'Tubuh itu sudah menjadi suratnya.'
Ucapan Mbah Raras membuat semua orang menatap kantong jenazah. Dari dalam, Owen dan arwah yang memakai nama Jaka terus mengucapkan kalimat berlawanan.
'Aku mencabut izin.'
'Aku memberikan tanah.'
'Tubuhku sudah mati.'
'Pemilik masih hidup.'
Dua suara keluar dari satu mulut sampai tulisan pada dada Owen berganti warna hitam dan merah.
'Bagaimana menghapusnya?' tanya Meisin.
Mbah Raras menjelaskan izin tersebut berdiri di atas tiga kebohongan. Pertama, Owen dianggap masih hidup. Kedua, tubuhnya dianggap hanya memiliki satu kehendak. Ketiga, tidak ada saksi yang menyatakan tanda tangan dibuat dengan paksaan.
'Buktikan ketiganya di dunia manusia dan dunia arwah,' ucap Mbah Raras. 'Baru tanah berhenti mendengar tubuhnya.'
Polisi memanggil dokter forensik ke ruang penyimpanan. Pemeriksaan sidik jari, gigi, serta DNA kembali memastikan jasad itu adalah Owen Wilson dan sudah meninggal akibat kecelakaan. Akta kematian disegel bersama rekaman pemeriksaan agar peniru tidak dapat mengubah satu-satunya salinan.
Pengurus perusahaan mengadakan rapat darurat tanpa permukaan kaca. Mereka membekukan seluruh hak pengelolaan tanah Owen sampai penyelidikan selesai. Tidak ada satu orang pun diberi kuasa tunggal, termasuk Erly.
Hasil pemeriksaan awal diumumkan tanpa memperlihatkan foto jasad. Stasiun yang menyiarkan Owen palsu menarik klaim bahwa dia selamat. Bursa menghentikan sementara perdagangan saham perusahaan, sedangkan pengacara meminta semua kontrak yang dibuat setelah kecelakaan dianggap tidak sah sampai identitas penandatangan diperiksa.
Pengungkapan arsip korban juga mulai menimbulkan akibat. Beberapa perempuan memilih memberi keterangan tertutup kepada polisi. Sebagian belum siap bicara dan meminta namanya tidak diumumkan. Erly menyerahkan dokumen asli tanpa menghubungi mereka secara langsung.
'Perusahaan bisa runtuh,' ucap Erly kepada Owen.
'Kalau berdiri karena semua orang dipaksa diam, berarti memang harus dibongkar,' jawab Owen.
Meisin mencatat kalimat itu, tetapi dia juga menulis bahwa uang korban harus tetap dibayar dari aset Owen sebelum perusahaan ditutup atau dialihkan. Pengakuan tidak boleh membuat kewajiban ikut hilang.
Owen menyetujui. Dia meminta pengurus membentuk rekening terpisah yang tidak dapat disentuh olehnya, Erly, atau satu orang saja. Keputusan tersebut menjadi pilihan baru lain yang dapat digunakan membedakannya dari arwah yang meniru keinginan lama.
'Dunia manusia sudah punya bukti kematian dan pembekuan tanah,' kata Reksa. 'Tinggal membuktikan tubuhnya punya dua kehendak.'
'Kita harus tahu nama arwah yang berada di dalam,' jawab Bu Rena. 'Jaka hanya nama tubuh yang dulu dipakai.'
Darto dibawa dari ruang pemeriksaan. Borgol masih melingkari tangannya. Dia melihat tulisan di dada Owen, lalu mengaku pernah mendengar Ki Bagong memanggil arwah di tubuh Jaka sebagai Karsa.
'Karsa penagih pertama Aki,' jelasnya. 'Dia mati sebelum saya bergabung. Jaka mencoba melawan, lalu tubuhnya diberikan kepada Karsa.'
'Nama lengkapnya?' tanya Meisin.
'Nggak ada yang berani menyebut. Aki bilang nama asli membuat arwah ingat kalau dia pernah menjadi manusia.'
Mereka tidak menggunakan vision. Erly membuka arsip perusahaan yang disita polisi dan membandingkan nama dalam buku utang dengan daftar orang hilang. Darto mengenali foto seorang lelaki bernama Karsa Danudirja. Dia adalah penagih yang dilaporkan tewas dalam kebakaran rumah Mbah Raras puluhan tahun lalu.
Catatan lama menyebut Karsa datang ke rumah Mbah Raras bersama enam orang lain pada malam kebakaran. Dia bukan sekadar korban ritual. Dialah yang membawa tujuh tubuh untuk Ki Bagong dan mengunci Bu Rena muda di dalam kamar agar tidak dapat menolong ibunya.
'Aku ingat dia,' ucap Mbah Raras dari cermin. 'Karsa takut mati lebih dari siapa pun. Ketika api menyentuh tubuhnya, Ki Bagong menjanjikan kehidupan dalam wajah orang lain. Sejak itu dia menolak mendengar nama lengkapnya.'
'Kalau namanya sudah diketahui, bisa dikeluarkan dari Owen?' tanya Reksa.
'Nama hanya memisahkan dua kehendak. Untuk memindahkannya tanpa memberi tubuh baru, kalian butuh pantulan pertamanya saat masih manusia.'
Pantulan pertama Karsa kemungkinan masih tersimpan di Gudang Kaca bersama kesadaran para korban. Artinya menyelamatkan keluarga Darto dan memisahkan arwah dari Owen merupakan masalah yang sama. Mereka harus kembali ke gudang, tetapi tidak sebelum tiga wajah pinjaman tersisa diamankan.
Darto menyebut sebuah foto keluarga Karsa pernah digantung di rumah penagih. Bila polisi menemukan foto asli tanpa membawanya dekat cermin, Mbah Raras mungkin dapat mengenali bayangan pertama yang harus dicari.
'Dia ikut ritual tujuh arwah pertama,' ucap Bu Rena. 'Ki Bagong menyelamatkan bayangannya dan terus memberinya tubuh pinjaman.'
Meisin berdiri di dekat kantong jenazah. 'Karsa Danudirja, tubuh ini bukan milikmu.'
Geraman keras menjawab. Rantai pada dasar penyimpanan menegang.
'Jangan panggil nama itu!' bentak suara asing.
Itulah bukti pertama. Owen asli diam ketika nama Karsa disebut, sedangkan arwah lain bereaksi.
Polisi menyalakan perekam suara tanpa layar. Meisin mengajukan pertanyaan yang hanya berhubungan dengan pilihan terbaru Owen.
'Apa yang kamu janjikan saat aku kehilangan ingatan?'
'Aku akan menunggu izinmu sebelum mendekat,' jawab suara Owen.
'Apa yang kamu lakukan terhadap arsip korban?'
'Menyerahkannya kepada penyidik dan membiarkan mereka memilih bicara.'
Suara Karsa mencoba meniru, tetapi jawabannya kembali pada keinginan lama Owen.
'Aku memiliki istri dan perusahaan. Tidak ada yang boleh mengambilnya.'
Perbedaan kedua kehendak terekam jelas. Dokter forensik memang tidak dapat menjelaskan suara dari mayat, tetapi polisi yang hadir menandatangani kesaksian bahwa dua pola jawaban keluar dari tubuh sama.
Erly, Darto, dan Meisin menjadi tiga saksi hidup ritual. Erly mengakui membantu Owen menemukan Ki Bagong. Darto mengakui menggiring Meisin melalui utang keluarganya. Meisin menyatakan tidak pernah memberi persetujuan pada pernikahan atau pemakaian tubuh Owen sebagai izin tanah.
Setiap pengakuan membuat satu huruf pada dada jasad mengelupas.
Karsa mengamuk. Kantong jenazah robek dari dalam. Tangan Owen meraih Meisin, tetapi Reksa menahan bersama dua polisi.
'Kalian pikir pengakuan menghapus utang?' teriak Karsa. 'Semua saksi punya dosa!'
'Justru itu sebabnya kami mengaku,' balas Erly. 'Kesalahan nggak hilang karena kami membantu sekarang.'
Owen mengambil kendali sesaat. Dia memaksa tubuhnya berhenti meronta.
'Aku mati karena pilihanku sendiri,' ucapnya. 'Ki Bagong menipu, tapi aku yang meminta kehendak Meisin dirampas. Tubuhku tidak berhak memberi izin atas dirinya atau tanah itu.'
Tulisan hitam menyala, kemudian terbelah menjadi dua baris.
Owen mencabut izin.
Karsa memberikan izin.
Baris pertama tetap jelas. Baris kedua mulai pudar karena Karsa bukan pemilik sah tubuh atau tanah.
Pemukul lonceng ketujuh bergerak menjauh sedikit dari sisi logam.
'Berhasil?' tanya Pak Leo.
'Belum,' jawab Mbah Raras. 'Karsa masih menempel pada jasad. Selama dia bisa memakai tangan Owen, izin itu dapat ditulis lagi.'
Telepon polisi berdering. Salah satu petugas yang menjaga tujuh korban di rumah sakit melaporkan kedatangan Darto bersama surat pemindahan pasien.
Darto asli berdiri di ruangan dengan kedua tangan diborgol.
'Itu peniru saya,' katanya.
Pada kamera rumah sakit, Darto palsu berjalan di antara tujuh ranjang. Cap angka sebelas di dadanya diam seperti tinta.
Dia berhenti di samping Bayu dan mengulurkan tangan ke wajah anak itu.
'Satu tubuh masih kosong,' ucapnya ke arah kamera. (*)