Darto berlutut di antara istri dan anaknya. Kedua tubuh itu menatap tanpa pupil, sementara suara Ki Bagong keluar bergantian dari tujuh mulut.
'Bawa cermin Raras kemari,' pinta mereka. 'Satu benda untuk tujuh nyawa. Harga yang sangat murah.'
'Cerminnya nggak ada di sini,' jawab Meisin.
'Tapi kamu bisa mengambilnya dari masa lalu. Bukankah itu hadiahmu?'
Meisin memahami rencana Ki Bagong. Sang dukun tidak perlu mencuri cermin asli dari rumah sakit. Dia ingin Meisin mengambil benda yang sama dari kejadian beberapa jam lalu, menciptakan jalan lain menuju cermin warisan.
'Aku nggak akan menggunakan vision.'
Tubuh Bayu mendadak kejang. Darto hendak memeluk putranya, tetapi Reksa menahan.
'Kalau kamu sentuh sekarang, Ki Bagong bisa pindah ke tubuhmu,' peringat Reksa.
'Itu anak saya!'
'Justru karena itu kita cari cara yang nggak membuat dia kehilangan ayah juga.'
Erly memeriksa tikar tanpa menyentuh kulit korban. Benang hitam tipis mengikat pergelangan kaki ketujuh tubuh, lalu masuk ke sela lantai. Dia mencoba memotong satu menggunakan gunting, tetapi benang tumbuh kembali.
Darto mengatakan semua ikatan bertemu pada jarum tulang yang dikubur ketika rumah dibangun. Ki Bagong selalu memindahkan letaknya melalui pantulan, sehingga lantai dapat dibongkar berhari-hari tanpa menemukannya.
'Vision bisa menunjukkan posisi awal jarum,' ucap Darto.
'Dia sudah janji nggak menggunakannya,' kata Owen dari ambang pintu.
Suara mesin terdengar di luar. Ambulans yang hilang berhenti di depan rumah. Tiruan Erly turun dari kursi pengemudi sambil membawa surat tanah, lalu membuka pintu belakang.
Jasad Owen berjalan keluar.
Arwah Owen langsung terangkat dari tanah. Benang di dadanya menariknya menuju tubuh.
'Tutup pintunya!' teriaknya.
Reksa mendorong daun pintu, tetapi tubuh Owen menahan dari luar. Tangan dinginnya menembus celah dan mencengkeram bahu Meisin.
'Pemilik tanah sudah datang,' ucap tiruan Erly. 'Sekarang rumah berhak meminta pengantin.'
Meisin menghantam tangan jasad menggunakan balok. Reksa dan Erly asli ikut mendorong sampai pintu tertutup. Owen masih berada di luar bersama tubuhnya sendiri. Suara pertarungan terdengar di halaman, meski manusia lain hanya mendengar angin menghantam dinding.
Ketujuh korban kembali kejang. Benang pada kaki mereka menegang, mengangkat tubuh sedikit dari tikar.
'Jarumnya harus dicabut sekarang,' kata Darto. 'Kalau nggak, mereka dibawa ke cermin induk.'
Meisin berusaha mencari cara biasa. Reksa membongkar tiga papan lantai. Erly menelusuri benang dengan cahaya senter. Darto memeriksa bekas lubang pada dinding. Namun setiap kali benang hampir mencapai satu titik, arahnya berpindah.
Suara Lilis keluar dari mulutnya sendiri untuk sesaat.
'Mas ... tolong Bayu ...,' pintanya.
Darto menangis. 'Itu suara istri saya. Bukan Aki.'
Meisin melihat noda hitam pada lengannya. Dia tahu harga yang harus dibayar bila menyentuh benang. Ingatan lain akan hilang. Mungkin nama orang tuanya, wajah Reksa, atau bagian dirinya yang belum sempat ditulis.
'Kalau aku masuk vision, tarik aku setelah menemukan jarumnya,' pesan Meisin.
'Nggak,' tolak Reksa.
'Tujuh orang ini nggak punya waktu.'
'Kita belum mencoba semua cara.'
'Benangnya terus berpindah. Cara biasa nggak bisa menyentuh benda yang hanya ada di masa lalu.'
Meisin membuka buku catatan dan menulis keputusan tersebut dengan tangannya sendiri. Aku memilih mengambil jarum untuk menyelamatkan tujuh korban. Tidak ada yang memaksaku. Setelah itu dia menyerahkan buku kepada Reksa.
'Kalau aku lupa, bacakan ini. Bukan buat menyuruhku mengulang, tapi supaya aku tahu pilihan tadi memang milikku.'
Dia menyentuh benang hitam.
Rumah lenyap. Meisin berdiri di tanah kosong sebelum bangunan didirikan. Ki Bagong yang lebih muda berlutut sambil menanam jarum dari tulang jari manusia. Tujuh benang dililitkan pada ujungnya.
'Setiap tubuh membutuhkan nama,' ucapnya. 'Kalau nama asli menolak, berikan nama orang yang paling ingin pulang.'
Di belakangnya berdiri Mbah Raras. Perempuan itu belum terperangkap di cermin. Dia pura-pura membantu, tetapi diam-diam menggoreskan kalimat pada jarum.
Darah bukan izin.
Mbah Raras menoleh ke arah Meisin. 'Ambil sekarang. Jangan lihat wajah orang yang ingin kamu pertahankan.'
Ki Bagong ikut menoleh. 'Kamu kembali mencuri dariku.'
Meisin meraih jarum. Sang dukun menangkap pergelangannya, tetapi Mbah Raras memukul tangan lelaki itu menggunakan cermin.
'Lari, Cucuku!'
Meisin menarik jarum dari tanah. Dunia berputar. Puluhan wajah muncul di sekelilingnya, termasuk Bu Rena, Reksa, Melly, dan Owen. Dia memejamkan mata agar tidak melihat siapa yang akan ditukar.
Reksa menarik tubuhnya kembali.
Jarum tulang kini berada di tangan Meisin. Ketujuh benang pada lantai muncul bersamaan. Erly memotongnya satu per satu sebelum dapat berpindah lagi.
Tubuh para korban jatuh ke tikar. Mata putih mereka menutup, napasnya tetap ada. Darto memeluk Lilis dan Bayu setelah Mbah Raras melalui radio memastikan Ki Bagong tidak lagi berada di dalam tubuhnya.
Polisi memasuki rumah dari pintu belakang. Mereka membawa tandu dan segera mengangkat tujuh korban. Mangkuk darah Bu Rena diamankan bersama surat tanah, obat, daftar nama, serta jarum tulang sebagai bukti.
Darto menyerahkan kedua tangannya untuk diborgol. Dia mengakui keterlibatannya dalam penculikan dan menunjukkan rumah tempat kartu identitas korban disimpan. Polisi mengizinkannya berjalan di dekat tandu Lilis serta Bayu, tetapi tetap menempatkan seorang petugas di sisinya.
'Saya akan ceritakan semua nama yang masih saya ingat,' janji Darto kepada Meisin. 'Kalau keluarga saya selamat, itu bukan berarti kesalahan saya ikut hilang.'
'Pastikan mereka mendapat perawatan dulu. Setelah itu katakan semuanya tanpa mengurangi bagianmu sendiri,' jawab Meisin.
Petugas medis memeriksa ketujuh korban. Tubuh mereka kekurangan cairan dan dipenuhi bekas suntikan, tetapi denyutnya stabil. Tak seorang pun bangun karena pantulan mereka masih terikat di Gudang Kaca. Setidaknya Ki Bagong tidak dapat memindahkan kesadarannya selama jarum tulang berada jauh dari rumah.
Bu Rena berbicara melalui radio. Mbah Raras memperingatkan bahwa pencabutan jarum hanya memutus ikatan Kampung Dukun. Enam wajah pinjaman tetap bebas, dan pengunci cermin induk di gudang masih menahan jalan terakhir. Kemenangan kecil itu belum menutup ritual.
'Bawa jarumnya dalam kotak kayu terpisah,' pesan Bu Rena. 'Jangan dekatkan ke cermin tua atau serpihan apa pun.'
Reksa melaksanakan semua instruksi tanpa meminta Meisin menyentuh benda tersebut lagi. Jarum dibungkus kain, dimasukkan ke kotak obat, lalu disegel bersama bukti polisi. Untuk pertama kalinya sejak kemampuan Meisin terbuka, sebuah masalah dari masa lalu ditangani orang lain setelah dia menunjukkan jalannya.
Wadah tanpa wajah yang diberi nama Raras tetap berada dalam peti batu. Meisin melarang siapa pun menyentuhnya sampai mereka mengetahui arwah apa yang disiapkan untuk masuk.
Di halaman, jasad Owen terbaring dekat ambulans. Tiruan Erly sudah menghilang ke antara rumah. Arwah Owen duduk di samping tubuhnya dengan luka hitam memenuhi dada.
'Kamu berhasil,' ucap Owen ketika Meisin mendekat.
Meisin menatap lelaki pucat itu. Wajahnya terasa asing. Dia mengenali pakaian, suara, dan luka di dadanya, tetapi tidak tahu siapa orang yang sedang berbicara.
Noda hitam pada lengannya telah mencapai bahu.
Meisin membuka buku catatan dengan tangan gemetar. Nama Owen tertulis berkali-kali, disertai pengakuan dan janji yang dibuat beberapa jam lalu.
'Maaf,' ucap Meisin sambil mundur dari arwah tersebut. 'Aku tahu namamu ada di buku ini, tapi ... siapa kamu?' (*)