Pemeriksaan Wadah X dilakukan tanpa memindahkannya dari ruang barang bukti. Dokter memasukkan alat pindai portabel melalui pintu pelayanan, sedangkan dua petugas mengawasi dari lorong tanpa kaca. Mereka tidak membius tubuh itu karena tidak tahu apakah obat akan memengaruhi makhluk yang menumpang di dalamnya.
Hasil pertama membuat Bu Rena harus duduk.
Jari kelingking kiri pernah patah pada usia muda dan menyambung miring. Tulang panggul menunjukkan bekas retak lama. Ada pula kawat gigi kuno pada rahang belakang, sama seperti yang diingat Bu Rena dari foto ibunya sebelum kebakaran.
'Berarti itu benar-benar Ibu?' tanyanya.
'Sebagian,' jawab dokter hati-hati. 'Tulang-tulangnya tidak berasal dari satu kerangka.'
Pemindaian menemukan perbedaan usia pada rusuk, lengan, dan tengkorak. Beberapa sambungan direkatkan dengan bahan medis modern. Otot tumbuh seperti jaringan cangkok, sementara kulit tidak memiliki sidik pori yang konsisten. Tubuh itu disusun dari sedikitnya tujuh sumber.
Mbah Raras menundukkan wajah di dalam cermin yang terhubung melalui radio. 'Setelah api, Ki Bagong mengambil apa yang tersisa dariku. Aku kira dia hanya mengambil abu dan satu ruas jari untuk mengikat pantulanku.'
'Kenapa Ibu nggak bilang?' suara Bu Rena meninggi.
'Karena aku tidak tahu dia menemukan sebanyak ini.'
Wadah X mendengar melalui dinding. Ia tertawa menggunakan suara perempuan tua itu.
'Aku masih menyimpan lutut yang kamu peluk ketika demam, Rere. Aku punya tangan yang menyuapimu. Berapa bagian seorang ibu harus kembali sebelum anaknya mengakui dia pulang?'
Bu Rena mencengkeram ujung kursi. Meisin menutup saluran suara, tetapi kalimat itu telanjur masuk.
Dokter mengambil sampel melalui lubang kecil di bawah pintu. Wadah tidak melawan. Setetes darah hitam berubah merah ketika masuk tabung. Uji cepat menunjukkan garis keluarga yang sama dengan Bu Rena dan Meisin, tetapi hanya pada beberapa sel. Sel lain tidak memiliki inti lengkap, seolah dipaksa meniru jaringan hidup.
'Dia memang membawa bagian tubuh Mbah,' kata Meisin. 'Tapi dia juga membawa enam orang lain.'
Erly membuka daftar korban. Tidak satu pun keluarga boleh diberi kabar sebelum identifikasi resmi. Bila bagian tubuh korban lain ada di wadah, hak mereka tidak boleh ditelan oleh kerinduan keluarga Meisin.
Bu Rena mengangguk dengan mata basah. 'Aku nggak akan menyebut tubuh itu sebagai Ibu. Bukan sebelum semua orang yang ada di sana diketahui.'
Di bawah tulang dada, dokter menemukan keping logam yang tadi berbunyi. Benda itu menyerupai alat pemantau jantung, tetapi kabelnya tidak menuju jantung Wadah X. Kabel berakhir pada lempeng tembaga tipis yang ditanam di sepanjang tulang belakang. Setiap denyut pada monitor muncul sepersekian detik sebelum jantung wadah berkontraksi.
'Ini bukan alat yang membaca detak,' ujar dokter. 'Ini menerima detak dari tempat lain, lalu memerintah tubuh mengikuti iramanya.'
Nomor seri pada alat sengaja dikikis. Namun satu bagian lapisan polimer masih membawa kode pabrik. Erly mengenali nama pemasok karena perusahaan Owen pernah membayar klinik pemulihan eksekutif melalui yayasan bayangan.
'Rumah Pulih Ananta,' katanya. 'Tempat itu muncul dalam biaya kesehatan yang selalu disetujui langsung oleh Owen. Aku kira untuk rehabilitasi orang penting yang identitasnya dirahasiakan.'
Owen berdiri di belakang garis kain. Sejak tubuhnya dikembalikan ke kamar jenazah, arwahnya tampak lebih pucat, tetapi suaranya tidak lagi bercampur dengan Karsa.
'Aku pernah ke sana sekali,' akunya. 'Bagong meminta alat medis untuk seseorang yang katanya menjaga jalur ritual tetap hidup. Aku membayar tanpa melihat pasien.'
'Tahun berapa?' tanya penyidik.
'Tiga tahun sebelum aku bertemu Meisin.'
Erly menemukan tagihan berulang sampai dua hari lalu. Pembayaran terakhir terjadi beberapa jam sebelum polisi memasuki Kampung Dukun. Seseorang masih merawat sumber detak yang menggerakkan Wadah X.
Reksa meminta penyidik tidak langsung menggerebek alamat. Jika alat penerima dimatikan sembarangan, Wadah X dapat mati bersama bagian korban di dalamnya atau memindahkan ikatan ke tubuh lain. Mereka perlu memastikan siapa pasien di ujung pengirim dan bagaimana sinyal berjalan.
Tim siber memeriksa frekuensi alat. Denyut tidak datang terus-menerus. Setiap tujuh puluh detik, sebuah paket pendek memberi perintah dasar: bernapas, menggerakkan jantung, mempertahankan wajah. Paket berikutnya membawa deretan huruf terenkripsi.
Meisin memperhatikan pola huruf tanpa menyentuh layar. 'Itu nama?'
'Mungkin,' jawab petugas. 'Tujuh kelompok, tapi enam kelompok pertama kosong.'
Kelompok terakhir berisi rangkaian yang berubah setiap kali seseorang di lorong mengucapkan kata tertentu. Saat Bu Rena berkata ibu, deretan huruf membentuk sebagian RARAS. Ketika Owen tanpa sengaja menyebut istriku dalam penjelasan, huruf berubah menjadi MEISIN.
Meisin menatapnya tajam.
Owen langsung memperbaiki perkataan. 'Meisin. Aku tidak punya hak memakai sebutan itu.'
Rangkaian kembali acak.
'Alatnya memanen pengakuan hubungan,' kata Erly. 'Dia menunggu satu nama bertahan cukup lama.'
Mbah Raras menjelaskan wajah ketujuh bukan salah satu dari enam peniru. Enam wajah pertama membuka jalan agar nama dapat dipisahkan dari kehendak pemiliknya. Wajah ketujuh harus diberikan dengan sukarela oleh orang yang mengenali hubungan darah, pernikahan, atau utang.
Jika Bu Rena menerima tubuh itu sebagai ibunya, pantulan Mbah Raras dapat dipaksa masuk. Jika Owen mengakui Wadah X sebagai Meisin, nama Meisin dapat disalin ke sana. Jika Meisin sendiri memanggilnya nenek, darah penjaga akan menyelesaikan wajah yang dibutuhkan Ki Bagong.
'Jadi dia punya banyak jalan,' kata Reksa.
'Tapi semuanya perlu persetujuan hidup,' jawab Meisin. 'Itu sebabnya dia bicara, bukan menyerang.'
Mereka mengubah aturan. Tidak ada kata hubungan keluarga atau pernikahan di dekat ruangan. Semua orang menggunakan nama lengkapnya sendiri dan nomor bukti untuk wadah. Daftar digital dikoreksi dengan catatan bahwa identitas Raras adalah label palsu. Salinan lama dipertahankan sebagai bukti, bukan pengakuan.
Wadah X mulai meronta ketika perubahan itu selesai. Wajah Mbah Raras meleleh, berganti sesaat menjadi wajah Meisin, kemudian kembali rata. Dari bawah kulit dadanya, keping logam berdetak semakin cepat.
Tim pelacak mendapatkan arah sinyal. Bukan dari Rumah Pulih Ananta yang tercantum dalam tagihan, melainkan dari menara seluler dekat klinik tua di ujung kota. Klinik itu sudah dinyatakan tutup delapan tahun lalu.
'Alamatnya?' tanya penyidik.
Erly menyebut sebuah jalan. Owen mundur satu langkah.
'Aku mengenal tempat itu,' katanya. 'Dulu ayahku menyimpan pasien yang tidak boleh muncul di catatan keluarga.'
Penyidik membuka arsip kepemilikan. Bangunan memang bukan atas nama keluarga Owen. Pemiliknya yayasan yang dibubarkan, lalu berpindah kepada tujuh perusahaan kosong. Direktur terakhir tercatat meninggal dua puluh tahun lalu.
Namun tagihan listrik menunjukkan penggunaan setara ruang perawatan intensif sampai malam ini.
Meisin tidak memakai penglihatannya. Dia meminta surat penggeledahan berdasarkan alat medis ilegal, penculikan, dan pembayaran perusahaan. Bukti masa kini harus menemukan tubuh Ki Bagong tanpa menukar satu lagi ingatannya.
Saat tim bersiap, denyut pada monitor Wadah X mendadak berhenti.
Tubuh itu jatuh, tetapi tidak mati. Di layar pelacak, sumber detak berpindah dari klinik tua ke kendaraan yang bergerak.
Satu pesan tanpa nomor masuk ke telepon Erly.
'Kalian terlambat mengejar jantung,' bacanya. 'Orang yang kalian cari sudah belajar hidup tanpa tubuhnya sendiri.' (*)