Bu Rena membawa Meisin, Reksa, dan Pak Leo ke ruang baca di lantai dua. Erly tetap berjaga di depan ruang tengah bersama pemimpin doa. Melly bisa menembus pintu, sehingga dia diminta mengawasi keranda dari dalam dinding tanpa mendekati jasad Owen.
Semua cermin di ruang baca ditutup menggunakan kain. Hanya cermin tua milik Bu Rena yang diletakkan telungkup di atas meja.
'Sekarang cerita,' desak Meisin. 'Siapa nenekku sebenarnya?'
Bu Rena duduk sambil meremas ujung bajunya. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih tua dalam satu malam.
'Namanya Raras. Orang-orang memanggilnya Mbah Raras. Dia bisa melihat orang mati, sama sepertimu.'
'Ibu bilang Nenek meninggal sebelum aku lahir.'
'Ibu berbohong supaya kamu nggak pernah mencarinya.'
Meisin menahan kemarahan. 'Terus sebenarnya dia di mana?'
'Ibu nggak tahu.'
Bu Rena mulai bercerita. Saat masih muda, Mbah Raras dikenal sebagai orang yang menjaga batas antara arwah dan manusia. Dia tidak mengusir semua hantu. Dia hanya mencegah mereka mengambil tubuh orang hidup. Cermin tua di atas meja digunakan untuk mengetahui nama arwah dan mengembalikannya ke tempat semula.
Ki Bagong datang sebagai murid yang ingin belajar. Selama bertahun-tahun dia membantu Mbah Raras. Namun lelaki itu tidak tertarik menutup pintu. Dia ingin membukanya dan menjual jalan tersebut kepada siapa pun yang sanggup membayar.
'Sampai suatu malam, dia mengumpulkan tujuh orang yang meninggal tanpa sempat dikuburkan dengan benar,' lanjut Bu Rena. 'Dia mau memasukkan mereka ke satu tubuh. Nenekmu menghentikannya dengan memecahkan tujuh cermin tempat mereka diikat.'
Malam itu Bu Rena masih berusia tujuh belas tahun. Dia bersembunyi di bawah meja ketika rumah ibunya dipenuhi suara lonceng. Mbah Raras berdiri di antara tujuh cermin dan menyebut nama arwah satu per satu. Setiap nama dipanggil, satu cermin pecah. Ki Bagong terus berteriak agar gurunya berhenti karena tubuh yang mereka siapkan akan menjadi jalan menuju hidup yang lebih panjang.
'Saat cermin keenam pecah, Ibu melihat Nenekmu masuk ke cermin terakhir,' ujar Bu Rena. 'Bukan tubuhnya, tapi bayangannya. Dia bilang Ibu harus membawa cermin tangan ini dan jangan pernah kembali.'
'Lalu apa yang terjadi pada Nenek?'
'Rumahnya terbakar. Polisi nggak menemukan tubuh siapa pun. Ki Bagong juga menghilang. Semua orang bilang Mbah Raras mati, tapi kadang Ibu masih mendengar suaranya dari cermin ini.'
Bu Rena menyentuh ukiran tujuh mata di gagang. Mata pertama pernah terbuka pada malam kebakaran, lalu padam setelah dia meninggalkan desa. Selama puluhan tahun benda itu tidak menunjukkan apa pun sampai Meisin lahir. Saat bayi Meisin menangis di depan cermin, satu ukiran menyala sebentar dan suara Mbah Raras berpesan agar wajah anak itu disembunyikan dari dunia seberang.
'Itu sebabnya nggak ada cermin di kamarku waktu kecil,' gumam Meisin.
'Ibu bahkan memecahkan kaca lemari ketika kamu mulai bicara dengan pantulanmu sendiri.'
'Apa hubungannya denganku?'
'Salah satu pecahan nggak pernah ditemukan. Ki Bagong percaya hanya darah Mbah Raras yang bisa mengambil benda dari masa lalu dan menyatukan cermin itu lagi.'
Meisin teringat vision saat menyentuh benang. Ki Bagong memang mengatakan dia mampu memegang masa lalu dan membawa sesuatu pulang dari sana.
'Ibu juga bisa melihat seperti aku?'
Bu Rena menggeleng. 'Kemampuannya melewati Ibu. Waktu kamu kecil, kamu sering menunjuk orang yang nggak ada di cermin. Karena itu Ibu melarangmu tidur menghadap pantulan. Ibu berharap kalau kemampuan itu nggak digunakan, Ki Bagong nggak akan tahu kamu memilikinya.'
'Ternyata dia tahu,' sahut Reksa.
Semua mata beralih kepada Pak Leo. Lelaki itu sejak tadi berdiri dekat rak buku dengan kepala tertunduk.
'Bapak kasih tahu mereka apa?' tanya Meisin.
'Bapak nggak tahu mereka orang Ki Bagong.'
'Apa yang Bapak kasih?'
Pak Leo mengaku dua rentenir menawarkan pinjaman tanpa jaminan enam bulan lalu. Syaratnya hanya salinan kartu keluarga, tanggal lahir seluruh anggota rumah, dan foto benda warisan yang disimpan Bu Rena. Pak Leo memotret cermin itu diam-diam karena mengira nilainya bisa dipakai sebagai bukti aset.
'Bapak menjual informasi keluargamu sendiri cuma buat pinjaman?' suara Meisin meninggi.
'Bapak berniat membuka usaha. Bapak pikir keuntungan awal bisa langsung melunasi semuanya.'
'Tapi uangnya habis! Aku yang dikejar, aku yang dijebak ketemu Owen, dan sekarang tubuhnya diisi hantu!'
Pak Leo menutup wajah. Kali ini tak ada alasan mengenai masa depan atau kekayaan. Dia hanya mengucapkan maaf berulang-ulang, tetapi kata itu belum cukup menutup akibat perbuatannya.
Reksa berdiri di antara ayah dan anak tersebut sebelum pertengkaran berubah semakin buruk. Dia tidak meminta Meisin memaafkan. Dia hanya mengingatkan bahwa dua lelaki berpakaian hitam masih berada di sekitar rumah dan mungkin menunggu mereka saling menyalahkan sampai lupa menjaga keranda.
'Setelah ini Bapak serahkan semua surat utang, pesan, dan nomor mereka ke Erly,' kata Meisin. 'Jangan hapus satu pun. Kalau Bapak bohong lagi, aku sendiri yang akan pergi dari rumah.'
Pak Leo mengangguk cepat. Untuk pertama kalinya, ancaman kehilangan putrinya terlihat lebih menakutkan baginya daripada kehilangan kesempatan menjadi kaya.
Ting ...!
Suara lonceng ketiga terdengar dari lantai bawah.
Cermin di atas meja bergetar. Bu Rena buru-buru menahannya.
'Jangan dibalik lagi,' pintanya. 'Setiap kali cermin menunjukkan dunia mereka, jalan di antara dua tempat semakin lebar.'
'Owen terjebak di dalam tubuhnya bersama arwah lain,' sahut Meisin. 'Aku harus tahu dia masih bisa dikeluarkan atau nggak.'
'Setelah semua yang dia lakukan, kamu masih mau menyelamatkannya?' tanya Reksa.
'Aku belum memaafkan dia. Tapi membiarkan Ki Bagong memakai tubuhnya juga bukan keadilan.'
Meisin meraih cermin sebelum ibunya sempat mencegah. Begitu permukaannya dibalik, ruang baca lenyap dari pantulan. Yang terlihat adalah lorong panjang dengan dinding berupa cermin retak.
Di ujung lorong, Owen berlutut dengan benang hitam membelenggu kedua tangan. Arwah-arwah berlumpur merangkak mengelilinginya. Sebagian sudah mengenakan potongan wajah Owen seperti topeng.
'Owen!' panggil Meisin.
Lelaki itu mengangkat kepala. 'Tutup cerminnya.'
'Gimana cara mengeluarkanmu?'
'Aku bilang tutup!'
'Berhenti menyuruhku dan jawab!'
Owen menarik belenggunya sampai kulit pergelangan terkelupas. 'Ki Bagong membutuhkan saksi darah untuk ritual kedua. Dia menyebut nama ibumu sebelum kecelakaan. Kalau Rena berada dekat tubuhku saat lonceng ketujuh berbunyi, dia bisa dipakai menggantikan persetujuanmu.'
Bu Rena terduduk lemas. Rupanya bukan hanya Meisin yang diburu.
'Kenapa baru bilang?' tanya Meisin.
'Aku baru mendengarnya lagi dari arwah di sini. Mereka menyimpan potongan ingatan Ki Bagong.'
Satu arwah merangkak ke punggung Owen dan menarik kepalanya ke belakang. Sosok itu tidak memiliki wajah. Di tempat wajah seharusnya berada, terdapat permukaan cermin kecil.
Pantulan Meisin muncul di sana.
'Dia melihatmu!' teriak Owen. 'Tutup sekarang!'
Meisin hendak membalik cermin, tetapi telapak tangan pucat keluar dari permukaannya dan mencengkeram pergelangan Meisin.
Reksa segera memeluk pinggang Meisin dari belakang. Bu Rena menarik gagang cermin. Namun tangan tersebut terus menyeret, membuat ujung jari Meisin perlahan masuk menembus kaca seperti tenggelam di dalam air dingin.
'Lepaskan anakku!' Bu Rena memukul tangan pucat itu memakai bingkai perak.
Cengkeramannya terlepas. Cermin jatuh telungkup, sedangkan Meisin dan Reksa terhempas ke lantai.
Pada pergelangan Meisin tertinggal bekas lima jari hitam. Di tengah telapak tangannya ada serpihan kaca yang sebelumnya tidak ada.
Meisin mencabutnya perlahan. Serpihan tersebut memperlihatkan gubuk Ki Bagong, bukan wajah orang yang memegangnya.
Ting ...!
Lonceng keempat berbunyi.
Dari lantai bawah terdengar suara Erly berteriak.
'Nona Meisin! Kerandanya kosong!' (*)