Pertanyaan Meisin membuat Owen diam. Wajah lelaki itu menunjukkan luka yang tidak berasal dari benang atau arwah lain. Namun dia mengingat janji yang baru ditulisnya sendiri.
'Namaku Owen Wilson,' jawabnya. 'Aku lelaki yang membayar Ki Bagong supaya kamu nggak bisa menolakku.'
Dia tidak menyebut diri sebagai suami. Dia tidak mendekat atau menyuruh Meisin percaya. Sikap tersebut sesuai dengan janji di dalam buku.
Meisin membalik beberapa halaman. Catatannya menjelaskan kecelakaan, pernikahan arwah, pengakuan Owen, serta pertarungan sejak rumah sakit. Reksa mengonfirmasi kejadian yang dia lihat. Erly menambahkan bagian mengenai ritual yang diurus atas perintah Owen.
'Jadi kamu sudah mati?' tanya Meisin.
'Tubuhku yang di dekat ambulans itu sudah mati. Aku masih terikat padanya.'
'Dan ada arwah lain di dalam tubuhmu?'
'Jaka serta beberapa yang dipanggil Ki Bagong.'
Meisin menatap jasad Owen. Wajah tubuh itu sama dengan arwah di hadapannya, tetapi keduanya terasa seperti orang asing.
'Aku mengizinkanmu tetap dekat selama kamu menjawab jujur,' putusnya. 'Bukan sebagai suami. Sebagai orang yang terlibat dalam semua ini.'
Owen mengangguk. Kesediaan menerima izin terbatas jelas menyakitkan harga dirinya, tetapi dia tidak membantah.
Polisi memasukkan jasad ke kantong tanpa bagian mengilap. Kedua tangannya dibelenggu karena beberapa petugas melihat tubuh itu bergerak di Gudang Kaca. Mereka belum memahami penyebabnya, namun tidak lagi menganggap peringatan Meisin sebagai khayalan.
Kantong tersebut dimasukkan ke kendaraan jenazah dengan pengawalan dua mobil. Owen meminta jalur yang tidak melewati sungai atau gedung berkaca. Kali ini polisi menuruti dan membawa tubuh menuju kamar jenazah rumah sakit yang sudah dikosongkan.
Tujuh korban dari Kampung Dukun dibawa ke ruang perawatan terpisah. Darto ikut sebagai tahanan sekaligus saksi. Lilis dan Bayu masih belum sadar, tetapi kondisi tubuh mereka stabil.
Meisin kembali diperiksa. Noda hitam berhenti di bahu, seolah menunggu dia menggunakan vision berikutnya. Dokter hanya memberi obat dan perban karena hasil darah tidak menunjukkan penyakit.
Bu Rena membawa cermin tua ke ruangan tanpa jendela. Ketika kotak dibuka, Mbah Raras muncul dengan wajah semakin samar.
'Aku kehilangan wajah Owen,' ucap Meisin. 'Bagaimana mengambilnya kembali?'
'Kembalikan benda yang menukar ingatan itu ke waktu dan tempat asal.'
Tiga benda dari masa lalu kini berada di dunia sekarang. Kertas alamat Gudang Kaca disimpan polisi. Kunci kuningan masih dibawa Erly. Jarum tulang telah disegel sebagai bukti.
'Kalau semuanya dikembalikan, jalan yang tadi kami tutup bisa terbuka lagi,' kata Reksa.
'Benar,' jawab Mbah Raras. 'Ki Bagong membuat setiap pilihan terasa seperti pengorbanan. Tapi ada cara kedua. Meisin bisa membangun ingatan baru dari pilihan yang dibuat sekarang.'
'Berarti wajah lama tetap hilang?' tanya Bu Rena.
'Mungkin. Namun kehilangan ingatan bukan kehilangan hak menentukan hidup. Dia tidak harus mengingat Owen untuk menilai perbuatannya hari ini.'
Meisin menyukai jawaban tersebut. Semua orang sibuk mencari cara mengembalikan dirinya seperti semula, padahal dirinya yang sekarang juga berhak membuat keputusan.
Owen berdiri jauh dari cermin. 'Kalau dia nggak pernah mengenaliku lagi?'
'Itu akibat yang harus kamu terima,' jawab Mbah Raras. 'Kamu lebih dulu memilih menghapus penolakannya.'
Owen tidak marah. Dia memandang Meisin, lalu berkata, 'Aku akan memperkenalkan diri sebanyak yang diperlukan. Tapi aku nggak akan mengubah isi catatanmu.'
Meisin menuliskan ucapan tersebut sebagai kejadian baru, bukan bukti bahwa Owen sudah berubah sepenuhnya.
Erly menerima kabar bahwa keamanan perusahaan gagal menangkap tiruannya. Makhluk itu meninggalkan gedung, tetapi sempat membuka arsip rahasia berisi laporan perempuan yang pernah menerima uang tutup mulut dari Owen.
'Kenapa ada arsip seperti itu?' tanya Meisin.
Erly menunduk. 'Tuan Owen sering menyelesaikan masalah dengan pembayaran. Ada keluhan pelecehan, kerusakan pekerjaan, dan ancaman. Saya yang mengurus sebagian perjanjiannya.'
Owen menatap asistennya. 'Serahkan semua kepada polisi.'
'Tuan yakin?'
'Kalau peniru memakai nama mereka, menyembunyikan arsip cuma membuat kita nggak tahu siapa yang akan muncul.'
Meisin mencatat keputusan itu, tetapi juga menulis bahwa Owen baru membukanya setelah kematian dan ancaman Ki Bagong. Pertanggungjawaban tidak boleh berubah menjadi pujian hanya karena akhirnya dilakukan.
Mbah Raras meminta mereka kembali memperhatikan cermin tua. Enam noda hitam bergerak mengelilingi bingkai, masing-masing mewakili satu wajah pinjaman. Makhluk itu dapat mengganti wajah, tetapi tidak mampu menciptakan pilihan baru. Mereka hanya menyalin ingatan, kebiasaan, dan keinginan paling kuat milik orang yang ditiru.
'Jangan menguji mereka dengan masa lalu,' pesan Mbah Raras. 'Tanyakan keputusan yang baru dibuat setelah wajahnya dicuri. Jawaban asli lahir dari kehendak. Jawaban peniru selalu memilih keinginan lama yang paling mudah.'
'Bagaimana mengembalikan mereka?' tanya Reksa.
'Hadapkan cermin ini ketika kebohongannya terbuka, lalu sebut wajah yang dia curi. Satu noda akan masuk kembali. Tapi jangan mencoba menangkap keenam sekaligus. Cermin tangan bisa pecah dan melepaskan pengunci lama.'
Meisin menulis cara tersebut. Mereka sepakat membuat pertanyaan baru untuk tiap orang tanpa mengucapkan jawabannya di dekat layar, kaca, atau jasad Owen. Reksa memilih pertanyaan tentang aturan catatan identitas. Erly memilih keputusan membuka arsip korban. Meisin menyimpan pertanyaannya sendiri dan tidak memberi tahu siapa pun.
Owen tidak dapat diuji dengan rahasia baru karena arwah lain masih terhubung pada tubuh serta ingatannya. Sebagai gantinya, Meisin meminta dia membuat satu pilihan yang bertentangan dengan keinginan lamanya.
'Apa yang kamu pilih kalau aku memintamu pergi sekarang?' tanya Meisin.
Owen menjawab setelah terdiam lama. 'Aku pergi dari ruangan, tapi tetap menjaga tubuhku supaya Jaka nggak mendekatimu.'
'Dan kalau aku melarangmu menjagaku?'
'Aku menjaga pintu kamar jenazah, bukan kamu.'
Jawaban itu belum sempurna. Namun Owen asli setidaknya berusaha membedakan perlindungan dari penguasaan. Peniru yang dibentuk oleh obsesi lamanya kemungkinan tidak akan melakukan hal sama.
Televisi di ruang tunggu mendadak menyala. Sebuah siaran berita memperlihatkan Owen berjalan memasuki kantor perusahaannya. Wajahnya hidup, pakaiannya rapi, dan tak ada luka kecelakaan.
Reporter mengabarkan Owen Wilson selamat dan baru saja memberikan pernyataan. Polisi yang menjaga kamar jenazah langsung menelepon atasannya karena tubuh asli Owen masih terbaring dalam kantong di lantai bawah.
Ponsel Erly dipenuhi panggilan wartawan, pemegang saham, serta pegawai. Sebagian mempercayai siaran, sebagian menanyakan mengapa surat kematian telah diterbitkan. Dalam hitungan menit, peniru itu berhasil membuat fakta kematian Owen tampak seperti perselisihan keluarga dan membuat kesaksian Meisin terlihat sebagai ucapan orang sakit.
'Dia menggunakan nama Tuan untuk mengambil kendali perusahaan,' kata Erly.
'Bukan cuma perusahaan,' balas Meisin. 'Dia juga mencoba mengambil kendali atas ceritaku. Kalau semua orang percaya aku kehilangan ingatan dan dia suamiku, penolakanku akan dianggap gejala penyakit.'
Reksa mematikan suara televisi. 'Polisi punya jasad asli dan rekaman gudang. Kebohongannya bisa dibuktikan.'
'Bisa, tapi kita harus bergerak sebelum dia menghapus bukti dan memindahkan tubuh.'
Rekaman beralih ke ruang konferensi. Owen palsu berdiri di depan kamera bersama tiruan Erly.
'Berita kematian saya adalah kesalahpahaman,' ucapnya. 'Saya juga menyatakan Meisin Valery sebagai istri sah yang sedang menjalani perawatan karena gangguan ingatan.'
Meisin menatap wajah di televisi tanpa mengenalinya. Sosok itu sama dengan arwah yang berdiri di sudut ruangan, tetapi senyumnya terasa lebih dingin.
Owen asli mengepalkan tangan.
'Itu bukan aku.'
Pada layar, peniru Owen memandang lurus ke kamera.
'Pulanglah, Istriku,' katanya. 'Sebelum aku menjemputmu bersama keranda.' (*)