Meisin, Reksa, Erly, dan dua polisi berlari menuju lantai bawah. Bu Rena mengikuti sambil membawa cermin tua dalam kotak. Alarm terus berbunyi, sedangkan pintu otomatis menutup satu per satu.
Owen terseret di depan mereka. Benang dari dadanya menembus lantai dan menarik arwahnya menuju jasad.
'Jangan biarkan peniru itu memasukkanku ke tubuh!' teriaknya.
Pintu kamar jenazah terkunci. Erly asli memasukkan kode, tetapi aksesnya sudah diubah oleh tiruannya. Polisi memecahkan kaca kecil di samping gagang, lalu membuka kunci dari dalam.
Ruangan pendingin kosong.
Kantong jenazah berada di atas meja, tetapi tubuh Owen sudah berdiri. Mata kanannya hitam, mata kirinya cokelat. Owen asli telah tersedot masuk dan sedang berebut kendali dengan Jaka.
Peniru berwajah Owen berdiri di depannya seperti bayangan hidup. Tiruan Erly mendorong brankar ke dekat pintu servis.
'Berhenti!' perintah polisi.
Owen palsu mengangkat kedua tangan. 'Saya korban penculikan. Orang di belakang kalian membawa cermin berbahaya dan mengaku sebagai keluarga saya.'
'Tubuhmu ada dua,' balas salah satu petugas. 'Jangan bergerak.'
Peniru itu tersenyum, lalu wajahnya menjadi rata selama satu detik. Polisi akhirnya melihat bukti yang tidak dapat dijelaskan dengan penyamaran biasa.
Makhluk tersebut menerjang layar komputer. Tubuhnya berpindah melalui pantulan gelap dan muncul di belakang Meisin.
'Aku membawa sesuatu milikmu,' bisiknya.
Begitu tangannya menyentuh bahu Meisin, ingatan pertama kali bertemu Owen muncul seperti pintu terbuka. Meisin melihat gedung tinggi, meja mahal, dan uang yang ditawarkan untuk membeli waktunya. Namun perasaan marah masih berada di balik kabut.
'Berikan cermin, lalu aku kembalikan semuanya,' tawar peniru.
'Ingatan itu bukan milikmu.'
'Tapi tanpa aku, kamu cuma punya tulisan orang asing. Kamu bahkan nggak mengenali wajah suamimu.'
Layar komputer menyala sendiri. Rekaman pernikahan diputar tanpa suara. Meisin melihat dirinya tersenyum, memakai pakaian pengantin, dan menggenggam tangan Owen. Peniru ingin gambar tersebut menggantikan alasan yang hilang.
'Lihat betapa bahagianya kamu,' bisiknya. 'Kenapa mempertahankan penolakan yang bahkan nggak bisa kamu rasakan?'
Meisin membuka buku catatan dengan satu tangan. Di sana ada pengakuan Owen, kesaksian Reksa, pesan Mbah Raras, dan kalimat yang dia tulis sendiri setelah kehilangan ingatan. Fakta-fakta itu tidak memiliki warna seperti kenangan, tetapi semuanya dibuat tanpa pengaruh peniru.
'Senyum bisa dipaksa. Catatan ini dibuat setelah aku bebas memilih.'
Peniru memecahkan layar. Potongan kaca berhamburan dan setiap pecahannya memperlihatkan wajah Owen tersenyum. Puluhan suara menyuruh Meisin pulang kepada suaminya.
Erly serta polisi menutupi pecahan menggunakan kain dari kantong jenazah cadangan. Reksa berdiri di depan Meisin agar makhluk itu tidak menyeretnya ke salah satu pantulan.
Owen asli menggerakkan jasadnya satu langkah. Jaka menarik kembali, membuat tubuh itu kejang.
'Dia bukan suaminya karena dia nggak pernah memilihku dengan sadar,' ucap Owen melalui gigi terkatup.
Peniru menoleh. 'Kamu menyangkal nama sendiri?'
'Aku mengakui apa yang kulakukan.'
'Kamu ingin dia. Aku lahir dari keinginan itu.'
'Keinginan bukan izin.'
Kalimat Owen membuat peniru marah. Makhluk itu mendorong Meisin ke dinding dan mencengkeram lehernya.
'Katakan kamu menerima Owen sebagai suami. Satu kalimat, lalu semua ingatanmu kembali.'
Meisin sulit bernapas, tetapi dia tidak perlu mengingat masa lalu untuk membuat pilihan sekarang.
'Aku menolak.'
'Kamu bahkan nggak tahu siapa yang ditolak!'
'Aku tahu kamu memakai ingatanku sebagai tebusan. Itu cukup.'
Reksa menyerang dari samping. Peniru melemparkannya ke meja logam. Owen memaksa jasadnya bergerak dan menangkap kedua tangan makhluk tersebut dari belakang.
'Sekarang, Rena!' teriak Owen.
Bu Rena membuka kotak. Cermin tua diarahkan kepada dua wajah Owen yang sama. Mbah Raras muncul di tengah pantulan dan menunjuk sosok yang tidak memiliki bayangan di bawah kakinya.
'Wajah Owen, kembali kepada bayanganmu!' seru Bu Rena.
Peniru meronta. Dia mencoba berpindah ke mata jasad Owen, tetapi Owen asli memejamkan keduanya. Makhluk itu kemudian menyebut semua kalimat posesif yang pernah hidup dalam pikiran Owen.
'Dia milikmu. Ambil dia. Jangan biarkan Reksa menang.'
Owen mengencangkan pegangan. 'Itu pikiranku yang lama. Bukan pilihanku sekarang.'
Cahaya perak menyelimuti wajah palsu. Kulitnya mengelupas, lalu seluruh tubuh berubah menjadi benang hitam yang tersedot ke ukiran mata keenam.
Noda kedua masuk ke bingkai. Empat noda masih bergerak di tepinya.
Ingatan menghantam Meisin.
Dia kembali berada di gedung Owen pada hari pertama. Uang diletakkan di depan wajahnya. Owen tersenyum seolah penolakan hanya permainan. Meisin mengingat rasa jijik, marah, dan takut ketika lelaki itu mengancam pekerjaan serta keluarganya.
Ingatan lain mengikuti. Dia melihat Owen muncul di lokasi pekerjaannya tanpa diminta, membuat orang-orang di sekitar merasa Meisin sudah menjadi miliknya, dan menggunakan bantuan kepada Pak Leo sebagai alasan agar keluarga mendorong hubungan. Setiap penolakan dianggap tantangan, bukan jawaban.
Lalu Meisin mengingat perubahan setelah ritual pertama. Kemarahannya menghilang dalam satu malam. Dia bangun dengan keinginan menemui Owen dan menganggap semua perbuatannya romantis. Dari dalam kenangan, Meisin sekarang dapat melihat benang hitam yang menutupi mata dirinya sendiri.
Kesadaran itu menyakitkan, tetapi juga mengembalikan sesuatu yang penting. Penolakannya bukan kebencian tanpa alasan. Itu adalah cara Meisin melindungi kebebasan yang Owen coba beli.
Semua alasan untuk berkata tidak kembali utuh.
Meisin membuka mata dan memandang jasad Owen. Kini dia mengenali wajah lelaki tersebut. Owen melepaskan peniru dan berdiri tanpa bergerak, menunggu penilaian yang pantas diterimanya.
'Aku ingat kamu,' ucap Meisin.
'Dan kamu kembali membenciku.'
'Aku ingat kenapa aku menolakmu. Perbuatanmu setelah mati nggak menghapusnya.'
Owen mengangguk pelan. 'Aku tahu.'
'Tapi pilihanmu menahan peniru tadi juga nyata. Aku akan mencatat keduanya.'
Sebelum mereka dapat mengamankan jasad, lampu padam. Tiruan Erly menarik brankar melalui pintu servis. Jaka mengambil alih mata hitam Owen dan membuat tubuhnya jatuh ke atas kantong jenazah.
Asap dari pendingin menyebar memenuhi ruangan. Tiruan Erly memakai suara petugas keamanan untuk memerintahkan pintu darurat dibuka. Sistem rumah sakit mengenali rekaman perintah dan mengangkat palang belakang.
Erly asli mencoba mengambil alih panel, tetapi penirunya sudah menghapus akses jarak jauh. Makhluk itu mengenal setiap kelemahan sistem yang pernah diperiksa Erly selama bekerja untuk Owen.
'Tubuhnya dibawa!' teriak Reksa.
Polisi mengejar, tetapi pintu servis dipenuhi asap. Ketika lampu darurat menyala, mobil jenazah sudah meninggalkan halaman belakang.
Erly memeriksa meja. Surat tanah Kampung Dukun ikut hilang. Namun stempel perusahaan tertinggal di lantai, retak menjadi dua.
Kamera jalan menangkap mobil menuju jembatan utara. Di dalam kantong, tangan jasad Owen bergerak keluar dan menandatangani surat tanah menggunakan darah hitam.
Tulisan baru muncul di bagian bawah dokumen.
Pemilik mengizinkan keranda memasuki tanahnya. (*)