Kendaraan yang membawa sumber detak melaju ke utara, lalu menghilang dari pelacak selama sebelas menit. Ketika sinyal muncul lagi, posisinya kembali berada di klinik tua. Pola itu berulang, terlalu tepat untuk perjalanan manusia.
'Bukan pasien yang dipindahkan,' kata petugas siber. 'Pemancarnya memantulkan lokasi melalui perangkat di beberapa mobil.'
Ki Bagong sengaja menciptakan pengejaran palsu. Polisi tetap mendatangi Rumah Pulih Ananta dan klinik tua secara bersamaan, tetapi Meisin tidak ikut rombongan pertama. Noda hitam pada bahunya berdenyut setiap kali Wadah X menerima sinyal. Ia memilih tinggal di pusat komando bersama Bu Rena dan dokter, jauh dari cermin tua.
Reksa bergabung dengan tim klinik sebagai saksi penemuan awal Kampung Dukun. Erly datang karena arsip pembayaran berada di bawah perusahaan Owen. Dia telah menandatangani pernyataan bahwa semua dokumen boleh disita, termasuk yang dapat menjerat dirinya.
'Kalau ada petugas perusahaan mencoba menghalangi, rekam dan beri akses,' pesannya kepada pengacara. 'Jangan hapus nama siapa pun.'
Owen berdiri dekat Meisin, tetapi tidak melewati batas yang ditandai kursi kosong di antara mereka. 'Aku bisa mengikuti Reksa tanpa terlihat.'
'Jangan,' jawab Meisin. 'Tempat itu pernah dipakai keluargamu. Bisa jadi ada ikatan yang menahanmu.'
'Kamu mengkhawatirkanku?'
'Aku mencegah Ki mendapat wadah lain. Jangan mengubah strategi menjadi perasaan.'
Owen menelan jawaban yang biasanya akan dia paksakan. 'Baik.'
Klinik tua tampak mati dari jalan. Papan namanya sudah berkarat, halaman dipenuhi rumput, dan jendela dilapisi debu. Namun kamera termal menemukan panas di ruang bawah tanah. Petugas membuka pintu berdasarkan surat penggeledahan, bukan melalui cermin atau mantra.
Reksa melaporkan melalui radio tanpa video. Lorong utama kosong. Bau pemutih bercampur bunga kenanga menempel pada dinding. Di meja pendaftaran terdapat tujuh buku pasien, semuanya memakai nama yang sama pada tahun berbeda: Bagong.
Tidak satu pun memiliki foto.
Di lantai bawah, mereka menemukan satu ruang perawatan intensif. Mesin ventilator masih menyala. Infus menetes ke selang yang berakhir di bawah seprai, tetapi ranjang itu kosong. Lekukan tubuh pada kasur masih hangat.
'Jangan sentuh seprai,' perintah penyidik. 'Ambil sampel biasa.'
Di bawah bantal terdapat rambut putih, kuku muda, dan satu gigi susu. Semua diletakkan dalam kantong terpisah, seolah milik pasien yang berganti usia. Pada tiang infus, tujuh gelang rumah sakit menggantung. Tanggal lahirnya berjarak puluhan tahun, tetapi masing-masing mencatat golongan darah yang sama.
Erly membuka lemari obat. Stoknya tidak sesuai satu pasien. Ada penekan imun, penghambat penolakan cangkok, obat jantung, dan cairan pemelihara organ. Beberapa ampul dibeli memakai anggaran kesehatan perusahaan Owen. Yang lain berasal dari tujuh klinik berbeda.
'Dia nggak hidup tanpa tubuh,' kata Reksa. 'Dia menyebar tubuhnya.'
Dokter di pusat komando meminta tim mencari monitor utama. Sebuah kabel dari ranjang masuk ke dinding, lalu bercabang menuju tujuh kotak pemancar. Setiap kotak mengirim rekaman denyut yang sama dengan jeda berbeda. Mobil-mobil tadi hanya membawa pengulang sinyal.
Meisin memperhatikan grafik. Satu detak selalu lebih kuat setiap kali Wadah X membentuk wajah. 'Yang asli bukan pemancar paling dekat. Cari detak yang datang lebih dulu.'
Petugas siber menghitung selisih sepersekian detik. Sumber pertama tidak berada di klinik. Sinyal masuk melalui kabel lama yang terhubung ke jaringan telepon bawah tanah, lalu disebar ke pemancar modern.
Kabel itu tercatat sudah mati.
'Ikuti fisiknya,' kata Meisin. 'Jangan lokasi digitalnya.'
Tim menemukan kabel di balik dinding berlapis timah. Jalurnya turun ke terowongan servis dan berakhir pada pintu besi yang dilas. Polisi memotong las setelah memastikan tidak ada bahan peledak. Di baliknya bukan tubuh Ki Bagong, melainkan ruangan penuh botol kaca berisi potongan jaringan.
Setiap botol terhubung ke kabel tembaga. Jantung kecil, kulit, mata, dan ruas jari bergerak mengikuti detak yang sama. Sebagian label memuat nomor korban dari arsip Darto. Sebagian hanya mencantumkan tanggal.
Bu Rena menutup mulut. 'Itu bagian orang-orang yang hilang.'
Mbah Raras berbicara melalui saluran terpisah. 'Jangan pecahkan botol. Selama namanya belum kembali, bagian itu bisa menyeret kesadaran pemiliknya.'
Polisi memanggil tim forensik biologis dan mencatat setiap wadah. Mereka tidak membawa benda keluar sebelum keluarga korban serta dokter menentukan perlakuan aman. Meisin menambahkan daftar itu pada salinan arsip, tetapi tidak membaca nama keras-keras.
Di ujung ruangan ada kursi perawatan dengan pengikat kulit. Bekas darah di sandaran masih segar. Di lantai, penyidik menemukan jejak sepatu dua orang: satu dewasa dan satu lebih kecil. Ki Bagong mungkin tidak sendiri, atau tubuh yang dipakainya tidak selalu berukuran sama.
Erly menemukan kartu memori pada alat rekam tanpa layar. Isinya catatan perawatan, bukan ritual. Setiap beberapa tahun, seorang pasien tanpa identitas menerima pencangkokan kecil dari orang lain. Dokter yang menandatangani catatan sudah meninggal atau memakai nomor izin palsu.
Catatan terakhir bertanggal pagi ini.
Pasien dipindahkan karena enam wajah kembali. Kestabilan sumber turun. Persiapan penerima ketujuh dipercepat.
'Penerimanya Wadah X?' tanya Reksa.
'Atau orang lain,' jawab Erly.
Owen membaca dari belakang Meisin ketika berkas dikirim. Pada kolom penjamin biaya terdapat tanda tangannya. Bentuknya sangat mirip, tetapi tanggalnya seminggu setelah kematiannya.
'Itu palsu,' katanya.
'Tetap akan diuji,' jawab Meisin. 'Kematianmu tidak otomatis membersihkan semua dokumen sebelum tanggal itu.'
'Aku tahu.'
Ia tidak meminta dipercaya. Perubahan kecil itu dicatat Meisin dalam buku, berdampingan dengan pembayaran lama yang memang pernah diakui Owen.
Rumah Pulih Ananta ternyata tidak memiliki pasien maupun alat. Bangunan itu hanya kantor kosong yang mencetak tagihan. Polisi menyita server dan menemukan tujuh nama yayasan. Salah satunya baru saja mengajukan permintaan perubahan data kependudukan untuk seorang perempuan tanpa sidik jari.
Nama pemohon disamarkan, tetapi foto pada berkas menampilkan wajah Mbah Raras.
Status permohonan belum disahkan karena sistem meminta kecocokan keluarga terdekat. Nomor telepon Bu Rena tercantum sebagai kontak verifikasi.
Telepon Bu Rena berdering pada saat yang sama.
Meisin mematikan pengeras suara sebelum ibunya mengangkat. Bu Rena menjawab tanpa menyebut nama atau hubungan.
Suara petugas otomatis meminta dia menekan satu untuk mengakui bahwa pemohon adalah ibunya.
Bu Rena menekan tombol tutup.
Di ruang barang bukti, Wadah X menjerit. Wajah Mbah Raras terkelupas, lalu tumbuh lagi. Pemukul lonceng ketujuh bergerak setipis rambut untuk kedua kalinya, tetapi tidak menyentuh badan lonceng.
Penyidik membatalkan permohonan dan menandainya sebagai pemalsuan identitas. Namun sebelum akses ditutup, sistem menunjukkan satu informasi tambahan: berkas itu diajukan dari terminal kependudukan yang hanya dapat digunakan petugas berwenang.
Nama petugasnya adalah Jatmiko, polisi pertama yang menemukan peti batu di Kampung Dukun.
Reksa meminta pemeriksaan keberadaan Jatmiko. Jawaban dari kantor datang cepat.
Jatmiko sudah tidak masuk kerja selama sembilan hari. Di rumahnya hanya ditemukan seragam, telepon, dan selembar catatan bertuliskan tujuh alamat fasilitas kesehatan.
Enam alamat telah tutup.
Alamat ketujuh masih aktif sebagai rumah bersalin kecil. Menurut daftar pasien malam itu, seorang perempuan baru saja datang untuk melahirkan tanpa identitas dan tanpa janin yang terdeteksi.
Di kolom pendamping, tertulis nama yang membuat Meisin merasakan noda hitam di bahunya bergerak.
Ki Bagong. (*)