Mobil jenazah bergerak menuju jembatan utara. Polisi memasang penghalang di dua jalan, sedangkan Meisin, Reksa, Bu Rena, dan Erly mengikuti dalam kendaraan lain.
Owen tidak lagi terlihat sebagai arwah. Dia terkurung di dalam jasad bersama Jaka. Sesekali kamera jalan memperlihatkan kantong jenazah bangun, lalu jatuh lagi seperti dua orang sedang berebut satu tubuh.
'Kalau Jaka sampai membawa surat itu masuk Kampung Dukun, izin ritualnya lengkap,' kata Erly.
'Cermin asli masih bersama kita,' jawab Reksa. 'Lonceng ketujuh belum bisa dibunyikan.'
Bu Rena memeluk kotak kayu. Tiga noda hitam masih bergerak di tepi cermin, sedangkan dua lainnya sudah masuk ke ukiran mata keenam setelah peniru Reksa dan Owen ditangkap. Satu noda milik tiruan Erly bergerak paling cepat.
'Kita tangkap wajah Erly, ambil tubuh Owen, lalu musnahkan suratnya,' putus Meisin.
'Kalau tubuh itu menyerang?' tanya Bu Rena.
'Kita jangan menganggap siapa pun yang bicara dari mulutnya sebagai Owen sampai dia membuktikan pilihan terbaru.'
Mobil jenazah terlihat di kejauhan. Kendaraan itu menerobos penghalang pertama dan menyerempet mobil polisi. Ban depannya pecah, tetapi terus melaju di atas velg hingga bunga api berhamburan.
Erly menghubungi sistem kendaraan menggunakan kartu akses cadangan. Mobil tersebut pernah menjadi bagian layanan rumah sakit milik rekan bisnis Owen. Dia berhasil mematikan mesin dari jarak jauh.
Kendaraan berhenti tepat di tengah jembatan.
Tiruan Erly turun membawa surat tanah. Wajahnya sama dengan Erly asli, tetapi pakaian jasnya dipenuhi lumpur. Pintu belakang mobil terbuka sendiri. Kantong jenazah merangkak keluar seperti ulat hitam.
Grek ... grek ... grek ....
Polisi mengepung dari kedua sisi. Mereka tidak menembak karena tubuh Owen merupakan bukti dan arwah di dalamnya dapat berpindah ke pantulan kendaraan.
Meisin turun tanpa membawa serpihan. Bu Rena berdiri beberapa langkah di belakang dengan cermin tetap tertutup.
'Serahkan surat dan tubuh Owen,' perintah Meisin.
Tiruan Erly tersenyum. 'Tuan Owen sudah menandatangani izin. Saya hanya menjalankan perintah beliau.'
'Erly asli memutuskan membuka arsip korban dan menyerahkannya kepada polisi. Apa keputusanmu?'
Peniru melirik Owen asli. 'Saya menghapus semua arsip yang bisa merusak nama Tuan.'
Jawaban itu berasal dari kesetiaan lama Erly, bukan pilihan yang dibuat setelah wajahnya dicuri.
'Kamu bukan Erly.'
Erly asli maju. 'Saya membantu Tuan melakukan banyak kesalahan karena menganggap patuh adalah pekerjaan. Sekarang saya memilih memberi bukti kepada korban, walau saya ikut dihukum.'
Bu Rena membuka kotak. Cermin tua diarahkan kepada keduanya.
'Wajah Erly, kembali kepada bayanganmu!'
Tiruan berlari menuju sisi jembatan. Dia mencoba masuk ke permukaan sungai, tetapi polisi telah menutup pagar menggunakan kain hitam. Tidak ada pantulan terbuka yang bisa digunakan.
Makhluk itu mengubah wajah menjadi Meisin, Reksa, lalu Owen. Setiap bentuk memerintahkan Erly asli menutup cermin. Namun Erly terus berdiri di hadapan pantulan dan mengulangi keputusan membuka arsip korban.
Cahaya perak menarik tubuh peniru. Wajah-wajah curian terlepas satu per satu, menyisakan sosok tanpa muka. Dia berubah menjadi noda hitam dan masuk ke ukiran mata keenam.
Noda ketiga kembali. Tiga lainnya masih bebas.
Surat tanah melayang jatuh. Meisin menutupnya menggunakan kain sebelum tulisan darah memantul di kaca kendaraan. Reksa memasukkan dokumen ke kantong bukti.
Kantong jenazah mendadak berdiri.
Brak ...!
Resletingnya terbuka. Jasad Owen keluar dengan mata seluruhnya hitam. Dia menerjang Meisin, tetapi Reksa dan dua polisi menahan kedua lengannya.
'Lepaskan aku!' geram Owen menggunakan satu suara.
Meisin tidak langsung percaya. 'Apa keputusanmu kalau aku menyuruhmu berhenti menjagaku?'
'Aku akan membunuh siapa pun yang mendekatimu!'
'Itu Jaka!' teriak Meisin.
Tubuh Owen melempar dua polisi. Reksa tetap bertahan meski tangannya hampir patah. Erly melilitkan sabuk pengaman pada kaki jasad, kemudian mengikatnya ke roda mobil jenazah.
Meisin berdiri di depan Owen tanpa menyentuh.
'Owen asli berjanji menunggu izin dan menjaga pintu, bukan menguasai aku. Kalau kamu mendengar, sebutkan apa yang kutulis setelah ingatanku hilang.'
Mata hitam berkedip. Warna cokelat muncul di sudut kanan.
'Kamu menulis ... aku memaksamu menikah melalui ritual,' jawab Owen terputus-putus. 'Aku membantu menghentikan Ki Bagong, tapi belum mendapat maaf.'
Jaka meraung dari dalam tubuh. Tangan kiri Owen mencoba mencengkeram Meisin, sedangkan tangan kanan menahannya sendiri.
'Robek suratnya!' seru Owen.
Reksa mengeluarkan kantong bukti. Meisin membaca tulisan baru. Tanda tangan darah memang menyerupai Owen, tetapi dibuat ketika Jaka menguasai tubuh.
'Kamu harus mencabut izin dengan pilihanmu sendiri,' ucap Meisin.
Owen memaksa tubuh berlutut. Dia memandang surat melalui kain yang dibuka sedikit.
'Aku, Owen Wilson, mencabut izin apa pun yang dibuat tubuhku tanpa kehendakku. Tanah itu bukan jalan bagi Ki Bagong.'
Tanda tangan darah terbakar. Kertas terbelah dari tengah. Suara lonceng bergema jauh, namun pemukul ketujuh tidak menyentuh logam.
Jaka kehilangan sebagian kendali. Polisi membungkus tubuh Owen menggunakan kantong berlapis kain dan memasukkannya kembali ke kendaraan. Kali ini tangan serta kaki dirantai pada dasar logam yang sudah ditutup cat kusam.
Mereka mengawal jasad menuju ruang penyimpanan polisi tanpa kaca. Erly membawa potongan surat sebagai bukti pembatalan izin. Untuk pertama kalinya sejak tubuh dicuri, tidak ada peniru yang mengikuti.
Di ruang penyimpanan, Meisin membuka cermin sekilas. Tiga noda hitam bergerak di tepi: dua tiruan Meisin serta satu peniru polisi atau Darto yang belum diketahui wajah terbarunya.
'Separuh sudah kembali,' kata Reksa.
'Separuh lagi masih punya ingatanku,' jawab Meisin.
Dari dalam kantong jenazah terdengar suara Owen meminta mereka menjauh. Jaka kembali mencoba mengambil mulutnya.
Tulisan pada surat memang terbakar, tetapi huruf-huruf hitam muncul di kulit dada jasad Owen.
Pemilik telah mengizinkan.
Erly memotret tanda tersebut melalui kamera tanpa layar pantul, lalu menghubungi pengacara perusahaan. Secara hukum, kematian Owen membuat surat baru itu tidak sah. Namun peniru sudah menyebarkan pernyataan bahwa Owen hidup, sehingga status kematian dan pengelolaan tanah sedang diperdebatkan.
'Ki Bagong memanfaatkan keraguan manusia sebagai bagian ritual,' kata Bu Rena. 'Selama ada orang yang percaya Owen masih hidup dan memiliki kampung, tubuhnya bisa dianggap pemberi izin.'
Meisin meminta polisi menjaga akta kematian, hasil identifikasi jasad, dan rekaman peniru di tempat terpisah. Erly akan mengajukan pembekuan tanah tanpa bertindak sebagai wakil tunggal. Semua keputusan harus melibatkan penyidik serta pengurus perusahaan agar wajah palsu tidak dapat mengubahnya melalui satu tanda tangan.
Dari dalam kantong terdengar Owen berusaha mengulang pencabutan izin. Setiap kali dia bicara, Jaka menimpa suaranya dan menyatakan kebalikan. Dua kehendak keluar dari satu mulut sampai tak seorang pun dapat memastikan kalimat mana yang didengar tanah Kampung Dukun.
'Kita harus mengeluarkan Jaka sebelum tubuh Owen bisa mencabut izin dengan jelas,' simpul Reksa.
'Dan kita harus melakukannya tanpa memberi tubuh baru kepada arwah lain,' tambah Meisin.
Di dalam cermin tua, pemukul lonceng ketujuh bergerak mendekati sisi logam, lalu berhenti hanya setebal satu jari.
Mbah Raras muncul dengan wajah ketakutan.
'Kertasnya batal,' ucapnya, 'tetapi tubuh itu sudah menjadi suratnya.' (*)