Petugas palsu mengetuk kaca mobil. Senyumnya tidak berubah, tetapi pantulan di genangan air mulai memanjat sisi kendaraan menggunakan tangan dan kaki.
'Selamat pagi. Turunkan kacanya,' pinta lelaki itu.
Erly memasukkan gigi mundur. Dua orang berseragam lain keluar dari pos jaga dan berdiri menghalangi jalan. Wajah mereka sama persis, seolah Ki Bagong hanya memiliki satu contoh untuk ditiru.
'Pegangan!' seru Erly.
Mobil melaju mundur. Petugas pertama menempel di kap, sedang bayangannya merayap menuju kaca depan. Owen menerjang bayangan tersebut dari dalam. Kedua arwah terlempar menembus pagar.
Reksa membuka jendela sedikit, lalu melempar kain hitam ke genangan. Begitu permukaan air tertutup, dua polisi lain berkedip dan berubah menjadi asap. Tubuh yang menempel pada kap ikut menghilang, meninggalkan seragam kosong.
Erly menghentikan mobil setelah cukup jauh dari gerbang. Pada saat bersamaan, telepon dari polisi masuk. Petugas asli baru berbelok ke Jalan Pesisir Lama dan meminta mereka menunggu di tempat aman.
'Yang di depan gudang bukan anggota mereka,' kata Erly.
'Kita sudah tahu,' balas Reksa sambil melihat seragam kosong.
Dua mobil polisi asli tiba beberapa menit kemudian. Meisin menunjukkan video Darto, rekaman penculikan tubuh Owen, dan jendela lantai dua tempat lelaki itu terlihat. Para petugas memutuskan masuk melalui gerbang depan, sedangkan satu orang menjaga mobil mereka.
Meisin tidak menjelaskan tentang wajah palsu. Dia hanya memperingatkan agar petugas tidak berjalan sendirian dan tidak mengikuti suara dari cermin. Tatapan mereka menunjukkan ketidakpercayaan, tetapi keberadaan seragam kosong cukup membuat mereka berhati-hati.
Pintu utama gudang dibuka menggunakan pemotong rantai. Bau debu, air laut, dan bangkai menyergap dari dalam. Ratusan cermin berdiri berbaris di ruangan luas. Sebagian ditutup kain putih, sebagian lagi menghadap dinding.
'Darto!' panggil seorang petugas.
Suara pukulan menjawab dari lantai atas.
Brak ... brak ...!
Petugas menyebar menuju tangga. Meisin, Reksa, dan Erly diminta menunggu di dekat pintu. Namun Owen berjalan ke arah berlawanan.
'Tubuhku bukan di atas,' ucapnya. 'Aku merasakannya di balik dinding sebelah timur.'
Meisin memberi tahu seorang petugas bahwa dia melihat jejak lumpur menuju sisi timur. Lelaki itu memeriksa, lalu menemukan bekas telapak kaki yang memang menghilang di depan tembok tanpa pintu.
'Tunggu di sini. Saya panggil tim lain,' katanya.
Baru petugas itu berbalik, kain pada cermin terdekat jatuh sendiri. Permukaannya memperlihatkan Darto sedang memukul-mukul kaca.
'Saya di sini!' teriak Darto dari dalam pantulan. 'Jangan naik ke lantai dua. Itu Jaka memakai wajah saya!'
Terlambat. Dari atas terdengar para petugas memanggil bahwa korban sudah ditemukan. Sosok yang tampak seperti Darto berdiri di jendela dan mengangkat kedua tangan.
Meisin menyalakan radio milik petugas yang tertinggal. 'Orang di lantai dua palsu! Jangan biarkan dia mendekati pantulan!'
Teriakan dan suara tembakan meledak dari atas. Seluruh kain penutup cermin bergerak bersama, seperti tertiup angin besar.
Radio petugas berbunyi. Salah satu anggota melaporkan bahwa Darto palsu berubah menjadi bayangan saat hendak diborgol. Bayangan itu masuk ke kaca helm dan membuat seorang petugas menyerang rekannya sendiri. Tim di lantai atas diperintahkan mundur ke halaman sambil membawa anggota yang terluka.
'Semua orang keluar dari bangunan!' perintah suara di radio. 'Ulangi, seluruh petugas keluar!'
Petugas yang menjaga Meisin mengajak mereka kembali ke pintu utama. Namun ketika dia menyentuh bahu Reksa, pantulan wajahnya pada cermin di samping justru menunjukkan Jaka.
'Jangan ikut dia,' peringat Owen.
Meisin mengangkat serpihan kaca. Petugas itu mundur ketakutan, bukan karena pantulannya terbongkar, melainkan karena dia benar-benar manusia dan baru melihat wajah lain menempel pada bayangannya.
'Ada sesuatu di dalam kaca yang meniru saya,' katanya dengan suara gemetar.
Reksa menyuruhnya menyusul rekan-rekannya. Bila dia tetap berada di dekat cermin, wajah Jaka bisa menguasainya. Petugas tersebut ragu meninggalkan warga sipil, tetapi radio kembali memanggil bantuan. Akhirnya dia pergi sambil berjanji menjaga pintu utama tetap terbuka.
Begitu langkahnya menjauh, semua cermin di antara mereka dan pintu masuk berputar sendiri. Jalan keluar lenyap di balik barisan pantulan.
Owen menunjuk tembok timur. 'Buka sekarang atau tubuhku dipindahkan.'
'Temboknya nggak punya pintu,' kata Reksa.
Serpihan kaca di tangan Meisin menunjukkan vision. Gudang yang sama terlihat puluhan tahun lebih muda. Ki Bagong berdiri bersama beberapa pekerja, mengawasi mereka memasang dinding di depan sebuah ruangan.
Sebelum batu bata terakhir dipasang, sang dukun menyelipkan kunci kuningan ke dalam adukan semen.
'Ruangan tanpa pintu hanya bisa dibuka oleh orang yang mengambil kunci sebelum pintunya dihilangkan,' ucap Ki Bagong kepada seorang pekerja. 'Kalau penjaga datang, biarkan darahnya mengingat jalan.'
Meisin memasukkan tangannya lebih dalam ke vision. Rasa panas menyambar sampai siku. Dia meraba adukan semen basah dan meraih kunci sebelum batu bata menutupnya.
Ketika pandangan kembali, kunci kuningan telah berada di telapak tangannya. Bekas lima jari hitam pada pergelangan menjalar naik seperti akar.
'Tanganmu!' Reksa hendak mengambil kunci.
'Jangan sentuh. Aku masih bisa menahannya.'
Meisin menempelkan kunci pada tembok. Sebuah lubang kunci muncul di antara batu bata. Saat kunci diputar, garis berbentuk pintu tergambar oleh cahaya merah.
Klik ...!
Sebagian dinding bergerak terbuka.
Di baliknya terdapat ruangan bundar. Jasad Owen terikat pada kursi menghadap sebuah cermin setinggi dua lantai. Permukaannya kusam dan penuh retakan, tetapi bayangan Mbah Raras tampak berdiri di bagian paling dalam.
Jaka berada di belakang kursi. Tubuh lelaki tinggi itu mulai membusuk. Di bawah kulit wajahnya bergerak sesuatu yang berusaha keluar.
'Kalian membawa cerminnya?' tanya Jaka.
Erly mengangkat tas berisi bungkusan palsu. 'Lepaskan Tuan Owen dan Darto dulu.'
Jaka tertawa. 'Darto sudah memilih keluarganya.'
Enam cermin kecil mengelilingi kursi Owen. Dalam dua di antaranya, seorang perempuan dan anak lelaki menangis sambil memanggil Darto. Cermin ketiga menunjukkan Darto asli terikat di dalam ruangan gelap. Tiga lainnya hanya berisi bayangan tanpa wajah.
Owen menerjang tubuhnya sendiri, berusaha masuk. Begitu arwahnya menyentuh dada jasad, seluruh tali menegang dan melemparkannya kembali.
'Ada paku di jantungku,' geram Owen. 'Cabut!'
Meisin melihat noda hitam di dada jasadnya. Namun sebelum dia bergerak, Jaka menyerang. Reksa menahan lengannya, sementara Erly menghantam lutut lelaki itu menggunakan palu.
Tulang Jaka patah dengan bunyi keras, tetapi tubuhnya tetap berdiri. Dia mendorong Erly ke cermin kecil. Separuh lengan sang asisten tersedot masuk.
Meisin menempelkan serpihan kaca ke punggung Jaka. Puluhan wajah muncul di kulitnya. Semuanya menjerit terkena pantulan sendiri.
Reksa menarik Erly sampai lengannya bebas. Mereka mundur keluar ruangan, sedangkan Jaka menutupi wajah dengan kedua tangan.
Telepon Meisin berdering. Pak Leo melakukan panggilan video dari kantor polisi. Bu Rena terlihat duduk di belakangnya dengan cermin tua masih berada dalam kotak kayu.
'Mei, tangan ibumu tiba-tiba terluka!' seru Pak Leo.
Pada layar, darah menetes dari jari Bu Rena meski kulitnya tidak tersayat. Tetesan itu tidak jatuh ke lantai. Darah melayang mendekati kotak cermin.
Di ruangan bundar, cermin induk bergetar.
Setitik darah muncul pada permukaannya. (*)