Meisin bergerak mundur ketika ujung benang hitam hampir menyentuh sepatunya. Reksa melihat gerakannya lalu memeriksa lantai, tetapi matanya tidak menemukan apa pun.
'Ada apa, Mei?'
'Benang itu ada di jarinya.'
Petugas kamar jenazah mengangkat kain putih sedikit. Di mata orang lain, jari Owen hanya kaku dan pucat. Namun bagi Meisin, simpul hitam itu semakin kuat melilit sampai kulit di bawahnya berubah kelam.
'Kalian tidak melihatnya?' tanya Meisin.
Reksa menggeleng. Erly justru menatap kartu nama Ki Bagong di tangannya. Gambar cincin pada kartu perlahan memudar, seolah tintanya berpindah ke tubuh Owen.
'Saya melihat gambarnya hilang,' ucap Erly.
Owen berdiri di ujung meja. 'Keluar dari ruangan ini sekarang.'
Meisin tidak menurut. Dia mendekati jasad itu meski arwah Owen melarang. Tangannya terulur ke arah jari manis yang terikat. Baru ujung jarinya menyentuh kulit dingin tersebut, dunia kembali berputar.
Dia berada di gubuk Ki Bagong. Dua lelaki berpakaian hitam berlutut di depan sang dukun. Di antara mereka terdapat miniatur keranda dari kayu, boneka tanah yang sudah retak, dan mangkuk berisi air sungai.
'Tubuhnya sudah ditemukan,' kata lelaki pendek.
'Bagus.' Ki Bagong menaburkan tanah kuburan ke dalam miniatur keranda. 'Jiwa Owen terikat pada janji yang dia ucapkan. Tapi pernikahan pertama hanya terjadi di alam kami. Agar pintunya terbuka sempurna, perempuan itu harus berdiri di depan tubuhnya dan menerima dirinya sekali lagi.'
'Kalau dia menolak?'
'Buat keranda itu memanggilnya.'
Ki Bagong menyentuh air sungai. Permukaannya berubah memperlihatkan wajah Meisin. Sepasang mata tua itu menatap tepat ke arahnya, seolah tahu Meisin sedang melihat dari masa lain.
'Kamu sudah menjadi pintu, Anak Cantik,' ucapnya. 'Sekarang pilih siapa yang masuk.'
Ki Bagong mengangkat miniatur keranda itu ke depan wajahnya. Pada tutup kayunya terukir nama Meisin dengan cat merah yang masih basah. Lelaki tinggi kemudian meletakkan selembar surat utang milik Pak Leo di bawah mangkuk, sedangkan kawannya menaruh foto gedung Owen di samping boneka tanah.
'Kami sudah menggiringnya ke tempat lelaki itu,' kata lelaki tinggi. 'Sesuai perintah Aki.'
'Bagus. Yang satu takut kehilangan keluarganya karena utang. Yang satu lagi tidak sanggup menerima penolakan. Keserakahan dan keangkuhan selalu menjadi tali paling kuat untuk mengikat manusia.'
Meisin tercekat. Pertemuan dengan Owen ternyata bukan sekadar kecelakaan yang berujung pada kesialan. Para rentenir sengaja mengejarnya ke gedung itu, lalu Owen memilih memanfaatkan ketakutannya. Ki Bagong hanya perlu menunggu kedua kelemahan tersebut saling bertabrakan.
'Tapi kenapa harus perempuan itu?' tanya lelaki pendek.
Ki Bagong tersenyum. 'Karena darahnya pernah membuka jalan yang sama. Tanya kepada ibunya mengapa sejak kecil dia dilarang tidur menghadap cermin.'
Meisin tersentak. Tubuhnya hampir jatuh, tapi Reksa menahan bahunya.
'Aku lihat Ki Bagong,' ucapnya dengan napas tersengal. 'Dia ingin aku menikah lagi di depan jasad Owen.'
Erly memucat. 'Ritual kedua.'
'Aku nggak akan melakukannya.'
'Apa lagi yang kamu lihat?' tanya Reksa.
Meisin menceritakan surat utang, foto gedung, serta ucapan Ki Bagong mengenai darah keluarganya. Erly menutup wajah dengan telapak tangan. Dia baru menyadari bukan Owen yang pertama kali memilih Meisin sebagai sasaran. Lelaki itu sendiri mungkin hanya umpan yang cukup kaya, cukup keras kepala, dan cukup putus asa untuk membayar ritual Ki Bagong.
Meisin memandang arwah Owen. 'Kamu dijebak, tapi itu nggak menghapus kesalahanmu. Kalau sejak awal kamu menerima penolakanku, Ki Bagong nggak akan punya jalan.'
'Aku tidak meminta dibebaskan dari kesalahan.'
'Dan aku belum memaafkanmu.'
Rahang Owen menegang. Biasanya kalimat semacam itu akan membuatnya mengamuk. Kali ini dia memalingkan wajah dan menelan kemarahannya sendiri. Untuk pertama kalinya, dia bertahan di sisi Meisin tanpa menuntut apa pun darinya.
'Kamu memang tidak boleh melakukannya,' sahut Owen. Suaranya hanya didengar Meisin, namun kemarahan di wajahnya terlihat bukan lagi karena cemburu. Ada ketakutan yang berusaha dia sembunyikan. 'Kalau pintu itu terbuka, bukan hanya aku yang bisa melewatinya.'
Meisin menatap arwah suaminya. 'Kamu tahu akibatnya sejak awal?'
'Tidak.'
'Tapi kamu tetap melakukannya.'
Owen diam. Dan sekali lagi, diam lelaki itu mengakui lebih banyak daripada semua penjelasan yang bisa dia susun.
Petugas meminta mereka keluar karena tubuh Owen harus disiapkan untuk dibawa ke rumahnya. Sebuah keranda berlapis kain gelap sudah menunggu di lorong. Begitu jasad Owen dipindahkan ke dalamnya, lampu di kamar jenazah padam bersamaan.
Sebelum kain menutupi dadanya, Meisin melihat lingkaran merah muncul di kulit Owen. Tanda itu bergerak perlahan mengikuti arah jarum jam. Dari dalam tubuh yang sudah dingin terdengar bisikan sumpah pernikahan mereka.
'Sampai maut memisahkan,' bisiknya.
'Maut sudah datang,' balas Meisin.
Arwah Owen menatap keranda. 'Bagi kita, rupanya maut justru menjadi awal.'
Gelap menyergap.
Duk ... duk ... duk ...
Suara ketukan terdengar dari dalam keranda.
Petugas menyalakan senter dan memeriksa penutupnya. 'Mungkin kayunya memuai karena perubahan suhu,' katanya, meski wajahnya sendiri tampak ragu.
Meisin tahu bukan kayu yang bergerak. Arwah Owen berdiri jauh dari keranda dengan kedua tangan mengepal. Setiap ketukan membuat tubuhnya tersentak seperti ada tali yang menarik punggungnya.
Mereka membawa keranda melewati lorong utama rumah sakit. Beberapa suster menunduk memberi hormat, sedang pasien yang duduk di kursi tunggu hanya melihat dengan rasa ingin tahu. Namun di mata Meisin, seluruh arwah yang memenuhi rumah sakit beringsut menjauh. Perempuan yang menggendong bayi berdarah ikut menyingkir. Hantu suster yang pernah mengejarnya merangkak masuk ke balik dinding.
Keranda Owen rupanya lebih menakutkan daripada mereka.
Di dekat pintu keluar, dua lelaki berpakaian hitam menunggu. Kali ini Meisin dapat melihat wajah keduanya dengan jelas. Mereka memang rentenir yang mengejarnya pada hari pertama bertemu Owen.
'Utang orang tuamu belum selesai,' ujar lelaki tinggi.
'Kalian datang ke rumah sakit buat nagih?'
'Kami datang mengambil barang yang dijanjikan.' Lelaki pendek melihat keranda. Cincin batu besar melingkar di jarinya, mirip cincin milik Ki Bagong. 'Bukan uang.'
Reksa maju melindungi Meisin, tapi dua lelaki itu tidak menyerang. Mereka hanya tersenyum lalu berbalik pergi. Erly mencoba mengejar, namun saat melewati pintu kaca, keduanya sudah menghilang di tengah halaman yang kosong.
'Mereka bekerja buat Ki Bagong,' ucap Meisin.
'Dan dari awal mereka sengaja mengejarmu ke gedung Tuan Owen,' sahut Erly. 'Pertemuan kalian mungkin juga sudah direncanakan.'
Kenyataan itu lebih mengerikan daripada kebetulan buruk. Bila benar, maka Ki Bagong sudah mengincar Meisin bahkan sebelum Owen mengenalnya.
Keranda dimasukkan ke mobil jenazah. Owen berdiri di samping pintu, tetapi seperti ada dinding tak kasat mata yang mencegahnya ikut masuk.
'Jangan bawa tubuhku ke rumah,' pintanya.
'Kenapa?'
'Karena ada seseorang yang sudah menunggu di sana.'
Pintu mobil ditutup sebelum Meisin sempat bertanya. Dari dalam keranda, ketukan kembali terdengar tiga kali. Kali ini disusul suara serak yang sangat dia kenali.
'Istriku ....' (*)