Siaran berakhir, tetapi ancaman Owen palsu terus diputar ulang oleh stasiun lain. Wajah Meisin muncul dari foto pernikahan, disertai keterangan bahwa dia mengalami gangguan ingatan setelah kecelakaan.
'Matikan semuanya,' ucap Meisin.
Erly mencabut kabel televisi. Polisi menghubungi kantor dan memerintahkan gedung dikosongkan. Mereka juga menempatkan petugas tambahan di kamar jenazah, karena tubuh asli Owen menjadi bukti paling jelas bahwa lelaki dalam siaran adalah penipu.
Owen asli berjalan menembus dinding. 'Aku akan mencari makhluk itu.'
'Berhenti,' kata Meisin.
'Dia memakai wajahku dan menyebutmu istrinya.'
'Kamu juga melakukan hal yang sama sebelum aku kehilangan ingatan.'
Owen membeku.
'Kalau kamu mengamuk, aku nggak bisa membedakanmu dari peniru yang memakai keinginan lamamu,' lanjut Meisin. 'Bantu Erly membuktikan siarannya palsu.'
Owen kembali dengan rahang mengeras. Dia mengenali jam serta lukisan di belakang tiruannya. Ruangan itu tampak seperti ruang konferensi utama, tetapi susunan kursinya berasal dari kantor pemasaran lama yang sudah tidak dipakai.
Erly memeriksa rekaman. Pantulan lampu pada meja menunjukkan jendela berbeda dari kantor pusat. Dia mengirim alamat kantor lama kepada polisi tanpa menggunakan vision atau cermin.
'Makhluk itu ingin kita menyerbu tempat yang terlihat,' kata Reksa. 'Kemungkinan dia sudah pergi.'
'Setidaknya kita bisa menemukan jejak dan orang yang membantunya,' jawab Meisin.
Polisi meminta Meisin memberikan pernyataan singkat untuk menghentikan klaim mengenai pernikahan. Bu Rena takut wajah putrinya akan dipakai lagi, tetapi Meisin merasa diam hanya membiarkan peniru menentukan cerita.
Dia berdiri di depan dinding polos. Tidak ada kaca atau layar yang memperlihatkan pantulan. Reksa merekam menggunakan kamera yang baru dibuka saat tombol mulai ditekan.
'Nama saya Meisin Valery,' ucapnya. 'Saya tidak mengakui siapa pun yang memakai identitas Owen Wilson sebagai suami saya. Tubuh Owen telah ditemukan meninggal dan berada dalam pengawasan polisi. Bila seseorang mendatangi kalian dengan wajah kami, jangan mengikuti atau memberikan data pribadi. Hubungi polisi.'
Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan, 'Kehilangan sebagian ingatan tidak menghilangkan hak saya untuk berkata tidak.'
Rekaman diserahkan kepada polisi serta pengacara perusahaan. Erly memastikan tidak ada informasi lokasi rumah sakit yang ikut tersebar.
Pernyataan itu segera mengubah keadaan. Pengurus perusahaan membekukan seluruh transaksi yang memakai tanda tangan Owen sampai identitasnya dipastikan. Kepolisian mengumumkan bahwa penyelidikan kematian tetap berlangsung dan meminta masyarakat tidak mendekati orang yang mengaku sebagai Owen.
Namun pendapat orang sudah terpecah. Ada yang menuduh Meisin mengejar harta. Ada pula yang menganggap keluarga Owen menyembunyikan kematian demi saham. Potongan video pernikahan mulai beredar tanpa penjelasan mengenai ritual.
'Mereka melihat aku tersenyum dan langsung menganggap aku setuju,' ucap Meisin.
Bu Rena menggenggam tangannya. 'Ibu juga tertipu oleh senyummu waktu itu. Ibu pikir kamu akhirnya bahagia.'
'Karena itu aku harus tetap bicara. Bukan supaya semua orang percaya sekarang, tapi supaya penolakanku tercatat.'
Beberapa perempuan dari arsip lama Owen menghubungi pengacara perusahaan setelah melihat pernyataan Meisin. Mereka meminta perjanjian bungkam dibatalkan dan kesaksiannya disimpan sebelum peniru memakai nama mereka. Owen mendengar laporan itu dengan wajah tertunduk.
'Aku nggak ingat wajahmu,' kata Meisin kepadanya, 'tapi akibat perbuatanmu masih hidup pada banyak orang.'
'Aku akan membuka semua perjanjiannya,' jawab Owen.
'Bukan kamu yang menentukan apakah kisah mereka dibuka. Berikan dokumennya kepada penyidik, lalu biarkan mereka memilih bicara atau nggak.'
Owen mengangguk. Bahkan upaya memperbaiki kesalahan tidak memberinya hak mengambil keputusan korban sekali lagi.
Beberapa menit kemudian, nomor tak dikenal menelepon Meisin. Suara Owen palsu terdengar.
'Kamu mempermalukanku di depan semua orang.'
'Bukan kamu yang dipermalukan. Wajah yang kamu curi saja.'
'Aku punya video pernikahanmu. Kamu tersenyum, mengucapkan janji, dan mencium lelaki yang sekarang kamu tuduh memaksamu.'
'Video itu dibuat setelah pikiranku diubah. Sebarkan kalau kamu mau. Polisi juga punya rekaman pengakuan Owen asli.'
Arwah Owen menatap Meisin. Dia tidak menyangka perempuan itu akan memakai pengakuannya sebagai perlindungan, bukan sebagai alasan memaafkan.
Peniru mengubah nada. 'Aku juga menyimpan ingatan yang hilang darimu. Aku tahu rasa yang muncul saat kamu pertama kali menolaknya.'
'Kalau ingatan itu milikku, kamu nggak berhak menjadikannya tawaran.'
Sambungan diputus. Erly berhasil melacak panggilan ke kantor pemasaran lama, tetapi polisi yang tiba hanya menemukan kamera, lampu, dan beberapa pegawai dalam keadaan pingsan. Owen palsu sudah pergi melalui layar presentasi yang pecah.
Polisi mengamankan rekaman mentah. Pada bagian sebelum siaran, tiruan Erly mengajari Owen palsu meniru tanda tangan dan cara berdiri. Makhluk itu tidak memiliki kesadaran Owen. Ia hanya menyusun sosok dari arsip, video, dan keinginan lama yang dicuri.
Rekaman juga memperlihatkan sesuatu yang tidak disadari peniru. Setiap kamera dimatikan, wajah Owen palsu menghilang dan menyisakan permukaan rata. Tiruan Erly harus menunjukkan foto baru agar bentuknya kembali. Enam wajah belum sepenuhnya stabil. Mereka membutuhkan ingatan, rekaman, atau pantulan sebagai pola.
Erly meminta seluruh foto besar Owen di kantor ditutup dan akses arsip visual diputus. Polisi mengirim instruksi serupa ke rumah sakit. Tidak ada petugas yang boleh menunjukkan kartu identitas ketika menjawab pertanyaan dari orang yang wajahnya meragukan.
'Kalau mereka kehilangan pola, kita lebih mudah menangkapnya dengan cermin tua,' kata Bu Rena.
'Tapi mereka juga bisa memilih wajah baru dari siapa pun yang ditemui,' jawab Meisin. 'Kita harus bergerak sebelum mereka menyebar.'
'Berarti wajah Owen dipakai salah satu dari enam peniru,' simpul Reksa.
'Dan wajah Erly dipakai peniru lain,' kata Meisin. 'Empat sisanya masih bisa menjadi siapa pun.'
Seorang perawat datang memberi tahu bahwa keamanan ingin berbicara dengan Reksa. Katanya ada masalah pada kartu pengunjung. Reksa keluar bersama Erly untuk memeriksa.
Meisin tinggal bersama Bu Rena. Owen berdiri di lorong dekat pintu kamar jenazah sesuai janji. Beberapa menit kemudian, Reksa kembali dan mengulurkan tangan.
'Kita harus pindah kamar. Ada wartawan menemukan lokasi ini.'
Meisin hampir mengikutinya. Namun pakaian Reksa tetap sama, sedangkan luka lecet pada siku kirinya sudah menghilang.
'Apa aturan yang kita tulis kalau ingatanku hilang?' tanya Meisin.
Reksa di hadapannya tersenyum. 'Kamu harus percaya kepadaku karena aku paling lama mengenalmu.'
Itu bukan jawaban asli. Reksa berjanji tidak akan menentukan perasaan Meisin berdasarkan versinya.
'Kamu bukan Reksa.'
Wajah lelaki itu berubah marah. Dia mengunci pintu dan menutup mulut Bu Rena menggunakan bayangan yang keluar dari kakinya.
'Aku tahu semua kenangan kalian,' desisnya. 'Aku tahu pohon mangga, bekal yang jatuh, dan setiap kali dia diam-diam mencintaimu.'
'Mengetahui kenangan bukan berarti kamu menjadi dia.'
Meisin meraih tombol darurat, tetapi tiruan Reksa menangkap tangannya. Noda hitam pada bahunya terasa panas.
'Kamu ingin ingatanmu kembali?' bisik makhluk itu. 'Tangkap kami kalau bisa. Setiap wajah membawa satu bagian yang sudah diambil darimu.'
Dari luar, Reksa asli mengetuk pintu sambil memanggil nama Meisin.
Tiruan tersebut menyeringai.
'Sekarang buktikan kepada ibumu mana Reksa yang harus dia percaya.' (*)