Meisin menatap bayangan neneknya. 'Kalau penguncinya nggak dilepas, bagaimana kami menutup jalan ini?'
'Cabut tiga yang dipasang pada masa sekarang. Biarkan pengunci lama tetap berada di tempatnya. Miringkan induk sampai dia hanya memantulkan kegelapan.'
Suara Mbah Raras semakin lemah. Bayangan Ki Bagong berdiri di belakangnya dan menarik rambut perempuan tua itu.
'Cepat,' pinta Mbah Raras. 'Dan jangan biarkan darahmu menyentuh kaca. Kamu juga keturunan penjaga.'
Pantulan berubah gelap.
Meisin melihat telapak tangannya. Luka akibat serpihan dan paku belum menutup. Selama ini mereka mengira hanya darah Bu Rena yang dapat membunyikan lonceng keenam. Ternyata darah Meisin jauh lebih dekat dengan cermin induk.
Reksa membungkus tangannya menggunakan kain bersih. 'Mulai sekarang kamu jangan menyentuh apa pun.'
'Aku yang bisa melihat penguncinya.'
'Kamu tunjukkan, biar aku dan Erly yang cabut.'
Meisin hendak membantah, tetapi Owen ikut mendukung Reksa. 'Sekali ini saja, berhenti merasa harus melakukan semuanya sendiri.'
'Lucu mendengarnya dari kamu.'
'Aku tahu.'
Darto menunjukkan tiga titik pada sisi bingkai. Pengunci pertama tersembunyi di bawah lapisan cat, yang kedua berada di belakang kaki penyangga, dan yang ketiga tergantung pada rantai di atas cermin. Bila semuanya dilepas, bingkai dapat dimiringkan ke dinding tanpa mengganggu paku lama yang menahan Mbah Raras serta Ki Bagong di dalam.
Erly mengikis cat menggunakan ujung palu. Reksa merangkak ke belakang penyangga. Darto memanjat tangga besi untuk mencapai rantai.
Owen berdiri menjaga Jaka. Tubuhnya mulai kaku lagi. Warna hitam berulang kali menyebar di mata kiri, lalu menghilang ketika dia memusatkan perhatian pada Meisin.
'Kalau aku kehilangan kendali, jangan ragu ikat tubuh ini,' pesannya.
'Kamu dulu pasti marah kalau ada orang berani mengikatmu,' ucap Meisin.
'Aku masih marah. Bedanya, sekarang aku tahu kemarahanku bisa dipakai orang lain.'
Pengunci pertama tercabut.
Krak ...!
Cermin induk bergeser. Semua cermin kecil di ruangan menampilkan lorong menuju pintu utama. Dari radio terdengar polisi memanggil Meisin dan meminta jawaban. Mereka sedang berusaha menemukan jalan di antara barisan kaca.
'Kami di ruangan timur!' balas Erly. 'Ikuti tembok, jangan ikuti pantulan!'
Pengunci kedua terlepas. Bayangan istri serta anak Darto berkedip. Darto hampir turun untuk memeriksa mereka, namun perempuan di dalam kaca menggeleng dan menunjuk rantai di atas kepalanya.
'Selesaikan,' pinta istrinya tanpa suara.
Darto kembali memanjat.
Jaka tiba-tiba berhenti meronta. Kepalanya terkulai seperti arwah di dalamnya sudah pergi. Owen mendekat untuk memeriksa.
'Jangan!' teriak Meisin.
Terlambat. Bayangan Jaka keluar dari lantai dan masuk ke tubuh Owen melalui kakinya. Mata lelaki itu langsung berubah hitam seluruhnya.
Owen berbalik dan mencengkeram leher Reksa yang masih berada di belakang cermin.
'Satu tubuh, dua lelaki yang menginginkan perempuan sama,' ucap banyak suara dari mulutnya. 'Mari lihat siapa yang dia pilih.'
Meisin tidak mendekat. Dia memandang tepat ke mata hitam Owen.
'Aku nggak memilih salah satu dari kalian sebagai pemilikku. Owen, kalau kamu masih ada, ingat keputusanmu sendiri.'
Tangan pada leher Reksa bergetar. Owen memukul kepalanya sendiri ke bingkai sampai warna cokelat kembali muncul pada satu mata.
'Cabut penguncinya!' bentaknya.
Reksa terlepas dan segera membantu Erly menahan tubuh Owen. Meisin mengambil tali, tetapi sosok lain menerjang dari samping.
Tiruan Meisin yang tadi melawan Jaka ternyata bersembunyi di dalam salah satu cermin kecil. Kuku hitamnya menggores perban di telapak Meisin.
Sret ...!
Darah merembes keluar.
Semua orang membeku.
Tiruan itu tersenyum, lalu menarik tangan Meisin menuju cermin induk. Meisin menahan tubuhnya, tetapi lantai berubah licin oleh air sungai.
Reksa melepaskan Owen dan menangkap pinggang Meisin. Erly memukul wajah tiruan menggunakan gagang palu. Makhluk itu terhuyung, namun cengkeramannya tak terlepas.
Owen mengambil alih tubuhnya lagi. Dia meraih tiruan Meisin dari belakang dan mematahkan lengannya.
'Jangan pakai wajah istriku!' geramnya.
'Aku bukan istrimu!' bentak Meisin, bahkan dalam keadaan seperti itu.
'Kita bahas nanti!'
Owen melempar makhluk tersebut ke arah Jaka. Keduanya bertabrakan dan menghantam deretan cermin kecil. Tiruan Meisin berubah menjadi asap, kemudian masuk ke mulut Jaka. Tubuh lelaki tinggi itu menggembung seolah ada dua makhluk berebut tempat di dalamnya.
'Pengunci terakhir di masa sekarang sudah lepas!' teriak Darto dari atas tangga.
Rantai jatuh. Cermin induk miring perlahan menuju dinding. Reksa, Erly, dan Darto mendorong bingkainya menggunakan seluruh tenaga. Pantulan ruangan menyempit sedikit demi sedikit.
Meisin mengangkat tangan yang terluka agar darah tidak jatuh. Namun satu tetes terlepas dan berhenti di udara. Darah itu bergerak mendatar, tertarik menuju wajahnya yang masih terbentuk pada cermin induk.
'Tutup kacanya!' teriak Meisin.
Owen menerjang bingkai dan ikut mendorong. Tubuhnya yang sudah mati tidak merasakan lelah, tetapi arwah di dalamnya kembali menggigit kesadarannya. Mata hitam serta cokelat berganti setiap detik.
Cermin tinggal selebar telapak tangan sebelum menghadap dinding sepenuhnya.
Tetesan darah melesat melewati celah.
Ting ...!
Lonceng keenam berbunyi.
Suara nyaringnya membuat seluruh kaca di gudang retak bersamaan. Cermin induk berhasil menghadap dinding, tetapi sudah terlambat. Enam bayangan tanpa wajah pada cermin-cermin kecil mulai membentuk kulit, mata, serta mulut.
Salah satunya memakai wajah Reksa. Yang lain menjadi Erly, Darto, dan para polisi di luar. Dua bayangan terakhir sama-sama memilih wajah Meisin.
'Jangan percaya siapa pun yang keluar dari kaca!' seru Darto.
Pintu ruangan tanpa pintu terbuka. Tiga petugas asli muncul dan memerintahkan mereka keluar karena bangunan mulai berguncang. Meisin memeriksa pantulan sepatu mereka pada serpihan di lantai. Gerakannya sama, sehingga dia berani mengikuti.
Reksa dan Erly membantu Darto. Owen berjalan paling belakang dengan tubuh yang semakin sulit dikendalikan. Jaka serta dua tiruan Meisin telah menghilang dari ruangan.
Saat mereka melewati barisan cermin, suara-suara orang terdekat memanggil dari segala arah. Ada Bu Rena menangis, Pak Leo meminta pertolongan, bahkan Meisin mendengar suaranya sendiri menyuruh mereka berbelok. Dia terus menatap punggung Reksa dan tidak menjawab satu pun.
Radio salah satu petugas berbunyi.
'Korban perempuan sudah ditemukan di sisi utara,' lapor seseorang. 'Namanya Meisin Valery. Kami membawanya ke ambulans.'
Petugas di depan menoleh kepada Meisin yang berjalan bersamanya.
'Kalau Meisin ada di sini, siapa yang mereka bawa?'
Dari luar gudang terdengar Bu Rena berteriak melalui sambungan telepon.
'Mei, ada kamu di kantor polisi! Dia berdiri di depan Ibu!'
Meisin berhenti. Di antara dua baris cermin, enam sosok perlahan melangkah keluar menggunakan wajah orang-orang yang dia kenal.
Salah satu Meisin palsu tersenyum sambil membawa kotak kayu berisi cermin tua.
Lonceng ketujuh belum berbunyi, tetapi darah penjaga kini telah meninggalkan kantor polisi. (*)