Erly tetap mengemudi, tetapi kecepatannya berkurang. Dia belum mengetahui apa yang dilihat Owen dan Meisin.
'Menepi pelan-pelan,' perintah Meisin. 'Jangan lihat kaca apa pun.'
'Kenapa?'
'Pantulanku nggak bergerak sama denganku.'
Tangan Erly menegang pada kemudi. Dia mengarahkan mobil ke bahu jalan tanpa melirik spion. Reksa melepas jaket dan menutup kaca di hadapannya. Meisin melakukan hal yang sama pada kaca samping.
Pantulan di spion tengah masih tersenyum.
'Kamu terlambat,' ucapnya tanpa membuka mulut.
Satu tangan keluar dari permukaan kaca. Jarinya menyerupai jari Meisin, lengkap dengan bekas luka di telapak akibat benang hitam. Tangan itu meraih bungkusan cermin palsu di dalam tas Erly.
Owen menerjang. Tubuh arwahnya menembus tangan tersebut, tetapi udara di dalam mobil mendadak membeku. Pantulan Meisin menoleh kepada Owen dan tersenyum lebih lebar.
'Kamu bahkan nggak bisa membedakan istrimu sendiri,' ejeknya memakai suara Meisin.
'Aku tahu mana Meisin.'
'Benarkah? Kamu cuma mengenal perempuan yang kamu paksa mencintaimu.'
Wajah Owen mengeras. Kalimat itu mengenai bagian yang paling mudah dilukai. Tangan dari kaca memanfaatkan kelengahannya untuk menarik tas.
Meisin menangkap talinya. Benda tersebut tersangkut di antara dunia nyata dan pantulan. Separuh tas terlihat di dalam spion, sedangkan separuh lagi berada dalam pelukannya.
'Reksa, pecahkan kacanya!' teriak Owen.
'Jangan!' sahut Bu Rena melalui telepon yang masih tersambung. 'Kalau pecahannya menyebar, wajah itu punya banyak jalan keluar.'
Reksa meraih kain penutup kepala kursi dan melemparkannya ke spion. Tangan palsu menghilang, tetapi tas tetap tertarik. Erly mematikan mesin, lalu membantu Meisin menarik sampai bungkusan cermin jatuh ke lantai mobil.
Semua orang menahan napas.
Dari layar ponsel yang mati, wajah Meisin lain muncul lagi.
'Dia bisa pindah!' seru Erly.
Layar mengembung seperti permukaan air. Sosok perempuan merangkak keluar, mula-mula kepala, kemudian kedua bahu. Rambut dan pakaian pasiennya sama persis dengan Meisin. Dalam beberapa detik, dua Meisin duduk berhadapan di dalam mobil.
'Jangan dengarkan dia!' teriak tiruan itu sambil menunjuk Meisin. 'Aku yang asli. Dia membawa serpihan dari dunia cermin!'
Reksa menatap keduanya dengan bingung. Bahkan noda darah pada jari mereka terlihat sama.
'Tanya sesuatu yang cuma kita tahu,' pinta Meisin.
'Waktu kita umur sembilan tahun, kamu jatuh dari pohon mangga karena mau mengambil layanganku. Apa yang kamu bilang ke Bu Rena?'
Tiruan Meisin menjawab lebih cepat. 'Kamu jatuh karena dikejar tawon.'
Meisin menggeleng. 'Aku bilang pohonnya mendorongmu karena takut dimarahi Ibu.'
Reksa langsung menarik Meisin asli ke sisinya. Tiruan tersebut menjerit, lalu kuku-kukunya berubah hitam. Dia menerkam Reksa.
Owen mendorong arwah itu dari samping. Keduanya menembus pintu mobil dan jatuh di jalan. Dari luar, pengemudi truk yang lewat hanya melihat kabut berputar di bahu jalan.
'Dia mendapatkan jawaban pertama dari ingatanku,' ucap Owen sambil menahan leher tiruan. 'Tapi aku nggak ada saat kalian bicara dengan Bu Rena.'
Tiruan Meisin menggigit lengannya. Asap hitam keluar dari luka Owen. Dia kehilangan pegangan, membuat sosok itu melompat kembali ke kap mobil.
Erly menyalakan mesin. Wajah palsu menempel di kaca depan, menghalangi pandangan. Mobil bergerak liar dan hampir masuk ke parit.
'Rem!' teriak Reksa.
Erly menginjak pedal. Mobil berhenti beberapa jengkal dari tiang beton. Tiruan Meisin menghantam kaca, tetapi tidak terlempar. Tubuhnya justru meresap ke permukaan dan muncul lagi melalui layar panel kendaraan.
Meisin membuka bungkusan kain batik. Cermin rias palsu berada di dalamnya. Dia menghadapkan kaca itu ke panel.
'Bukankah ini yang kamu cari?' tantangnya.
Tiruan tersebut mencium jejak perlindungan pada kain dan mengira benda itu cermin tua. Dia menerjang tanpa berpikir. Meisin memiringkan kaca tepat ketika wajah palsu keluar dari panel.
Wus ...!
Tubuh tiruan tersedot ke cermin rias. Reksa segera membungkusnya kembali, lalu mengikat kain menggunakan tali. Benda itu meronta di lantai mobil seperti seekor hewan terperangkap.
'Umpannya jadi lebih meyakinkan,' ucap Meisin.
'Dan lebih berbahaya,' balas Reksa.
Suara Meisin terdengar dari balik bungkusan. 'Aku bukan satu-satunya wajah yang keluar.'
Meisin meminta Erly merekam, lalu bertanya berapa banyak arwah yang sudah dapat meniru manusia. Tiruan itu tertawa dan mengatakan lonceng kelima memberi tujuh bayangan kesempatan memilih wajah. Satu mengambil wajah Meisin, sedangkan yang lain memilih orang yang pernah dilihat melalui mata Owen.
'Di mana tubuh Owen?' tanya Meisin.
'Di ruangan yang nggak punya pintu.'
'Darto dan keluarganya?'
'Satu berada di depan kaca. Dua berada di belakang. Pilih siapa yang mau kamu keluarkan lebih dulu.'
Jawaban tersebut terdengar seperti teka-teki yang sengaja dibuat Ki Bagong, tetapi setidaknya membuktikan keluarga Darto memang berada di gudang. Saat Reksa bertanya tentang lonceng keenam, cermin rias mendadak menjadi panas.
'Ketika darah penjaga menyentuh induk, semua wajah akan menjadi daging,' bisik tiruan itu. 'Setelah itu, siapa yang bisa membedakan orang pulang dari arwah yang memakai namanya?'
Sebuah retakan muncul dari dalam cermin. Meisin menambah simpul pada kain, kemudian memasukkan bungkusan ke kotak peralatan di bagasi. Mereka tidak bisa membiarkan tiruan tersebut lolos, tetapi membawanya ke Gudang Kaca mungkin juga berarti mengembalikan satu bagian ritual ke tempat asal.
'Kalau keadaan memburuk, tinggalkan kotak itu di luar,' putus Meisin. 'Jangan dibuka walau suaranya memanggil siapa pun.'
Owen masuk kembali ke kursi belakang. Luka gigitan pada lengannya tidak menutup. Dia menatap Meisin dan Reksa yang masih berdiri berdekatan.
'Kalian punya terlalu banyak kenangan bersama,' ucapnya dingin.
'Jangan mulai lagi,' kata Meisin.
'Aku cuma mengatakan kenyataan.'
'Kenyataannya, Reksa bisa membedakanku karena dia mendengarkan. Kamu dulu bahkan nggak peduli aku takut atau nggak selama kamu menang.'
Owen tidak membalas. Kali ini kecemburuannya kehilangan tempat untuk bersembunyi di balik alasan cinta.
Mereka melanjutkan perjalanan. Bu Rena memberi kabar bahwa polisi sudah membawa dirinya dan Pak Leo ke kantor terdekat. Cermin asli disimpan dalam kotak arsip kayu, jauh dari kaca. Melly bersembunyi di bayangan Bu Rena agar tidak terpisah.
Kabut semakin tebal saat Gudang Kaca terlihat. Bangunannya besar dengan atap setengah runtuh. Seluruh jendela dicat hitam dari luar. Dua mobil polisi berhenti di depan gerbang, tetapi tidak ada petugas yang terlihat.
Erly membunyikan klakson sekali. Seorang polisi keluar dari pos jaga dan memberi tanda agar mereka masuk.
Meisin memperhatikan genangan air di dekat sepatu petugas itu. Tubuhnya berdiri tegak, namun pantulannya di air sedang membungkuk dan merangkak dengan empat kaki.
'Jangan buka pintu mobil,' bisik Meisin.
Polisi tersebut mendekat sambil tersenyum. Di lantai dua gudang, seseorang memukul jendela dari dalam.
Brak ... brak ...!
Darto muncul di balik kaca hitam. Darah mengalir dari dahinya. Dia menulis dua kata menggunakan telapak tangannya.
POLISI PALSU. (*)