Mobil jenazah berhenti di halaman rumah Owen menjelang petang. Langit merah menggantung di atas bangunan besar itu, namun seluruh lampu di dalam rumah sudah menyala seperti malam datang lebih cepat dari seharusnya.
Erly memerintahkan beberapa pegawai membawa keranda ke ruang tengah. Tidak ada keluarga dekat yang menyambut. Owen sudah kehilangan kedua orang tuanya sejak lama, sedang kerabat yang tinggal di luar kota baru akan datang esok hari.
Bu Rena dan Pak Leo tiba bersama Reksa. Bu Rena membawa tas berisi pakaian Meisin karena mengira putrinya akan menginap. Pak Leo memandangi setiap sudut rumah dengan mulut sedikit terbuka, menghitung kekayaan orang meninggal seolah sedang berada di tempat pelelangan.
'Kita pulang setelah doa,' ucap Meisin kepada ibunya.
'Kamu istrinya, Mei. Nggak baik meninggalkan suami sendirian malam pertama di rumah.'
'Aku bukan istrinya di dunia manusia.'
Pak Leo mendekat dan berbisik, 'Tapi kalau ada surat atau harta yang harus diurus—'
'Pak!' bentak Meisin. 'Owen ada di dalam keranda. Tolong berhenti mikirin hartanya.'
'Bapak cuma mau hidup kita berubah,' bela Pak Leo. 'Selama ini kita terus dikejar utang. Sekarang kamu punya kesempatan—'
'Kesempatan dari pernikahan yang dibuat dukun?' potong Meisin. 'Rentenir itu sengaja mengejarku sampai bertemu Owen. Mereka bekerja untuk Ki Bagong. Utang Bapak dipakai buat menjebak aku.'
Wajah Pak Leo seketika kehilangan warna. Bu Rena melepaskan pegangan pada tasnya hingga pakaian Meisin tumpah ke lantai.
'Ibu tahu sesuatu?' desak Meisin. 'Kenapa sejak kecil aku dilarang tidur menghadap cermin?'
Bu Rena membuka mulut, tetapi Pak Leo lebih dulu menggenggam lengannya. 'Bukan waktu yang tepat membahas cerita lama.'
'Justru sekarang waktunya. Ada dukun yang tahu kebiasaan di rumah kita, ada hantu yang mengikutiku, dan mayat suamiku memanggil dari keranda. Apa lagi yang mau kalian sembunyikan?'
Bu Rena menangis semakin keras. Dia hendak menjawab ketika Erly mempersilakan pemimpin doa yang baru datang memasuki ruang tengah. Percakapan itu terpaksa terputus. Meisin tidak menyukai ketakutan di mata ibunya. Itu bukan ekspresi orang yang baru mendengar sesuatu, melainkan wajah seseorang yang mengenali bahaya lama.
Rumah itu mendadak sunyi. Para pegawai pura-pura sibuk menata bunga. Hanya Reksa yang melihat Meisin dengan pandangan mendukung, sedang arwah Owen berdiri di dekat tangga dengan rahang mengeras mendengar pertengkaran tersebut.
'Suruh orang tuamu pulang,' ucap Owen.
Meisin tidak menanggapinya. Dia masih marah karena lelaki itu selalu memberi perintah, bahkan setelah mati.
Keranda diletakkan di atas penyangga kayu. Penutupnya belum dipasang rapat agar orang-orang bisa melihat wajah Owen untuk terakhir kali. Namun saat Meisin mendekat, benang hitam pada jari jasad itu sudah tidak ada.
Doa baru dimulai ketika seluruh lilin di dekat keranda padam tepat saat nama Owen disebut. Pemimpin doa berhenti sesaat, lalu mengulanginya dengan suara lebih lantang. Api tetap tidak mau menyala. Sesuatu di dalam rumah itu menolak Owen dilepaskan.
'Benangnya hilang,' bisiknya kepada Reksa.
'Itu bagus, kan?'
Owen menjawab dari belakang mereka. 'Tidak. Ikatannya sudah berpindah.'
Meisin menoleh. Garis hitam kini melingkari leher arwah Owen. Setiap dia mencoba mendekati keranda, garis itu menegang dan menariknya kembali ke tangga.
Kresek ... kresek ....
Suara dari jendela membuat Meisin mengalihkan pandangan. Sosok perempuan berdiri di balik kaca. Rambutnya dikuncir kuda, kepalanya miring tidak wajar, dan wajahnya pucat dengan darah mengering di bibir.
'Melly,' ucap Meisin.
Reksa melihat ke jendela, tapi yang dia dapati hanya pantulan ruang tengah.
Meisin berjalan keluar melalui pintu samping. Melly menunggu di taman dengan kepala yang sesekali hampir jatuh dari lehernya. Hantu baru itu segera memegang kepalanya menggunakan kedua tangan.
'Maaf, Mei. Aku masih belum lancar,' ucapnya.
'Kamu ngapain di sini?'
'Cowok pucat itu yang panggil aku. Tapi dia nggak bisa keluar dari rumah.' Melly menunjuk jendela. 'Dia bilang ada orang mau masuk ke dalam badannya.'
'Ki Bagong?'
Melly menggeleng. 'Bukan cuma dia. Aku mencium banyak arwah mengikuti keranda tadi. Mereka menunggu tubuh kosong yang bisa dipakai.'
'Aku melihat mereka merangkak dari tepi sungai dan menempel di bawah mobil jenazah,' lanjut Melly. 'Ada yang nggak punya wajah, ada yang tubuhnya penuh lumpur. Semuanya berhenti saat mendengar lonceng kecil dari dalam keranda.'
'Lonceng?'
'Diikat benang hitam pada pergelangan kakinya. Setiap berbunyi, arwah-arwah itu maju selangkah.' Melly mendekati pintu, lalu terpental seolah menabrak kaca. 'Aku nggak bisa masuk. Rumah ini sudah dipagari. Orang hidup harus memanggilku.'
Meisin mengulurkan tangan melewati ambang. 'Melly, masuk dan bantu aku.'
Begitu jemari dingin Melly menyentuh tangannya, pagar tak kasat mata bergetar. Hantu itu berhasil melangkah ke dalam, tetapi seketika menjerit sambil menunjuk ruang tengah.
'Mei, mereka sudah datang!'
Bulu kuduk Meisin berdiri. Melly baru hendak menjelaskan lebih jauh ketika aroma kemenyan tercium dari dalam rumah.
Prang ...!
Suara vas pecah membuat Meisin berlari kembali. Seluruh lampu padam. Para pegawai berteriak dan saling memanggil, sedang Bu Rena membaca doa dengan suara gemetar.
Di bawah cahaya lilin yang dinyalakan Erly, dua lelaki berpakaian hitam berdiri di sisi keranda. Entah dari mana mereka masuk. Lelaki pendek menaburkan tanah ke bawah penyangga, sedangkan lelaki tinggi mengikatkan benang pada kaki keranda.
'Berhenti!' teriak Meisin.
Keduanya menoleh bersamaan.
'Aki hanya ingin menyelesaikan pernikahanmu,' ujar lelaki pendek.
'Aku nggak pernah meminta pernikahan itu.'
'Tapi suamimu yang meminta. Utang harus dibayar oleh orang yang membuatnya.'
'Kalau begitu tagih Owen, bukan aku.'
Benang di leher arwah Owen tertarik. Tubuhnya terhempas ke lantai, lalu terseret mendekati keranda. Dia berusaha menahan diri dengan mencengkeram kaki meja, tapi tangannya menembus kayu.
'Meisin, jangan buka kerandanya!' teriak Owen.
Lelaki tinggi melempar serbuk hitam. Reksa yang hendak menyerang mendadak terbatuk dan jatuh berlutut. Erly mencoba meraih sakelar, tapi bayangan besar menempel di dinding dan menahan tangannya.
Meisin melihat miniatur keranda di bawah penyangga. Benda itu sama seperti yang dilihatnya dalam vision. Tanpa berpikir panjang, dia mengambil vas yang pecah lalu menghantam miniatur tersebut.
Prak ...!
Kayunya retak. Dua lelaki berpakaian hitam menjerit bersamaan. Tubuh mereka berubah menjadi asap, lalu melesat keluar melalui celah jendela.
Lampu menyala kembali.
Reksa bangkit dengan napas tersengal. Erly memeriksa pintu dan jendela, tetapi semuanya masih terkunci dari dalam. Bu Rena memeluk Pak Leo sambil menangis, sedang para pegawai berlarian keluar karena ketakutan.
Garis hitam di leher Owen putus. Namun bukannya bebas, tubuh arwah itu justru terangkat dan tersedot masuk ke dalam keranda.
'Owen!' Meisin berlari mendekat.
Penutup keranda menutup sendiri.
Brak ...!
Melly muncul di sisi Meisin. 'Jangan disentuh, Mei. Yang masuk ke situ belum tentu keluar sebagai orang yang sama.'
Duk ... duk ... duk ....
Ketukan datang dari dalam. Meisin menahan napas. Semua orang yang masih berada di ruang tengah ikut diam.
Kunci penutup keranda bergerak sendiri.
Klik ....
Penutupnya terbuka perlahan. Jasad Owen masih terbaring dengan kedua mata tertutup. Selama beberapa detik tak terjadi apa-apa, hingga Meisin mulai mengira semua sudah berakhir.
Tiba-tiba dada jasad itu terangkat seperti sedang menarik napas pertama. Sepasang matanya terbuka. Bola matanya seluruhnya hitam tanpa menyisakan warna putih.
Kepalanya bergerak menghadap Meisin.
'Istriku,' panggilnya dengan suara Owen yang berbaur bersama banyak suara lain. (*)