Meisin berlari menuruni tangga bersama Reksa. Bu Rena membawa cermin tua, sedangkan Pak Leo mengikuti dengan wajah pucat. Mereka menemukan Erly berdiri di depan keranda yang terbuka lebar.
Tali masih terikat. Kunci tidak rusak. Kain yang digunakan untuk membelenggu tubuh Owen bahkan terlipat rapi di dasar keranda, tetapi jasadnya sudah tidak ada.
'Bagaimana dia keluar?' tanya Reksa.
'Saya cuma berpaling saat mendengar lonceng,' jawab Erly. 'Waktu melihat lagi, penutupnya sudah terbuka.'
Melly muncul dari bawah lantai. Wajahnya jauh lebih pucat daripada biasanya.
'Dia masuk ke benda mengilap,' ucapnya.
Di bawah meja bunga terdapat nampan perak yang belum sempat disingkirkan. Permukaannya retak dari tengah, sedang lumpur menggenang di sekitarnya. Jejak kaki basah bermula dari sana dan bergerak menuju lorong bagian timur rumah.
'Bukannya semua pantulan sudah ditutup?' tanya Meisin kepada ibunya.
'Benda sekecil apa pun bisa menjadi jalan kalau lonceng sudah berbunyi empat kali.'
Mereka mengikuti jejak tersebut. Lorong timur berakhir di depan ruang kerja Owen. Pintu terkunci, tetapi dari dalam terdengar suara rekaman lelaki itu.
'Kalau kamu mendengar ini, berarti aku mungkin sudah melakukan kesalahan.'
Erly langsung mengenali suaranya. 'Itu alat perekam Tuan Owen.'
Reksa mendobrak pintu. Sekali belum terbuka. Pada hantaman kedua, kuncinya patah.
Jasad Owen duduk di kursi kerja menghadap jendela yang telah ditutup tirai. Tangannya memegang alat perekam kecil. Matanya terpejam, tetapi jempolnya terus menekan tombol putar.
'Aku mendapatkan apa yang kuinginkan,' lanjut suara dari alat tersebut. 'Meisin berhenti menolakku. Seharusnya aku senang, tapi perempuan yang mengikutiku pulang itu bukan perempuan yang membuatku ingin menang.'
Meisin terdiam. Rekaman itu dibuat sebelum kecelakaan. Owen ternyata menyadari perubahan dirinya, walau kesadaran tersebut datang setelah dia berhasil merampas kehendak Meisin.
'Aku akan menemui Ki Bagong malam ini. Bukan untuk membatalkan pernikahan. Aku hanya ingin dia mengembalikan perlawanan Meisin tanpa membuatnya meninggalkanku.'
'Bahkan menyesal pun dia masih mau mengaturku,' gumam Meisin pahit.
Jasad Owen membuka mata.
Reksa segera berdiri di depan Meisin. Namun tubuh itu tidak menyerang. Dia hanya menunjuk serpihan kaca yang masih digenggam Meisin.
'Bawa pulang milik kami,' desisnya.
Serpihan mendadak menyedot telapak tangan Meisin. Ruang kerja berubah menjadi gubuk Ki Bagong. Kali ini Meisin tidak hanya melihat. Kedua kakinya benar-benar berdiri di atas lantai tanah, sementara jarinya masih terlihat samar berada dalam genggaman Reksa di dunia nyata.
Owen yang masih hidup berdiri di depan Ki Bagong. Wajahnya marah, tetapi ada keraguan yang berusaha disembunyikan.
'Kembalikan sifatnya seperti semula,' perintah Owen. 'Aku tidak mau dia menatapku seperti boneka.'
Ki Bagong tertawa. 'Tuan meminta perempuan itu tidak bisa menolak. Sekarang Tuan marah karena dia menurut? Orang kaya memang lebih sulit dipuaskan daripada arwah lapar.'
'Berapa pun biayanya, perbaiki.'
'Ada harga yang tidak bisa dibayar uang.'
Sang dukun membuka buku berkulit hitam. Pada satu halaman terdapat nama Owen dan Meisin. Di bawahnya tertulis nama Rena, disertai cap berbentuk tujuh mata.
Owen menunjuk nama itu. 'Kenapa ibu Meisin ada dalam perjanjianku?'
'Dia hanya saksi darah.'
'Aku tidak menyuruhmu melibatkan keluarganya.'
'Tuan juga tidak pernah bertanya bagaimana caranya.'
Ki Bagong menggoyangkan tujuh lonceng kecil yang tergantung di atas buku. Dia menjelaskan bahwa pernikahan di alam arwah baru menjadi ikatan penuh setelah tubuh mempelai lelaki dipertemukan dengan darah penjaga pintu. Bila Meisin tidak memberikan persetujuan, ibunya bisa digunakan untuk membuka jalan secara paksa.
Owen meraih kerah Ki Bagong. 'Batalkan semuanya.'
'Sudah terlambat. Tuan sendiri yang menandatangani halaman pertama.'
Meisin mendekati buku tersebut. Nama Bu Rena perlahan berubah menjadi namanya. Di sela halaman terdapat sepotong kertas hitam bertuliskan alamat lain: Gudang Kaca, Jalan Pesisir Lama.
Dia menyentuh kertas itu. Ki Bagong mendadak menoleh lurus ke arahnya.
'Pencuri kecil,' ucap sang dukun. 'Kamu benar-benar membawa masa lalu pulang.'
Tangan Ki Bagong menerjang wajahnya.
Meisin berteriak. Reksa menariknya sekuat tenaga sampai tubuhnya terlepas dari serpihan kaca. Mereka jatuh di lantai ruang kerja. Kertas hitam yang tadi berada di dalam buku kini tergenggam bersama pecahan cermin.
Kemampuan Meisin bukan sekadar menunjukkan vision. Dia benar-benar mengambil benda dari kejadian yang sudah berlalu.
'Gudang Kaca,' baca Reksa. 'Jalan Pesisir Lama.'
Jasad Owen bangkit dari kursi. Mata hitamnya menatap kertas itu dengan rasa lapar.
'Berikan,' katanya.
Erly melemparkan mantel tebal ke kepala Owen. Reksa menerjang pinggangnya. Mereka berdua mendorong tubuh tersebut ke lantai, tetapi Owen terus meronta. Meisin mengangkat cermin tua menghadap kepalanya.
Puluhan suara menjerit. Jasad itu langsung melemah. Di permukaan cermin, Owen terlihat berusaha merangkak keluar dari tumpukan arwah.
'Laci meja!' teriaknya. 'Buka laci bawah!'
Erly meraih papan angka di sisi meja. Kodenya terdiri dari enam digit. Setelah dua percobaan gagal, dia memasukkan tanggal lahir Meisin. Kunci terbuka.
'Dia pakai ulang tahunku?' Meisin semakin muak.
Di dalam laci terdapat kuitansi ritual, peta menuju Kampung Dukun, sebuah kantong berisi tujuh paku, dan salinan perjanjian yang dilihat Meisin. Halaman terakhir sudah kosong, seolah tulisan di atasnya baru saja dihapus.
Meisin membaca syarat yang masih tersisa. Setiap bunyi lonceng memiliki akibat berbeda. Bunyi pertama memanggil arwah tanpa nama. Bunyi kedua memberi mereka suara. Bunyi ketiga membuka pantulan, dan bunyi keempat membuat tubuh bisa melewati benda yang memantulkan cahaya. Itulah sebabnya jasad Owen dapat keluar melalui nampan perak meski keranda masih terkunci.
'Apa akibat bunyi kelima sampai ketujuh?' tanya Reksa.
Bagian tersebut telah berubah menjadi noda hitam. Hanya beberapa kata yang masih terbaca: wajah, darah, dan pulang. Pada tepi halaman ada peringatan agar tujuh paku ditanam di tujuh jalan keluar sebelum upacara kedua dimulai.
'Tuan Owen menyuruh saya membeli paku ini sehari sebelum pernikahan,' kata Erly. 'Saya kira untuk perbaikan rumah.'
'Berarti rumah ini memang sudah disiapkan sebagai tempat ritual,' sahut Bu Rena.
Pak Leo menghitung pintu yang mereka lewati sejak masuk. Pintu depan, samping, belakang, garasi, balkon, ruang bawah tanah, dan lorong servis berjumlah tujuh. Bila setiap jalan dipasangi paku, siapa pun yang berada di dalam rumah akan terkurung bersama arwah yang datang.
Meisin memeriksa kantong itu. Hanya enam paku yang tersisa. Satu paku telah ditanam seseorang, tetapi mereka belum tahu di pintu mana.
Erly juga menemukan ponsel cadangan Owen. Dia menyalakannya dan membuka kamera keamanan rumah. Satu layar memperlihatkan ruang tengah yang kosong. Layar lain menunjukkan Bu Rena berdiri sendirian di depan tangga.
'Ibu kan ada di belakang kita,' ucap Meisin.
Semua orang menoleh. Bu Rena memang masih memegang bahu Pak Leo di dekat pintu.
Pada layar, tiruan Bu Rena tersenyum ke arah kamera. Dua lelaki berpakaian hitam muncul di belakangnya, lalu gambar berpindah ke siaran langsung lorong lantai dua.
Pintu ruang kerja menutup sendiri.
Dari luar terdengar suara Bu Rena yang lain memanggil.
'Meisin, buka pintunya. Ibu sendirian di sini.' (*)