Polisi mengunci seluruh pintu ruang perawatan. Darto palsu sudah berada di antara tujuh ranjang, sementara dua petugas yang berjaga tergeletak pingsan di lorong.
Meisin, Reksa, Bu Rena, dan Darto asli bergerak menuju rumah sakit. Cermin tua tetap berada dalam kotak kayu. Erly tinggal di ruang penyimpanan bersama polisi untuk memastikan jasad Owen tidak dipindahkan lagi.
'Kenapa penirumu memilih Bayu?' tanya Meisin.
'Karena pantulan anak saya masih terikat di Gudang Kaca,' jawab Darto. 'Tubuhnya hidup, tapi ada ruang kosong di dalamnya.'
'Kita nggak akan membiarkan Karsa atau peniru masuk.'
Mereka tiba ketika Darto palsu berusaha mencabut selang infus Bayu. Perawat mengunci diri di ruang obat, sedangkan tubuh korban lain mulai kejang mengikuti gerakan makhluk itu.
Darto asli berdiri di ambang. 'Jauhkan tanganmu dari anak saya.'
Peniru menoleh dengan wajah sama. 'Aku sedang menyelamatkan keluarga kita. Buka pintu dan bantu aku membawa mereka pergi.'
'Mereka butuh dokter, bukan diculik lagi.'
'Polisi akan memenjarakanmu. Siapa yang menjaga Lilis dan Bayu kalau kamu mengaku?'
Darto menatap borgol pada tangannya. Ketakutan tersebut memang ada. Dia ingin melarikan diri bersama keluarga dan berpura-pura semua kejahatan terjadi karena Ki Bagong.
'Saya tetap menyerahkan diri,' ucapnya. 'Kalau nanti mereka membenci saya, itu hak mereka.'
Peniru menggeram. Ia dibentuk dari keinginan Darto menyelamatkan keluarga dengan cara apa pun, tetapi tidak mampu memahami pilihan menerima hukuman.
'Kamu membiarkan anakmu tumbuh tanpa ayah!'
'Saya sudah lebih dulu mengambil ayah dan ibu dari keluarga lain.'
Peniru mengubah wajah menjadi Lilis. Dengan suara istri Darto, dia memohon agar mereka kabur sebelum polisi membawa suaminya. Sesaat kemudian, wajahnya menjadi Bayu yang menangis dan bertanya kenapa ayah memilih orang asing dibanding keluarga sendiri.
Darto hampir goyah. Meisin mengingatkan bahwa Lilis dan Bayu asli terbaring di ranjang dan belum dapat menyampaikan pilihan. Menggunakan wajah mereka bukan bukti cinta, melainkan cara lain merampas suara korban.
'Kalau mereka bangun dan meminta saya pergi, saya akan mendengarkan,' kata Darto. 'Tapi kamu bukan mereka.'
Makhluk itu kembali memakai wajah Darto. Kemarahannya membuat cap palsu pada dada retak. Dari dalam retakan tampak kulit polos tanpa darah.
Meisin memberi tanda kepada Bu Rena. Kotak dibuka, namun peniru langsung berubah menjadi seorang polisi. Dia menerjang jendela, berharap masuk ke pantulan kaca.
Reksa sudah menutup jendela menggunakan selimut. Makhluk itu memantul dan jatuh. Wajahnya berganti antara Darto, polisi, dan orang tanpa muka.
'Wajah Darto, kembali kepada bayanganmu!' seru Bu Rena.
Cermin tua menarik tubuh palsu. Makhluk itu mencengkeram kaki ranjang Bayu. Besi berdecit saat tubuhnya memanjang seperti karet.
Darto asli memeluk putranya dan membelakangi peniru. 'Kamu bukan saya. Saya memilih mereka selamat tanpa membuat korban baru.'
Pegangan makhluk itu terlepas. Tubuhnya berubah menjadi garis hitam dan masuk ke ukiran mata keenam.
Noda keempat kembali. Tinggal dua noda yang bergerak pada tepi cermin.
Ingatan singkat muncul di kepala Meisin. Dia melihat Bu Rena menutup semua cermin di rumah ketika dirinya demam saat kecil. Ibunya duduk semalaman sambil memegang tangan Meisin, takut ada sesuatu memanggil dari pantulan.
Ingatan itu dicuri oleh lonceng keenam dan kini kembali. Namun lagu yang biasa dinyanyikan Bu Rena masih kosong, sebab kenangan tersebut menjadi harga benda dari masa lalu.
'Aku ingat Ibu pernah menjaga di samping ranjang,' ucap Meisin.
Bu Rena tersenyum sambil menangis. 'Berarti wajah itu membawa bagian milikmu.'
Bayu tetap tidak sadar. Darto menyerahkan putranya kepada perawat dan kembali mengulurkan tangan untuk diborgol. Polisi membawanya ke ruang pemeriksaan, kali ini tanpa perlu menyeret.
Petugas kemudian memeriksa setiap orang di ruang perawatan menggunakan keputusan yang baru dibuat. Perawat ditanya pasien mana yang terakhir diperiksa. Polisi ditanya posisi jaga yang baru ditentukan lewat catatan tertutup. Tidak ada wajah lain yang gagal menjawab.
Reksa menambahkan kejadian itu ke buku Meisin. Mereka sekarang memiliki cara yang lebih aman daripada mengandalkan kenangan lama. Meskipun peniru dapat menyalin wajah dan masa lalu, ia tetap kesulitan memahami pilihan yang lahir setelah pencurian.
'Empat sudah kembali,' ucap Meisin. 'Dua tiruan yang memakai wajahku masih bebas.'
'Salah satunya pernah berubah menjadi Owen,' kata Reksa. 'Yang satu lagi bisa jadi memakai siapa pun sekarang.'
Meisin menatap dua noda pada cermin. Keduanya bergerak berlawanan arah, seolah tidak lagi bekerja bersama.
Sebelum pergi, Darto memberikan lokasi rumah lama Karsa. Petugas menemukan bangunan tersebut dalam keadaan kosong dan membawa sebuah album foto, buku tagihan, serta pakaian milik Jaka sebagai bukti.
Semua benda diperiksa di ruangan tanpa cermin. Pada foto tertua, Karsa berdiri di samping Ki Bagong dan Mbah Raras. Tulisan di bawahnya hampir hilang. Seseorang kemudian menulis nama Jaka di atas nama Karsa menggunakan tinta hitam.
Buku tagihan menjelaskan Karsa dahulu bukan penagih. Dia pedagang yang berutang kepada Ki Bagong setelah usahanya gagal. Ketika diminta menyerahkan rumah, Karsa memilih bekerja mencari debitur lain agar hartanya sendiri tidak diambil. Setiap keluarga baru memperpanjang keselamatannya beberapa minggu.
'Dia melakukan apa yang kemudian dilakukan Darto,' kata Meisin.
'Dan apa yang aku lakukan kepadamu,' sahut Owen melalui suara lemah dari sambungan radio. 'Menyelamatkan keinginan sendiri dengan mengorbankan pilihan orang lain.'
Mbah Raras mengangguk. Karsa akhirnya menjadi penagih paling kejam karena setiap korban baru membuatnya merasa semakin jauh dari posisi orang yang pernah ditagih. Saat kebakaran terjadi, ketakutannya kehilangan hidup membuat dia menerima tubuh pinjaman pertama.
'Ki Bagong nggak menciptakan semua keburukannya,' jelas Mbah Raras. 'Dia memelihara pilihan buruk sampai Karsa lupa pernah punya pilihan lain.'
Nama asli bukan mantra yang otomatis mengalahkan Karsa. Nama itu hanya memaksanya mengingat bahwa sebelum menjadi bayangan, dia adalah manusia yang berkali-kali memilih mengorbankan orang lain.
'Jadi selama ini Ki Bagong bukan cuma memberi tubuh Jaka kepada Karsa,' kata Reksa. 'Dia juga menimpa namanya.'
Mbah Raras menjelaskan setiap tubuh baru dipanggil Jaka agar arwah Karsa lupa asalnya. Nama yang terus diganti membuatnya lebih mudah diperintah dan lebih takut kembali menjadi orang mati.
'Pantulan pertamanya ada di foto ini?' tanya Meisin.
'Tidak. Foto hanya menunjukkan wajah. Pantulan pertama dibuat ketika Karsa bersumpah mengikuti Ki Bagong di depan cermin induk.'
Pantulan itu masih berada pada lapisan paling tua Gudang Kaca. Untuk menarik Karsa keluar dari Owen, mereka harus menemukan bagian tersebut tanpa mencabut pengunci yang menahan Ki Bagong.
Erly menelepon dari ruang penyimpanan. Tulisan pada tubuh Owen berubah setelah nama Karsa dipanggil berulang kali.
Pemilik telah mengizinkan kini hampir hilang. Di bawahnya muncul nama lengkap Karsa Danudirja, tetapi huruf-huruf itu bergerak menuju wajah Owen seperti urat hitam.
'Kalau sampai ke kepalanya, apa yang terjadi?' tanya Meisin.
Mbah Raras menatap foto lama dengan cemas. 'Karsa nggak hanya memakai tubuh Owen. Dia akan menimpa namanya, seperti yang dulu dilakukan Ki Bagong kepada Jaka.'
Pada layar kamera penyimpanan, jasad Owen membuka mata.
'Namaku Karsa Danudirja,' ucapnya dengan suara Owen. (*)