Titik darah di cermin induk melebar membentuk garis. Dari dalam kaca terdengar lonceng bergetar, tetapi pemukulnya belum menyentuh sisi logam.
'Belum bunyi,' ucap Darto dari cermin kecil. 'Jangan biarkan darah lain masuk!'
Melalui panggilan video, Meisin melihat darah dari jari Bu Rena terus melayang ke arah kotak kayu. Pak Leo membungkus tangan istrinya menggunakan saputangan, namun kain itu langsung basah.
'Jauhkan Ibu dari cermin!' seru Meisin.
'Kotaknya nggak bisa dibuka,' jawab Pak Leo. 'Kuncinya bergerak sendiri.'
Melly muncul pada layar ponsel. Hantu itu memeluk kotak dari belakang dan berusaha menahan sesuatu yang menarik dari dalam. Kepalanya beberapa kali terlepas, tetapi dia memasangnya kembali tanpa berhenti.
'Cepat, Mei!' teriaknya. 'Ada tangan tua di dalam yang minta darah ibumu!'
Bu Rena mengangkat wajah. 'Ibu harus mengucapkan penolakan seperti yang dulu diajarkan Mbah Raras.'
'Ucapkan sekarang!'
'Darahku bukan utangmu. Namaku bukan pintumu. Anak dan ibuku bukan milikmu.'
Setiap kalimat membuat aliran darah bergerak lebih lambat. Namun noda pada cermin induk tidak menghilang. Sedikit darah sudah berhasil melewati jarak antara kantor polisi dan gudang.
Jaka menerjang. Reksa menyambutnya dengan palu, tetapi lelaki tinggi itu menangkap gagangnya. Satu pukulan membuat Reksa terseret sampai dekat cermin induk.
'Jangan lihat permukaannya!' peringat Darto.
Meisin menarik Reksa sebelum wajahnya menyentuh kaca. Erly melempar tas berisi cermin palsu ke sudut lain.
'Yang kalian cari ada di sana!'
Jaka langsung mengejar. Dia merobek kain batik dan mengangkat cermin rias. Retakan di permukaannya pecah. Tiruan Meisin yang terperangkap sejak perjalanan melompat keluar dan mencengkeram wajah Jaka.
'Kamu bukan Ki Bagong!' jeritnya.
Kedua makhluk berguling di lantai. Jaka mencoba merobek tubuh tiruan, sedang wajah palsu itu menggigit cap di lehernya. Pertarungan mereka memberi waktu kepada Reksa dan Erly untuk melepaskan tali pada jasad Owen.
'Paku di jantungnya nggak kelihatan,' kata Reksa.
Meisin mengangkat serpihan kaca tanpa menghadapkan wajah ke cermin induk. Pada pantulan kecil, sebuah paku hitam terlihat menembus dada Owen. Ujungnya terikat pada arwah lelaki tersebut.
'Gimana cara mencabutnya?' tanya Meisin.
Owen menyentuh ujung paku yang hanya dapat dilihat mereka. Wajahnya berubah saat memahami ikatan tersebut.
'Paku itu menempel pada keinginanku untuk kembali hidup.'
'Kalau kamu melepaskan tubuhmu, ikatannya longgar,' kata Meisin.
'Dan kalau aku nggak bisa masuk lagi?'
'Aku nggak bisa menjanjikan hidupmu. Aku juga nggak akan menikah lagi cuma supaya kamu mendapatkannya.'
Owen menatap jasadnya. Seluruh kekayaan, kuasa, dan ancaman yang dahulu dia gunakan tidak dapat membeli satu detak jantung pun. Ki Bagong menjadikan ketakutannya pada kematian sebagai rantai.
'Cabut,' ucapnya akhirnya.
'Kamu yakin?'
'Sebelum aku berubah pikiran.'
Owen memejamkan mata dan melepaskan genggaman pada benang yang menuju tubuhnya. Paku hitam muncul sedikit di dada jasad. Meisin melilit tangannya menggunakan kain, lalu menarik.
Panas membakar telapaknya.
'Sedikit lagi!' kata Reksa sambil menahan bahu jasad Owen.
Owen menjerit. Paku terlepas bersama semburan asap hitam. Arwahnya terempas ke belakang, kemudian tersedot masuk ke tubuh.
Jasad Owen menarik napas. Matanya terbuka dengan warna cokelat normal.
'Berapa lama kamu bisa menguasainya?' tanya Meisin.
'Aku nggak tahu.' Suara Owen masih serak, tetapi hanya satu suara yang keluar. 'Jadi jangan berdiri terlalu dekat.'
Dia bangkit dan menerjang Jaka. Dua tubuh mati saling menghantam dinding. Kali ini Owen mampu menahan lawannya, meski darah hitam mulai keluar dari hidungnya.
'Tubuh itu sudah bukan milikmu,' ejek Jaka. Suara Ki Bagong keluar bersama suaranya. 'Kamu menyerahkannya saat memintaku mencuri kehendak perempuan.'
Owen menghantam wajah Jaka ke lantai. Namun setiap pukulan membuat mata kirinya perlahan berubah hitam. Salah satu arwah di dalam tubuh mulai mengambil alih kemarahannya. Dia berbalik kepada Reksa, seolah kembali mengingat rasa cemburu yang belum pernah diselesaikan.
'Owen!' Meisin memanggil dengan tegas. 'Kamu memilih masuk untuk membantu, bukan menguasai siapa pun.'
Tangan Owen yang hampir menyerang Reksa berhenti. Dia memejamkan mata, menahan geraman banyak suara di tenggorokan, lalu mengikat Jaka menggunakan tali bekas kursinya.
'Bawa dia menjauh sebelum aku lupa alasan masuk ke tubuh ini,' katanya.
Erly dan Reksa menyeret Jaka ke sudut ruangan. Sosok itu tetap tertawa, tetapi tidak mampu membebaskan kedua tangan. Owen bersandar pada dinding. Setiap tarikan napas seolah menjadi pertarungan baru untuk mempertahankan namanya sendiri.
Meisin menuju cermin yang menahan Darto. Tak ada pintu atau kunci pada bingkainya. Lelaki itu menunjuk kunci kuningan di tangan Meisin.
'Buat jalan seperti tadi!'
Meisin menempelkan kunci pada permukaan kaca. Sebuah lubang muncul. Saat kunci diputar, kaca terbuka seperti daun pintu dan Darto jatuh keluar.
'Keluargamu?' tanya Erly.
Darto menunjuk dua cermin lain. 'Mereka terikat pada cermin induk. Kalau dibuka sekarang, arwah tanpa wajah ikut keluar.'
Di balik kaca, istri Darto memeluk anak mereka. Keduanya terlihat hidup, tetapi sudah terperangkap selama berbulan-bulan tanpa tubuh di dunia nyata. Darto bercerita Ki Bagong mengambil pantulan mereka dari cermin kamar mandi. Tubuh mereka masih bernapas di Kampung Dukun, dijaga seperti orang tidur, sementara kesadarannya dipakai untuk memaksa Darto bekerja.
'Jaka mencoba menyelamatkan mereka lebih dulu,' lanjut Darto. 'Aki membunuhnya dan memasukkan penagih lama ke tubuhnya. Sejak itu saya menurut karena nggak mau keluarga saya bernasib sama.'
'Kalau tubuh mereka ada di Kampung Dukun, memecahkan kaca ini nggak otomatis menyelamatkan mereka,' kata Erly.
Darto mengangguk dengan mata merah. Dia ingin membawa cermin mereka keluar, tetapi dua bayangan tanpa wajah menempel di belakang istri dan anaknya. Bila bingkai digerakkan, makhluk itu akan menggunakan mereka sebagai pintu.
'Saya sudah membuat banyak keluarga jadi korban demi keluarga sendiri,' ucap Darto. 'Kalau mereka nggak bisa keluar hari ini, setidaknya jangan biarkan Aki memakai anak saya sebagai tubuh berikutnya.'
Meisin tidak menjanjikan keselamatan yang belum mampu dia berikan. Dia hanya berjanji tidak akan meninggalkan bukti keberadaan mereka dan akan mencari tubuhnya di Kampung Dukun setelah jalan dari gudang ditutup.
Dia menjelaskan empat pengunci menahan cermin induk pada waktu sekarang. Tiga dapat dicabut dari belakang bingkai. Pengunci terakhir dipasang Ki Bagong puluhan tahun lalu dan hanya bisa diambil Meisin dari masa lalu.
Erly menemukan cap perusahaan pada bagian belakang bingkai. Gudang ini pernah dibeli melalui perusahaan cangkang yang kemudian masuk ke salah satu proyek Owen. Erly sendiri memproses dokumennya tanpa memeriksa bangunan karena transaksi dilakukan sebelum dia menjadi asisten utama.
'Ki Bagong bukan baru memilih Tuan Owen setelah bertemu Meisin,' katanya. 'Dia sudah menyiapkan kepemilikan gudang supaya semua benda ini berada di bawah nama Tuan.'
'Jadi saat Owen menandatangani ritual, dia juga dianggap pemilik pintunya,' simpul Reksa.
Jebakan itu telah disusun jauh sebelum Owen mengenal Meisin. Namun Ki Bagong tetap membutuhkan kesombongan Owen, utang Pak Leo, dan darah keluarga Bu Rena agar semua bagiannya bergerak.
'Kalau semua dilepas, apa yang terjadi pada Mbah Raras?' tanya Meisin.
'Saya nggak tahu. Bisa bebas, bisa ikut pecah bersama jalan itu.'
Telepon kembali bergetar. Bu Rena menunjukkan jarinya yang sudah berhenti berdarah. Kotak kayu juga diam setelah kalimat penolakan diucapkan.
'Kami aman untuk sementara,' katanya. 'Keluar dari sana sekarang.'
Darto justru menatap noda pada cermin induk. 'Belum aman. Darahnya sudah sampai. Lonceng keenam cuma membutuhkan wajah keturunan penjaga untuk menyelesaikan panggilan.'
Meisin buru-buru memunggungi cermin besar. Namun noda merah telah membentuk wajahnya pada permukaan kaca.
Pemukul lonceng bergerak satu kali, berhenti hanya sejengkal dari logam.
Dari dalam pantulan, Mbah Raras menempelkan kedua telapak tangannya ke kaca.
'Jangan lepaskan pengunci terakhir,' pintanya. 'Kalau aku keluar, dia ikut keluar bersamaku.' (*)