Bayangan Karsa berusaha menggulung dirinya kembali menuju cermin induk. Reksa dan Erly menahannya menggunakan penjepit kayu, lalu memasukkannya ke kotak panjang berlapis kain.
'Jangan satukan dengan tubuh Owen sebelum tiga saksi hadir,' pesan Mbah Raras. 'Kalau hanya ada satu orang, Karsa akan memakai tubuh saksi sebagai jalan keluar.'
Kotak tersebut dibawa polisi menuju ruang penyimpanan. Meisin dan Reksa justru bergegas ke rumah sakit. Satu dari dua wajah terakhir sedang berada dekat Bayu, sedangkan wajah lainnya belum diketahui lokasi barunya.
Ketika mereka tiba, perempuan yang menyerupai Meisin duduk di samping ranjang Bayu. Dia menggenggam kotak pantulan anak itu dan meminta perawat membukanya.
'Saya keluarga yang menemukan korban,' katanya. 'Kesadarannya harus segera dikembalikan.'
Perawat menolak karena nama pada kotak belum diperiksa ulang. Peniru mulai marah dan berusaha merebut kunci.
'Jauh dari kotak itu!' seru Meisin asli.
Semua orang menoleh. Dua Meisin kini berdiri dalam satu ruangan. Wajah, luka, dan noda hitam di lengan mereka sama persis.
Peniru menunjuk Meisin. 'Dia keluar dari Gudang Kaca. Saya yang asli.'
Bu Rena tidak langsung memilih. Sesuai aturan, dia meminta keputusan yang baru dibuat dan belum dibicarakan di depan pantulan.
Reksa menyerahkan dua pilihan. Kotak Bayu dapat dibuka sekarang tanpa pemeriksaan terakhir, atau menunggu polisi membawa catatan ejaan nama yang diperbaiki Darto.
'Buka sekarang,' jawab peniru. 'Setiap menit membuat Bayu semakin lemah.'
Meisin asli menggeleng. 'Tunggu catatannya. Salah satu huruf tadi sudah keliru. Aku nggak akan mengambil jalan cepat dengan mempertaruhkan tubuh anak.'
Bu Rena mengangkat cermin tua. 'Wajah Meisin, kembali kepada bayanganmu!'
Peniru mendorong ranjang Bayu ke arah cermin. Bu Rena terpaksa menurunkannya agar pantulan anak itu tidak ikut tertarik.
Makhluk tersebut berlari membawa kotak. Reksa mengejar sampai lorong. Perawat menutup semua pintu kaca menggunakan tirai darurat, sehingga peniru tidak punya tempat untuk berpindah.
Meisin mengambil jalan lain dan menghadangnya dekat tangga. Tiruan itu mengangkat kotak Bayu di atas kepala.
'Biarkan aku pergi atau pantulannya pecah!'
'Kalau kotak pecah, kamu juga kehilangan tubuh yang mau kamu pakai,' balas Meisin. 'Kamu nggak akan menjatuhkannya.'
Makhluk itu ragu. Reksa memanfaatkan kesempatan untuk merebut kotak. Bu Rena tiba dan kembali membuka cermin.
'Wajah Meisin, kembali!'
Cahaya perak menyentuh peniru. Makhluk itu berubah menjadi Meisin kecil, Meisin memakai baju pengantin, lalu perempuan tanpa wajah. Dia mencoba memanggil Owen sebagai pertolongan, tetapi Owen masih terkurung di ruang penyimpanan.
Tubuh palsu akhirnya menjadi noda hitam dan masuk ke ukiran mata keenam.
Noda kelima kembali. Hanya satu yang tersisa.
Sebuah ingatan muncul. Meisin melihat malam setelah ritual pertama, ketika dia berdiri di depan cermin dan mencoba mengingat kenapa hatinya berubah. Dalam pantulan, dirinya menangis meski wajah aslinya tersenyum.
Ingatan itu membuktikan sebagian kesadaran Meisin telah melawan sejak awal. Ilmu Ki Bagong tidak pernah mendapatkan seluruh dirinya.
Kotak Bayu dikembalikan. Polisi membawa catatan Darto, lalu dokter memastikan nama dan tanggal lahir cocok. Ketika cermin dibuka menghadap tubuh, pantulan Bayu berjalan keluar seperti kabut dan masuk melalui dadanya.
Anak itu menarik napas panjang.
'Ayah ...,' bisiknya sebelum kembali tertidur.
Lilis menyusul beberapa menit kemudian. Pantulannya masuk tanpa gangguan. Dia membuka mata sebentar dan melihat Darto berdiri dengan borgol di balik pintu.
'Kamu harus bilang semuanya,' ucap Lilis lemah.
'Iya,' jawab Darto. 'Aku nggak akan lari lagi.'
Lima korban lain mulai dipulangkan satu per satu setelah identitasnya dipastikan. Dua belum sadar, tetapi aktivitas otaknya membaik. Proses dilakukan tanpa menggunakan vision Meisin.
Korban pertama yang mampu berbicara mengingat Darto sebagai orang yang mengunci rumah, Jaka sebagai penjaga, dan suara Ki Bagong dari balik cermin. Polisi merekam kesaksiannya tanpa meminta dia melihat foto siapa pun. Kondisinya masih lemah, sehingga pertanyaan dihentikan ketika dia mulai panik.
Darto mendengar dari balik pintu. Dia tidak mencoba membela diri. Nama korban tersebut ditambahkan ke pengakuannya bersama lokasi keluarga lain yang pernah ditahan.
'Kesaksian mereka akan memberatkanmu,' kata seorang petugas.
'Memang harus begitu,' jawab Darto.
Dokter menempatkan Lilis dan Bayu jauh dari ruang pemeriksaan Darto. Pertemuan hanya akan dilakukan setelah keduanya sadar penuh dan menyetujuinya. Keselamatan keluarga tidak otomatis mengembalikan peran Darto sebagai suami atau ayah tanpa keputusan mereka.
Bu Rena memeriksa cermin tua setelah noda kelima masuk. Retakan halus muncul di dekat ukiran mata ketujuh. Mbah Raras memperingatkan benda itu hanya mampu menahan satu wajah lagi atau pantulan Karsa, bukan keduanya sekaligus.
'Kalau kita menangkap peniru terakhir dulu, Karsa harus ditahan di luar cermin,' kata Reksa.
'Kalau Karsa dimasukkan lebih dulu, wajah Meisin tetap bebas,' balas Bu Rena.
Meisin memutuskan wajah terakhir harus ditangkap karena ia membawa namanya dan mengancam korban. Pantulan Karsa akan tetap berada dalam kotak kusam dengan tiga saksi sampai cermin dapat dikosongkan melalui cara lain.
Mereka membuat salinan daftar korban dalam tiga tempat terpisah. Nama disegel agar peniru tidak dapat menjadikannya ancaman tunggal. Pengacara juga menonaktifkan akun resmi perusahaan, tetapi makhluk itu terus menyiarkan melalui jaringan cadangan yang sebelumnya dibuka tiruan Erly.
Ponsel semua orang berbunyi bersamaan. Akun resmi perusahaan Owen kembali menayangkan siaran langsung. Meisin muncul di layar, duduk di depan tumpukan arsip korban.
'Aku Meisin Valery yang asli,' ucap peniru terakhir. 'Perempuan di rumah sakit adalah arwah yang mengambil wajahku.'
Ia memperlihatkan buku catatan yang bentuknya sama seperti milik Meisin. Setiap halaman berisi fakta pribadi, seakan seluruh identitasnya telah disalin.
Namun Meisin melihat beberapa kesalahan. Peniru menulis bahwa Owen sudah dimaafkan karena membantu menangkap wajah palsu. Ia juga menulis Reksa sebagai orang yang harus selalu dipercaya. Semua fakta lama disusun menjadi keputusan yang tidak pernah dibuat Meisin.
'Dia punya kejadian, tapi nggak punya batas yang kutulis sendiri,' ucap Meisin.
'Itu yang akan kita pakai untuk membongkarnya,' kata Reksa.
'Dia akan menggunakan cermin untuk menghapus saksi dan mengambil perusahaan suamiku,' lanjutnya. 'Kalau polisi tidak menyerahkan Owen kepadaku, semua nama korban dalam arsip ini akan disebarkan.'
Meisin memeriksa bukunya. Buku asli masih berada di dalam tas. Peniru menciptakan salinan dari ingatan wajah lain, tetapi mungkin tidak memiliki pilihan terbaru yang baru ditulis.
Dia membuka halaman kosong dan menulis satu kalimat tanpa menunjukkannya kepada siapa pun.
Aku memilih melindungi nama korban meski itu membuat orang lain meragukan namaku sendiri.
Meisin menutup buku.
Peniru di layar seolah merasakan ada sesuatu yang tidak diketahuinya. Senyumnya menghilang.
'Kamu mau ingatan terakhir yang kubawa?' tanyanya melalui siaran. 'Datang sendiri ke kantor Owen.'
'Ingatan apa?'
Wajah palsu itu mendekati kamera.
'Aku nggak membawa masa lalumu,' bisiknya. 'Aku membawa namamu. Kalau aku tetap di luar saat lonceng ketujuh berbunyi, kamu yang akan menjadi wajah pinjaman.' (*)