Enam sosok berjalan keluar dari barisan cermin. Wajah mereka sama dengan orang-orang yang berada di gudang. Ada dua Meisin, satu Reksa, satu Erly, satu Darto, dan seorang polisi.
Tiruan Meisin yang membawa kotak kayu menunjuk Meisin asli.
'Tangkap dia!' teriaknya. 'Dia yang keluar dari cermin!'
Para petugas mengangkat senjata. Mereka tidak tahu perempuan mana yang harus dipercaya. Meisin asli mengangkat kedua tangan, sementara Reksa berdiri di sampingnya.
'Jangan tembak siapa pun,' ucap Meisin. 'Peluru kalian nggak akan membedakan manusia dan arwah.'
'Aku Meisin yang asli!' sahut tiruannya. 'Reksa, aku yang bilang pohon mangga mendorongmu waktu kita kecil.'
Makhluk itu sudah mendengar percakapan mereka di mobil. Kenangan lama tidak lagi bisa menjadi ujian.
Reksa palsu mendekati Meisin. 'Mei, ikut aku. Kita keluar dari sini.'
Namun pantulannya pada pecahan kaca tidak memiliki mata. Meisin mundur dan memperingatkan Reksa asli.
Darto melihat tiruan dirinya sendiri. Keduanya memiliki luka di dahi dan pakaian yang sama. Dia membuka kancing baju, memperlihatkan cap angka sebelas yang masih bergerak di bawah kulit.
'Kalau kamu aku, tunjukkan capmu,' tantangnya.
Darto palsu meniru gerakannya. Angka sebelas memang terlihat di dada, tetapi garisnya diam seperti tinta biasa.
'Yang itu palsu!' seru Darto.
Polisi langsung menangkap tiruan tersebut. Begitu borgol menyentuh pergelangannya, tubuh palsu berubah menjadi lumpur dan menyusup ke sela lantai.
Kekacauan pecah.
Polisi palsu menerjang petugas terdekat. Erly palsu merebut radio, sedangkan dua Meisin tiruan bergerak dari arah berbeda menuju Meisin asli. Tujuan mereka bukan membunuhnya. Keduanya berusaha menangkap tangan Meisin yang masih terluka.
'Mereka butuh darahku!' teriak Meisin.
Owen berdiri di depan dirinya. Dengan tubuh mati yang sedang dia kuasai, dia menahan salah satu tiruan dan melemparkannya ke cermin. Makhluk itu memantul seperti manusia biasa, lalu bangkit sambil tertawa.
'Suami yang baik melindungi pintunya,' ejeknya.
Mata kiri Owen menghitam. Bayangan Jaka di dalam tubuhnya menyukai sebutan tersebut. Tangannya yang semula melindungi Meisin berbalik mencengkeram pergelangan perempuan itu.
'Owen, lepaskan!'
'Berikan darahnya,' desis suara Jaka dari mulut Owen.
Reksa menghantam lengan jasad itu menggunakan palu. Tulangnya patah, tetapi cengkeramannya tidak lepas. Meisin menatap mata cokelat yang masih tersisa.
'Kamu bilang akan menyuruh kami mengikatmu kalau kehilangan kendali. Buktikan ucapanmu!'
Tubuh Owen bergetar. Jarinya terbuka sedikit. Reksa menarik Meisin, sedangkan Erly melilitkan tali pada tangan Owen dan mengikatnya ke tiang besi.
'Jangan lepaskan aku sampai mataku kembali,' geram Owen dengan dua suara.
Meisin palsu yang membawa kotak kayu sudah mendekati cermin induk. Lima ukiran mata terlihat menyala dari celah kotak.
Bu Rena menelepon lagi. 'Kotaknya hilang dari kantor polisi, Mei. Perempuan yang menyerupaimu masuk ke layar televisi bersama benda itu.'
'Aku melihatnya.'
'Cermin hanya mengenali darah asli. Pakai kalimat penolakan.'
Meisin berdiri di depan tiruannya. 'Kalau kamu benar aku, ucapkan kalimat yang diajarkan Mbah Raras.'
Wajah palsu itu tersenyum. 'Darahku bukan utangmu. Namaku bukan pintumu. Anak dan ibuku bukan milikmu.'
Dia telah mendengarnya saat Bu Rena mengucapkan kalimat tersebut. Namun ada satu kesalahan yang membuat Meisin sadar.
'Aku belum punya anak,' ucapnya. 'Kalimat untukku bukan anak dan ibu. Harusnya ibu dan nenekku.'
Tiruan itu menjerit dan membuka kotak. Cermin tua diangkat menghadap Meisin. Lima mata pada gagangnya menyala, sedang mata keenam berkedip hendak terbuka.
Meisin tidak melihat permukaannya. Dia mengucapkan penolakan dengan suara lantang.
'Darahku bukan utangmu. Namaku bukan pintumu. Ibu dan nenekku bukan milikmu!'
Cahaya perak keluar dari cermin. Tubuh tiruan terbakar dari tangan sampai wajah. Kotak kayu terlepas.
Meisin palsu yang lain menarik kawannya menjauh sebelum cahaya menghabiskan tubuhnya. Keduanya berlari ke antara barisan kaca bersama Reksa palsu.
Reksa asli menangkapnya sebelum jatuh. Reksa palsu mencoba merebut, tetapi Darto menjegal kakinya. Erly menghantam makhluk itu memakai bagian belakang palu sampai tubuhnya retak seperti kaca.
Polisi menembakkan peluru ke langit-langit untuk menghentikan semua orang. Suaranya membuat cermin-cermin bergetar dan wajah pinjaman kehilangan bentuk sesaat. Meisin melihat mana manusia yang memiliki bayangan utuh.
'Yang memakai wajah Erly dan polisi itu palsu!' tunjuknya.
Petugas asli menjatuhkan tiruan berseragam. Tubuhnya pecah menjadi air hitam. Namun Erly palsu berhasil berlari menuju pintu utama sambil membawa radio serta ponsel seorang polisi.
Kedua tiruan Meisin dan Reksa palsu yang terluka mundur semakin jauh ke antara barisan cermin. Mereka tidak lenyap. Kini tubuhnya tetap padat meski tidak berada di depan pantulan.
'Akibat lonceng keenam,' ucap Darto. 'Mereka nggak perlu kaca untuk mempertahankan wajah.'
Bangunan kembali berguncang. Petugas memerintahkan semua orang keluar. Reksa membawa kotak cermin asli. Erly dan Darto membantu mengangkat Owen yang masih terikat pada tiang, lalu memindahkan talinya ke kedua tangan.
Meisin berjalan paling belakang. Di dalam setiap cermin, Mbah Raras menunjuk jalan yang aman. Namun bayangan Ki Bagong terus mengikuti di belakang perempuan tua itu.
Mereka akhirnya mencapai pintu utama. Udara laut terasa hangat setelah dingin gudang. Polisi menghitung orang yang keluar dan menemukan dua anggota terluka, tetapi semuanya masih hidup.
Para petugas memisahkan semua orang agar tidak ada peniru yang menyusup bersama kelompok. Mereka memeriksa sidik jari Meisin, Reksa, Erly, serta Darto. Hasil awal cocok dengan kartu identitas, tetapi Darto memperingatkan wajah pinjaman bisa menyalin kulit setelah lonceng keenam. Sidik jari mungkin tidak lagi cukup pada pertemuan berikutnya.
Meisin membuka kotak hanya selebar dua jari. Dalam cermin tua terlihat enam noda hitam bergerak di tepi pantulan. Dua noda sempat mengecil ketika tiruan Darto dan polisi kehilangan bentuk, lalu membesar lagi. Makhluk itu tidak mati. Mereka hanya kembali ke permukaan lain untuk menyusun tubuh.
'Berarti keenamnya masih bebas,' kata Reksa.
'Dan mereka membawa apa pun yang didengar serta dilihat wajah yang dipakai,' sahut Darto. 'Kalau tiruan Erly punya ponsel polisi, dia bisa masuk ke tempat yang selama ini aman.'
Meisin meminta polisi menggunakan pertanyaan berbeda setiap kali memeriksa identitas. Jawabannya tidak boleh disebut melalui telepon atau di depan kaca. Petugas yang tadi menganggap peringatannya aneh kini mencatat semua itu tanpa membantah setelah melihat rekan palsu pecah menjadi air hitam.
Owen meronta di dekat mobil. Mata cokelatnya sudah kembali, tetapi dia tetap meminta tali tidak dibuka.
'Jaka masih ada di dalam,' katanya. 'Dia mendengar rencana kita melalui tubuh ini.'
'Kalau begitu kita jangan bicara tujuan selanjutnya di dekatmu,' balas Meisin.
Wajah Owen menunjukkan kemarahan, kemudian penerimaan yang terpaksa. 'Lakukan apa yang perlu.'
Erly memeriksa ponselnya. Ada panggilan dari kantor Owen yang baru saja diterima oleh seseorang menggunakan nomor polisi curian.
Seorang pegawai melaporkan bahwa Erly telah datang ke kantor beberapa menit lalu. Dia memerintahkan seluruh arsip pribadi Owen, termasuk surat kepemilikan Kampung Dukun, diserahkan kepadanya.
Erly asli berdiri di sisi Meisin dengan wajah pucat.
'Tiruan saya sudah sampai ke perusahaan,' katanya.
Dari dalam kotak kayu terdengar suara Mbah Raras.
'Enam wajah harus dikembalikan sebelum lonceng ketujuh. Kalau satu saja tetap bebas, Ki Bagong bisa memakai namanya untuk membuka pintu.' (*)