'Jangan datang. Dia menunggumu.'
Peringatan dari wajah Mbah Raras membuat ruang makan kembali sunyi. Bu Rena menahan tangis sambil memeluk cermin, sedangkan Meisin berusaha memastikan sosok di dalamnya bukan tipu daya Ki Bagong.
'Kalau itu benar Nenek, suruh dia jawab sesuatu yang cuma Ibu tahu,' ucap Meisin.
Bu Rena mendekati permukaan kaca. 'Di mana Ibu menyembunyikan gelang merahku waktu aku dihukum?'
Wajah Mbah Raras menghilang. Sebuah jari kemudian menulis di atas embun.
Di bawah batu ketiga, belakang sumur. Kamu menuduh ayam membawanya.
Bu Rena menutup mulut. 'Nggak ada orang lain yang tahu.'
'Ki Bagong pernah tinggal bersama Nenek. Bisa saja dia dengar,' sahut Reksa, tetap berhati-hati.
'Nggak. Kejadiannya setelah Ki Bagong diusir.'
Meisin menyentuhkan serpihan yang dibawanya dari vision ke sudut cermin tua. Permukaan keduanya bergetar, lalu bayangan singkat muncul. Dia melihat Mbah Raras berada di lorong cermin yang sama dengan tempat Owen terbelenggu. Perempuan tua itu menulis peringatan menggunakan kukunya sendiri. Di belakangnya, bayangan Ki Bagong merayap di setiap dinding, berusaha membaca dari arah terbalik.
Mbah Raras menutupi kalimat berikutnya dengan telapak tangan agar sang dukun tidak melihat.
Jangan bawa cermin tangan. Pecahan induk sudah menunggu di gudang.
Vision berakhir sebelum Meisin dapat bertanya. Ujung jarinya berdarah karena serpihan menancap semakin dalam.
'Pesan Nenek asli,' simpul Meisin. 'Tapi ancaman Ki Bagong juga nyata. Dia menahan tubuh Owen dan Darto di sana.'
'Kamu nggak boleh pergi,' kata Bu Rena.
'Kalau aku diam di sini, dia akan datang mengambil Ibu.'
'Ibu yang akan pergi ke tempat lain. Kamu tetap di rumah.'
'Aku satu-satunya yang bisa mengambil benda dari vision. Ki Bagong mengincar kemampuan itu, tapi kemampuan yang sama mungkin bisa menghentikannya.'
Perdebatan mereka terhenti saat Erly menerima telepon dari polisi. Laporan mengenai Darto dan Jaka diterima sebagai penculikan serta pencurian jasad. Rekaman kamera sebelum rusak memperlihatkan kendaraan hitam meninggalkan rumah Owen menuju Jalan Pesisir Lama. Nomor pelatnya terdaftar atas nama perusahaan pengangkutan yang sudah tutup dua tahun lalu.
'Petugas sedang menuju Gudang Kaca,' jelas Erly. 'Tapi mereka meminta salah satu dari kita datang untuk menunjukkan lokasi terakhir kendaraan.'
Pak Leo akhirnya menyerahkan ponselnya. Pesan-pesan yang selama ini dia hapus ternyata masih tersimpan dalam folder sampah. Selain tagihan, terdapat foto Bu Rena sedang membawa cermin tua keluar dari rumah. Foto itu diambil dari seberang jalan tiga bulan lalu. Pesan terakhir dikirim beberapa menit setelah tubuh Owen menghilang.
Bawa anak dan cerminnya sebelum bayangan matahari menghilang. Utangmu lunas setelah darah penjaga menetes.
Di bawah pesan ada video pendek. Darto terlihat berlutut di dalam ruangan berdinding kaca. Seorang perempuan dan anak lelaki berdiri di balik cermin, memukul-mukul permukaan dari sisi yang tidak dapat mereka tembus. Wajah keduanya menghilang setiap kali kamera bergerak terlalu dekat.
'Itu keluarga Darto,' ucap Meisin. 'Berarti sebagian ceritanya benar.'
'Atau video ini sengaja dikirim supaya kamu datang,' kata Reksa.
'Dua-duanya bisa benar.'
Erly meneruskan pesan, video, dan nomor pengirim kepada polisi. Kini mereka memiliki alasan untuk menggeledah gudang tanpa perlu membicarakan arwah. Lokasi ponsel pengirim memang sempat terdeteksi di kawasan pesisir, lalu mati beberapa detik setelah video diterima.
Pak Leo berusaha ikut dalam pencarian. Meisin menolak tegas. Ayahnya wajib mendampingi Bu Rena dan menjelaskan seluruh pinjaman kepada polisi. Untuk sekali ini, tanggung jawab tidak boleh dipindahkan ke pundak Meisin lagi.
'Saya ikut,' kata Reksa.
'Aku juga,' sahut Meisin.
Owen yang berdiri dekat pintu langsung menolak. 'Kamu akan masuk tepat ke perangkapnya.'
'Tubuhmu ada di sana.'
'Bakar saja tubuh itu kalau perlu.'
Meisin menatapnya tajam. 'Kamu gampang sekali menyuruh orang menghancurkan sesuatu setelah nggak bisa kamu kuasai.'
Owen mengepalkan tangan. 'Aku sedang berusaha mencegahmu mati.'
'Caranya bukan dengan memutuskan semuanya sendirian.'
Reksa berdiri di antara mereka, meski dia hanya bisa melihat bayangan Owen ketika cahaya pagi melemah di sudut ruangan. 'Kita nggak perlu memilih antara menyerbu tanpa rencana dan duduk menunggu. Polisi periksa bagian luar. Kita cari bukti yang masuk akal buat mereka. Jangan ada yang masuk sendirian.'
Erly menyarankan Bu Rena dan Pak Leo dibawa ke kantor polisi. Cermin tua akan disimpan dalam kotak kayu tanpa permukaan logam, lalu dibungkus kain. Dengan begitu Ki Bagong tidak mudah menjangkau darah penjaga ketika Meisin mencari tubuh Owen.
Pak Leo mengangguk, tetapi Bu Rena menolak menyerahkan cermin kepada siapa pun.
'Benda ini satu-satunya perlindungan Meisin.'
'Mbah Raras justru bilang jangan dibawa,' ingat Reksa.
Meisin mengambil sebuah cermin rias dari kamar tamu. Dia melepas bingkainya dan membungkus kaca biasa itu memakai kain batik milik Bu Rena. Dari luar bentuknya menyerupai bungkusan cermin tua.
'Kita bawa umpan. Yang asli tetap bersama Ibu di kantor polisi.'
'Ki Bagong pasti tahu bedanya,' kata Pak Leo.
'Aku memang nggak berharap dia tertipu lama. Aku cuma butuh dia melihat apa yang ingin dia lihat sampai kami menemukan Owen.'
Erly memasukkan enam paku umpan, kuitansi ritual, peta, dan alat perekam Owen ke dalam tas. Reksa membawa senter, tali, serta palu dari gudang. Mereka tidak tahu apakah benda biasa bisa melawan arwah, tetapi setidaknya dapat digunakan membuka pintu atau membebaskan orang yang terikat.
Melly hendak ikut, namun cahaya pagi membuat tubuhnya terus menghilang. Meisin memintanya menjaga Bu Rena. Hantu itu cemberut, lalu berjanji akan menggigit siapa pun yang mencoba mendekati cermin meski kepalanya harus jatuh berkali-kali.
Sebelum berangkat, Meisin menatap cermin tua untuk terakhir kali. Mbah Raras sudah tidak terlihat. Hanya lima ukiran mata yang menyala pada gagangnya.
'Kalau Ibu dengar lonceng keenam, jangan buka cermin apa pun,' pesan Meisin.
'Kamu juga jangan menyentuh pecahan induk,' balas Bu Rena. 'Nenekmu memperingatkan itu karena ada alasan.'
Meisin, Reksa, dan Erly berangkat menggunakan mobil tanpa banyak lapisan logam mengilap. Owen duduk di kursi belakang meski tubuhnya menembus sandaran. Semakin jauh mereka bergerak ke arah pesisir, sosoknya semakin jelas.
'Tubuhku dekat,' ucap Owen.
'Kamu bisa merasakannya?' tanya Meisin.
'Aku bisa mendengar mereka menggunakan ingatanku. Mereka tahu rumah, perusahaan, bahkan orang-orang yang pernah kusakiti.'
'Daftarnya pasti panjang,' sindir Reksa.
Owen mencondongkan badan dengan marah. 'Jaga mulutmu.'
'Kalian berhenti!' bentak Meisin. 'Ki Bagong bisa memakai kemarahan dan ketakutan. Jangan kasih dia lebih banyak senjata.'
Mobil memasuki Jalan Pesisir Lama. Gudang-gudang kosong berjajar di kanan kiri, ditutupi karat dan tanaman liar. Kabut dari laut bergerak rendah meski matahari mulai naik.
Meisin melirik kaca spion. Pantulannya duduk diam di kursi depan.
Namun ketika dia mengalihkan pandangan, pantulan Meisin tetap menatap kaca. Sosok itu tersenyum, kemudian mengangkat satu jari ke depan bibir.
Owen ikut melihatnya.
'Jangan bergerak,' bisiknya. 'Ada Meisin lain di dalam mobil.' (*)