Pemberitahuan kematian Meisin menyebar lebih cepat daripada bantahan polisi. Dalam sebelas menit, nomor identitasnya tidak dapat digunakan untuk membuka rekening, mengakses rekam medis, atau menandatangani berita acara. Sistem bahkan menolak sidik jarinya karena sidik yang sama sudah dicatat pada tubuh di ruang barang bukti.
'Secara hukum sementara, saya siapa?' tanya Meisin.
Penyidik tidak berusaha menenangkan dengan jawaban palsu. 'Orang hidup dengan identitas yang sedang disengketakan. Kami harus membuat berita acara khusus dan memeriksa siapa yang mengubah datanya.'
Meisin tidak diborgol, tetapi dia diminta tetap di pusat komando. Jika keluar tanpa dokumen, petugas lain dapat menganggapnya penyamar atau saksi yang melarikan diri. Ki Bagong telah membangun penjara tanpa dinding.
Di ruang barang bukti, Wadah X memakai wajah Meisin dengan sempurna. Kulitnya mempunyai tahi lalat kecil di bawah telinga dan bekas luka masa kecil di siku. Ia meniru denyut jantung, sidik jari, bahkan suara yang pernah direkam perusahaan.
Namun ia tidak boleh disebut Meisin. Petugas menandai seluruh laporan dengan nomor bukti dan mencatat bahwa kecocokan biologis diduga hasil pemalsuan jaringan.
'Kalau kita bilang tubuh itu bukan Meisin, apakah ucapan kita justru menjadi pengakuan tandingan?' tanya Bu Rena.
'Tidak selama kita mengenali kehendak orang yang hidup, bukan memberi nama kepada wadah,' jawab Meisin.
Mbah Raras masih berada di lapisan terdalam cermin. Tidak ada suara yang dapat dimintai petunjuk. Mereka harus mengambil keputusan tanpa menjadikan perempuan tua itu jawaban untuk semua masalah.
Petugas kependudukan mengirim prosedur pembatalan kematian. Biasanya dibutuhkan akta, sidik jari, saksi keluarga, dan pemeriksaan langsung. Kali ini semua bukti lama dapat dipakai Wadah X. Bahkan Bu Rena sebagai ibu berisiko menguatkan wajah ketujuh bila hanya menyebut hubungan darah.
Meisin membuka buku catatan. Serpihan kulit bermata tujuh sudah dipindahkan ke kantong bukti terpisah. Halaman-halamannya difoto penyusup, sehingga fakta di dalamnya tidak lagi cukup menjadi pembeda.
'Kita pakai keputusan yang belum pernah ditulis,' katanya.
Penyidik membuat ruang pemeriksaan tanpa kaca, kamera, atau layar. Tiga saksi masuk bergantian dan tidak mendengar jawaban satu sama lain. Mereka tidak ditanya siapa Meisin berdasarkan masa lalu. Mereka diminta menceritakan satu pilihan yang baru dibuat Meisin setelah status kematian terbit.
Bu Rena menjadi saksi pertama. Sebelum masuk, Meisin bertanya apakah ibunya ingin tetap di pusat komando atau mendampingi korban di rumah sakit. Bu Rena memilih menemui korban karena tulang keluarga mereka mungkin berada di Wadah X.
'Dia tidak menahanku untuk membuktikan dirinya,' kesaksian Bu Rena dicatat petugas. 'Dia bilang keputusan saya tidak boleh dijadikan alat pengenal miliknya.'
Reksa menjadi saksi kedua. Meisin meminta dia memilih antara memburu penyusup atau menjaganya. Reksa ingin tinggal, tetapi memilih menelusuri CCTV karena itu lebih berguna.
'Dia tidak meminta saya melindunginya hanya karena kami teman sejak kecil,' kata Reksa. 'Dia menyuruh saya melakukan pekerjaan yang dapat melindungi semua orang.'
Owen tidak dapat menjadi saksi hukum karena sudah meninggal. Erly menjadi saksi ketiga. Meisin menolak tawaran menggunakan uang perusahaan untuk mempercepat koreksi data. Dia memilih jalur tercatat meski lebih lambat.
'Dia tidak mengambil kekuasaan yang berasal dari orang yang pernah merampas kehendaknya,' ujar Erly. 'Keputusan itu dibuat setelah berkas palsu masuk, jadi belum ada di data yang dicuri.'
Ketiga kesaksian disegel dengan waktu berbeda. Meisin kemudian menjawab pertanyaan yang sama. Jawabannya cocok pada inti, tetapi tidak pada susunan kata. Itu menunjukkan interaksi hidup, bukan naskah yang dihafal bersama.
Petugas tetap membutuhkan pembanding dari Wadah X. Mesin suara mengajukan pertanyaan tanpa menyebut nama.
'Apakah Bu Rena harus tinggal untuk membuktikan hubungan keluarga?'
'Ya,' jawab wadah dengan suara Meisin. 'Seorang ibu harus memilih anaknya.'
'Apakah Reksa harus menjaga pusat komando?'
'Ya. Dia selalu melindungiku.'
'Apakah dana perusahaan boleh dipakai mempercepat pemulihan identitas?'
'Itu hakku sebagai istri Owen.'
Tiga jawaban dibangun dari kebiasaan lama, kepemilikan, dan hubungan yang dipaksakan. Tidak satu pun mengenali pilihan pagi itu.
Wadah X menyadari kegagalannya. Ia membenturkan kepala ke pintu sampai darah menodai lantai. Dokter tidak masuk. Mereka mengalirkan obat melalui selang yang sudah terpasang, tetap menjaga jaringan tujuh korban tidak rusak.
Pemeriksaan administratif menemukan akun petugas yang menerbitkan kematian Meisin. Akun itu milik pejabat yang sedang cuti dan tidak pernah datang ke kantor. Akses dilakukan dengan salinan sidik jari dari basis data lama serta pengenalan wajah melalui video Meisin.
'Sistem menganggap biometrik sebagai kebenaran tunggal,' kata petugas kependudukan. 'Sekarang kita punya dua tubuh dengan bukti yang sama.'
'Tubuh bukan satu-satunya tempat pilihan dibuat,' jawab Meisin.
Berita acara khusus diterbitkan. Status kematian belum dapat dihapus seketika, tetapi diberi sengketa aktif. Semua transaksi memakai identitas Meisin dibekukan, termasuk permintaan pemindahan jenazah yang baru masuk dari sebuah rumah duka.
Pemohon mengaku sebagai suami sah Meisin.
Nama yang tercantum adalah Owen Wilson.
Erly memeriksa tanda tangan digital. Sertifikatnya berasal dari server perusahaan, diaktifkan kembali setelah kematian Owen. Surat itu meminta Wadah X diserahkan untuk dimakamkan di tanah keluarga Wilson.
'Kalau tubuh itu masuk peti keluarga, dunia akan melihat pemakamannya sebagai pengakuan bahwa Meisin sudah mati,' kata penyidik.
Owen mengepalkan tangan. 'Aku tidak pernah menandatangani itu.'
'Kamu pernah memberi Ki akses ke sertifikat dan data darahku,' kata Meisin. 'Kebohongan hari ini tumbuh dari keputusanmu dulu.'
'Aku akan bantu membuktikannya tanpa meminta kamu melupakan asalnya.'
Meisin mengangguk tipis, bukan sebagai maaf, melainkan izin untuk membantu pada satu perkara.
Permohonan pemakaman ditolak karena identitas disengketakan. Polisi juga menghubungi rumah duka. Kendaraan penjemput sudah berangkat sebelum surat diterima, seolah pemohon tahu sistem akan menyetujuinya.
Beberapa menit kemudian, alarm pagar barang bukti menyala. Mobil jenazah palsu menabrak gerbang samping. Sopir melarikan diri, sementara dua orang berkain hitam mencoba masuk memakai surat digital Owen.
Petugas menangkap keduanya. Mereka bukan pengikut Ki Bagong. Mereka pekerja harian yang dibayar melalui pesan anonim dan diberi seragam serta kartu akses.
Di dalam mobil ditemukan peti baru. Ukurannya sesuai tubuh Wadah X. Pada tutup bagian dalam terdapat foto Meisin dan kolom pengesahan kematian.
Kolom keluarga belum ditandatangani.
Namun di bawahnya sudah ada cap sidik jari Bu Rena, diambil dari gelas yang hilang di pusat komando.
Rekaman lorong memastikan gelas itu diangkat petugas kebersihan palsu ketika Bu Rena meninggalkan ruang pengawas. Ia tidak menyentuh buku Meisin lebih dari dua detik. Serpihan kulit di sampul rupanya bekerja seperti kamera hidup, menyerap tulisan sekaligus membawa sidik orang yang memegang benda di dekatnya. Semua barang pribadi kemudian dimasukkan ke kantong bening dan hanya boleh dibuka di hadapan dua saksi. Bahkan buku catatan tidak lagi dianggap aman hanya karena berada dalam genggaman Meisin.
Ki Bagong tinggal membutuhkan satu suara yang menyebut jenazah itu sebagai anaknya. (*)