Suara di balik pintu kembali memanggil. Nada dan cara bicaranya benar-benar sama seperti Bu Rena. Namun ibu Meisin berdiri di dalam ruang kerja dengan kedua tangan menutup mulut.
'Jangan ada yang menjawab,' bisiknya.
'Ibu tahu kamu di dalam, Mei,' rayu suara palsu itu. 'Buka sebelum mereka membawa Ibu.'
Pak Leo hampir menyahut, tetapi Meisin menahan lengannya. Mereka sudah mengetahui makhluk dalam keranda dapat mencuri suara. Sekarang ia juga mencoba memecah kepercayaan mereka.
Meisin meminta Melly memeriksa lorong. Hantu perempuan itu menembus pintu, lalu kembali beberapa detik kemudian.
'Nggak ada siapa-siapa di luar,' ucapnya. 'Tapi semua kain penutup cermin bergerak sendiri.'
Erly memperbesar gambar kamera keamanan. Tiruan Bu Rena dan dua lelaki berpakaian hitam tidak berjalan di lorong yang nyata. Mereka berpindah dari satu layar ke layar lain melalui pantulan kaca kamera. Setiap kali melewati sebuah pintu, lelaki tinggi menggoreskan tanda paku hitam pada bayangannya.
'Mereka mengunci pintu dari dalam dunia cermin,' ucap Bu Rena. 'Kalau semua jalan keluar ditandai, rumah ini akan terpisah dari dunia luar.'
Enam kamera memperlihatkan enam pintu yang sudah memiliki tanda paku. Tinggal pintu balkon ruang kerja yang belum disentuh. Reksa berlari hendak membukanya, tetapi gagangnya tak mau bergerak. Di luar kaca, halaman Owen telah berubah menjadi hamparan air sungai.
Bang ... bang ... bang ...!
Seseorang memukul pintu ruang kerja dari lorong. Kayunya melengkung ke dalam meski Melly bersumpah tidak ada siapa pun di sana.
Jasad Owen yang terbaring di lantai mendadak tertawa.
'Terlambat,' katanya.
Dia menangkap kaki Reksa dan menariknya. Reksa jatuh, lalu tubuh Owen menerkam dari atas. Kedua tangannya mencengkeram leher sahabat Meisin itu.
'Sejak hidup aku sudah ingin membunuhmu,' geramnya menggunakan suara Owen.
Meisin tahu kalimat itu mungkin berasal dari kecemburuan asli Owen. Arwah lain menggunakan keburukan tersebut untuk menguasai tubuhnya.
'Owen, lihat aku!' teriak Meisin.
Jasad itu tidak melepaskan Reksa.
'Kalau benar kamu ada di dalam sana, berhenti membuktikan kalau kamu cuma lelaki egois yang sama!'
Tekanan pada leher Reksa berkurang. Mata hitam Owen berkedip. Warna cokelat muncul sesaat, lalu menghilang lagi.
'Mei ... lari ...,' ucapnya terputus-putus.
Reksa memukul rahang Owen dan berguling menjauh. Erly bersama Pak Leo menahan tubuh itu menggunakan mantel. Bu Rena mengangkat cermin tua, tetapi Meisin segera mencegahnya.
'Kalau dibuka lagi, jalannya makin lebar.'
'Kalau nggak, Owen akan menyerang Reksa lagi.'
'Kita cari cara lain.'
Meisin mengambil kantong paku dari laci. Enam paku di dalamnya terasa sedingin es, sedangkan serpihan cermin yang dia bawa mulai menghangat. Dia menempelkan serpihan itu ke paku paling atas.
Vision singkat muncul. Lelaki pendek menempelkan bayangan paku terakhir di bawah balkon dari dunia pantulan. Begitu ujungnya menyentuh lantai, tanda ketujuh akan lengkap dan lonceng kelima berbunyi.
'Dia ada tepat di bawah kita!' teriak Meisin.
Reksa meraih kursi dan menghantamkannya ke pintu balkon. Kaca pecah, tetapi di baliknya tidak ada udara malam. Lubang itu memperlihatkan ruang yang sama dari sisi terbalik. Lelaki pendek berdiri di langit-langit pantulan sambil mengangkat paku.
Meisin melempar serpihan kaca. Benda tersebut menembus batas dua dunia dan melukai tangan lelaki itu. Paku terlepas sebelum tertanam.
'Tarik dia!' seru Bu Rena.
Reksa memasukkan tangan melewati kaca yang pecah dan mencengkeram kerah lelaki pendek. Erly ikut menarik. Tubuh rentenir itu terlempar masuk ke ruang kerja, disusul lumpur dan puluhan tangan pucat yang mencoba berpegangan pada kakinya.
Melly menendang tangan-tangan tersebut sampai batas pantulan menutup kembali.
Lelaki pendek meronta. Namun ketika Bu Rena menghadapkan cermin tua kepadanya, bayangan Ki Bagong terlihat mencengkeram tengkuknya.
'Tolong lepaskan saya dari Aki,' pinta lelaki itu. Suaranya bukan lagi suara penagih yang kasar. 'Kami juga punya utang. Keluarga kami ditahan di Kampung Dukun.'
'Kalian menjebakku,' ucap Meisin.
'Kalau kami menolak, anak saya dijadikan wadah pertama.'
Meisin tidak langsung percaya. Lelaki tersebut tetap ikut mengejar, menakuti, dan menyerahkannya kepada bahaya. Menjadi korban tidak menghapus pilihan buruk yang dibuatnya.
'Di mana temanmu?' tanya Reksa.
'Dia sudah bukan manusia. Aki memakai tubuhnya sejak ritual di rumah sakit gagal.'
Lelaki pendek membuka tiga kancing bajunya. Pada dadanya terdapat cap hitam berbentuk angka sebelas. Garis-garis cap itu bergerak seperti cacing di bawah kulit.
Dia mengaku bernama Darto. Lelaki tinggi yang selalu bersamanya bernama Jaka dan sebenarnya sudah meninggal dua tahun lalu karena gagal membayar utang. Ki Bagong mengisi tubuh Jaka dengan satu arwah, kemudian memakainya untuk menagih orang-orang baru. Darto terus menurut karena istri serta anaknya ditahan melalui pantulan rumah mereka. Setiap kali dia mencoba meminta bantuan, wajah keluarganya menghilang dari seluruh foto.
'Kalian tetap memilih keluarga siapa yang dijadikan korban berikutnya,' kata Meisin. 'Aku bisa mengerti ketakutanmu, tapi aku nggak akan bilang kamu nggak bersalah.'
'Saya tahu.' Darto menunduk. 'Saya cuma ingin mereka tetap hidup sampai saya punya kesempatan melawan.'
Dia menjelaskan enam paku di laci hanya umpan agar mereka mengira bisa mengendalikan ritual. Satu paku pusat sudah ditanam di bawah keranda sebelum jasad Owen tiba. Dari bayangan paku itulah Jaka dapat memberi tanda pada ketujuh pintu tanpa menanam benda lain.
'Lonceng kelima memberi wajah kepada arwah paling kuat,' lanjut Darto. 'Lonceng keenam meminta darah penjaga. Setelah yang ketujuh, tubuh itu bisa membawa semuanya keluar.'
'Gudang Kaca di Jalan Pesisir Lama itu apa?' tanya Reksa.
Darto semakin ketakutan. 'Tempat Aki menyimpan pantulan orang-orang yang pernah gagal. Kalau kalian ke sana membawa cermin tua itu, kalian sedang mengantarkan benda yang dia cari.'
Meisin menggenggam serpihan kaca. Peringatan Darto bisa menjadi kejujuran atau cara lain Ki Bagong menjauhkan mereka dari satu-satunya petunjuk. Kini tidak ada informasi yang bisa mereka percaya sepenuhnya.
Jasad Owen mengamuk lagi. Mantel yang melilitnya robek. Dia berdiri, lalu melangkah menuju lelaki pendek. Banyak suara dari mulutnya meminta tubuh baru.
Rentenir itu menangis. 'Jangan biarkan mereka mengambil saya!'
Meisin berdiri di antara keduanya. 'Owen, berhenti!'
Tubuh tersebut terus maju sampai wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Tangan Owen terangkat, tetapi berhenti sebelum menyentuh Meisin. Otot lehernya menegang seperti dua kehendak sedang berebut kendali.
'Aku bukan pintumu,' tegas Meisin. 'Dan tubuh ini bukan rumah kalian.'
Warna cokelat kembali muncul pada satu mata Owen. Tangannya berbalik mencengkeram dadanya sendiri. Dia jatuh berlutut sambil memuntahkan air sungai.
Ting ...!
Lonceng kelima tetap berbunyi.
Darto menjerit dan mencengkeram dadanya. Cap angka sebelas membesar sampai mencapai leher. Di belakangnya, bayangan yang semula mengikuti gerak tubuh mulai berdiri sendiri. Bayangan itu menoleh kepada Meisin, lalu mengangkat satu jari di depan bibir.
Bu Rena segera menutup cermin tua dengan kain batik. 'Mulai sekarang Ki Bagong nggak membutuhkan cermin terbuka untuk menunjukkan dirinya. Benda apa pun yang menyimpan bayangan bisa dipakainya.'
Ukiran mata kelima pada cermin menyala. Seluruh layar kamera mati bersamaan, lalu hidup kembali memperlihatkan Ki Bagong duduk di ruang makan Owen.
Meisin melihat layar ruang makan. Kursi itu kosong dalam dunia nyata, tetapi pantulan sang dukun tersenyum sambil menikmati teh.
'Kalian sibuk menjaga pintu,' ucap Ki Bagong melalui pengeras suara kamera. 'Padahal sejak lonceng pertama, aku sudah berada di dalam rumah.' (*)