Tim menuju rumah bersalin, tetapi perjalanan tertahan ketika kondisi Wadah X memburuk. Setiap detak yang diterimanya memaksa tulang-tulang di dalam tubuh bergeser. Dokter khawatir tujuh sumber jaringan akan rusak sebelum identitas korban diketahui.
Bu Rena meminta melihatnya sekali.
'Dari balik pintu,' katanya sebelum Meisin menolak. 'Tanpa menyebut nama. Aku perlu tahu apakah yang kurasakan rindu atau perintah.'
Meisin tidak berhak melarang ibunya membuat pilihan, tetapi dia berhak meminta pengamanan. Cermin tua tetap berada di gedung lain. Reksa berdiri di sisi Bu Rena, penyidik memegang tombol penutup saluran, dan semua istilah hubungan dilarang. Owen tinggal bersama Meisin di lorong luar agar kemunculannya tidak memberi Wadah jalan menuju nama pernikahan.
Kain pada kaca pengawas dibuka selebar dua jari.
Wadah X terbaring di lantai. Wajah Mbah Raras tampak lebih tua daripada sebelumnya. Saat melihat Bu Rena, matanya berkaca-kaca.
'Rere,' panggilnya.
Kali ini panggilan itu benar.
Bu Rena tersentak. Tangannya menyentuh kaca sebelum sempat ditahan. Tubuh di lantai merangkak mendekat dan meletakkan telapak pada sisi lain.
'Waktu kamu berumur sembilan tahun, kamu menyembunyikan piring pecah di bawah pohon pisang,' katanya. 'Aku tahu, tapi aku membiarkanmu mengaku sendiri. Kamu baru mengaku tiga hari kemudian sambil membawa dua mangga sebagai ganti.'
Bu Rena menangis. Kenangan itu tidak pernah diceritakannya kepada Meisin atau Pak Leo.
'Kalau itu hanya curian, kenapa rasanya seperti Ibu?' bisiknya.
Mbah Raras asli mendengar dari radio. Untuk waktu lama dia tidak menjawab. Lalu pantulannya duduk di dalam cermin, terlihat lebih kecil di antara enam noda wajah.
'Karena tulangku mengingat mencintaimu,' ujarnya. 'Ki Bagong tidak menciptakan semua air mata itu. Dia hanya tahu cara mengalirkannya menuju pintu yang dia mau.'
Wadah X memejamkan mata. Ketika membukanya, suara Ki Bagong keluar di antara napas perempuan tua.
'Sebut dia pulang, Rena. Aku akan keluar setelah ibumu masuk.'
'Pembohong!' bentak Bu Rena.
'Tanyakan kepada pantulan itu apakah dia tidak menginginkan kaki, tangan, dan pelukan lagi.'
Mbah Raras tidak membantah.
Keheningan lebih menyakitkan daripada rayuan. Selama puluhan tahun, dia terkurung dalam permukaan kaca, dapat melihat anak serta cucunya tetapi tidak dapat menyentuh mereka. Di hadapan Bu Rena kini ada tangan yang pernah menyuapinya, meski disatukan dengan tulang orang lain dan digerakkan musuh.
'Aku ingin pulang,' kata Mbah Raras akhirnya. 'Aku ingin memelukmu sampai kamu mengeluh sesak. Aku ingin merasakan hujan, nasi hangat, dan sakit lutut. Karena itu aku tidak boleh mengambil keputusan saat melihat tubuh tersebut.'
Bu Rena menempelkan dahinya pada kaca. 'Kalau ada cara memisahkan dia?'
'Kita cari. Tapi jangan mengakui wadah sebelum pemisahan terjadi. Kalau kamu memanggilnya sebagai aku, kehendakku akan ditarik bersama Ki Bagong. Tujuh bagian korban lain juga akan kehilangan hak untuk pulang kepada nama mereka.'
Bu Rena hampir membuka mulut. Wadah di lantai tersenyum, menunggu satu panggilan sederhana. Namun Bu Rena menarik tangannya dan menyebut nomor barang bukti kepada petugas.
'Tutup kainnya.'
Saluran suara diputus. Jantung Wadah X kembali melambat. Pemukul lonceng ketujuh tidak bergerak.
Di lorong, Meisin memeluk Bu Rena setelah meminta izin. Ibunya mengangguk, lalu menangis pada bahunya. Dalam tangis itu, Bu Rena bersenandung lirih, lagu yang dulu dinyanyikan Mbah Raras ketika listrik padam.
Meisin mengenali pola nadanya dari kekosongan, tetapi tidak dapat mengingat pernah mendengarnya. Lagu lama itu termasuk harga yang terambil ketika ia menarik benda dari masa lalu.
'Aku tahu harusnya aku ingat,' katanya.
'Nggak apa-apa.' Bu Rena mengusap rambutnya. 'Aku bisa menyanyikannya lagi.'
Meisin membuka buku dan menulis tanggal hari itu. Dia tidak menulis bahwa ingatan lama sudah pulih. Dia menulis bahwa hari ini ibunya menyanyikan sebuah lagu saat sedang takut, lalu tetap memilih melindungi banyak orang meski ingin memeluk ibunya sendiri.
'Kalau lagu lama nggak kembali, aku punya ingatan baru.'
Bu Rena menyanyikan bait itu sekali lagi. Reksa merekam hanya setelah keduanya setuju. Salinan diberikan kepada Meisin dan Bu Rena, bukan disimpan dalam arsip polisi.
Owen menunggu sampai Bu Rena pergi bersama dokter. 'Aku pernah menyuruh orang menghapus semua rekaman yang memperlihatkanmu menolakku,' katanya. 'Sekarang kamu membuat ingatan sendiri, dan aku sadar betapa banyak yang kucoba rampas.'
'Sadar bukan berarti selesai bertanggung jawab.'
'Aku tahu.'
Meisin menulis pengakuan itu tanpa menjanjikan jawaban apa pun. Reksa melihat dari ujung lorong, tidak mendesak Meisin memilih kedekatan dengan siapa. Untuk malam itu, keputusan terpenting bukan tentang dua lelaki tersebut.
Di rumah sakit korban, Lilis sudah dapat duduk. Bayu masih takut pada cermin dan menolak bertemu Darto. Lima korban lain menjalani identifikasi, masing-masing didampingi keluarga atau pendamping independen. Darto memberi keterangan dari tahanan. Dia menyerahkan daftar dokter, pengemudi, dan lokasi pengambilan bagian tubuh tanpa meminta pengurangan hukuman.
Erly juga membuka rekening yayasan dan menyetujui dana perusahaan dibekukan untuk pemulihan korban. Pengacara memperingatkan tindakan itu dapat menjatuhkan perusahaan. Erly menjawab bahwa perusahaan yang bertahan dengan uang tutup mulut tidak lebih penting daripada orang yang dilukainya.
Salah satu korban mengenali foto rumah bersalin tujuan polisi. Lima tahun lalu, dia dibawa ke sana setelah diculik. Ia tidak melihat Ki Bagong, tetapi mendengar seorang perempuan menjerit seperti melahirkan. Setelah jeritan berhenti, seorang anak berjalan keluar dengan suara lelaki tua.
Kesaksian itu membuat penyidik mengubah rencana. Mereka tidak akan memperlakukan pasien hamil sebagai pelaku. Rumah harus dievakuasi sebagai tempat medis berbahaya, dan setiap orang di dalamnya diperiksa tanpa cermin terbuka.
Mbah Raras meminta bicara pribadi kepada Meisin melalui radio. Ketika sambungan tersisa suara saja, perempuan tua itu berkata bahwa keberadaannya di cermin menjadi umpan bagi Bu Rena. Selama pantulannya tampak, Ki dapat membandingkan dua sosok ibu dan memaksa keluarga memilih.
'Aku akan mundur ke lapisan terdalam,' katanya.
'Kalau Mbah masuk terlalu jauh, bisa keluar lagi?'
'Kalau enam wajah tetap memiliki nama, mereka dapat menunjukkan jalan. Jangan mencariku dengan penglihatanmu.'
Meisin ingin menolak, tetapi itu tubuh dan risiko Mbah Raras. 'Kalau itu keputusan Mbah sendiri, aku catat.'
Pantulan perempuan tua meninggalkan satu petunjuk sebelum menghilang dari permukaan: gambar rumah dengan tujuh jendela dan satu cerobong yang mengeluarkan asap ke bawah.
'Rumah bersalin hanya pintu depan,' katanya. 'Cari ruang tempat napas masuk ke tanah.'
Wajahnya memudar. Enam noda tetap berada di ukiran, sedangkan bagian tengah cermin menjadi gelap.
Pada saat yang sama, tim di rumah bersalin melaporkan bahwa pasien tanpa identitas tidak lagi ada di kamar. Ranjang masih basah, tetapi tidak oleh air ketuban.
Cairan hitam mengalir ke lubang ventilasi di lantai.
Dari bawah bangunan terdengar tangis bayi, disusul suara Ki Bagong yang menghitung sampai tujuh. (*)