Meisin berbicara kepada Owen melalui radio tanpa mendekati ruang penyimpanan.
'Apa yang kamu tulis ketika aku kehilangan ingatan?'
Jasad itu menjawab, 'Namaku Karsa Danudirja.'
'Apa keputusanmu tentang arsip korban?'
'Semua korban milikku.'
Owen asli tidak lagi mampu mencapai mulut. Nama Karsa telah bergerak sampai leher jasad dan menutup suaranya.
Mbah Raras meminta polisi tidak melawan tubuh tersebut dengan cermin tua. Bila Karsa melihat pengunci terakhir melalui mata Owen, dia dapat menarik lonceng ketujuh dari dalam.
'Kita butuh pantulan pertama Karsa,' kata Meisin. 'Sekalian ambil kesadaran tujuh korban dari Gudang Kaca.'
Polisi menyusun operasi kedua. Semua petugas memakai penanda kain yang baru dipilih beberapa menit sebelum masuk. Warna dan posisi penanda tidak dibicarakan di depan kamera. Bila ada orang dengan wajah sama tetapi letak kain berbeda, dia harus dianggap peniru.
Cermin tua dibawa dalam kotak kayu berlapis kain. Empat noda sudah masuk ke ukiran mata keenam, sedangkan dua noda terakhir tetap bergerak pada bingkai. Meisin tidak membawa serpihan dan dilarang menyentuh benda lama.
Gudang Kaca kini dipasangi garis polisi. Sebagian cermin pecah setelah lonceng keenam, tetapi cermin induk masih berdiri menghadap dinding. Pengunci lama Mbah Raras tetap berada di tempatnya.
Darto dibawa dengan borgol untuk menunjukkan lokasi pantulan korban. Dia berjalan di antara dua petugas dan tidak meminta rantainya dilepas.
'Cermin keluarga saya ada di ruang tanpa pintu,' katanya. 'Kalau dipindahkan, tutup permukaannya sebelum bingkai melewati garis merah.'
Sebelum masuk, polisi memeriksa identitas semua anggota menggunakan pilihan terbaru. Meisin ditanya berapa benda masa lalu yang boleh disentuh dan menjawab tidak ada. Reksa menyebut tugasnya menjaga Meisin tanpa menentukan keputusan. Darto menyatakan dirinya tetap tahanan setelah keluarga diselamatkan.
Tidak ada jawaban yang gagal. Para petugas kemudian membuat jalur kain hitam dari pintu utama menuju tembok timur. Seluruh pecahan kaca di sepanjang jalur ditutup papan agar peniru tidak memiliki tempat muncul.
Tim medis menunggu di rumah sakit bersama tujuh tubuh. Setiap kotak pantulan akan diberi nomor yang sama dengan ranjang, kemudian dibuka hanya ketika tubuh serta nama sudah dipastikan cocok. Kesalahan satu nomor dapat membuat kesadaran korban masuk ke tubuh orang lain.
Meisin menggunakan kunci kuningan yang sudah berada di dunia sekarang. Dia menempelkannya pada tembok dan membuka jalan tanpa vision. Noda hitam pada bahunya tetap diam.
Di dalam ruangan bundar, tujuh cermin kecil masih mengelilingi cermin induk. Pantulan Lilis, Bayu, dan lima korban lain berdiri di balik kaca. Mereka terlihat semakin lemah, seolah napas tubuh di rumah sakit tidak cukup mencapai tempat itu.
Petugas forensik menempelkan label berdasarkan kartu identitas dan posisi tubuh yang ditemukan. Setiap cermin dibungkus kain hitam, dimasukkan ke kotak kayu terpisah, lalu dibawa keluar tanpa menghadapkan permukaan kepada siapa pun.
Darto berdiri di depan cermin Lilis. Istrinya menempelkan telapak tangan dari sisi lain.
'Maaf,' ucap Darto. 'Aku akan mengatakan semuanya. Kamu nggak harus memaafkan atau menungguku.'
Lilis tidak dapat menjawab, tetapi dia mengangguk sebelum kain menutup wajahnya.
Pantulan Bayu menunjuk ayahnya, kemudian membuat gerakan menulis. Darto memahami putranya meminta semua nama korban dicatat. Dia berjanji melakukannya bersama polisi.
Kelima cermin lain diperlakukan dengan cara sama. Tidak semua keluarga sudah ditemukan. Dua korban bahkan belum diketahui alamat rumahnya. Meisin meminta kotak mereka tetap dijaga sebagai manusia, bukan sekadar barang bukti.
Kotak Lilis dan Bayu lebih dulu dibawa ke kendaraan khusus yang semua kacanya ditutup. Melalui radio, petugas rumah sakit membacakan nama serta tanggal lahir keduanya. Darto mengoreksi satu ejaan nama Bayu yang salah pada kartu lama.
'Jangan biarkan kesalahan satu huruf membuat dia pulang ke tubuh lain,' katanya.
Begitu dua kotak meninggalkan garis merah, tubuh Lilis dan Bayu di rumah sakit menarik napas panjang. Mata mereka belum terbuka, tetapi alat pemeriksaan menunjukkan aktivitas otak yang sebelumnya nyaris datar mulai meningkat.
'Pantulannya mendekati tubuh,' lapor dokter. 'Kami akan menunggu kotaknya tiba sebelum mencoba membangunkan.'
Darto menangis, namun tetap membantu polisi mengangkat kotak korban berikut. Keselamatan keluarganya tidak membuat dia meninggalkan lima orang lain yang pernah ikut dijebaknya.
'Kita sudah mengambil tujuh pantulan,' kata Reksa. 'Sekarang cari Karsa.'
Foto lama diletakkan menghadap kain gelap, hanya bagian belakangnya yang terlihat. Mbah Raras memberi petunjuk melalui suara dari kotak tanpa membuka cermin. Pantulan pertama Karsa tersimpan pada lapisan yang dibuat sebelum pengunci lama dipasang.
Mereka memeriksa bagian samping bingkai induk. Ada tujuh garis tipis seperti tumpukan kaca. Garis paling dalam memancarkan cahaya merah ketika nama Karsa Danudirja disebut.
'Jangan cabut lapisannya,' peringat Mbah Raras. 'Pisahkan pantulannya menggunakan namanya, bukan kacanya.'
Nama lengkap Karsa dibacakan bersama tempat lahir dan nama orang tuanya dari catatan lama. Darto menyebut usaha pertama yang pernah dimiliki Karsa. Bu Rena melalui radio menceritakan malam ketika lelaki itu mengunci kamarnya demi membantu Ki Bagong.
Setiap fakta mengikis nama Jaka yang ditulis di atas identitas Karsa. Bayangan dalam lapisan terdalam berubah gelisah. Ia berganti memakai wajah Jaka, Owen, dan beberapa korban, tetapi polisi tidak mengikuti bentuk tersebut. Mereka terus membaca nama manusia yang berusaha dilupakannya.
'Karsa Danudirja memilih menjadi penagih,' ucap Meisin. 'Ki Bagong memanfaatkan ketakutannya, tapi korban-korbannya tetap nyata. Tubuh Owen bukan kesempatan kedua untuk menghapus semua itu.'
Lapisan merah mengeluarkan suara retak. Sebuah sudut bayangan terangkat tanpa kaca ikut bergerak. Cara Mbah Raras berhasil memisahkan pantulan dari pengunci.
Meisin berdiri membelakangi permukaan. Erly memutar rekaman pengakuan Karsa dari tubuh Owen, sedangkan Darto membaca nama korban pertama yang ditemukan dalam buku tagihan. Setiap nama membuat cahaya merah bergerak mendekati tepi.
Karsa mencoba menenggelamkan suara mereka melalui cermin-cermin lain. Wajah para korban muncul dan memohon agar pengunci induk dibuka. Meisin tahu itu hanya tiruan. Pantulan asli sudah berada dalam kotak.
Reksa menemukan satu bingkai yang masih terbuka. Di dalamnya terlihat Meisin sedang berdiri di rumah sakit, padahal mereka semua berada di gudang.
'Salah satu wajah tersisa mengawasi korban,' katanya.
Meisin menghubungi polisi di rumah sakit menggunakan sandi baru. Petugas melaporkan ada perempuan yang menyerupai Meisin datang membawa surat keluarga. Dia berdiri di depan kotak pantulan dan meminta melihat Bayu.
'Jangan biarkan dia menyentuh kotak mana pun!' seru Meisin.
Sambungan terputus.
Pada saat yang sama, lapisan terdalam cermin induk mengeluarkan sesuatu. Bukan kaca, melainkan bayangan seorang lelaki yang dilipat seperti kain. Erly dan Reksa menariknya menggunakan penjepit kayu tanpa menyentuh langsung.
Bayangan itu dibentangkan di lantai yang sudah ditutup kain kusam. Mula-mula wajah Karsa terlihat sesuai foto. Namun perlahan wajahnya berubah menjadi Owen.
'Namanya hampir tertimpa,' ucap Mbah Raras.
Bayangan bermuka Owen membuka mata dan menatap Meisin.
'Kalau Karsa keluar,' katanya, 'siapa yang tinggal di tubuh suamimu?' (*)