Meisin tidak pergi sendiri ke kantor Owen. Dia membawa polisi, Reksa, Erly, dan Bu Rena. Cermin tua tetap tertutup sampai wajah terakhir terbukti berbohong.
Pengurus perusahaan memutus jaringan internet gedung. Salinan arsip korban sudah diamankan, sehingga peniru tidak lagi memiliki satu-satunya berkas. Petugas menutup layar, jendela, dan meja mengilap sebelum memasuki ruang siaran.
Meisin palsu duduk di depan kamera yang sudah mati. Buku salinan berada di tangannya.
'Kamu takut datang tanpa pengawal?' ejeknya.
'Aku memilih nggak mengikuti perintah orang yang mengancam korban.'
'Kamu membawa cermin. Berarti kamu tetap menginginkan ingatan dariku.'
'Aku membawa pilihan yang kamu nggak punya.'
Meisin meminta peniru membaca halaman terakhir buku mereka masing-masing. Makhluk itu menunjukkan tulisan bahwa Owen sudah dimaafkan, Reksa harus selalu dipercaya, dan perusahaan menjadi hak Meisin sebagai istri.
Meisin membuka buku asli. 'Aku memilih melindungi nama korban meski itu membuat orang lain meragukan namaku sendiri.'
Peniru tidak mampu mengucapkan kalimat tersebut. Ia lahir untuk mempertahankan nama Meisin, mengambil posisi sebagai istri Owen, dan memiliki semua yang pernah ditawarkan lelaki itu. Mengorbankan pengakuan publik demi korban bertentangan dengan keinginan yang membentuknya.
'Kalau kamu Meisin, kenapa semua pilihanmu memberi kekuasaan kepada diri sendiri?' tanya Reksa.
'Karena aku nggak sebodoh dia!' bentak peniru. 'Aku bisa memiliki perusahaan, suami kaya, dan kemampuan Mbah Raras. Dia terus menolak semua yang seharusnya menjadi miliknya.'
'Itu bedanya kami,' kata Meisin. 'Aku berhak menolak sesuatu meski orang lain menganggapnya berharga.'
Peniru menerjang arsip. Dia menyalakan korek dan hendak membakar nama korban. Erly menyemprotkan alat pemadam. Kertas basah, tetapi api padam sebelum menyebar.
Makhluk itu berubah memakai wajah Bu Rena, Reksa, dan Owen untuk mencari celah. Polisi tidak mengikuti bentuknya. Mereka terus mengarahkan jalan menuju dinding yang sudah ditutup kain.
Bu Rena membuka kotak.
'Wajah Meisin, kembali kepada bayanganmu!'
Peniru berusaha masuk ke kamera, tetapi jaringan serta layar sudah mati. Meisin asli berdiri di hadapan cermin dan mengulangi kalimat pilihannya. Pantulan hanya mengenali satu kehendak.
Tubuh palsu retak dari dada. Nama MEISIN muncul di kulitnya, lalu huruf-huruf itu terlepas dan kembali kepada bayangan Meisin asli.
Makhluk tanpa wajah menjerit sebelum tersedot ke ukiran mata keenam.
Noda terakhir masuk.
Meisin merasakan namanya seperti suara yang kembali setelah lama terendam air. Dia mengingat dirinya sebelum mengenal Owen, saat melawan pengaruh ritual, dan setelah memilih menolong korban. Tidak semua kenangan pulih, tetapi tak ada lagi wajah lain yang membawa hak atas namanya.
Enam peniru telah kembali. Retakan di dekat mata ketujuh berhenti memanjang.
'Sekarang Karsa,' ucap Mbah Raras.
Mereka menuju ruang penyimpanan polisi. Bayangan pertama Karsa sudah berada dalam kotak panjang. Jasad Owen tetap dirantai, sedang tulisan nama Karsa hampir mencapai dagu.
Ruangan disiapkan tanpa satu pun pantulan terbuka. Akta kematian Owen diletakkan di sisi kepala jasad sebagai bukti dunia manusia. Potongan surat tanah yang terbakar diletakkan di sisi kaki. Rekaman dua kehendak diputar dari alat tanpa layar.
Mbah Raras memberi petunjuk melalui radio dari ruangan lain. Cermin tua tidak boleh berada dekat bayangan Karsa karena enam wajah yang baru kembali masih membuat bingkainya rapuh. Bila Karsa masuk ke sana, mata ketujuh dapat terbuka dari dalam.
Polisi menempatkan tiga kursi bagi saksi dengan jarak yang sama dari tubuh. Tidak ada orang lain boleh melewati garis kain di lantai. Jika Karsa mencoba berpindah, ketiga saksi harus menyebut nama sendiri serta keputusan yang mereka buat dengan sadar.
'Jangan menjawab suara keluarga atau korban,' pesan Mbah Raras. 'Dia akan memakai rasa bersalah kalian sebagai tubuh sementara.'
Darto mendengar Lilis memanggil dari dalam kotak bayangan. Erly mendengar suara pegawai yang pernah dia ancam demi Owen. Meisin mendengar dirinya sendiri meminta semua ingatan dikembalikan. Ketiganya tidak menyahut sampai suara palsu berhenti.
Darto dibawa sebagai saksi ketiga bersama Meisin dan Erly. Reksa serta Bu Rena menjaga dari luar agar jumlah orang dekat tubuh tidak memberi Karsa pilihan wadah terlalu banyak.
Kotak bayangan dibuka di atas lantai kusam. Pantulan Karsa terbentang tanpa kaca, wajahnya terus berganti menjadi Jaka dan Owen.
Erly menjadi saksi pertama. Dia menyatakan tubuh Owen meninggal dan tidak pernah memberi izin secara sadar setelah kematian.
Darto menjadi saksi kedua. Dia menyebut nama Karsa Danudirja, mengakui kejahatan yang dilakukan atas perintahnya, dan menolak membiarkan keluarga lain dijadikan tubuh pengganti.
Meisin menjadi saksi ketiga. Dia menyatakan pernikahan terjadi tanpa kehendaknya dan tidak memberi tubuh, darah, nama, atau tanah kepada Owen, Karsa, maupun Ki Bagong.
Jasad Owen mengamuk. Rantai hampir lepas dari lantai.
'Aku pemiliknya!' teriak Karsa. 'Aku hidup melalui namanya!'
Owen asli akhirnya mencapai satu mata. 'Kamu memakai tubuhku karena aku takut mati. Sekarang aku memilih menerima kematianku.'
'Kalau aku keluar, kamu kehilangan jalan kembali!'
'Tubuh ini bukan harga yang harus dibayar Meisin.'
Owen berhenti melawan kematian. Benang di dadanya putus. Nama Karsa pada leher jasad terangkat seperti asap dan bergerak menuju bayangan pertama.
Karsa menjerit menggunakan suara puluhan tubuh yang pernah dipakainya. Namun tiga saksi terus menyebut nama lengkap serta pilihan yang dibuatnya saat masih manusia.
Asap masuk ke bayangan. Erly menutup kotak, kemudian polisi menyegelnya menggunakan kain serta jarum tulang yang diletakkan di luar tutup tanpa menyentuh pantulan.
Jasad Owen kembali diam. Tulisan izin di dadanya menghilang. Arwah Owen berdiri di samping tubuh dengan wajahnya sendiri, terpisah dari Karsa.
Dokter forensik memeriksa jasad setelah tiga saksi keluar dari garis. Tidak ada suara kedua, gerakan, atau tulisan baru. Polisi tetap memasang rantai dan menempatkan tubuh dalam penyimpanan kusam karena arwah lain dari ritual pertama belum seluruhnya dikenali.
Erly menerima konfirmasi bahwa pembekuan tanah telah dicatat. Tanpa izin tubuh dan surat, Kampung Dukun kembali menjadi aset sengketa yang tidak dapat dipakai satu pihak. Hasil identifikasi kematian Owen juga diumumkan bersama penjelasan bahwa lelaki dalam siaran adalah penyamar.
Di rumah sakit, Lilis serta Bayu membuka mata hampir bersamaan. Lima korban lain mulai sadar secara bertahap. Darto tidak diizinkan menemui keluarga sebelum pemeriksaan medis dan persetujuan mereka, tetapi dia menerima keputusan tersebut tanpa mencoba memaksa.
Owen memandang Meisin. 'Kamu mengembalikan wajahku dan membebaskan tubuhku.'
'Aku mengembalikan ingatanku dan menghentikan izin yang membahayakan semua orang,' jawab Meisin. 'Jangan ubah itu menjadi janji hubungan.'
'Aku nggak akan melakukannya.'
Meisin menambahkan jawaban tersebut ke buku. Pilihan baik Owen dicatat bersama kesalahannya, bukan untuk saling menghapus.
Di cermin tua, pemukul lonceng ketujuh bergerak menjauh.
'Izin tubuh sudah batal,' ucap Mbah Raras. 'Tapi Ki Bagong belum berhenti.'
Alarm dari ruang barang bukti Kampung Dukun berbunyi. Kamera tanpa layar merekam peti batu terbuka sendiri. Tubuh tanpa wajah yang diberi nama Raras telah duduk.
Kulit rata pada kepalanya perlahan membentuk mata, hidung, dan mulut. Wajah Mbah Raras muncul pada tubuh tersebut, meski bayangan perempuan tua masih berada di dalam cermin.
Tubuh itu tersenyum menggunakan suara Ki Bagong.
'Terima kasih sudah mengembalikan enam nama,' katanya. 'Sekarang aku hanya membutuhkan wajah ketujuh.' (*)