Tubuh Owen bergerak bangun dari dalam keranda. Gerakannya kaku, seolah setiap sendi harus dipatahkan lebih dulu sebelum bisa digunakan. Bunyi tulang beradu memenuhi ruang tengah.
Krek ... krek ... krek ....
Para pegawai yang masih bertahan menjerit dan berlari menuju pintu. Pemimpin doa menjatuhkan kitab dari tangannya. Hanya Meisin yang tetap berdiri di depan keranda, meski kedua lututnya gemetar hebat.
'Istriku,' panggil Owen lagi.
Suara itu terdengar seperti puluhan orang berbicara dari dasar sumur. Ada suara lelaki, perempuan, anak kecil, dan geraman berat yang pernah Meisin dengar dari gendruwo belakang rumah sakit.
'Kamu bukan Owen,' ucap Meisin.
Kepala jasad itu miring. Senyum tipis muncul di bibirnya yang pucat.
'Aku suamimu.'
'Owen nggak pernah bicara pakai suara seramai itu.'
Jasad tersebut mengangkat tangan. Kuku-kukunya telah berubah hitam, sedang air sungai menetes dari sela jari meski tubuhnya sudah dibersihkan petugas kamar jenazah.
'Terima aku sekali lagi,' pintanya. 'Katakan di depan tubuh ini bahwa kamu menerima suamimu.'
Meisin langsung memahami maksudnya. Itulah persetujuan kedua yang dibutuhkan Ki Bagong untuk membuka pintu secara sempurna.
'Nggak akan.'
Senyum di bibir Owen lenyap. Tubuhnya berdiri dari keranda dengan gerakan mendadak. Penyangga kayu terbalik saat kakinya menyentuh lantai.
Bruk ...!
Reksa menarik Meisin ke belakang. Jasad Owen menerjang, namun Reksa menahan dadanya menggunakan kedua tangan. Tubuh dingin itu jauh lebih kuat daripada manusia hidup. Satu ayunan lengan membuat Reksa terlempar hingga membentur sofa.
'Reksa!' Meisin hendak menghampiri, tetapi Owen menangkap pergelangan tangannya.
Dingin mayat menyusup sampai ke tulang. Vision tidak muncul kali ini. Yang masuk ke kepala Meisin justru jeritan banyak orang yang memohon dikeluarkan dari tempat gelap.
'Bilang kamu menerima kami,' desis jasad itu.
'Lepaskan dia!' Erly menghantamkan tiang bunga ke punggung Owen.
Tiang tersebut patah menjadi dua. Owen menoleh perlahan. Matanya yang seluruhnya hitam menatap Erly, lalu tangannya bergerak hendak mencengkeram leher sang asisten.
Melly menembus tubuh Owen dari belakang. Jasad itu tersentak, memberi kesempatan bagi Meisin untuk melepaskan tangannya. Hantu perempuan tersebut terpental ke dinding sambil menahan kepalanya agar tidak terlepas.
'Di dalam badannya ramai sekali!' teriak Melly. 'Owen ada di paling bawah. Dia diinjak yang lain!'
Pemimpin doa mengangkat kitabnya dan membaca doa dengan suara keras. Jasad Owen berhenti. Selama satu tarikan napas, warna putih muncul di sudut matanya.
'Mei ...,' ucapnya menggunakan satu suara saja.
Meisin hampir mendekat.
Melly buru-buru berdiri di depan perempuan itu. 'Jangan!'
Benar saja, mata Owen kembali hitam. Dia menerkam pemimpin doa sampai lelaki tua itu jatuh. Kitab terlepas dan terbuka di lantai. Anehnya, lembarannya bergerak sendiri dari halaman terakhir menuju halaman pertama.
Bu Rena mendadak berlari ke arah tas yang tadi dijatuhkannya. Dia membongkar pakaian Meisin, lalu mengeluarkan bungkusan kain batik dari bagian paling bawah.
'Bu, itu apa?' tanya Meisin.
Ibunya tidak menjawab. Dia membuka kain tersebut dan memperlihatkan sebuah cermin tangan berbentuk oval. Bingkai peraknya menghitam dimakan usia. Ada ukiran tujuh mata kecil di bagian gagang.
Pak Leo memucat saat melihatnya. 'Kamu masih menyimpan benda itu?'
'Kalau aku membuangnya, mereka akan lebih mudah menemukan Meisin.'
Bu Rena berdiri menghadap jasad Owen. Tangannya gemetar saat mengangkat cermin, tetapi suaranya terdengar tegas.
'Lihat siapa dirimu!'
Permukaan cermin memantulkan tubuh Owen. Namun bukan satu wajah yang terlihat. Puluhan kepala bertumpuk memenuhi badannya, saling menggigit dan mendorong untuk muncul paling depan. Di bagian dada, arwah Owen terikat benang hitam dengan wajah penuh luka.
Di belakang semua arwah itu berdiri Ki Bagong. Sang dukun tidak berada di dalam tubuh Owen, tetapi kedua tangannya memegang ujung benang seperti seorang dalang.
Jasad Owen meraung. Dia menutupi wajah dengan kedua tangan, lalu mundur sampai punggungnya menabrak keranda.
'Sekarang!' teriak Bu Rena.
Reksa dan Erly bangkit bersamaan. Mereka mendorong tubuh Owen kembali ke dalam keranda. Jasad itu mengamuk, menendang, dan hampir menggigit tangan Reksa. Meisin mengambil kain penutup meja, lalu melilitkannya pada dada serta kaki Owen. Pemimpin doa membantu mengikat simpul terakhir.
Brak ...!
Penutup keranda diturunkan. Erly memasang kunci, sedang Reksa melilitkan tali tirai di seluruh bagian luarnya.
Suara cakaran segera terdengar dari dalam.
Grek ... grek ... grek ....
Lalu suara di dalam mulai berganti-ganti. Mula-mula Owen memanggil Erly dan memerintahkannya membuka penutup. Setelah Erly tidak menjawab, suara itu berubah menyerupai seorang anak kecil yang menangis mencari ibunya. Beberapa detik kemudian, suara perempuan tua memanggil nama kecil Bu Rena.
'Rere, buka untuk Ibu,' rayunya.
Bu Rena tersentak sampai cermin hampir jatuh. Pak Leo langsung memegang pundaknya.
'Itu suara siapa?' tanya Meisin.
'Nenekmu,' jawab Bu Rena lirih. 'Tapi itu bukan dia.'
Keranda kembali mengetuk. Kali ini suara dari dalam menyebut jumlah utang Pak Leo sampai angka terakhir. Lelaki itu maju tanpa sadar, seperti hendak menjawab panggilan penagih yang sudah terlalu sering didengarnya.
'Jangan sahut apa pun!' bentak Bu Rena. 'Mereka mencari suara untuk dipakai.'
Melly mengangguk cepat. Menurut penglihatannya, setiap kali seseorang hampir menjawab, satu wajah di dalam jasad Owen merangkak naik mendekati mulut. Arwah-arwah itu belum memiliki suara sendiri di dunia manusia. Mereka hanya bisa meniru orang yang ditakuti atau dirindukan oleh orang hidup.
Meisin menarik Pak Leo menjauh. Pada permukaan keranda muncul bekas telapak tangan basah dari sisi dalam. Jumlahnya bukan dua, melainkan puluhan. Bekas itu saling menumpuk sampai kain gelap berubah seperti baru diangkat dari sungai.
'Semua cermin di rumah ini harus ditutup,' perintah Bu Rena. 'Kaca jendela juga. Jangan biarkan tubuh itu melihat pantulannya sendiri.'
'Kenapa?' tanya Erly.
'Karena setiap pantulan memberinya wajah baru.'
Para pegawai sudah melarikan diri. Reksa dan Erly mengambil taplak, selimut, serta tirai untuk menutup seluruh permukaan yang bisa memantulkan bayangan. Meisin membantu, tetapi matanya tak pernah lepas dari cermin tua di tangan ibunya.
'Ibu mau jelaskan sekarang?' tuntutnya.
'Kita amankan dulu tubuh Owen sampai matahari terbit.'
'Ki Bagong tahu larangan yang Ibu kasih sejak aku kecil. Dia juga tahu soal darah keluarga kita. Aku nggak mau dengar alasan lagi.'
Bu Rena menunduk. 'Ibu akan cerita. Tapi bukan di depan keranda itu. Semua yang berada di dalamnya bisa mendengar.'
Ting ...!
Suara lonceng kecil terdengar dari balik kayu. Itu bunyi kedua sejak Melly melihat benda tersebut di kaki Owen. Ukiran tujuh mata pada gagang cermin menyala merah satu per satu. Dua mata kini terbuka.
'Apa yang terjadi kalau semuanya menyala?' tanya Meisin.
Bu Rena memeluk cermin itu ke dada. 'Pintu yang dulu ditutup nenekmu akan terbuka lagi.'
Ketukan dari keranda mendadak berhenti. Keheningan yang muncul terasa jauh lebih menakutkan daripada suara cakaran.
Meisin melirik cermin tua yang tidak ikut ditutup. Di dalam pantulannya, penutup keranda terlihat masih terbuka. Jasad Owen duduk tegak dan menatapnya, sementara di dunia nyata keranda tetap terkunci rapat.
Bibir pantulan Owen bergerak pelan.
'Lima lagi,' bisiknya. (*)