Polisi mengevakuasi ibu, bayi, perawat, dan penjaga dari rumah bersalin sebelum membuka ventilasi. Tidak ada yang mengaku mengenal pasien tanpa identitas. Rekaman pendaftaran memperlihatkan perempuan itu masuk seorang diri, tetapi kamera lorong menunjukkan tandu bergerak tanpa didorong.
Tangis dari bawah lantai terus terdengar.
Satu.
Dua.
Suara Ki Bagong menghitung di sela tangis, pelan dan sabar. Tim memutus pengeras suara gedung, tetapi suara itu tidak berhenti. Getarannya berasal dari pipa udara yang turun ke tanah.
Reksa mengingat gambar terakhir Mbah Raras: tujuh jendela dan asap yang bergerak ke bawah. Dia meminta denah lama. Rumah bersalin dibangun di atas tempat pencucian paru-paru milik klinik kolonial. Ruang bawahnya disegel setelah wabah, tetapi cerobong udara masih tersambung ke saluran belakang.
'Napas masuk ke tanah,' katanya melalui radio. 'Bukan asap keluar.'
Tim menemukan kipas yang dipasang terbalik di dalam cerobong. Udara dari seluruh kamar disedot menuju ruang bawah, membawa napas, tangis, serta nama yang diucapkan keluarga pasien. Ki Bagong tidak menunggu satu orang. Dia mengumpulkan pengakuan kelahiran dari setiap bayi yang pertama kali dipanggil namanya.
Petugas mematikan kipas secara mekanis. Hitungan berhenti pada enam.
Tidak ada dentang dari cermin tua. Penjaga di gedung lain memastikan pemukul lonceng ketujuh tetap berjarak, meski enam noda pada bingkai bergerak seperti ingin keluar. Mbah Raras tidak tampak di permukaan.
Pintu ruang bawah ditemukan di balik lemari linen. Udara di sana dingin dan mengandung obat bius. Petugas mengenakan pelindung pernapasan. Reksa mengikuti sampai tangga, lalu berhenti ketika penyidik memintanya menunggu. Dia bukan polisi dan tidak menggunakan kedekatannya dengan Meisin sebagai alasan melanggar batas.
Di ruang pertama terdapat tujuh ranjang bayi. Enam kosong dan berdebu. Ranjang ketujuh masih hangat, tetapi yang terbaring di sana hanya kantong kulit sebesar bayi tanpa tulang. Tangis keluar dari alat perekam yang ditanam di bawah kasur.
Ruang kedua berisi lemari dokumen. Semua catatan ditulis dengan istilah medis: penerima, sumber, penjamin, kecocokan, dan tanggal pemindahan. Tidak ada mantra. Selama puluhan tahun, jaringan korban disamarkan sebagai cangkok, sedangkan identitas mereka diubah menjadi nomor donor.
Nama Ki Bagong tidak muncul sebagai pasien. Ia muncul sebagai petugas kebersihan, ayah, dokter, pendamping, sopir ambulans, bahkan bayi lahir mati. Setiap identitas dipakai beberapa tahun, lalu dinyatakan meninggal sebelum wajah berikutnya muncul.
'Dia menyembunyikan perpindahan ritual di dalam administrasi biasa,' kata Erly.
Penyidik menemukan foto dari tujuh masa. Sosoknya berubah usia dan jenis kelamin, tetapi satu ciri tetap sama: jari telunjuk kanan selalu menekuk ke dalam. Tubuh-tubuh itu bukan Ki Bagong yang asli. Mereka penerima yang dipertahankan oleh serpihan tubuh di klinik tua.
Catatan terbaru memakai nama Jatmiko. Polisi itu tidak membantu Ki Bagong dengan sadar sejak awal. Rekaman pemeriksaan kesehatan menunjukkan perubahan tulisan, kebiasaan, dan denyut jantung setelah menemukan peti di Kampung Dukun. Ki telah menggunakan tubuh Jatmiko untuk memberi label RARAS, mengajukan identitas palsu, lalu meninggalkannya.
Jatmiko ditemukan hidup di ruang ketiga. Ia terikat pada kursi dengan seragam masih terpasang. Jari telunjuk kanannya lurus. Ketika sadar, dia tidak ingat sembilan hari terakhir dan tidak mengenali tulisan pada label peti.
'Ki sudah pindah sebelum kita datang,' ujar penyidik.
Namun tubuh berikutnya tidak ditemukan. Hanya ada gaun pasien yang basah cairan hitam, gelang tanpa nama, dan sebuah lubang sempit menuju saluran kota. Jejak di dalam saluran menyerupai tangan serta lutut orang dewasa, bukan bayi.
Meisin menerima kabar di pusat komando. Ia menahan dorongan memakai penglihatannya. Jejak fisik, sampel, transaksi obat, dan keterangan Jatmiko jauh lebih lambat daripada vision, tetapi tidak meminta sepotong dirinya sebagai harga.
'Tutup saluran, jangan kejar sendirian,' katanya.
Polisi memasang penghalang di tujuh keluaran. Pada keluaran ketiga ditemukan kain dengan darah segar. Pemeriksaan awal menunjukkan darah manusia dengan dua pola sel, sama seperti Wadah X. Ki Bagong mungkin membawa bagian tubuh baru atau menumbuhkan penerima dalam dirinya.
Di rumah sakit, kondisi korban terus menjadi bagian penyelidikan, bukan sekadar latar. Lilis mengenali nomor donor pada satu catatan sebagai nomor yang pernah ditulis Darto di pintu rumah. Bayu meminta keterangannya diambil tanpa ayahnya. Lima korban lain memberi izin terpisah untuk mencocokkan sampel. Tidak seorang pun dipaksa bertemu pelaku atau menyerahkan cerita kepada media.
Erly menyerahkan daftar pembayaran ke penyidik antikorupsi dan pengawas medis. Beberapa pejabat perusahaan Owen ikut menandatangani tagihan palsu. Owen tidak dapat dihukum sebagai orang hidup, tetapi harta waris serta perusahaan tetap dapat dipakai untuk ganti rugi bila pengadilan memutuskan demikian.
'Aku setuju,' kata Owen.
'Persetujuanmu bukan satu-satunya dasar,' jawab Meisin. 'Korban yang menentukan bentuk pemulihan yang mereka butuhkan.'
'Aku mengerti.'
Menjelang pagi, tim menemukan server kecil yang tersembunyi di dalam inkubator rusak. Isinya salinan data kependudukan, riwayat medis, rekaman suara, dan pola wajah ribuan orang. Enam folder diberi tanda selesai. Folder ketujuh masih terbuka.
Nama folder itu bukan Raras.
MEISIN VALERY.
Di dalamnya terdapat foto masa kecil, tanda tangan, rekaman penolakan publik, data darah, dan keputusan-keputusan baru dari buku catatan. Seseorang telah memotret halaman terakhir hanya beberapa jam setelah Meisin menulisnya. Ki Bagong tidak lagi sekadar mencuri masa lalu; dia belajar menyalin perubahan yang dibuat Meisin saat ini.
Reksa memeriksa siapa yang mengakses server. Sambungan terakhir berasal dari perangkat milik petugas pusat komando. Semua telepon disita satu per satu. Tidak ada aplikasi asing, tetapi kamera koridor menangkap seorang petugas kebersihan lewat dekat tas Meisin ketika semua orang memperhatikan kondisi Wadah X.
Petugas itu tidak ada dalam daftar pegawai.
Meisin membuka tas dengan sarung tangan. Buku catatannya masih utuh. Di sela sampul ditemukan serpihan kulit setipis kertas dengan gambar mata ketujuh. Ia tidak menyentuhnya.
Pada saat bersamaan, laboratorium mengirim hasil lengkap sampel Wadah X. Dokter membacanya dua kali sebelum berani berbicara.
'Tulang tua memang cocok dengan garis Mbah Raras. Enam jaringan lain cocok dengan korban di klinik. Tapi kulit baru yang tumbuh malam ini berbeda.'
'Cocok dengan siapa?' tanya Bu Rena.
Dokter memutar layar agar semua dapat melihat. Sistem forensik memberi kecocokan hampir sempurna dengan sampel darah Meisin. Bukan hanya garis keluarga. Sidik genetiknya dinilai berasal dari orang yang sama.
Meisin memeriksa lengannya. Tidak ada luka baru selain bekas pengambilan darah resmi. Tabung sampel di rumah sakit masih tersegel, tetapi satu salinan data genetik pernah dikirim ke laboratorium perusahaan saat Owen menyuruh dokter memeriksa kecocokan ritual mereka.
Owen memucat. 'Aku memberikan datamu kepada orang Bagong.'
'Dan sekarang kita catat sebagai bukti,' jawab Meisin, meski suaranya bergetar.
Wadah X bangkit lagi di ruang barang bukti. Wajah Mbah Raras luruh sepenuhnya. Dari lapisan kulit baru, wajah Meisin terbentuk dengan mata terbuka.
Tidak ada lonceng berbunyi.
Namun komputer kependudukan mengirim pemberitahuan bahwa identitas Meisin Valery baru saja dinyatakan meninggal. Pada berkas kematian, tubuhnya tercatat berada di ruang barang bukti.
Di bawah kain penutup, makhluk berwajah Meisin tersenyum kepada kamera mati.
'Wajah ketujuh tidak perlu kalian berikan kepadaku,' katanya dengan suara Meisin sendiri. 'Cukup bila dunia percaya wajah yang asli sudah mati.' (*)