Alarm ruang barang bukti meraung tiga kali sebelum petugas memutus alirannya. Tubuh yang tadi duduk di dalam peti batu kini berdiri dengan wajah Mbah Raras, tetapi mulutnya membentuk senyum yang tidak pernah dipakai perempuan tua itu.
'Terima kasih sudah mengembalikan enam nama,' katanya dengan suara Ki Bagong. 'Sekarang aku hanya membutuhkan wajah ketujuh.'
Petugas tidak masuk. Sesuai prosedur yang disusun setelah Gudang Kaca, mereka menutup pintu baja kedua dan menurunkan kain kusam di kaca pengawas. Tidak ada pantulan terbuka di dalam ruangan. Kamera merekam dari balik penutup buram tanpa menayangkan gambar langsung.
Meisin, Reksa, Bu Rena, dan Erly tiba bersama penyidik. Cermin tua tetap di kantor polisi lain, dijaga dua regu yang tidak mengetahui lokasi kotak Karsa. Kotak panjang itu pun dipindahkan ke ruang tanpa saluran yang terpisah. Ki Bagong tidak boleh mendapatkan enam wajah dan pantulan Karsa dalam satu tempat.
'Jangan sebut nama yang tertulis di label peti,' pesan Meisin.
Bu Rena menatap pintu. Wajahnya pucat. 'Itu wajah Ibu.'
'Wajah bukan keputusan,' kata Meisin, mengulangi pelajaran yang menyelamatkannya dari para peniru. 'Kita belum tahu siapa di dalamnya.'
Mereka membuka saluran suara saja. Makhluk di balik pintu mengetuk tiga kali.
'Rena,' panggilnya. Kali ini suaranya berubah menjadi suara Mbah Raras. 'Buka pintunya, Nduk. Ibu kedinginan.'
Tangan Bu Rena bergerak ke tombol, tetapi Meisin menahannya. Dia tidak memeluk atau menarik ibunya menjauh. Dia hanya meletakkan buku catatan di antara tangan Bu Rena dan tombol.
'Tulis keputusan Ibu sekarang.'
Bu Rena menarik napas gemetar. Di halaman kosong, dia menulis bahwa rasa rindu tidak membuktikan identitas siapa pun. Tangannya berhenti beberapa kali, kemudian menambahkan bahwa dia tidak memberikan nama, tubuh, atau hubungan keluarga sebelum pemeriksaan selesai.
Ketukan di dalam ruangan mendadak keras.
'Kamu mengajari anakku menolak ibunya sendiri!' bentak suara Mbah Raras.
Pantulan Mbah Raras yang asli berbicara melalui radio dari gedung lain. 'Bagus. Aku tidak pernah memanggil Rena dengan Nduk ketika sedang takut. Aku memanggilnya Rere.'
Bu Rena menutup mata. Kesalahan kecil itu menyelamatkannya dari keputusan besar.
Dokter forensik mengusulkan pemeriksaan tanpa membuka pintu. Pemindai panas ditempelkan pada dinding. Hasilnya memperlihatkan tubuh hidup dengan suhu rendah, jantung berdetak sembilan belas kali per menit, dan benda logam kecil di bawah tulang dada. Namun alat itu juga menemukan rongga kosong di tempat sebagian paru-paru seharusnya berada.
'Tubuh ini hidup, tapi tidak mungkin bertahan dengan susunan organ begitu,' kata dokter.
'Karena yang mempertahankannya bukan napas,' jawab Mbah Raras dari radio. 'Ada nama yang menahannya.'
Penyidik memeriksa dokumen masuk barang bukti. Tubuh tanpa wajah ditemukan dalam peti di Kampung Dukun. Petugas lapangan tidak mengetahui identitasnya, tetapi pada kantong jenazah sudah tertulis RARAS menggunakan tinta hitam. Nama itu lalu disalin ke formulir, gelang, daftar digital, dan laporan forensik sementara.
Empat catatan resmi telah mengulangi satu nama yang tidak pernah diverifikasi.
Erly menatap layar tanpa mengusapnya. 'Kalau kebohongan dicatat cukup banyak, dia mendapat saksi administratif.'
'Belum cukup,' sahut Mbah Raras. 'Kertas mengenali kata. Wajah ketujuh membutuhkan manusia hidup yang mengenali hubungan.'
Tubuh di ruangan kembali memanggil Bu Rena. Ia menyebut makanan masa kecilnya, warna kebaya yang dipakai pada ulang tahun ketujuh, dan bekas luka di lutut akibat jatuh dari pohon jambu. Semua benar.
Pak Leo, yang mengikuti melalui telepon tanpa gambar, bertanya apakah itu berarti sebagian Mbah Raras benar-benar berada di dalam tubuh.
'Kenangan bisa menempel pada tulang, darah, atau benda,' jawab perempuan tua itu. 'Ki Bagong belajar mencuri bekas. Dia tidak belajar menjadi orang yang meninggalkan bekas itu.'
Meisin meminta pengujian berdasarkan pilihan baru. Bu Rena menulis dua pertanyaan yang jawabannya belum diketahui siapa pun, lalu menunjukkannya hanya kepada penyidik. Pertama, jika tubuh itu benar-benar dapat menampung Mbah Raras, apakah Mbah mau masuk sebelum Ki Bagong dipisahkan? Kedua, jika pemisahan menuntut ingatan Meisin, apakah Mbah menyetujuinya?
Saluran suara dibuka.
'Ibu,' kata Bu Rena, sengaja memakai panggilan tanpa nama. 'Kalau pintu dibuka, mau pulang sekarang?'
'Mau. Cepatlah. Aku sudah menunggu puluhan tahun.'
Bu Rena membaca pertanyaan kedua.
'Ingatan Meisin dapat tumbuh lagi,' jawab tubuh itu. 'Keluarga harus berkorban untuk orang yang lebih tua.'
Dari radio, Mbah Raras asli tertawa pendek dan pahit. 'Bakar tubuh itu kalau perlu. Aku tidak akan pulang dengan menindih cucuku.'
Wajah pada makhluk di ruang bukti berkedut. Kulit di pipinya terbelah sesaat, memperlihatkan permukaan rata tanpa otot, lalu menyatu kembali. Ia memiliki ingatan lama, tetapi tidak memiliki pilihan Mbah Raras pada saat ini.
Meisin mencatat hasilnya. Mereka tidak menyebutnya Raras lagi. Penyidik mengganti status digital menjadi Wadah X, identitas belum terverifikasi. Gelang lama dilepas menggunakan penjepit panjang melalui kotak pengaman. Label peti ditutup kain, bukan dibakar, karena api mungkin mengaktifkan sisa ritual.
Ketika nama di layar diubah, jantung makhluk itu berhenti selama tujuh detik. Pada detik kedelapan, benda logam di bawah dadanya memancarkan bunyi kecil.
Tik.
Pemukul lonceng ketujuh di dalam cermin tua bergerak setipis rambut, kemudian berhenti. Enam noda wajah menggeliat di ukiran masing-masing. Mbah Raras meminta penjaga menjauhkan cermin dari radio dan menutupnya dengan kain kedua.
'Dia mencoba memakai pencatatan sebagai pengakuan,' ujar Mbah Raras. 'Jangan beri wajah itu nama lain. Bahkan nama sementara bisa menjadi pintu bila diucapkan dengan keyakinan.'
Penyidik mengganti sebutan lisan menjadi nomor barang bukti. Tak seorang pun diperbolehkan berbicara langsung kepadanya. Pertanyaan disampaikan dalam tulisan, kemudian dibacakan mesin tanpa intonasi. Tubuh itu berhenti merayu dan mulai menghantam pintu.
Polisi memeriksa siapa yang pertama kali menulis RARAS pada kantong. Kamera lapangan menunjukkan kantong itu sudah berlabel ketika ditemukan. Tinta diuji. Ternyata tulisan tersebut baru berumur kurang dari dua minggu, jauh lebih muda daripada peti dan kain pembungkusnya.
'Seseorang datang ke Kampung Dukun sesaat sebelum kita,' kata Reksa.
'Ki Bagong masih punya tangan manusia,' jawab Erly.
Meisin menolak memakai penglihatannya untuk mencari pelaku. Noda hitam di bahunya belum mundur. Mereka menelusuri pembelian tinta, nomor inventaris kantong, dan rekaman jalan seperti penyelidikan biasa.
Di dalam ruang bukti, Wadah X mendadak berhenti memukul. Ia menempelkan telapak pada pintu dan berbicara dengan suara Meisin.
'Wajah ketujuh bukan wajah yang kucuri,' katanya. 'Wajah ketujuh adalah wajah yang kalian pulangkan sendiri.'
Lalu suaranya kembali menjadi suara Ki Bagong.
'Tanyakan kepada ibumu bagian tubuh siapa yang kalian temukan di dalam peti.'
Bu Rena memandang radio. Pantulan Mbah Raras tidak segera menjawab.
Untuk pertama kalinya, perempuan tua itu tampak takut bukan pada Ki Bagong, melainkan pada jawaban yang harus dia berikan.
'Periksa tulangnya,' bisiknya. 'Sebelum kebakaran, jari kelingking tangan kiriku pernah patah dan tidak tersambung lurus. Kalau tulang itu ada di dalam wadah, Ki Bagong tidak sekadar menyalin wajahku.' (*)