Owen membaca kalimat dalam buku Meisin berkali-kali. Aku menolak Owen karena aku tidak mau dibeli. Dia tahu kejadian yang melahirkan kalimat itu, tetapi Meisin hanya memiliki fakta tanpa perasaan.
'Aku bisa ceritakan kenapa kamu membenciku,' ucap Owen.
'Kalau cuma kamu yang cerita, aku nggak tahu mana yang benar dan mana yang menguntungkanmu.'
'Aku akan mengatakan bagian yang paling merugikanku.'
Mobil berhenti di rumah sakit sebelum Owen sempat melanjutkan. Luka Meisin, Reksa, Erly, dan Darto harus dirawat. Polisi juga ingin meminta keterangan terpisah mengenai kejadian di gudang.
Dokter tidak dapat menjelaskan noda hitam pada lengan Meisin. Hasil pemeriksaan menunjukkan tubuhnya hanya kelelahan dan kehilangan sedikit darah. Namun setiap kali lampu pemeriksaan diarahkan ke kulit, noda itu bergerak menjauhi cahaya.
Bu Rena meminta putrinya dirawat. Meisin menolak menginap karena tubuh Owen sedang dibawa ke Kampung Dukun. Mereka akhirnya setuju menunggu sampai luka dibersihkan dan polisi menyelesaikan pertanyaan awal.
Di ruang tunggu tanpa cermin, Owen berdiri di depan Meisin.
'Hari pertama kita bertemu, kamu dikejar penagih utang ayahmu,' katanya. 'Aku menawarkan uang supaya kamu menuruti keinginanku. Kamu menolak karena aku menganggap semua orang bisa dibeli.'
Meisin membuka buku catatan dan menulis.
'Lalu?'
'Aku membuat tantangan. Aku bilang kamu akan datang sendiri kepadaku dalam seminggu.'
'Dan waktu aku tetap menolak, kamu pergi ke Ki Bagong.'
'Benar.'
'Kamu menggunakan utang keluargaku untuk mendekatiku?'
Owen menatap lantai. 'Aku membayar sebagian utang agar orang tuamu menganggapku penyelamat. Aku juga memakai pekerjaanmu untuk memaksamu terus bertemu denganku.'
Reksa yang mendengar dari kursi seberang mengepalkan tangan. 'Kamu belum pernah bilang bagian itu.'
'Karena aku tidak menganggapnya salah saat masih hidup.'
'Sekarang?'
'Sekarang aku melihat Ki Bagong melakukan hal yang sama kepadaku. Dia menawarkan apa yang paling kuinginkan, lalu memakai keinginanku sebagai tali.' Owen memandang Meisin. 'Itu bukan alasan. Aku tetap memilih menandatangani ritualnya.'
Meisin mencatat semua pengakuan tersebut. Kebencian yang hilang belum kembali, tetapi dia memiliki alasan baru untuk menjaga jarak. Kali ini alasan itu dibangun dari fakta yang Owen ucapkan sendiri, bukan perasaan yang ditanam Ki Bagong.
'Kalau nanti aku lupa lagi, jangan bilang aku pernah mencintaimu atas kemauan sendiri,' pesan Meisin.
Wajah Owen menegang. 'Kamu pernah memilih melindungiku.'
'Melindungi seseorang bukan berarti menyerahkan hidup kepadanya.'
'Aku tahu.' Jawaban itu keluar berat, seolah setiap kata melawan sifat lamanya. 'Aku akan bilang pernikahan kita terjadi karena aku curang.'
Meisin meminta Reksa memastikan pengakuan tersebut. Sahabatnya menceritakan bagaimana sikap Meisin berubah mendadak setelah pertemuan dengan Owen, bagaimana dia menjauh dari keluarga, dan bagaimana senyumnya terlihat seperti milik orang lain. Reksa juga mengakui kecemburuannya sendiri membuat beberapa penilaian menjadi tidak netral.
'Aku bisa memberi tahu apa yang kulihat,' kata Reksa. 'Tapi aku nggak akan bilang kamu harus membenci atau memilih siapa. Perasaanmu tetap milikmu, meski sebagian ingatannya hilang.'
Meisin menuliskan kalimat itu. Lalu dia meminta Owen berjanji tidak mendekat jika suatu hari Meisin tidak mengenalinya.
'Kamu menyuruhku meninggalkanmu saat kamu kehilangan ingatan?' tanya Owen.
'Aku menyuruhmu memperkenalkan diri dengan jujur dan menunggu izinku. Jangan mengaku sebagai suami yang harus kuturuti.'
Owen berjalan mondar-mandir. Dahulu dia bahkan tidak menerima penolakan dari Meisin yang mengingat semuanya. Kini perempuan itu meminta jaminan untuk masa ketika dirinya mungkin tidak dapat mempertahankan batas.
'Aku akan menunggu izinmu,' jawab Owen akhirnya.
'Tulis sendiri.'
Owen menorehkan janji di bawah catatan Meisin. Tulisan arwah itu tipis, tetapi Reksa dapat melihatnya ketika lampu dimatikan. Meisin memotret halaman sebagai salinan, lalu mengirimkannya kepada Bu Rena dan Reksa agar tidak hanya tersimpan pada satu tempat.
Erly datang setelah menghadapi tiruannya di kantor. Makhluk itu telah membawa surat kepemilikan Kampung Dukun, stempel perusahaan, serta kartu akses garasi. Seorang pegawai sempat mencoba menghentikan, tetapi tiruan Erly mengetahui seluruh kode yang pernah dilihat Owen.
'Saya membekukan akses perusahaan dan memberi tahu keamanan bahwa ada penipu memakai identitas saya,' jelas Erly. 'Tapi dia sudah menggunakan stempel untuk memindahkan hak pengelolaan kampung kepada nama Tuan Owen.'
'Kenapa itu penting?' tanya Meisin.
Darto menjawab, 'Ki Bagong butuh pemilik hidup atau mati untuk mengizinkan ritual di tanah orang lain. Dengan jasad Owen dan surat itu, dia punya keduanya.'
Polisi menemukan ambulans yang hilang di dekat jembatan menuju kampung. Dua petugas medis ditemukan pingsan, tetapi masih hidup. Seluruh kaca kendaraan dicat hitam dari dalam. Kantong jenazah kosong.
Keterangan petugas medis memberikan petunjuk tanpa bantuan vision. Mereka mengingat seorang pria berwajah Erly menghentikan ambulans dengan surat pemindahan resmi. Setelah pintu dibuka, jasad Owen duduk sendiri dan menyentuh kaca. Semua orang langsung kehilangan kesadaran.
Rekaman pelacak kendaraan menunjukkan ambulans berhenti selama tujuh menit. Setelah itu sebuah truk pengangkut cermin bergerak dari jembatan menuju jalan desa. Polisi mengirim tim menyusul, tetapi Darto memperingatkan jalan utama berakhir pada tiga persimpangan yang selalu kembali ke tempat sama bila pengemudi mengikuti kaca penunjuk.
'Ada jalur tanah di belakang kebun karet,' katanya. 'Dulu kami membawa korban lewat sana supaya nggak terlihat warga. Jalurnya nggak punya lampu atau genangan, jadi pantulan sulit memindahkan arah.'
Meisin meminta Darto menggambar peta pada kertas. Dia juga meminta polisi menutup akses jalan utama tanpa memasuki desa sampai mereka tahu berapa banyak warga yang masih dikuasai Ki Bagong.
Meisin ingin memakai serpihan untuk melihat siapa yang mengambil tubuh. Reksa langsung menutup tangannya.
'Kita sepakat kamu nggak menggunakan vision lagi.'
'Jejaknya mungkin hilang.'
'Polisi masih punya anjing pelacak, kamera jalan, dan saksi. Kita gunakan semua itu dulu.'
Meisin menarik napas dan menyimpan serpihan. Menolak kemampuan sendiri terasa lebih sulit daripada menggunakannya. Vision dapat memberi jawaban dalam beberapa detik, sedangkan cara biasa membutuhkan waktu. Namun setiap jawaban cepat mengambil bagian dirinya.
Mereka berangkat menuju lokasi ambulans setelah polisi memberi izin. Di sana, anjing pelacak menemukan bau lumpur yang bergerak ke jalan setapak. Erly melihat bekas roda kendaraan lain. Pak Leo menemukan sobekan kuitansi pengiriman dari perusahaan cangkang milik Ki Bagong.
Tanpa vision, mereka tetap mendapatkan arah.
Telepon Erly berdering menggunakan nomor dirinya sendiri. Suara tiruannya terdengar dari seberang.
'Bawa cermin ke Kampung Dukun. Tubuh Owen akan dikembalikan setelah pemilik tanah membuka pintu.'
'Kami nggak akan membawa apa pun,' kata Meisin.
'Kalau begitu dengarkan suamimu memilih tubuh baru.'
Terdengar suara lonceng kecil, lalu sambungan berubah menjadi video. Jasad Owen berdiri di tengah gubuk. Di sekelilingnya terdapat tujuh tubuh yang terbaring di atas tikar, termasuk istri dan anak Darto.
Ki Bagong tidak terlihat. Tiruan Erly berdiri di samping tubuh Owen sambil memegang surat tanah.
'Salah satu dari mereka akan bangun memakai nama Owen,' katanya. 'Yang lain menjadi keranda bagi enam wajah.'
Darto merebut telepon. 'Jangan sentuh keluarga saya!'
Video berhenti. Owen memegang dadanya dan jatuh berlutut. Hubungan dengan jasadnya membuat dia melihat sesuatu yang tidak muncul pada layar.
'Ada tubuh kedelapan di bawah lantai,' ucap Owen. 'Tubuh itu nggak punya wajah, tapi Ki Bagong memanggilnya Raras.' (*)