Petugas medis memeriksa Owen di halaman gudang. Mereka tidak menemukan denyut, napas, atau suhu tubuh manusia. Begitu arwah Owen melepaskan kendali, jasadnya jatuh seperti mayat biasa.
'Tubuh ini harus dikembalikan ke kamar jenazah,' kata seorang petugas. 'Kami juga perlu menjelaskan kenapa jasad bisa berada di sini.'
Tak seorang pun mencoba menjelaskan bagian yang baru mereka lihat. Polisi memasukkan tubuh Owen ke kantong hitam tanpa jendela, lalu menempatkannya dalam ambulans di bawah pengawalan.
Arwah Owen berdiri di samping Meisin. Benang hitam masih menghubungkan dadanya dengan kendaraan.
'Jaka ikut berada di dalam tubuhku,' ucapnya. 'Jangan biarkan ambulans melewati permukaan air.'
Meisin hendak menyampaikan peringatan itu kepada polisi, tetapi pandangannya berputar. Bekas lima jari hitam di lengannya sudah mencapai siku.
'Mei!' Reksa menangkap tubuhnya sebelum jatuh.
Saat sadar, Meisin berada di dalam mobil polisi dengan kepala bersandar pada tas. Bu Rena dan Pak Leo telah dibawa dari kantor polisi untuk menemuinya. Cermin tua tetap berada dalam kotak kayu di pangkuan ibunya.
'Kamu pingsan hampir sepuluh menit,' kata Bu Rena. 'Bekas di tanganmu terus naik.'
'Aku cuma kelelahan.'
'Bukan.' Suara Mbah Raras terdengar dari dalam kotak. 'Dia sudah membayar harga.'
Bu Rena membuka penutup sedikit. Wajah perempuan tua itu tampak lebih kabur daripada sebelumnya.
'Harga apa?' tanya Reksa.
'Masa lalu nggak memberikan benda secara gratis. Setiap kali Meisin membawa sesuatu keluar, satu ruang dalam ingatannya ditinggalkan sebagai gantinya.'
Meisin teringat kertas alamat, kunci kuningan, dan paku hitam yang ditarik dari vision. Tiga benda telah berpindah dari kejadian lampau ke tangannya.
'Ingatan mana yang hilang?' tanyanya.
'Hanya dia yang bisa mengetahuinya.'
Bu Rena menggenggam tangan putrinya. 'Kamu masih ingat lagu yang selalu Ibu nyanyikan kalau kamu sakit?'
Meisin membuka mulut, tetapi tidak ada nada yang muncul. Dia tahu ibunya sering duduk di tepi ranjang. Dia bahkan ingat kain selimut bermotif bunga. Namun suara serta lagu Bu Rena hilang seperti bagian kosong pada rekaman.
Reksa bertanya tentang hari pertama mereka bertemu di sekolah. Meisin mengingat mereka berteman sejak kecil, tetapi tidak mampu melihat wajah Reksa pada hari itu.
'Aku tahu kamu menjatuhkan bekal di depan kelas,' ucap Meisin ragu.
'Itu kejadian kelas lima. Kita bertemu waktu kelas satu.'
Kepanikan mulai memenuhi dada Meisin. Dia memeriksa ingatan lain. Nama orang tuanya masih ada. Reksa tetap dikenali. Melly, Owen, kecelakaan, serta pernikahan arwah belum hilang. Namun dia tidak tahu bagian mana yang akan menjadi kosong berikutnya.
'Bisa dikembalikan?' tanya Owen.
Mbah Raras memandangnya dari cermin. 'Kalau benda yang diambil dikembalikan ke waktu asal sebelum pintu ditutup. Tapi setiap benda itu sekarang menahan jalan agar Ki Bagong nggak memindahkan seluruh gudang.'
'Jadi pilihannya ingatanku atau membiarkan dia bebas,' kata Meisin.
'Untuk sekarang.'
Mbah Raras meminta Bu Rena mengukur batas hitam pada lengan Meisin. Selama noda itu belum melewati bahu, ingatan yang hilang masih berupa potongan. Bila mencapai mata, Meisin bisa melihat masa lalu tanpa mampu membedakannya dari hidup sendiri. Dia mungkin terbangun sebagai seseorang yang dibentuk oleh ingatan orang lain.
'Jangan gunakan vision lagi sebelum kita tahu cara membayar dengan benda lain,' pesan Mbah Raras.
'Kalau nyawa seseorang terancam?'
'Itulah alasan kemampuan ini selalu terasa seperti hadiah. Ia membuat pemiliknya rela membayar sampai nggak ada diri yang tersisa.'
Permukaan cermin menggelap. Mbah Raras kehabisan tenaga atau sengaja menutup jalan agar Ki Bagong tidak mendengar lebih banyak.
Reksa mengambil buku catatan dari tas Erly. Dia meminta Meisin menulis seluruh fakta penting mengenai dirinya, keluarganya, dan kejadian sejak bertemu Owen. Bila ingatan lain hilang, dia setidaknya memiliki tulisan yang dibuat dengan tangannya sendiri.
'Aku bisa bantu mengisi kejadian masa kecil,' ucap Reksa.
'Dan aku bisa menjelaskan semua yang terjadi sejak dia bertemu denganku,' tambah Owen.
Meisin menggeleng. 'Kalian boleh mengingatkan, tapi nggak boleh menulis siapa diriku berdasarkan versi kalian. Owen pernah mengubah pikiranku. Ki Bagong sekarang mengambil ingatanku. Aku nggak mau kehilangan diri karena orang-orang terdekat merasa lebih tahu.'
Mereka akhirnya menyepakati aturan. Setiap fakta harus didukung dua orang atau bukti yang pernah dibuat Meisin sendiri. Perasaan dan pilihan hanya boleh ditulis olehnya. Jika suatu hari dia tidak mengenali catatan tersebut, tak seorang pun berhak memaksa Meisin menerima hubungan hanya karena tertulis di sana.
Reksa menandatangani halaman aturan sebagai saksi. Setelah ragu cukup lama, Owen juga menorehkan namanya dengan ujung jari dingin. Tulisan arwah itu hanya tampak ketika buku diarahkan ke bayangan.
Meisin menulis nama lengkapnya. Di bawahnya dia mencatat bahwa Bu Rena serta Pak Leo adalah orang tuanya, Reksa sahabat masa kecil, dan Melly hantu yang membantunya sejak Padang Ilalang. Saat sampai pada Owen, pulpennya berhenti.
'Tulis bahwa aku suamimu,' kata Owen.
'Aku akan tulis yang sebenarnya.'
Meisin menuliskan bahwa Owen memaksanya mencintai melalui ritual, meninggal dalam kecelakaan, lalu menikahinya di alam arwah. Dia juga mencatat Owen mulai membantu menghentikan Ki Bagong, tetapi belum memperoleh maaf.
Owen membaca dari belakang bahunya. 'Kamu sengaja menulis bagian terakhir?'
'Supaya kalau ingatanku hilang, kamu nggak memanfaatkannya.'
Lelaki itu tersinggung. Namun setelah beberapa detik dia mengangguk. 'Adil.'
Erly menerima panggilan dari kantor. Dia pergi bersama dua polisi untuk menghadapi tiruannya, sedangkan Meisin, Reksa, Darto, dan orang tuanya dibawa ke rumah sakit guna memeriksa luka.
Perjalanan baru berlangsung lima belas menit ketika Erly menelepon. Tiruannya sudah kabur dari kantor dengan surat kepemilikan tanah Kampung Dukun dan stempel perusahaan Owen. Sebelum pergi, makhluk itu menelepon petugas ambulans menggunakan suara Erly.
'Dia mengubah tujuan pengiriman jasad Tuan Owen,' kata Erly. 'Ambulansnya nggak pernah sampai ke rumah sakit.'
Polisi melacak kendaraan. Sinyal terakhir muncul di jalan menuju Kampung Dukun, lalu hilang setelah melewati jembatan kecil.
Darto memegang kepalanya. 'Tubuh istri dan anak saya disimpan di kampung. Ki Bagong membawa Owen ke sana untuk memilih wadah lain.'
'Kenapa butuh surat tanah?' tanya Pak Leo.
'Karena setelah gudang dibeli perusahaan Owen, jalan menuju kampung ikut tercatat sebagai aset. Nama pemilik tanah bisa dipakai sebagai izin dalam ritual.'
Owen menatap jalan di luar. Benang yang menghubungkannya dengan tubuh tertarik ke arah timur sampai dadanya hampir robek.
'Mereka sudah membawa tubuhku melewati gerbang kampung,' ucapnya.
Meisin membuka kembali buku catatan. Dia ingin mencatat tujuan mereka, tetapi satu kalimat pada halaman sebelumnya terasa asing.
Aku menolak Owen di gedungnya karena aku tidak mau dibeli.
Meisin dapat membaca kalimat itu, namun tidak lagi mengingat keberanian yang dirasakannya saat mengucapkan penolakan. Yang tersisa hanya gambar Owen tersenyum dan menyerahkan uang kepada keluarganya.
'Reksa,' panggilnya dengan suara gemetar. 'Aku tahu aku pernah menolak Owen. Tapi aku nggak ingat kenapa aku sangat membencinya saat itu.'
Owen berdiri membeku. Akibat perbuatannya kini bukan hanya merampas kehendak Meisin sekali. Ritual itu perlahan menghapus alasan perempuan tersebut pernah berkata tidak. (*)