Meisin tidak langsung berangkat. Dia meminta dokter menutup lukanya rapat, lalu meninggalkan serpihan kaca bersama Bu Rena. Cermin tua juga tetap disimpan di rumah sakit dalam kotak kayu yang dijaga dua polisi.
'Ki Bagong ingin aku membawa cermin itu,' ucap Meisin. 'Berarti benda itu lebih aman selama jauh dari kampung.'
Bu Rena memeluk putrinya. 'Kalau noda hitamnya naik sedikit saja, pulang. Jangan ambil benda lain dari masa lalu.'
Meisin berjanji tidak menggunakan vision. Reksa dan Owen sama-sama mendengar janji tersebut.
Sebelum berangkat, mereka melepas atau menutup semua benda yang bisa memantulkan wajah. Ponsel dibungkus lapisan kusam, kaca mobil ditutupi film gelap, dan spion hanya dibuka sedikit saat diperlukan. Polisi menjaga dua jalan utama, sedangkan Meisin, Reksa, Erly, serta Darto melewati jalur tanah belakang kebun karet.
Owen ikut di kursi belakang sebagai arwah. Semakin dekat ke Kampung Dukun, benang di dadanya semakin tegang.
'Tubuhku bergerak lagi,' katanya. 'Tiruan Erly sedang membawanya ke sebuah rumah.'
'Rumah siapa?' tanya Meisin.
'Aku nggak bisa melihat nomor. Semua pintu di sana sama.'
Darto menjelaskan Ki Bagong sengaja membuat rumah-rumah tanpa tanda. Orang yang masuk akan kehilangan arah karena tidak memiliki bayangan sebagai penunjuk. Warga asli sudah lama pergi. Bangunan sekarang hanya dihuni penagih, korban, dan tubuh kosong.
Jalur tanah berakhir di belakang sebuah surau tua. Tidak ada kaca pada jendelanya. Ember air ditutup kain, sendok dibuat dari kayu, bahkan sepeda motor berkarat dilumuri lumpur agar tak mengilap.
'Kampung ini benar-benar nggak punya pantulan,' gumam Reksa.
'Karena semua pantulan disimpan di Gudang Kaca,' jawab Darto.
Mereka meninggalkan mobil dan berjalan kaki. Darto memimpin sambil menghitung rumah. Pada rumah ketiga dia berhenti. Pintu terbuka dan bagian dalamnya dipenuhi kasur kosong.
Sepanjang jalan, suara penghuni terdengar dari balik pintu. Seorang anak memanggil ibunya. Perempuan tua menawarkan minum. Ada pula suara Erly memerintahkan mereka masuk ke rumah pertama, padahal Erly asli berjalan bersama mereka.
Darto meminta semua orang tidak menjawab. Setelah lonceng keenam, arwah berwajah pinjaman dapat memakai suara untuk mencari nama. Siapa pun yang menyahut akan meninggalkan jejak menuju tubuhnya.
Di jendela rumah kedua, Meisin melihat tiruan Reksa berdiri sambil tersenyum. Makhluk itu mengikuti dari dalam rumah ke rumah tanpa pernah keluar ke jalan. Setiap Meisin menoleh, posisinya semakin dekat.
'Dia mengincarmu,' kata Owen.
'Atau ingin bikin kamu cemburu supaya kehilangan kendali,' balas Meisin.
Owen memalingkan wajah dari tiruan tersebut. 'Aku nggak akan memberinya itu.'
Kalimatnya terdengar sulit, namun dia benar-benar tidak mengejar. Meisin mencatat perubahan kecil itu dalam pikirannya tanpa menganggap semua kesalahan Owen sudah selesai.
'Di sini saya menahan keluarga yang berutang,' akunya.
Nama-nama tergores pada dinding. Ada lebih dari tiga puluh. Beberapa memiliki tanda silang, sedangkan lainnya diberi angka satu sampai tujuh.
'Apa arti tanda silang?' tanya Meisin.
Darto tidak sanggup melihatnya. 'Mereka yang nggak punya keluarga untuk membayar.'
'Kalian apakan mereka?'
'Pantulannya diberikan kepada Aki. Tubuhnya dibuang atau dipakai menagih.'
Reksa mencengkeram kerah Darto. 'Kamu ikut melakukan semua ini?'
'Iya.' Darto tidak melawan. 'Saya bisa bilang dipaksa seribu kali, tapi tangan saya tetap yang mengunci pintu.'
Meisin meminta Reksa melepaskannya. Mereka membutuhkan kesaksian Darto untuk menemukan korban, tetapi pertanggungjawabannya tetap harus berjalan setelah keluarga itu diselamatkan.
Erly memotret seluruh nama menggunakan kamera yang lensanya ditutup kain kecuali saat dipakai. Daftar tersebut akan diberikan kepada polisi dan dibandingkan dengan laporan orang hilang.
Di sudut ruangan terdapat kotak berisi kartu identitas, buku utang, dan obat penenang. Meisin meminta Erly membawa semuanya sebagai bukti. Darto menunjukkan tanda lingkaran pada tujuh kartu. Pemilik kartu itulah tubuh yang dipilih untuk ritual berikutnya.
'Kalau tubuh mereka masih hidup, kenapa rumah ini kosong?' tanya Reksa.
'Setelah pantulannya dipindahkan, tubuh dibawa ke rumah ketujuh,' jawab Darto. 'Aki menjaga napas mereka dengan air dari sumur belakang. Mereka nggak makan, tapi juga nggak bangun.'
Reksa mengirim lokasi rumah kepada polisi tanpa menyebut cermin. Dia melaporkan kemungkinan penyekapan dan penggunaan obat. Tim diminta menunggu di batas kampung sampai Meisin memberi tanda karena peniru masih dapat memakai wajah petugas.
Dari ujung jalan terdengar suara roda. Truk pengangkut cermin melaju tanpa pengemudi. Bagian belakangnya terbuka, memperlihatkan puluhan bingkai kosong. Kendaraan itu berhenti di depan rumah ketujuh.
Owen jatuh berlutut.
'Tubuhku di sana.'
Rumah ketujuh tampak lebih kecil daripada bangunan lain. Atapnya rendah dan seluruh dinding dilapisi kain hitam. Erly menemukan stempel perusahaan Owen pada surat yang ditempel di pintu.
Dengan dokumen palsu tersebut, tiruan Erly menyatakan Owen sebagai pemilik tanah sekaligus pemberi izin ritual.
'Saya yang membawa stempel itu ke kantor bertahun-tahun,' ucap Erly. 'Kalau dulu saya menolak urusan gelap Tuan, Ki Bagong mungkin nggak punya akses semudah ini.'
'Kamu tetap harus bertanggung jawab,' kata Meisin. 'Tapi menyesal di depan pintu nggak akan menolong orang di dalam.'
Sebelum masuk, mereka menyusun urutan. Erly mengumpulkan dokumen. Reksa menjaga pintu tetap terbuka menggunakan balok kayu. Darto menunjukkan tubuh keluarganya tanpa memindahkan apa pun. Meisin tidak boleh menyentuh benda dari masa lalu atau permukaan yang dapat memunculkan vision.
Owen diminta tetap di luar. Hubungannya dengan jasad dapat digunakan Ki Bagong untuk melihat rencana mereka.
'Kamu menyuruhku menjauh dari tubuhku sendiri,' protesnya.
'Aku menyuruhmu menjaga pintu. Kalau ada tiruan datang, peringatkan kami.'
Owen tidak menyukai perintah tersebut, tetapi dia bertahan di ambang. Itu menjadi kedua kalinya dia mengikuti keputusan Meisin tanpa mencoba mengambil alih.
Mereka membuka pintu. Tujuh tubuh terbaring melingkar di atas tikar. Istri Darto bernapas lemah, sedang anaknya menggenggam lonceng kayu. Lima korban lain memiliki nomor yang sama dengan goresan pada rumah ketiga.
Darto berlari menghampiri keluarga. Reksa menahannya sebelum menyentuh.
'Pantulan mereka masih di gudang. Kita nggak tahu apa yang bangun kalau tubuhnya digerakkan.'
Darto menangis sambil berlutut di antara dua tikar. Dia memanggil nama istrinya, Lilis, dan anaknya, Bayu. Kelopak mata keduanya bergerak, tetapi tidak terbuka.
Meisin memeriksa lantai. Ada garis berbentuk persegi di tengah lingkaran. Owen menunjuk papan paling gelap.
'Tubuh kedelapan di bawah sana.'
Mereka mengangkat papan menggunakan palu. Sebuah peti batu tersembunyi di bawah rumah. Di dalamnya terbaring tubuh perempuan tua tanpa wajah. Kulit tempat mata, hidung, dan mulut seharusnya berada benar-benar rata.
Pada dadanya tertulis nama Raras.
'Itu bukan tubuh ibuku,' suara Bu Rena keluar dari radio. Dia mendengarkan dari rumah sakit. 'Tubuh Mbah Raras terbakar.'
'Ki Bagong membuat wadah menggunakan namanya,' simpul Meisin.
Di samping tubuh tanpa wajah terdapat mangkuk berisi darah dan bingkai kosong berbentuk sama seperti cermin tua. Darah tersebut masih hangat. Pak Leo mengenali saputangan yang terendam di dalamnya sebagai kain yang dipakai membungkus luka Bu Rena.
Tiruan Meisin rupanya tidak hanya mencuri kotak cermin dari kantor polisi. Dia juga mengambil darah yang tertinggal.
'Mereka punya darah penjaga dan bingkainya,' ucap Darto. 'Yang kurang cuma cermin asli.'
Pintu rumah menutup sendiri.
Ketujuh tubuh di atas tikar membuka mata bersamaan. Bola matanya putih tanpa pupil.
Lilis menoleh kepada suaminya. Namun suara Ki Bagong keluar dari mulutnya.
'Selamat datang di rumah tanpa nama. Siapa yang ingin kalian bawa pulang lebih dulu?' (*)