Semua layar memperlihatkan Ki Bagong dari sudut berbeda. Di satu layar dia duduk di ruang makan. Di layar lain dia berdiri di belakang Meisin. Ketika Meisin menoleh, tak ada siapa pun di sana.
'Keluar dan tunjukkan wajahmu yang asli!' tantang Meisin.
Ki Bagong tertawa melalui pengeras suara. 'Wajah hanya diperlukan oleh orang yang masih punya satu tubuh.'
Pintu ruang kerja mendadak terbuka. Lorong di luar kosong. Reksa mengangkat kursi sebagai senjata, kemudian berjalan lebih dulu. Erly dan Pak Leo menggotong jasad Owen yang kembali lemas. Darto mengikuti sambil menekan cap hitam di dadanya, sedangkan Bu Rena menjaga cermin tua tetap terbungkus.
Begitu mereka tiba di ruang makan, aroma teh bercampur kemenyan menyambut. Salah satu kursi tertarik sendiri. Cangkir kosong di atas meja mengeluarkan uap, walau tidak ada air di dalamnya.
'Duduklah, Meisin,' suara Ki Bagong muncul dari sendok perak. 'Kita bicarakan harga keluargamu.'
Meisin mengambil taplak dan menutupi seluruh meja. Suara itu berpindah ke layar ponsel Erly, lalu ke mata jasad Owen yang tertutup.
'Aku tidak menjual keluargaku.'
'Ayahmu sudah melakukannya lebih dulu.'
Pak Leo menunduk. Meisin tidak membela perbuatannya, tetapi dia juga tidak membiarkan Ki Bagong memakai kesalahan tersebut untuk memecah mereka.
'Bapak akan bertanggung jawab setelah ini. Tapi keputusan soal tubuh dan kemampuanku tetap milikku.'
'Kamu belum tahu apa yang sebenarnya kamu miliki.'
Kain pembungkus cermin bergerak sendiri. Bu Rena memeluknya semakin erat. Dari balik kain terdengar ketukan seorang perempuan tua.
Tok ... tok ... tok ....
'Rena,' panggil suara itu. 'Biarkan cucuku melihatku.'
Air mata memenuhi mata Bu Rena. 'Ibu?'
'Jangan jawab!' peringatkan Darto.
Ki Bagong tertawa lagi. Dia menjelaskan bahwa Mbah Raras tidak mati pada malam kebakaran. Perempuan tua itu mengunci bayangannya sendiri di cermin terakhir agar pintu tujuh arwah tidak terbuka. Tubuhnya hancur dimakan api, tetapi kesadarannya tetap menjaga sebuah benda bernama cermin induk.
'Aku hanya ingin Meisin mengambil cermin itu dari masa lalu,' lanjutnya. 'Setelah itu, neneknya boleh pulang. Owen juga bisa mendapatkan tubuhnya kembali.'
Mata jasad Owen terbuka. Kali ini satu berwarna cokelat, sedangkan satunya masih hitam.
'Kamu bisa menghidupkanku?' tanya Owen.
'Aku bisa memberikan apa yang gagal kamu pertahankan.'
Owen bergerak duduk. Reksa segera menarik Meisin menjauh, tetapi jasad itu tidak menyerang. Mata cokelatnya memandang kedua tangannya sendiri, seolah baru sadar dia dapat merasakan daging lagi.
'Syaratnya?' tanya Owen.
'Istrimu harus menerima ikatan kalian dengan kehendaknya. Rena memberi setetes darah sebagai saksi. Setelah lonceng ketujuh, tubuh itu menjadi milikmu selamanya.'
Meisin menatap Owen. Dia ingin tahu apakah lelaki itu masih akan mengorbankan orang lain demi memperoleh keinginannya.
'Jangan terima,' ucap Owen akhirnya.
Mata hitamnya bergerak liar, tetapi mata cokelat tetap memandang Meisin.
'Kamu ingin hidup lagi,' kata Meisin.
'Aku juga ingin kamu tetap menjadi milikku.' Rahang Owen menegang. 'Tapi kalau kamu menerimanya karena dipaksa, aku hanya akan mendapatkan boneka yang sama. Aku sudah tahu rasanya.'
Ucapan tersebut belum menjadi permintaan maaf. Owen masih menyebutnya sebagai milik. Namun setidaknya untuk pertama kali dia menolak jalan mudah yang ditawarkan Ki Bagong.
Wajah sang dukun muncul pada permukaan mata hitam Owen. 'Kematian rupanya membuatmu lemah.'
'Tidak. Kematian membuatku tahu kapan aku sedang ditipu.'
Tubuh Owen mendadak melengkung. Puluhan suara meraung dari mulutnya. Bayangan di bawah kursi membesar dan membentuk tangan yang mencengkeram pergelangan Bu Rena.
Darto menerjang bayangan tersebut. Cap di dadanya menyala. Dia terlempar, tetapi cengkeraman pada Bu Rena ikut terlepas.
'Cari paku pertama di bawah keranda!' teriak Darto. 'Selama masih tertanam, Aki bisa tinggal di rumah ini.'
Reksa dan Erly berlari ke ruang tengah. Meisin menyusul sambil membawa serpihan kaca. Keranda telah berdiri tegak meski tidak ada yang memindahkannya. Mereka menjatuhkan benda itu, lalu menemukan satu paku hitam tertanam pada lantai di bawah penyangga.
Erly mencoba mencabutnya menggunakan tang, tetapi paku justru masuk semakin dalam.
'Bukan begitu,' ucap Meisin. Dia melihat serpihan di tangannya. 'Paku ini ditanam lewat pantulan. Kita harus mengambilnya dari tempat yang sama.'
Dia meletakkan serpihan kaca di samping paku. Dalam pantulan kecil, paku tersebut terlihat menonjol keluar dari lantai. Reksa memasukkan dua jarinya menembus permukaan kaca dan menarik.
Asap membakar kulitnya, tetapi dia tidak melepaskan pegangan.
'Sedikit lagi!' seru Meisin.
Trak ...!
Paku tercabut. Semua kamera keamanan meledak bersamaan. Suara Ki Bagong berubah menjadi jeritan panjang yang mengguncang jendela.
Jasad Owen jatuh tak bergerak. Asap hitam keluar dari mulutnya, disusul arwah Owen yang terlempar ke lantai. Kini Meisin melihat dua Owen sekaligus, satu tubuh di dekat meja dan satu jiwa yang berlutut dengan napas tersengal.
'Kamu keluar,' ucap Meisin.
'Hanya sementara,' jawab Owen. 'Mereka masih memegang tubuhku.'
Meisin ingin bertanya lebih banyak, tetapi cahaya dari jendela mulai berubah pucat. Malam panjang itu hampir berakhir. Mereka sepakat memindahkan jasad Owen ke ruangan tanpa kaca sambil menunggu petugas dan orang yang memahami ritual tersebut. Reksa pergi mengambil rantai dari gudang, sementara Erly menghubungi rumah sakit tanpa menjelaskan keadaan sebenarnya.
Beberapa menit kemudian, Meisin kembali ke ruang makan.
Jasad Owen sudah tidak ada.
Darto juga menghilang. Pintu servis di ujung lorong terbuka, sedang jejak kaki berlumpur bergerak keluar menuju halaman. Pada rekaman kamera terakhir sebelum meledak, tubuh Owen terlihat berjalan bersama lelaki tinggi yang disebut Jaka. Darto mengikuti di belakang mereka seperti orang tidur.
Arwah Owen berdiri di sisi Meisin. Wajahnya dipenuhi kemarahan dan ketakutan.
'Yang keluar dari rumah memakai wajahku,' ucapnya, 'tapi bukan aku.'
Bu Rena membuka sedikit kain pembungkus cermin. Lima ukiran mata masih menyala. Pada permukaannya muncul tulisan yang dibuat oleh jari tak terlihat.
Bawa cermin ke Gudang Kaca sebelum lonceng keenam, atau keranda hidup akan menjemput darah penjaga.
Meisin membaca ancaman itu dua kali. Ki Bagong sengaja memberinya dua pilihan yang sama buruk. Bila cermin dibawa, sang dukun mungkin mendapatkan benda yang selama puluhan tahun dijaga Mbah Raras. Bila mereka bertahan di rumah, tubuh Owen akan kembali untuk mengambil Bu Rena.
'Berapa lama sebelum lonceng berikutnya?' tanya Reksa.
'Nggak ada waktu yang pasti,' jawab Bu Rena. 'Bunyinya mengikuti pintu yang berhasil dibuka.'
Erly membuka peta pada ponselnya. Gudang Kaca berada hampir satu jam dari rumah Owen, di kawasan pabrik tua dekat pesisir. Polisi bisa diajak memeriksa tempat tersebut, tetapi tidak ada petugas yang akan percaya bahwa seorang mayat berjalan dan menculik rentenir melalui pantulan.
'Kita tetap butuh bantuan manusia,' kata Meisin. 'Laporkan Darto dan Jaka sebagai penculik. Jangan ceritakan bagian yang nggak akan mereka percaya.'
Owen menatap jejak lumpur. 'Kalau lonceng keenam berbunyi, arwah di tubuhku akan mendapatkan wajah tetap. Mereka bisa berpencar dan meniru siapa pun yang pernah dilihatnya.'
'Termasuk kita?' tanya Pak Leo.
'Terutama kalian.'
Dari dalam cermin terdengar tiga ketukan pendek dan satu ketukan panjang. Bu Rena tercekat. Itu sandi yang selalu dipakai Mbah Raras ketika memanggilnya pulang pada masa kecil. Ki Bagong mungkin bisa meniru suara, tetapi belum tentu mengetahui kebiasaan yang hanya dimiliki ibu dan anak.
Di bawah tulisan itu, wajah perempuan tua perlahan muncul. Bibir Mbah Raras bergerak memperingatkan Meisin.
'Jangan datang. Dia menunggumu.' (*)