cuci itu berada dua gang dari saluran kota tempat jejak cairan hitam menghilang. Polisi mendatanginya pada siang hari. Pintu terkunci dari luar, tetapi mesin pengering masih berputar. Di dalamnya terdapat puluhan seragam rumah sakit, kantor pemerintah, rumah duka, dan sekolah.
Ki Bagong tidak hanya memiliki akses ke satu gedung. Dia menyiapkan pakaian agar penerimanya dapat masuk sebagai orang yang jarang diperhatikan.
Pada setiap saku terdapat benang hitam dengan simpul berbeda. Penyidik memotretnya sebelum menyentuh. Simpul itu cocok dengan jadwal pergantian petugas di tujuh gedung sasaran, membuktikan penyusupan telah direncanakan dan bukan sekadar perpindahan gaib tanpa bantuan manusia.
Petugas menemukan wajah petugas kebersihan palsu pada rekaman toko seberang. Wajah itu milik Rahmat, pekerja kontrak yang hilang tiga bulan lalu. Keluarganya sudah melapor, tetapi status laporannya berubah menjadi ditemukan tanpa ada berita acara pertemuan.
Ponsel Rahmat masih aktif di dalam gudang.
Tim masuk dengan perlindungan biasa dan kain penutup pantulan. Mereka menemukan lelaki itu di dalam mesin cuci industri yang tidak menyala. Tubuhnya meringkuk, bernapas pendek, dan tidak memiliki luka besar. Jari telunjuk kanannya lurus.
Rahmat bukan lagi tubuh yang sedang dipakai Ki.
Ketika sadar, ia mengingat dipanggil untuk membersihkan rumah bersalin. Setelah mencium bunga kenanga, dia merasa tubuhnya berjalan sendiri. Ada suara lelaki tua di belakang lidahnya. Ia melihat, mendengar, dan merasakan saat tangannya memotret buku Meisin, tetapi tidak dapat berhenti.
'Saya ambil gelas ibu itu,' katanya sambil menangis. 'Saya dengar dia bilang cap saja belum cukup. Dia perlu suara keluarga.'
'Kamu tahu ke mana dia pergi setelah meninggalkan tubuhmu?' tanya penyidik.
Rahmat menutup mata. 'Ke orang yang memberi saya pekerjaan. Tapi saya nggak bisa ingat wajahnya. Setiap saya mencoba, yang muncul wajah saya sendiri.'
Meisin tidak memaksa Rahmat mengulang. Ingatannya dapat diperiksa dokter tanpa memancing Ki kembali. Dia meminta penyidik mencatat Rahmat sebagai korban hidup dan mengoreksi status penemuannya yang dipalsukan.
Di gudang, Erly menemukan daftar pengiriman seragam. Tujuh paket dikirim pagi itu. Enam sudah dicegat. Paket ketujuh menuju kantor pencatatan sipil tempat status kematian Meisin diterbitkan.
Polisi memperingatkan kantor tersebut, tetapi seragam sudah diterima. Penerimanya seorang pegawai bernama Ningsih. Ia mengatakan tidak memesan apa pun dan belum membuka kardus. Paket ditempatkan di ruang bukti sementara tanpa cermin.
Pemindai menemukan bukan pakaian, melainkan lapisan kulit berbentuk telapak tangan. Garisnya sama dengan sidik Meisin.
'Jangan disentuh,' pesan Meisin.
Sebelum tim penjinak tiba, alarm kebakaran gedung berbunyi. Pegawai berhamburan menuju tangga. Di tengah kerumunan, seorang perempuan berseragam abu-abu masuk ke ruang arsip dengan kartu Ningsih.
Kamera sempat menangkap telunjuk kanannya melengkung ke dalam.
Polisi menutup gedung, tetapi perempuan itu tidak ditemukan. Ningsih asli ditemukan pingsan di toilet, telunjuknya lurus, tanpa ingatan setelah menerima paket. Ki Bagong telah memakai tubuhnya hanya beberapa menit.
Ia tidak mencuri berkas kematian. Ia mengubah sumbernya.
Dalam sistem, surat kematian Meisin kini seolah diterbitkan rumah sakit tempat Bu Rena berada. Dokter yang menandatangani adalah dokter yang merawat tujuh korban. Kalau surat itu dibatalkan, rekam medis korban lain ikut dianggap palsu karena memakai sertifikat digital yang sama.
'Dia mengikat identitasku pada bukti hidup mereka,' kata Meisin. 'Kalau kita menarik satu berkas sembarangan, para korban kehilangan perlindungan.'
Petugas siber membuat salinan forensik sebelum menyentuh sistem. Mereka memisahkan waktu akses, alamat perangkat, dan tanda tangan digital. Pemalsuan terjadi dari terminal arsip, tetapi perintahnya sudah disiapkan di server rumah bersalin.
Di antara kode terdapat tujuh aturan otomatis. Enam menghubungkan data korban dengan jaringan dalam Wadah X. Aturan ketujuh menunggu konfirmasi keluarga Meisin. Jika Bu Rena atau Pak Leo mengesahkan kematian, sistem akan mengubah semua catatan medis sehingga Wadah X tampak sebagai pasien asli sejak lahir.
Pak Leo segera dipindahkan ke tempat aman. Ia marah karena kembali dianggap titik lemah, tetapi tidak membantah kesalahan lamanya.
'Aku yang memberikan foto cermin dan data keluarga,' katanya. 'Kalau dia menelepon, aku takut akan mencoba memperbaiki semuanya dengan satu jawaban bodoh lagi.'
'Takut bukan alasan untuk kehilangan hak memilih,' jawab Meisin. 'Tapi kali ini Ayah nggak memilih sendirian.'
Mereka menyusun kalimat penolakan bersama pengacara tanpa menyebut nama wadah. Pak Leo dan Bu Rena menyatakan tidak mengesahkan kematian siapa pun yang belum diperiksa sebagai manusia hidup dengan kehendaknya sendiri.
Sementara itu, dokter menemukan bekas tusuk kecil di belakang telinga Rahmat dan Ningsih. Dari luka itu keluar benang hitam tipis yang segera mengering. Ki tidak perlu memindahkan seluruh arwahnya. Ia dapat mengirim sebagian kehendak melalui jaringan yang sudah dicuri.
'Berarti tubuh penerima terbaru bisa tetap di satu tempat,' kata Reksa. 'Dia memakai orang lain seperti tangan jarak jauh.'
Owen teringat ruang privat di kantor pusatnya. Dulu Ki Bagong meminta satu jalur medis yang tidak tercatat menghubungkan laboratorium, klinik, dan ruang kerja Owen. Erly memeriksa denah lama dan menemukan saluran pneumatik untuk mengirim sampel darah antarlantai.
Saluran itu dinyatakan dibongkar, tetapi tekanan udaranya masih aktif malam ini.
Polisi membuka tabung penerima di ruang kerja Owen. Di dalamnya ada tujuh amplop kulit. Enam kosong. Amplop terakhir berisi foto keluarga Meisin dan undangan lama atas nama Bu Rena.
Undangan itu meminta Bu Rena datang ke pemakaman putrinya sebelum matahari terbenam.
Alamat pemakaman bukan tanah keluarga Wilson. Itu tanah kosong tempat Owen pertama kali melihat Meisin dan memutuskan dia harus menjadi miliknya.
Di belakang undangan, tertulis dengan darah segar:
Datanglah, atau tujuh korban akan dicatat mati bersamanya. (*)